
Tanpa menunggu diperintah ulang, para pengikut Jaka Umbaran segera menyalakan api pada rumput kering dan daun-daun kelapa kering yang banyak bertebaran dimana-mana. Mereka pun segera menyulutkan api itu pada bangunan yang terbuat dari kayu yang mudah terbakar. Perlahan satu demi satu bangunan Lembah Hantu dilalap si jago merah.
Jaka Umbaran sendiri segera melesat cepat kearah Goa Hantu Neraka yang ada di ujung timur lembah ini usai memasukkan Pedang Naga Api kembali ke tempatnya semula. Sesampainya di sana, di depan mulut goa, sang pangeran muda dari Kadiri ini merapal mantra Ajian Brajamusti. Cahaya biru terang di telapak tangan sang pangeran muda langsung menyambar ke dalam goa.
Blllaaammmmmmmm..
Kraaattttttttaaaaakk bhhuuuuummmmmmhh!
Goa yang merupakan salah satu tempat mengerikan itu seketika meledak dan runtuh. Dalam waktu singkat, sepenuhnya Goa Hantu Neraka tertutup reruntuhan batu-batu besar. Debu beterbangan keluar menandai hancurnya tempat itu.
Setelah menghancurkan Goa Hantu Neraka, Jaka Umbaran segera melesat kembali ke tempat nya semula dimana para pengikutnya sudah menunggu. Besur dan Gendol memanggul dua buah peti kayu yang berisi beberapa harta karun milik Lembah Hantu sedangkan Resi Simharaja dan Baratwaja yang tak mau mengambil sedikitpun harta benda di tempat itu, masih menunggu kedatangan Jaka Umbaran.
"Kita tinggalkan tempat ini", begitu perintah dari Jaka Umbaran keluar, mereka semua segera bergerak meninggalkan Lembah Hantu yang kini telah menjadi lautan api. Angin yang berhembus perlahan semakin menambah cepatnya si jago merah melahap seluruh tempat itu bersama para penghuninya yang telah menjadi mayat.
Dari 500 orang prajurit Kadipaten Matahun yang ikut serta dalam penyerbuan ini, ada sekitar 130 orang yang menjadi korban peperangan ini. Hal ini juga sebanding dengan kematian sekitar 300 orang anggota Lembah Hantu termasuk sang putra Pangeran Lembah Hantu, Wijayadharma dan wakil pimpinan Lembah Hantu, Mpu Lokeswara.
Bersama dengan Nyai Paricara, Secawiguna dan para perwira prajurit Kadipaten Matahun, Jaka Umbaran dan kawan-kawan memacu kuda tunggangan mereka menuju ke arah Kota Kadipaten Matahun.
Malam harinya, para prajurit yang ikut serta dalam penyerbuan ke Lembah Hantu mendapatkan hadiah dan jamuan makan khusus dari Adipati Natanegara. Bagaimanapun juga, mereka telah mengharumkan nama Kadipaten Matahun di mata para pejabat Kotaraja Daha.
Malam itu, Nyai Paricara bergegas menemui Jaka Umbaran di balai tamu kehormatan Istana Kadipaten Matahun setelah berganti pakaian. Kini dandanan nya benar-benar membuat pangling semua orang. Jika tadi siang, pakaian nya compang camping seperti seorang gembel yang mengemis di jalanan kota, kali ini wanita cantik berdarah Champa ini datang dengan pakaian cantik yang membuat penampilan nya begitu mempesona. Besur pun sampai melongo melihat kecantikan wanita berkulit putih itu.
"Jagad Dewa Batara...
Apakah aku sedang bermimpi melihat bidadari turun dari kahyangan?", ucap Besur sambil beberapa kali mengucek matanya.
Plllaaaakkkkk...
"Aduh kampret laknat, kenapa kau tampar wajah ku Ja? Ada dendam apa kau dengan ku?", Besur mengaduh keras saat Baratwaja yang duduk di samping nya, menampar pipi kiri nya dengan sedikit keras.
"Itu untuk menyadarkan mu kalau kita masih di dunia dan bukan ada di Swargaloka..
Lagipula mana mungkin kau masuk Swargaloka wong dosa mu banyak begitu. Kau pasti masuk neraka", cibir Baratwaja yang langsung membuat Besur geram.
"Kau..."
