JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Istana Kerajaan Siluman


__ADS_3

Lelaki tua berwajah mengerikan ini nampak terkesiap juga dengan bentakan keras Resi Simharaja. Apalagi, lelaki paruh baya yang berdiri di samping pemuda tampan itu terlihat seperti telah mengetahui siapa dirinya.


Karena upaya nya untuk menakuti rombongan Jaka Umbaran tidak membuahkan hasil, lelaki tua berwajah menyeramkan ini langsung mengusap wajah nya dan sekejap mata kemudian dia sudah berubah menjadi seorang lelaki berkulit hitam dengan tatapan mata tajam seperti Resi Simharaja. Sebuah mantel dari kulit macan hitam menutupi kepala hingga punggungnya.


Ya, dia adalah Kumbangjati. Salah satu dari dua panglima Kerajaan Siluman Alas Purwo. Kumbangjati sendiri merupakan siluman macan kumbang yang bertugas sebagai penjaga barat Istana Siluman Alas Purwo.


"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa tahu bahwa aku sedang menyamar?", tanya Kumbangjati segera.


Resi Simharaja tak menjawab pertanyaan itu melainkan hanya sedikit merundukkan tubuhnya yang kemudian berubah menjadi seekor harimau putih besar dengan gigi taring yang mencuat keluar dari mulutnya. Melihat itu, Kumbangjati terkaget melihatnya.


"Raja siluman Alas Roban!


Mau apa kau kemari ha? Ingin berperang melawan kami?", ucap Kumbangjati sembari bersiap untuk bertarung.


Huhhhhh!


"Kalau bukan karena majikan ku ingin sesuatu di Istana Siluman Alas Purwo, aku tidak keberatan untuk mencabik-cabik tubuh mu Kumbangjati!


Aku kemari bersama dengan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, putra mahkota Kerajaan Panjalu", perlahan wujud Resi Simharaja kembali seperti sediakala. Ini juga untuk menunjukkan bahwa dia tidak ada niatan untuk bertarung dengan penghuni Alas Purwo.


"Saat ini, Gusti Prabu Tirtabawana sedang melakukan tapa brata untuk menguatkan ilmu kesaktiannya. Jadi tidak seorang pun diizinkan masuk ke dalam Istana Alas Purwo, baik dari golongan siluman ataupun manusia.


Kembalikanlah! Jika memaksakan kehendak, maka aku tidak akan sungkan untuk melawan mu Raja Alas Roban..", ucap Kumbangjati sembari menatap mereka dengan penuh kewaspadaan. Instingnya mengatakan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah setuju dengan permintaannya.


"Ini menyangkut kepentingan masyarakat Kerajaan Panjalu, Kisanak!


Untuk aku, harap kau mau memberi pengecualian", pinta Jaka Umbaran dengan sopan.


"Dasar keras kepala!!


Aku sudah bilang tidak ya tidak. Jangan mencoba untuk merayu ku dengan kata-kata manis mu, Pangeran dari Daha. Aku tidak akan pernah mencabut omongan ku!", sahut Kumbangjati sengit.


"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku terpaksa berbuat kasar.


Pancer!!!! Waktunya kau unjuk gigi...", Jaka Umbaran mengusap cincin bermata merah di jari manisnya. Sebuah asap merah muncul dari cincin bermata merah itu. Sebentar kemudian sesosok makhluk tinggi besar berbulu merah nampak muncul dari tengah asap merah itu. Segera setelah itu, sosok kera besar berbulu merah itu segera melompat ke arah Kumbangjati sambil menghantamkan kepalan tangannya yang besar ke arah kepala.


Whhhuuuggghhhh!!!


Melihat bahaya sedang mengancamnya, Kumbangjati segera melesat cepat menghindari hantaman Pancer.


Bhhuuuuummmmmmhh!!!!


Segera Kumbangjati berguling ke tanah dan seketika wujud nya berubah menjadi berubah menjadi seekor macan kumbang. Setelah itu, macan kumbang itu melompat ke arah Pancer bermaksud untuk menerkamnya.

__ADS_1


Wwwhhhhaaaaauuuuuuuw!!


