JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Suara Aneh


__ADS_3

Sementara para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Tumenggung Setawahana bergerak memburu sisa-sisa pelaku percobaan pembunuhan terhadap Mapanji Jayabaya, suasana di dalam Istana Katang-katang kembali tenang. Memang ada kerusakan di beberapa tempat dan bangunan istana, namun secara keseluruhan keadaan tempat itu maupun para penghuni juga tamu kehormatan yang datang untuk merayakan hari pernikahan Mapanji Jayabaya dan Nararya Padmadewi, masih baik-baik saja.


Para pekerja dibantu oleh para prajurit penjaga istana langsung sigap membersihkan mayat para pengacau keamanan ini. Mereka juga bergotong royong dengan para dayang istana untuk membersihkan sisa-sisa puing bangunan yang hancur akibat pertarungan ini.


Prabu Bameswara pun mengajak mereka untuk berkumpul di Pendopo Agung Istana Katang-katang. Dulu, Prabu Bameswara yang pada masa mudanya di kenal sebagai Panji Tejo Laksono memang hanya sebentar menempati istana ini sebelum memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu kembali ke Istana Kotaraja Daha.


Ini dikarenakan adanya usulan dari berbagai pihak terutama dari kalangan bangsawan Panjalu agar Prabu Bameswara mengembalikan pusat pemerintahan yang sempat dipindah oleh Prabu Jayengrana ke Istana Katang-katang. Mereka berpendapat bahwa mengembalikan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu ke Istana Kotaraja Daha sama halnya mengakui bahwa Prabu Bameswara masih keturunan dari Dharmawangsa meskipun bukan keturunan langsung dari Prabu Airlangga.


Jika dirunut silsilah sejarah keluarga Kerajaan Panjalu, Mapanji Jayabaya lah yang menjadi keturunan langsung dari Prabu Airlangga meskipun itu datang dari pihak ibunya. Ratu Dyah Chandrakirana merupakan anak dari Mapanji Alanjung Ahyes yang berarti juga cucu dari Maharaja Mapanji Garasakan. Jadi bisa dikatakan bahwa Mapanji Jayabaya adalah penyatuan dua trah Airlangga karena sang pangeran mahkota adalah cicit dari Sang Maharaja Airlangga.


"Tak ku sangka kalau Maharani Uttejana akan mengingkari janjinya untuk tidak menyerang Panjalu setelah hampir terbunuh kala itu.


Kalau tahu akan begini, harus nya perempuan berbisa itu sudah dari dulu aku bunuh", ucap Prabu Bameswara sembari mengepalkan tangannya erat-erat. Para punggawa Istana Kotaraja Daha yang ada di tempat itu nampak menghela nafas panjang.


"Kita tidak boleh menyesali masa lalu Kangmas Prabu ...


Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita dapat menanggulangi setiap pergerakan Kerajaan Jenggala? Kejadian hari ini adalah bukti bahwa Panjalu terlalu lama nyaman dengan keadaan aman dan tentram hingga peristiwa ini terjadi", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.


"Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri ada benarnya, Gusti Prabu..


Sepertinya pasukan khusus Lowo Bengi harus dikerahkan kembali untuk mewaspadai adanya pergerakan orang-orang Jenggala. Kita juga perlu meningkatkan lagi patroli di perbatasan wilayah dengan Kerajaan Jenggala supaya pergerakan mereka sekecil apapun bisa segera kita ketahui", sambung Mapatih Mpu Baprakeswara sembari menghormat pada Prabu Bameswara.


Hemmmmmmm...


"Pendapat kalian berdua memang tidak keliru. Kita perlu melakukan pengawasan ketat pada perbatasan wilayah. Juga perlu mengawasi siapapun orang dari luar Daha yang masuk. Ki Martoloyo adalah salah satu bentuk kelengahan kita terhadap orang-orang dari luar Kotaraja Daha.


Rakryan Rangga Mapanji Amaraha dan kau Senopati Agung Sembada..


Aku perintahkan kepada kalian untuk menata kembali prajurit patroli perbatasan dan juga pergerakan Pasukan Lowo Bengi. Untuk pengaturan pasukan khusus Lowo Bengi, minta bantuan dari Paman Mapatih Mpu Baprakeswara dan Wredamantri Mpu Landung.