__ADS_1
"Diam bisa tidak? Sedikit sedikit ribut, kalian ini perwira prajurit Panjalu. Jangan membuat malu junjungan mu dengan kelakuan kalian yang mirip anak kecil! Benar-benar memalukan!", omel Resi Simharaja yang membuat dua orang itu langsung terdiam seribu bahasa.
Nyai Paricara langsung menyembah pada Mapanji Jayabaya setelah ia sampai di serambi balai tamu kehormatan diikuti oleh Secawiguna.
"Terimakasih banyak atas pertolongan nya Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..
Andaikata Gusti Pangeran tidak bertindak menyelamatkan nyawa hamba, hamba tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kedepannya", ujar Nyai Paricara segera.
"Sudahlah, ini sudah menjadi bagian dari tugas ku sebagai pengayom masyarakat. Siapapun yang menjadi warga Kerajaan Panjalu, adalah tanggung jawab ku untuk melindunginya. Jadi kau tidak perlu berlebihan seperti ini", Jaka Umbaran segera mengangkat tangan kanannya sembari tersenyum tipis.
"Gusti Pangeran, kalau hamba lihat, sepertinya Nyai Paricara ini bukan orang pribumi Jawadwipa. Tuh lihat saja kulit nya putih begitu, beda sama Besur yang kulitnya seperti sawo mentah", ucap Gendol sembari tersenyum simpul. Besur hendak menyahut omongan si Gendol, tapi pelototan mata dari Resi Simharaja seketika membuat nyalinya ciut seketika.
"Pendekar Gendol benar sekali, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.
Hamba memang bukan penduduk asli Tanah Jawadwipa tapi hamba datang jauh-jauh dari negeri seberang tepatnya Negeri Champa yang ada di Laut Utara", kata Nyai Paricara dengan sopan.
"Tuh kan benar yang hamba bilang", Gendol tersenyum penuh kemenangan sambil menepuk dadanya sementara Besur melengos mendengar ucapan nya itu.
"Lantas apa yang membawa mu hingga sampai di Bhumi Jawadwipa ini Nyai?", tanya Jaka Umbaran segera.
Nyai Paricara langsung menghela nafas panjang sebelum mulai bercerita tentang kisah kehidupan nya.
Pada suatu ketika, ibu hamba bertemu dengan seorang duta besar dari Panjalu yang bernama Tejo Laksono. Mereka berjanji jika tidak berjodoh kelak, maka keturunannya akan menjadi pasangan. Ini tertulis dalam sebuah surat yang ditinggalkan oleh duta besar itu sebelum meninggalkan Negeri Champa.
Waktu pun berlalu dan ibu hamba akhirnya menikah dengan ayah hamba seorang pangeran dari Panduranga yang bernama Pangeran Badhravijaya. Kehidupan keluarga kami berjalan harmonis dengan kelahiran hamba dan dua orang adik laki-laki. Namun semua itu berubah saat adik kakek melakukan pemberontakan yang akhirnya menggulingkan pemerintahan kakek hamba Maharaja Indravarman Kedua. Dia lalu naik tahta Kerajaan Champa dengan gelar Maharaja Indravarman Ketiga.
Karena tak ingin keturunan kakek nanti memberontak pada nya, Maharaja Indravarman Ketiga menghukum mati semua kerabat dekat kakek. Ibu dan ayah berhasil menyelamatkan diri dari kejaran para prajurit Champa dengan membawa serta hamba dan adik-adik.
Ibu hamba yang ingin menagih janji pada Tejo Laksono lalu mengajak ayah untuk mengungsi ke Pulau Jawa sesuai dengan petunjuk dari duta besar itu.
Kami tiba di Pelabuhan Hujung Galuh sepuluh tahun yang lalu, tapi sayangnya ayah dan ibu hamba terbunuh oleh ulah manusia manusia serakah yang ingin merampas harta benda yang kami bawa dari Champa. Hamba terpaksa menyelamatkan diri dari pelabuhan Hujung Galuh dan terlunta-lunta hingga sampai Matahun lalu di tolong oleh Paman Secawiguna ini.
Inilah kisah singkat hidup hamba Gusti Pangeran. Hamba ingin mencari keberadaan duta besar itu ke Kotaraja Daha sekaligus menuntaskan apa yang menjadi keinginan terakhir dari ibu hamba", ucap Nyai Paricara alias Indrawati mengakhiri ceritanya.
Hemmmmmmm...
