
Tiga orang yang baru saja hadir di medan pertempuran itu memang Prabu Bameswara, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Ajian Halimun milik Prabu Bameswara dan Jaka Umbaran juga Ajian Pemindah Sukma milik Resi Simharaja memang membuat mereka bertiga bisa berpindah tempat hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja.
"Lepaskan dia, hai Wong Jenggala!"
Prabu Bameswara menunjuk ke arah Senopati Tambakwedi yang masih mencekik leher Patih Mpu Narattama. Mendengar itu, Senopati Tambakwedi melirik ke arah pendekar bercaping bambu tirai hitam disampingnya itu. Seolah paham dengan apa maksud dari lirikan mata sang pimpinan utama pasukan Jenggala, si lelaki bertubuh kekar yang memakai caping bambu bertirai hitam itu segera menoleh ke arah nya.
"Kau tidak perlu khawatir, Senopati Tambakwedi..
Aku jamin, Prabu Bameswara tak akan mampu menyentuh kulit mu meskipun kau membunuh Patih Selopenangkep itu", ucap si caping bambu bertirai hitam itu segera.
Mendengar jaminan ini, Senopati Tambakwedi menyeringai penuh kesombongan. Tangannya langsung memuntir batang leher Patih Mpu Narattama sekuat tenaga.
Krrraaaakkkkkk!!
Kepala Patih Mpu Narattama langsung terkulai lemas. Dia tewas dengan leher patah. Murka sudah Prabu Bameswara melihat itu semua.
"Kurang ajar!!!
Akan ku buat kau membayar atas apa yang sudah kau lakukan, Wong Jenggala!!", Prabu Bameswara segera telapak tangannya. Dia langsung melesat cepat kearah Senopati Tambakwedi. Cahaya putih menyilaukan mata tercipta di kepalan tangan kanan Sang Penguasa Kerajaan Panjalu. Dia langsung menghantamnya kearah Senopati Tambakwedi.
Tiba-tiba saja, kepalan tangan kanan Prabu Bameswara membesar hingga seukuran gajah yang dengan cepat hendak menghabisi nyawa Senopati Tambakwedi. Pimpinan prajurit Jenggala ini terkejut bukan main melihat munculnya kepalan tangan raksasa itu.
Whhhuuuuuggggghhhh!
Namun pendekar bercaping bambu tirai hitam itu segera melesat menghadang laju hantaman tangan kanan Prabu Bameswara menggunakan kedua tangan nya.
Bhhhuuuuuummmmmmmmmm.!!!
Tubuh sosok pendekar bercaping bambu tirai hitam seketika mencelat mundur dan menabrak tubuh Senopati Tambakwedi. Keduanya langsung menyusruk tanah dengan keras namun mereka segera bangkit meski sambil mengusap lelehan darah yang keluar dari mulut mereka.
"Sesuai dengan nama besar mu Prabu Bameswara, kau memang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Kalau orang lain yang menerima pukulan keras darimu seperti aku, mungkin dia sudah hancur sekarang ini.
Sudah lama aku mendengar nama besar mu, kini aku berkesempatan untuk menjajal ilmu kesaktian mu Raja Panjalu", ucap sosok bercaping bambu tirai hitam itu sembari melepas caping bambu nya yang rusak parah setelah ia pakai terjatuh tadi.
Wajah seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan janggut nyaris sepenuhnya putih karena uban dengan pakaian jubah hitam berpelisir merah menatap tajam ke arah Prabu Bameswara. Sekilas jika orang melihatnya, semua orang akan menunduk karena ketakutan. Separuh wajahnya bopeng seperti terbakar hingga lipatan-lipatan kulit setengah hitam menghiasi wajahnya. Terlebih lagi, ada sebuah tanduk sepanjang satu ruas jari menonjol keluar dari pelipis kanan nya. Sedangkan separuh wajah sebelah kiri menampilkan wajah yang rupawan seperti seorang pangeran yang hidup di dalam istana.
Namanya adalah Mpu Mangiran, seorang pendekar golongan hitam yang namanya sangat ditakuti di wilayah perbatasan Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Blambangan. Julukannya saja sudah membuat orang bergidik ngeri mendengar nya, Iblis Berwajah Setengah Dewa.
__ADS_1
Selain terkenal sebagai pendekar dengan kemampuan sangat tinggi, Mpu Mangiran konon kabarnya juga terkenal karena kekejamannya. Dia tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa manusia yang menurutnya telah menghinanya dengan penampilannya sekarang ini.