Sedangkan untuk Pasukan Garuda Panjalu, Senopati Naratama aku tugaskan pada mu untuk menata mereka sebagai pasukan patroli perbatasan. Aku akan memanggil para Adipati perbatasan untuk membahas masalah ini. Apa kalian semua sudah paham dengan apa tugas kalian?", Prabu Bameswara segera mengedarkan pandangannya usai memberikan titah raja.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..", ucap semua nayaka praja Kerajaan Panjalu itu sembari menyembah pada sang raja.


Karena upaya pembunuhan terhadap Mapanji Jayabaya ini, acara hiburan rakyat yang harusnya di gelar pada nanti malam hari batal dilaksanakan. Seluruh Kotaraja Daha pun langsung heboh seketika tatkala berita ini menyebar. Berita ini segera menjadi bahan pembicaraan hangat diantara mereka.


Waktu terus bergulir dengan cepat. Siang dengan cepat digantikan oleh sore yang sebentar kemudian telah berganti malam.


Masih dalam suasana tegang karena peristiwa tadi siang, Jaka Umbaran masih duduk di halaman samping tempat tinggalnya kini di temani oleh Resi Simharaja, Gendol, Besur dan Baratwaja. Api nampak membakar potongan kayu kering yang mereka gunakan untuk berdiang menghangatkan tubuh dari sengatan dinginnya udara malam.


"Gusti Pangeran ssssttttttttt...

__ADS_1


Sudah waktunya loh sekarang..", ucap Gendol lirih sambil tersenyum simpul.


"Waktu apanya Ndol? Bukankah kita semua tadi sudah makan malam. Kau saja habis dua piring", sahut Besur yang duduk di sebelah kanan Mapanji Jayabaya.


"Kau ini sudah pikun atau benar-benar goblok sih Sur?


Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya kan baru saja menikah, ya tentu saja sudah waktunya untuk menciptakan keturunan", sahut Resi Simharaja dengan nada ketus nya.


Bukannya marah karena di katakan goblok oleh Resi Simharaja, Besur langsung menepuk jidatnya dengan sedikit keras.


"Jagat Dewa Batara..


Bagaimana aku bisa lupa dengan hal ini?", ucap Besur sambil cengengesan.


"Kau kebanyakan melahap bokong ayam makanya otak mu cuma isi makanan saja yang kau ingat", tukas Baratwaja sambil melemparkan potongan kayu kering ke perapian yang menyurut nyalanya. Api kembali berkobar setelah membakar potongan kayu kering itu.


Jaka Umbaran segera melirik ke arah jendela kamar tidur nya yang masih sedikit terbuka. Nyala api lampu minyak jarak masih terlihat terang dari celah jendela itu.


"Apa harus sekarang aku bersama nya?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Tidak Gusti Pangeran, tahun depan saja..


Duh Gusti Pangeran ini benar-benar ya. Punya istri secantik itu malah masih tanya apa harus sekarang? Kalau aku yang punya istri secantik Gusti Putri Padmadewi, uhhh aku past..


Waduhhh, bajingan kau Ja. Kenapa kau injak kaki ku?", Besur langsung mengelus kepalanya yang benjol setelah tiba-tiba Baratwaja menjitak nya dengan keras.


"Mulut mu itu mulai kurang ajar ya Sur. Jangan asal bicara dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.


Kau mau kepala ku di pancung di alun-alun Kotaraja Daha heh?", Baratwaja pun segera menarik jari telunjuk nya di leher seperti hendak memotong nya. Besur langsung bergidik ngeri sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan. Cepat ia menggelengkan kepalanya tanda menolak.


Melihat ulah para pengikutnya ini, Jaka Umbaran hanya tersenyum saja. Walaupun kadang mereka sedikit kurang ajar, namun kehadiran mereka berempat membuat perjalanan hidup Jaka Umbaran selalu dipenuhi dengan canda tawa.


"Baiklah, ini sudah malam..


Mungkin Besur benar bahwa Yayi Padmadewi sedang menunggu ku. Kalian berempat jaga saja di sini", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kamar tidur nya.


Kedatangan Jaka Umbaran di kamar tidur yang berhias aneka macam bebungaan ini langsung membuat Nararya Padmadewi yang semula gelisah langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perempuan cantik itu gugup seketika itu juga. Bagaimanapun juga ini adalah malam pertama yang dinantikan oleh semua pasangan pengantin di seluruh dunia.