__ADS_1
"Kalau itu yang menjadi keinginan mu, kau boleh ikut kami pulang ke Kotaraja Daha. Ini sudah malam, sebaiknya kau segera beristirahat karena kau membutuhkan tenaga banyak untuk perjalanan jauh esok pagi", ucap Jaka Umbaran segera.
"Terimakasih sekali lagi untuk kebaikan hati Gusti Pangeran. Hamba mohon undur diri", Indrawati alias Nyai Paricara segera menghormat usai berbicara demikian. Perempuan cantik itu segera mundur dari tempat itu. Beberapa saat kemudian, ia sudah menghilang di balik pintu pembatas ruang balai tamu kehormatan Istana Kadipaten Matahun.
Setelah kepergian Nyai Paricara dan Secawiguna, Baratwaja pun segera mendekati Mapanji Jayabaya.
"Gusti Pangeran, bukankah Tejo Laksono adalah nama muda Gusti Prabu Bameswara?
Bukankah itu berarti dia akan bertemu dengan Sinuwun Prabu Bameswara untuk menagih janji?", ucap Baratwaja sembari menatap wajah tampan Jaka Umbaran. Dia sedikit bingung dengan sikap majikannya itu.
"Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh, Baratwaja..
Urusan janji Kanjeng Romo Prabu, biar beliau sendiri yang mencari jalan keluar nya. Ini sudah waktunya aku istirahat. Kalian teruskan saja mengobrol nya ", Jaka Umbaran segera berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah menuju ke arah kamar tidur nya. Baratwaja mengerutkan keningnya dalam-dalam tatkala melihat sebuah senyuman tipis tersungging di wajah Jaka Umbaran sesaat sebelum menghilang di balik pintu balai tamu kehormatan.
"Kau kenapa Ja? Kog kelihatan seperti sedang berpikir keras begitu?", tanya Besur yang berada di sampingnya.
"Aku tak sengaja melihat Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam kamar tidur nya tadi. Apa yang sedang dia pikirkan ya? Apa ini ada kaitannya dengan permintaan Nyai Paricara tadi?", mendengar pertanyaan itu, Resi Simharaja langsung menyahut.
"Kau cukup pintar juga bisa berpikir sejauh ini..
Heh buka kuping kalian lebar-lebar ya. Gusti Pangeran menyetujui permintaan Nyai Paricara juga untuk keuntungan nya. Jika Gusti Prabu Bameswara menyetujui permintaan Nyai Paricara untuk menikahkan nya dengan keturunan Gusti Prabu, siapa lagi orang yang akan menikahi wanita cantik itu kalau bukan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya?
Inilah peribahasa yang mengatakan bahwa pemenang mendapatkan semuanya", ucap Resi Simharaja sedikit keras.
"Ah kenapa ini tidak terpikirkan oleh ku ya?", ucap Besur sok perhatian.
"Otak mu isinya nasi sama bebek bakar, tidak mampu untuk menjangkau kecerdasan Gusti Pangeran.
Sudah sekarang kita tidur. Besok pagi jangan sampai ada yang bangun kesiangan lagi. Awas saja kalau ada yang melakukannya", Resi Simharaja segera menata selimutnya sembari mulai memejamkan mata. Besur, Gendol dan Baratwaja yang tak ingin kena marah lelaki paruh baya itu buru-buru melakukan hal yang sama.
Keesokan paginya, rombongan Jaka Umbaran segera meninggalkan Kota Kadipaten Matahun untuk kembali ke Kotaraja Daha. Setelah menyampaikan pesan agar Adipati Natanegara lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat nya dan berpamitan, Jaka Umbaran dan para pengikutnya memacu kuda mereka ke arah selatan. Kini dalam rombongan itu bertambah Indrawati alias Nyai Paricara.
Sementara itu, Pangeran Lembah Hantu yang baru saja sampai di Lembah Hantu bersama para pengikutnya usai pertemuan dengan pihak Istana Kotaraja Kahuripan terkejut bukan main kala melihat tempat tinggalnya kini rata dengan tanah dan menjadi puing-puing belaka. Beberapa tiang masih nampak berdiri namun mengepulkan asap pertanda api belum padam sepenuhnya. Beberapa mayat nampak belum terbakar sepenuhnya termasuk mayat Wijayadharma.
Sembari menahan rasa marah besar, dia mengepalkan tangannya erat-erat sambil berkata lantang,
__ADS_1
"Setan laknat!!!!
Siapa yang berani melakukan hal ini?!!!!"