Konon, dahulu Mpu Mangiran memiliki wajah rupawan dan banyak digilai wanita. Namun karena sifat hidung belang nya, Mpu Mangiran muda sering bergonta-ganti pasangan. Hasilnya, seorang perempuan muda yang sakit hati karena ulah Mpu Mangiran, mengutuknya hingga wajah lelaki itu pun berubah menjadi menyeramkan seperti sekarang. Usut punya usut ternyata perempuan cantik itu adalah penjelmaan dari putri raja siluman Alas Purwo yang bernama Prabu Tirtabawana yang bernama Dewi Bawanaputri.
Karena perubahan wujud yang menyeramkan ini, Mpu Mangiran lantas dihina oleh semua orang. Mereka menjauhi nya karena jijik dengan wajah nya yang kini mirip dengan iblis.
Karena kutukan itu, Mpu Mangiran lantas bertapa di kawasan Alas Purwo untuk meminta penyembuhan dari cacat wajah yang ia derita. Meskipun akhirnya, Prabu Tirtabawana mendatangi tempat Mpu Mangiran bertapa, namun ia juga tidak kuasa untuk menghilangkan kutuk pasu yang telah di berikan oleh putri nya sendiri. Namun sebagai gantinya, Mpu Mangiran lantas mendapatkan sebuah pusaka yang bernama Keris Segara Wedang dan Ajian Banyu Alas.
Setelah itu, nama Iblis Berwajah Setengah Dewa pun mulai menyebar luas di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur khususnya di Kerajaan Jenggala timur dan Kerajaan Blambangan. Sepak terjangnya sebagai pendekar pilih tanding pun membuat nya begitu ditakuti oleh para pendekar baik dari golongan hitam maupun golongan putih. Mereka lebih suka menghindar jika harus berurusan dengan manusia berwajah menyeramkan ini.
Setelah berkata demikian, Mpu Mangiran lantas melesat cepat kearah Prabu Bameswara dan pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi. Pertempuran yang membuat semua orang menjauh dari dekat tempat pertarungan dua manusia sakti mandraguna ini.
Sementara itu, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja pun langsung dikeroyok oleh para prajurit Jenggala yang ada di tempat itu. Puluhan orang prajurit langsung menerjang maju ke arah mereka berdua dengan senjata terhunus.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!!
Sepuluh tebasan pedang langsung mengincar seluruh bagian tubuh Jaka Umbaran dari berbagai penjuru. Jaka Umbaran dengan cepat menjejak tanah lalu melenting tinggi ke udara. Dari sana, dia langsung melepaskan hantaman cahaya putih kebiruan bertubi-tubi kearah para prajurit yang ada di bawahnya.
Whuuuggghh whuuuggghh..
Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!
Jaka Umbaran lalu mendarat di tanah lapang. Empat orang prajurit Jenggala pun segera menusukkan tombak mereka ke arah tubuh sang pangeran muda. Jaka Umbaran segera menggeser posisi tubuhnya lalu menjepit keempat tombak itu dengan lengan tangan kiri. Para prajurit Jenggala berusaha keras untuk menarik kembali senjata mereka, namun kekuatan mereka bukan lawan sang Yuwaraja Panjalu.
Sekali sentak, tombak berikan para pemegang nya tertarik maju. Jaka Umbaran dengan cepat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras bertubi-tubi kearah kepala keempat lawannya.
Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..!!
Aaaarrrgggggghhhhh..!!!
Empat orang prajurit Jenggala ini langsung jatuh terjengkang ke belakang dengan sebagian gigi rompal terkena tendangan keras sang pangeran muda setelah genggamannya pada tombak terlepas.
Tanpa menunggu lama lagi, Jaka Umbaran segera memutar tubuhnya dan melemparkan keempat tombak itu ke arah para prajurit Jenggala lain yang hendak menuju ke arah nya.
Whhhuuuuuuuutttttth whhuuthhhh..
Chhreepppppph chhreepppppph chhreepppppph...
__ADS_1
Empat orang prajurit yang hendak maju langsung jatuh dengan tubuh tertusuk tombak. Mereka bahkan tidak sempat mendekati sang pangeran muda sama sekali namun sudah menjadi korban amukan sang pangeran muda.