Jaka Umbaran tersenyum tipis sembari duduk di samping Nararya Padmadewi yang terlihat berkeringat dingin meskipun cuaca diluar sama sekali tidak panas.


"Kau kenapa Yayi Padmadewi? Kenapa berkeringat begitu?", ujar Jaka Umbaran sembari melepaskan mahkota nya dan meletakkannya di meja kecil di sudut ruangan kamar tidur itu.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa Akang..


Abdi teh tidak kenapa-kenapa kog. Cuma itu ehh...", Nararya Padmadewi kebingungan mencari alasan.


"Itu apa? Atau kau sedang sakit?", Jaka Umbaran segera duduk di samping Nararya Padmadewi sembari meraba kening sang istri.


"Tidak panas. Bukan demam ini..


Sebenarnya kau kenapa Yayi? Ada yang sedang kau pikirkan?", tanya Jaka Umbaran sembari melepas perhiasan emas yang menjadi lambang kebangsawanan nya.


"Aku aku...."


"Atau jangan-jangan kau sedang khawatir dengan malam ini Yayi?


Haeshhh, mana putri Galuh Pakuan yang kemarin ingin memberikan kehormatannya sebelum aku pergi? Kenapa berbeda sekali dengan sekarang?", Jaka Umbaran tersenyum penuh arti.


Mendengar seloroh Jaka Umbaran, pikiran Nararya Padmadewi seperti dibuka lebar-lebar. Perempuan cantik itu langsung menghela nafas panjang.


"Huh, iya ya Kangmas.. Kenapa aku jadi panik begini?


Baiklah Kangmas Pangeran, abdi teh sudah siap sekarang", ucap Nararya Padmadewi sembari berkacak pinggang seolah menantang Jaka Umbaran.


"Siap untuk apa Yayi?", Jaka Umbaran kembali tersenyum melihat tingkah laku istri nya ini.


"Siap untuk ini..."


Selesai berbicara demikian, Nararya Padmadewi langsung menubruk tubuh Jaka Umbaran dan segera mencium bibir lelaki tampan itu. Segera saja, lidahnya menjelajah dalam rongga mulut sang pangeran muda. Tak mau kalah, Jaka Umbaran pun segera membalas dengan lilitan lidah dan pelukan hangat nya.


Satu persatu pakaian mereka mulai terlepas dari badan hingga tak menyisakan sehelai benang pun di tubuh mereka. Ciuman panas Jaka Umbaran terus bergerak menuruni leher hingga tembus ke dua gumpalan daging indah di dada sang putri.


Lenguhan panjang dan erangan penuh kenikmatan terus keluar dari mulut mungil Nararya Padmadewi. Jaka Umbaran benar-benar mampu membuat perempuan cantik itu terbang ke langit ketujuh. Apalagi saat Jaka Umbaran menjalankan tugas nya sebagai seorang suami, Nararya Padmadewi menjerit kecil seketika. Ada rasa perih bercampur sakit pada pangkal pahanya. Setetes darah segar pun mengalir dan jatuh di permadani yang menjadi alas ranjang tidur mereka.


Melihat Nararya Padmadewi menggigit bibir bawahnya, Jaka Umbaran segera menghentikan penyatuan dua raga nya.


"Sakit Yayi?", tanya Jaka Umbaran segera. Perempuan cantik itu segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Kangmas. Teruskan saja..", balas Nararya Padmadewi sembari tersenyum penuh arti.


Sebentar kemudian, erangan penuh kenikmatan dan lengguhan berulang kali segera memenuhi kamar tidur itu. Di sambung dengan derit suara ranjang tidur yang bergoyang seperti terkena gempa bumi, kamar tidur itu penuh dengan aroma cinta.


Sementara itu, di luar kamar tidur Jaka Umbaran, Besur yang sedang asyik membolak-balik jagung muda diatas perapian langsung menajamkan pendengarannya tatkala ia mendengar suara suara aneh dari sekitar kamar tidur majikan mereka.

__ADS_1


"Kalian semua tidak mendengar sesuatu?", tanya Besur segera. Resi Simharaja, Baratwaja dan Gendol pun segera menggelengkan kepalanya. Seolah mewakili Gendol dan Resi Simharaja, Baratwaja langsung menjawabnya dengan cepat,


"Kami tidak mendengar apa-apa.."


__ADS_2