JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Amarah


__ADS_3

Resi Gempurbhumi segera menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Perlahan, satu sosok lelaki tua seperti dirinya muncul dari belakang tubuhnya. Disusul lagi dengan hal yang sama, tercipta 4 sosok lelaki serupa dengan Resi Gempurbhumi.


Lelaki tua itu rupanya benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan ilmu kedigjayaan tingkat tinggi yang dia miliki melihat kemampuan Jaka Umbaran menahan hantaman Ajian Panglebur Gangsa yang dia keluarkan. Kini dia bermaksud mengepung Jaka Umbaran dari keempat penjuru mata angin dengan Ajian Sigar Rogo nya. Ajian ini mampu membelah diri menjadi beberapa orang sekaligus dan memiliki kemampuan beladiri yang sama dengan raga asalnya. Ini adalah ilmu suci yang didapat Resi Gempurbhumi usai bertapa di Gunung Bromo selama beberapa tahun yang lalu.


Keempat sosok Resi Gempurbhumi segera melesat cepat kearah yang berbeda. Keempat orang itu segera mengeluarkan sebuah cis atau tongkat kayu berujung besi. Setelah itu mereka berempat pun segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan menusukkan ujung tongkat nya ke tubuh sang pangeran muda. Jaka Umbaran tetap tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Whhhuuuuuuuutttttth...


Thhrraaanggg thhrraaanggg thhrraaanggg!!


Terdengar suara seperti logam keras beradu saat ujung cis atau tongkat kayu berujung besi itu mengenai kulit Jaka Umbaran. Keempat orang itu berusaha sekuat tenaga untuk menembus pertahanan tubuh Jaka Umbaran yang masih dilapisi dengan cahaya kuning keemasan.


Jaka Umbaran segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki pada Ajian Bandung Bondowoso miliknya. Tangan yang bersedekap di depan dada, segera di lepaskan bersamaan dengan hentakan keras kaki kanan ke tanah.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!


Blllaaammmmmmmm...!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Keempat sosok Resi Gempurbhumi mencelat ke empat arah yang berbeda. Namun mereka berempat pun segera bangkit dari tempat jatuhnya dan kembali berdiri usai mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Mereka berempat pun segera melemparkan gagang cis atau tongkat yang tinggal sepertiganya saja itu ke tanah setelah tongkat kayu itu hancur bersamaan dengan ledakan dahsyat tadi.


Setelah itu mereka berempat pun segera mengambil sebuah seruling berwarna emas yang tersimpan di balik bajunya. Diujung seruling berwarna emas itu, ada sebuah ukiran tengkorak manusia dengan mata merah dan gigi taring tajam. Resi Simharaja terbelalak kaget melihat seruling emas di tangan Resi Gempurbhumi.


"Seruling Raja Neraka!!


Celaka! Kita harus membantu Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya! Ayo cepat...!!", usai berkata demikian Resi Simharaja langsung melesat cepat kearah pertarungan antara Jaka Umbaran dan Resi Gempurbhumi.


Baratwaja pun segera menyusul pergerakan lelaki paruh baya itu. Sementara Gendol dan Besur sama-sama saling pandang sebelum keduanya ikut menyusul kedua pengikut Jaka Umbaran yang lain.


Anantawikrama dan Wara Andhira pun segera menghadang laju pergerakan keempat orang pengikut setia Pangeran Mapanji Jayabaya ini. Melihat Wara Andhira juga bergerak, Besur dan Gendol memilih untuk mengepung perempuan cantik berbaju putih dan kuning itu.


"Waktunya balas dendam, Sur.. Ayo..!!", ucap Gendol yang disambut anggukan kepala dari Besur. Mereka berdua pun segera mengepung Wara Andhira dari dua sisi yang berbeda.


Sementara itu, di sisi lain pertarungan, Anantawikrama mati-matian berusaha untuk mencegah Resi Simharaja dan Baratwaja membantu Jaka Umbaran yang berada dalam kepungan keempat sosok Resi Gempurbhumi. Resi Simharaja yang telah mengetahui kelemahan dari ilmu kanuragan milik Anantawikrama, bekerjasama dengan Baratwaja menghajar Anantawikrama yang sudah terluka sebelumya saat menghadapi Jaka Umbaran.


Pertarungan para pengikut masing-masing pihak yang sedang bertikai ini baik dari Resi Gempurbhumi maupun Jaka Umbaran, berlangsung sangat sengit.


Sedangkan keempat orang sosok Resi Gempurbhumi segera mulai meniup seruling berwarna emas di tangan mereka dengan nada tinggi dan cepat. Gelombang suara yang dihasilkan membuat sakit gendang telinga Jaka Umbaran.


Thulullliiiitttttttt....


Ajian pamungkas tingkat tinggi milik Resi Gempurbhumi, Ajian Seruling Lali Jiwa, yang keluar dari Seruling Raja Neraka langsung menghajar tubuh Jaka Umbaran. Ajian Bandung Bondowoso milik Jaka Umbaran memang ampuh sebagai pertahanan tubuh yang sempurna, akan tetapi Ajian Seruling Lali Jiwa yang tidak menyentuh kulit maupun tubuh sang pangeran secara langsung rupanya mampu menembus selubung cahaya kuning keemasan yang melindungi seluruh tubuh sang pangeran muda.