Pancer segera sapukan lengan kiri nya yang besar ke wajah kanan macan kumbang ini. Gerakan cepat ini telak menghajar wajah macan kumbang itu hingga dia terpelanting ke belakang. Macan kumbang itu segera bangkit dari tempat jatuhnya dan kembali melompat ke arah Pancer sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Pancer si siluman kera besar berbulu merah tak mau kalah dengan melompat ke arah siluman macan kumbang itu. Dia segera melayangkan hantaman ke arah lawan.


Whhhuuuggghhhh!!!


Siluman macan kumbang itu berkelit menghindari hantaman Pancer. Dia bergerak lincah dan gesit lalu menerkam kaki Pancer.


Chhreepppppph...


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!


Pancer menjerit keras dan segera mengibaskan kaki kanan nya yang tergigit oleh siluman macan kumbang. Akibatnya Kumbangjati si siluman macan kumbang pun terlempar dan Pancer lepas dari gigitan nya.


Sambil memegangi kakinya yang terluka, Pancer segera menoleh ke arah Jaka Umbaran.


"Ndoro Umbaran, kucing besar ini biar hamba yang urus. Silahkan lanjutkan perjalanan. Hamba akan kembali setelah membereskannya".


Mendengar ucapan Pancer, Jaka Umbaran mengangguk mengerti. Resi Simharaja pun segera bersiap untuk berangkat kearah timur bersama Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Melihat Jaka Umbaran mulai bergerak, Kumbangjati segera melompat ke depan mereka untuk menghalangi. Namun Pancer yang tahu bahwa hal itu akan terjadi, segera melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah sang panglima Kerajaan Siluman Alas Purwo ini. Mereka kembali bertarung sengit dan Jaka Umbaran pun segera melanjutkan perjalanan nya.


Belum genap 200 langkah, di depan mereka muncul puluhan ekor binatang buas seperti serigala, anjing hutan, banteng, buaya dan ratusan ekor ular berbisa. Begitu melihat Jaka Umbaran, mereka dengan beringas bergerak maju ke arah mereka.


Baratwaja pun langsung ingat dengan ucapan gurunya di Pertapaan Harinjing bahwa para siluman tidak akan terluka oleh senjata biasa. Namun ada satu cara untuk membunuh mereka yakni dengan mengoleskan air suci petirtaan ataupun ilmu kanuragan tingkat tinggi khusus seperti Ajian Brajamusti. Putra Mapatih Mpu Baprakeswara yang memiliki kecerdasan seperti sang ayah ini selalu membawa sebotol kecil air suci petirtaan yang dia dapat di Pertapaan Harinjing. Segera Baratwaja pun membasahi ujung pedang pendek nya dan beberapa pisau belati kecil miliknya dengan air suci petirtaan yang dia bawa.


"Jangan banyak bicara, bawa kemari pedang mu", meskipun sempat keheranan, Besur mengulurkan pedangnya yang segera ditetesi air suci petirtaan.


Saat para siluman binatang buas itu datang, Baratwaja pun segera melemparkan dua pisau belati kecil nya ke arah beberapa ekor ular kobra hitam yang bergerak cepat kearah nya.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


Chhhrreeepppppppphhhh chhreepppppph!


Ketepatan lemparan pisau belati kecil dari Baratwaja langsung menembus tubuh dua ekor ular kobra hitam itu yang membuat mereka langsung mati. Sebentar kemudian tubuh kedua ular kobra hitam itu menjadi abu hitam yang kemudian menghilang tertiup angin yang datang entah darimana.


Melihat itu, Baratwaja tersenyum simpul. Segera dia melemparkan botol kecil dari bumbung bambu bersumbat pohon randu itu ke arah Gendol.


"Oleskan air suci petirtaan itu pada senjata mu. Itu bisa digunakan untuk membunuh siluman rendahan seperti mereka", usai berkata demikian, Baratwaja disusul Besur melompat ke arah para siluman penghuni Alas Purwo.


Gendol dan Wara Andhira pun segera mematuhi perintah Baratwaja. Keduanya cepat mengoleskan air suci petirtaan itu ke senjata mereka masing-masing sebelum bergabung dengan Baratwaja dan Besur yang sudah mengamuk lebih dulu.


Shhhrrrreeeeettttth chhreepppppph...


Zrraaaashhhhhh!!!