Namun para prajurit Jenggala sepertinya masih belum kapok juga. Mereka terus berusaha untuk menjatuhkan sang Pendekar Gunung Lawu meskipun puluhan orang kawan mereka bergelimpangan menjadi mayat. Semakin lama tumpukan mayat para prajurit Jenggala di sekitar tempat itu semakin banyak.
Di sisi lain, Resi Simharaja juga mengamuk dengan terus menerus menerkam leher para prajurit Jenggala yang berani menghadangnya. Dalam wujud harimau putih besar nya, Resi Simharaja menjelma menjadi seekor raja hutan yang menakutkan.
Kedatangan mereka bertiga dengan kemampuan beladiri yang mengagumkan, nyatanya mampu membakar semangat para prajurit Selopenangkep yang masih tersisa. Meskipun sempat semangat mereka sempat hancur berantakan setelah kematian Senopati Pranajiwa disusul tewasnya Patih Mpu Narattama, kini keinginan untuk mempertahankan Istana Kadipaten Selopenangkep berkobar kembali. Mereka pun langsung menerjang maju ke arah para prajurit Jenggala tanpa peduli dengan nyawa mereka sendiri.
Pertarungan sengit antara Prabu Bameswara dan Mpu Mangiran pun terus berlangsung sengit. Masing-masing berupaya keras untuk menjatuhkan lawan dengan ilmu silat tangan kosong yang di lapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Prabu Bameswara telah beberapa kali menerima hantaman Mpu Mangiran Si Iblis Berwajah Setengah Dewa, namun Ajian Tameng Waja melindungi seluruh tubuh sang penguasa Kerajaan Panjalu itu dengan sempurna.
Sebaliknya, Mpu Mangiran telah nampak lebam dan bengkak pada beberapa bagian wajahnya. Bekas darah kering nampak di janggut nya, sedangkan beberapa bagian jubah hitam berpelisir merah yang dia kenakan telah koyak.
Melihat Mpu Mangiran telah berada di bawah angin, sesosok bayangan berkelebat cepat dan melemparkan sebuah jaring berwarna keemasan ke atas. Jaring yang terbuat dari benang emas ini melebar hingga membentuk bundaran selebar sepuluh depa.
Sadar akan bantuan yang diberikan oleh sosok bercaping bambu tirai hitam itu, Mpu Mangiran melompat menjauh dari tempat itu. Akibatnya, jaring benang emas itu langsung menangkap tubuh Prabu Bameswara.
Brrruuuuuuuuuukkkhh!!
Prabu Bameswara segera mencoba untuk melepaskan diri dari kurungan jaring benang emas ini, upaya nya sia-sia belaka.
"Hahahaha, jangan harap kau bisa lolos dari Jaring Penangkap Sukma milik ku, Raja Panjalu!
Tak satupun orang bisa lolos dari nya. Sebentar lagi kau akan mati karena setiap benang emas itu telah direndam dalam racun sihir yang mematikan", suara seorang wanita terdengar dari balik caping bambu bertirai hitam itu.
Perlahan, perempuan itu melepaskan caping bambu bertirai hitam yang dia kenakan dan seorang perempuan paruh baya namun masih terlihat cantik dengan bibir berwarna gelap tersenyum lebar menatap ke arah Prabu Bameswara yang terkurung dalam Jaring Penangkap Sukma milik nya.
Benar saja, Prabu Bameswara segera merasakan sakit yang seperti menusuk tulang dan otot nya saat bagian tubuh nya menyentuh benang emas ini.
'Brengsek.. Ajian Tameng Waja tak mampu melindungi tubuh ku dari racun terkutuk ini. Aku harus mencari cara untuk bisa lepas dari jaring ini', batin Prabu Bameswara segera.
"Sia-sia saja kau berpikir untuk melepaskan diri dari Jaring Penangkap Sukma milik ku, Prabu Bameswara. Terimalah kematian mu dengan lapang dada.
Ini adalah hukum karma karena kau telah menyia-nyiakan aku hahahaha..", ucap perempuan cantik berbaju hitam itu sembari memutar ujung tali Jaring Penangkap Sukma yang membuat jaring ini mengecil ukurannya.
Prabu Bameswara tertegun sejenak mendengar penuturan sang perempuan cantik berbibir hitam ini. Seketika itu juga dia langsung bertanya,
"Tunggu dulu sebentar. Katakan padaku,
__ADS_1
Siapa kau sebenarnya?"