Perlahan tapi pasti, Jaka Umbaran mulai merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan di gendang telinga nya. Ini membuat Jaka Umbaran jatuh namun masih mampu bertahan dengan dengkul menyangga tubuh nya.

__ADS_1


Biasanya, satu serangan Ajian Seruling Lali Jiwa dari Seruling Raja Neraka ini sudah sanggup membuat seorang pendekar berilmu tinggi bertekuk lutut di hadapan Resi Gempurbhumi akan tetapi keempat sosok Resi Gempurbhumi yang menyerang Jaka Umbaran dari keempat penjuru mata angin masih belum juga bisa menjatuhkan sang Pendekar Gunung Lawu.


Salah satu dari keempat sosok Resi Gempurbhumi itu menyeringai lebar menatap ke arah Jaka Umbaran sedang berjuang keras untuk bertahan menghadapi Ajian Seruling Lali Jiwa andalannya. Apalagi tatkala ia melihat ada darah yang keluar dari telinga sang pangeran muda. Jaka Umbaran menggigit bibirnya menahan amarah yang meledak-ledak dalam hatinya.


"Sebentar lagi kau akan mati, Pangeran Daha!


Sampaikan salam ku pada Raja Neraka hahahaha..", tawa lepas terdengar dari mulut salah satu sosok Resi Gempurbhumi itu segera.


Karena hal ini, salah satu arah menjadi kosong. Jaka Umbaran segera memanfaatkan kesempatan ini untuk bersedekap tangan di depan dada. Perlahan dia menekan kepalan tangan kanan nya ke tanah dan tiba-tiba saja tubuh Jaka Umbaran segera membesar dan terus membesar hingga seukuran dengan bukit. Wajahnya pun berubah menyeramkan dengan taring panjang dan mata yang memerah.


Tak hanya itu, Pangeran Mapanji Jayabaya juga kulitnya pun menjadi semerah api. Rambutnya memanjang hingga sampai ke punggungnya. Tampilan sang pangeran muda dari Kadiri kini telah berubah menjadi seorang raksasa berkulit merah, Butha Agni.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...


Perubahan wujud Sang Yuwaraja Panjalu ini tentu saja mengagetkan semua orang. Tak hanya para pengikutnya, Wara Andhira dan Anantawikrama pun terkejut bukan main melihat munculnya sang raksasa berkulit merah itu.


Suara pertarungan sengit antara mereka juga telah sampai di Istana Kota Pakuwon Watugaluh. Akuwu Mpu Setyaki memimpin langsung para prajurit Pakuwon Watugaluh mendatangi tempat itu dan mereka melihat raksasa berkulit merah kini sedang berdiri menatap tajam ke arah keempat orang sosok Resi Gempurbhumi.


"Gus-Gusti Akuwu, i-itu bu-bukan kah raksasa merah? Ba-bagaimana mungkin i-ini bisa terjadi?", Bekel Gandar, pimpinan prajurit Pakuwon Watugaluh sampai gemetar kakinya saking takutnya melihat munculnya raksasa berkulit merah itu di tempat mereka.


"A-aku juga tidak tahu, Gandar...


Dari ayah ku dulu, aku pernah mendengar tentang ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Gusti Prabu Jayengrana yang bisa berubah menjadi raksasa. Tapi selepas meninggal nya beliau, ilmu itu juga menghilang dari muka bumi", ucap Akuwu Mpu Setyaki sembari terus menatap ke arah raksasa berkulit merah itu dari jarak jauh.


"Lantas, siapa kini yang menguasainya Gusti Akuwu?", tanya Bekel Gandar kemudian.


Tapi jika melihat pertarungan sengit yang ada di sana, bukankah itu adalah para pengikut Pangeran Mapanji Jayabaya? Atau jangan-jangan orang yang menjadi raksasa merah itu adalah...


PANGERAN MAPANJI JAYABAYA!!", Akuwu Mpu Setyaki dan Bekel Gandar kompak menyebut nama Pangeran Mapanji Jayabaya sebagai dugaan sosok pemilik ilmu ajian raksasa ini. Keduanya langsung menatap ke arah pertarungan antara empat orang sosok Resi Gempurbhumi dan sang raksasa berkulit merah.


"Kau benar benar melampaui batas-batas kemanusiaan mu, heh Resi Tua..


Kau layak untuk di kirim ke neraka!", ucap si raksasa merah itu sembari mengibaskan tangannya ke arah dua sosok Resi Gempurbhumi di sisi kanan.


Whhhuuuuuggggghhhh...


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Tak hanya besar, kecepatan gerak raksasa merah itu juga luar biasa. Satu kali sapuan keras tangan kiri membuat satu sosok Resi Gempurbhumi mencelat jauh ke belakang dan menabrak pohon besar di dekat tugu tapal batas Kota Pakuwon Watugaluh.


Buuufffffffffhhh..