__ADS_1


Meskipun para makhluk halus penghuni Alas Purwo berhasil di bunuh, namun jumlah mereka yang banyak, mungkin sampai ratusan, membuat Baratwaja, Gendol, Besur dan Wara Andhira harus bekerja keras menghadapi mereka. Nafas mereka pun sampai terengah-engah sambil mengusap keringat yang keluar dari beberapa bagian tubuh mereka.


"Gusti Pangeran, silahkan lanjutkan perjalanan! Waktu kita untuk mendapatkan obat bagi Gusti Prabu Bameswara tidak banyak. Siluman kroco ini akan kami atasi, pergilah lebih dulu. Kami akan menyusul nanti", teriak Gendol sambil mengusap keringat di wajahnya.


Resi Simharaja segera menggelandang tangan Jaka Umbaran begitu ucapan itu terdengar. Keduanya melesat cepat kearah sebuah sungai kecil yang memiliki sebuah goa lebar. Dua buah arca Dwarapala terlihat di kedua pintu goa menandakan bahwa tempat ini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Siluman Alas Purwo.


Jaka Umbaran dan Resi Simharaja segera melesat masuk ke dalam goa ini. Begitu memasuki pintu goa, pemandangan yang luar biasa tersaji di depan mata.


Ratusan orang berpakaian serba mewah dan puluhan wanita cantik berpakaian indah dan menarik hati terlihat menoleh ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.


"Hati-hati Gusti Pangeran..


Ini adalah Kerajaan Siluman Alas Purwo. Yang sedang melihat kita sekarang adalah para siluman penghuni istana ini. Jangan sampai kita terlena dengan keindahan di tempat ini karena itu semua adalah ilusi semata", bisik Resi Simharaja segera. Jaka Umbaran mengangguk mengerti.


Dua orang itu terus bergerak menuju ke sebuah bangunan indah yang ada di tengah kota ini. Beberapa orang prajurit yang berjaga di depan pintu gerbang istana emas ini langsung menyilangkan tombak mereka sebagai tanda larangan.


"Siapa kalian? Siapapun dilarang masuk ke dalam istana", ucap salah seorang prajurit dengan garang.


"Katakan pada raja mu, bahwa aku Simharaja dari Alas Roban ingin bertemu", ucap Resi Simharaja segera.


"Huh dasar tidak bisa di beritahu!


Tidak boleh ya tidak boleh, kalau memaksa aku akan menghajar kalian!!", hardik si prajurit penjaga gerbang istana dengan garangnya.


Resi Simharaja mendengus keras sembari memutar telapak tangan kanannya. Sebuah bola cahaya biru tercipta di telapak tangan sang bekas raja siluman Alas Roban. Lalu secepat kilat dia menghantamkan tapak tangan kanannya ke arah dua orang prajurit penjaga gerbang istana siluman itu.


Cllaaaaaassshhhhh...


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Seluruh tempat itu berderak seperti di landa gempa bumi hebat. Pintu gerbang istana langsung jebol seketika dan para prajurit penjaga gerbang istana ini juga lenyap usai terkena hantaman ilmu kesaktian Resi Simharaja.


Karuan saja, hal ini menimbulkan kegaduhan di seluruh tempat itu. Beberapa orang prajurit istana siluman pun langsung berhamburan keluar dari dalam istana dengan senjata terhunus. Mereka langsung sigap mengepung Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.


Sedangkan dari arah belakang, muncul sesosok perempuan cantik berbaju hijau muda dengan sebuah mahkota berhias permata merah menyala. Para prajurit istana siluman pun langsung membuka jalan bagi perempuan cantik itu. Sepertinya dia adalah orang penting di dalam Kerajaan Siluman Alas Purwo ini.


Begitu melihat sosok Jaka Umbaran, perempuan cantik itu terlihat tertegun sejenak. Seorang lelaki tua yang mengikuti nya dari belakang langsung berdehem keras.


Ehemm ehemmm!!!


Deheman keras itu rupanya mampu membuat si perempuan cantik berbaju hijau muda ini tersadar dari lamunannya. Setelah dia menguasai diri, dia menatap tajam ke arah Resi Simharaja dan Jaka Umbaran. Dengan penuh nafsu membunuh, perempuan cantik berbaju hijau muda ini langsung berkata,


"Kalian berdua telah membuat kerusuhan di Istana Siluman Alas Purwo. Apa kalian berdua tahu apa hukumannya bagi orang yang berani mengacau di istana kami?

__ADS_1


MATI...!!!"


__ADS_2