Sosok Resi Gempurbhumi itu segera hancur dan berubah menjadi butiran kecil cahaya hijau. Sedangkan satu sosok nya ikut tersapu sapuan tangan Butha Agni masih hidup dan segera bangkit dari tempat jatuhnya. Sosok Resi Gempurbhumi itu segera melompat tinggi menyusul ke arah dua sosok lainnya yang mencoba menyerang Butha Agni dengan tangan kanan yang berwarna merah kekuningan.

__ADS_1


Ya, mereka bertiga mencoba untuk menjatuhkan lawan yang ukuran nya melebihi bukit kecil itu dengan Ajian Rengkah Gunung, satu ilmu kedigjayaan tingkat tinggi kuno yang merupakan salah satu dari sekian ilmu kanuragan terlarang.


Tappp taappphhh taaapppppphh ..


Memanfaatkan setiap lekukan tubuh raksasa berkulit merah besar berkulit merah itu, mereka bertiga melesat ke arah perut Butha Agni dan menghantam perut sang raksasa merah di tiga sisi yang berbeda.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm...!!!


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!


Butha Agni meraung keras saat hantaman Ajian Rengkah Gunung menghajar perutnya. Namun meskipun dia terlihat kesakitan, ilmu kanuragan tingkat tinggi ini tak mampu membuat nya terluka. Malahan si raksasa merah semakin terlihat murka dengan ulah ketiga sosok Resi Gempurbhumi. Dengan cepat, Butha Agni segera menepuk tubuh salah satu sosok Resi Gempurbhumi dengan kedua telapak tangannya.


Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!!


Seketika itu juga, sosok lelaki tua berjanggut pendek itu hancur lebur dan berubah menjadi butiran cahaya hijau seperti sebelumnya. Dua sosok Resi Gempurbhumi yang tersisa mulai sadar bahwa mereka bukan lawan yang sebanding dengan raksasa berkulit merah ini. Segera mereka berdua meluncur turun bermaksud untuk melarikan diri. Namun itu tidak lepas dari pengamatan Butha Agni.


Secepat kilat, Butha Agni menarik sebatang pohon beringin besar yang ada di dekatnya dan langsung melemparkan pada sosok yang mencoba lari ke arah timur.


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm...


Aaauuuuggggghhhhh..!!!


Sosok Resi Gempurbhumi itu langsung meraung keras tertimpa pohon beringin besar yang dilemparkan oleh Butha Agni. Dia masih hidup tapi tergencet oleh pohon besar itu. Sedangkan sosok yang lain mencoba lari ke arah selatan namun belum seratus tombak dia berlari, satu hantaman keras dari sang raksasa merah menghujam keras dari atas. Dia lupa bahwa lawannya bukanlah manusia.


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!


Hantaman keras Butha Agni membuat tanah tempat sosok Resi Gempurbhumi pun melesat hingga sedalam 4 tombak. Tubuhnya langsung hancur berantakan kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh raksasa merah ini. Seperti kedua sosok Resi Gempurbhumi yang lebih dulu mati, tubuhnya pun berubah menjadi butiran cahaya hijau yang langsung berkumpul pada tubuh sosok Resi Gempurbhumi yang tergencet oleh pohon beringin besar itu. Sepertinya yang tergencet itu adalah tubuh asli Resi Gempurbhumi.


Perlahan Butha Agni menoleh ke arah Resi Gempurbhumi yang tergencet di bawah pohon beringin. Matanya nyalang menatap ke arah sosok yang kini sangat menderita itu.


"A-ampuni a-aku, Pangeran Da-daha..


A-ampuni nya-nyawa kuh..", hiba Resi Gempurbhumi meminta pengampunan. Namun bukannya melepaskan Resi Gempurbhumi, Butha Agni malah melompat tinggi ke udara dan menginjak batang pohon beringin besar itu dengan kedua kakinya.


Bhhhaaaaaaaaangggggggg!!!


Pohon beringin besar itu langsung meledak ke dalam tanah hampir separuh betis sang raksasa merah. Bisa dipastikan bahwa Resi Gempurbhumi tewas terkubur hidup-hidup dalam tanah di selatan tapal batas Kota Pakuwon Watugaluh ini.


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh...!!!!


Butha Agni meraung keras usai menghabisi nyawa Resi Gempurbhumi. Melihat gurunya tewas, Anantawikrama langsung kabur melarikan diri. Meninggalkan Wara Andhira yang sudah tak berdaya dalam ikatan tali tambang yang di lakukan oleh Gendol dan Besur.


Melihat itu, Resi Simharaja, Baratwaja, Nyai Paricara, Secawiguna, para prajurit pengawal pribadi Pangeran Mapanji Jayabaya dan para pejabat Pakuwon Watugaluh langsung bersujud di kaki Butha Agni. Dalam sujud nya pada Butha Agni, Resi Simharaja pun berkata,

__ADS_1


"Mohon redakan amarah mu, wahai Awatara Wisnu. Dunia ini tidak akan mampu menahan amarah. Dunia ini pasti hancur jika kau meneruskan amarah yang ada di hati mu.


Mohon berbelas kasih lah pada kami".


__ADS_2