JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Maling


__ADS_3

Besur langsung mendengus kesal karena tahu bahwa kawan-kawannya salah paham dengan apa yang dia maksudkan. Dugaan nya, pasti mereka bertiga mengira bahwa suara aneh yang dia maksudkan berasal dari kamar tidur Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi.


"Sontoloyo kampret!


Aku tahu kalian pasti mengira bahwa aku sedang membicarakan tentang suara dari kamar tidur Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya bukan? Dasar tolol, aku tidak kaget dengan hal itu karena jelek-jelek begini aku sudah merasakannya sendiri bersama Wiyati", ujar Besur sambil menepuk dadanya dengan penuh kesombongan.


"Lantas kalau bukan suara dari kamar tidur Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, lalu apa Sur?


Kau jangan suka bikin perkara ya", hardik Gendol sedikit sengit.


"Siapa yang suka bikin perkara, Ndol? Kau ini sembarangan saja bicara.


Sekarang coba buka kuping kalian lebar-lebar dan dengarkan suara aneh yang datang dari sebelah sana", ucap Besur sambil menunjuk ke arah atap bangunan Istana Katang-katang. Kegelapan malam memang sangat membatasi pandangan mata semua orang.


Resi Simharaja segera menajamkan penglihatannya dan juga mencoba untuk membaui sesuatu yang ada di arah yang ditunjuk oleh Besur. Gendol dan Baratwaja pun juga melakukan hal yang sama.


Samar-samar, Resi Simharaja melihat sesosok bayangan hitam sedang berada di atas atap bangunan istana. Tanpa menunggu lama lagi, lelaki paruh baya itu segera melesat cepat kearah bayangan hitam itu menggunakan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi. Gerakan ini langsung memantik ketiga orang kawannya untuk mengikuti.


Shhhhheeeeeeeetttttth!


Sesosok bayangan hitam sedang mencari celah di atap bangunan istana yang terbuat dari daun alang-alang kering dan ijuk aren ini. Saat itulah Resi Simharaja tiba-tiba muncul di hadapan nya. Gerakan sang resi tua itu nyaris tanpa menimbulkan suara apapun hingga kedatangannya langsung mengejutkan sosok bayangan hitam yang mengenakan topeng ini. Hampir saja dia jatuh saking kagetnya namun dia cepat berpegangan pada atap meskipun gerakannya menimbulkan suara.


Dari dalam kamar tidur Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi pun langsung terhenti seketika.


Di dalam kamar tidur, Jaka Umbaran mendongakkan kepalanya ke arah atap bangunan istana dan menghentikan pekerjaannya. Nararya Padmadewi langsung protes.


"Huhh huhhhhh kenapa berhenti Kangmas Pangeran?", tanya Nararya Padmadewi sembari menatap wajah tampan suaminya.


"Ssssttttttttt...


Ada sesuatu yang sedang terjadi di atas sana. Sebaiknya Yayi Padmadewi tenang sebentar", bisik Jaka Umbaran lirih. Mendengar itu, Nararya Padmadewi pun langsung ikut diam.


Melihat kedatangan telah diketahui oleh para pengawal Mapanji Jayabaya, si sosok bayangan hitam yang mengenakan topeng ini langsung berupaya kabur dengan menjejak atap bangunan itu untuk segera keluar dari dalam tempat itu. Resi Simharaja pun segera mengejarnya. Namun rupanya orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi hingga meskipun hampir saja dia kena cekal anggota kelompok pengikut Jaka Umbaran ini, dia cukup lincah dan gesit untuk meloloskan diri.


Saat hendak melompat ke atas tembok istana, Gendol muncul dari arah depan yang langsung mengayunkan gada nya ke arah kepala sang sosok bayangan hitam ini.


"Modar kowe maling busuk!!"


Whhhuuuuuggggghhhh...


Sosok bayangan hitam itu segera berkelit menghindari gebukan gada Gendol dengan menjatuhkan diri ke tanah. Namun di saat yang bersamaan, Baratwaja dengan cepat melemparkan satu pisau belati nya ke arah kaki kanan orang ini.


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg!


Gerakan kerjasama ini luput dari perhatian si sosok bayangan hitam itu hingga lemparan pisau belati itu langsung menembus betis nya sedalam satu setengah ruas jari.


Chhhrreeepppppppphhhh..


Oooouuuuuuggggghhhhh!!!

__ADS_1


Si sosok bayangan hitam bertopeng itu meraung keras saat pisau belati Baratwaja menembus betis nya hingga dia jatuh ke tanah sambil memegangi kakinya yang terluka. Saat dia mencoba untuk bangkit, Besur melesat cepat kearah nya dan langsung menempelkannya dengan keras.


Plllaaaakkkkk!!!


Aaauuuuggggghhhhh....!!


Sosok bayangan hitam itu langsung roboh. Tempelengan keras Besur telak menghajar rahang bawah kiri nya yang langsung membuatnya tak sadarkan diri. Resi Simharaja mendelik kereng pada Besur seketika itu juga.


"Eh goblok, kalau mau ikut bergabung jangan main hantam sekuat tenaga. Kita ini butuh dia sadar untuk kita korek keterangan nya.


Kau ini benar-benar bodoh!", omel Resi Simharaja yang membuat Besur langsung garuk-garuk kepalanya.


"Ya maaf ya kalau aku kelepasan tenaga tadi.


Habisnya aku kesal melihat dia lolos dari jebakan kalian bertiga", ucap Besur cengar-cengir sambil menatap ke arah ketiga orang itu. Baratwaja langsung geleng-geleng kepala sedangkan Gendol hampir saja menerjang ke Besur andaikan Baratwaja tidak menghalanginya.


"Karena kau yang membuat ulah, kau urus sendiri orang itu. Bawa dia ke halaman samping dan ikat pada pohon sawo itu. Tunggu sampai dia siuman lagi baru nanti kita tanya dia.


Baratwaja, Gendol.. Jangan sampai kalian membantu buntelan nasi itu", setelah berkata demikian Resi Simharaja segera melangkah lebih dulu menuju ke arah halaman samping. Gendol segera mengikuti langkah sang bekas raja siluman Alas Roban ini.


"Ja, kau tidak mau membantu ku? Orang ini badannya besar loh Ja..", ucap Besur memelas. Baratwaja pun segera mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Aku tidak mau berurusan dengan Macan Tua itu, Sur.. Kalau dia sampai ngamuk, aku bukan lawannya jadi lebih baik tidak cari perkara dengan nya", ujar Baratwaja enteng sambil melangkah menyusul Resi Simharaja dan Gendol yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.


"Duh nasib nasib kok apes begini ya..


Mau bantu eh malah aku yang kena masalah. Dasar apes...", gerutu Besur sambil mulai mengangkat tubuh sosok bayangan hitam itu. Dengan sempoyongan, Besur membawa tubuh sosok bayangan hitam yang pingsan itu menyusul kawannya. Maklum saja, tubuh si sosok bayangan hitam itu jauh lebih besar daripada Besur yang bertubuh agak pendek cenderung bogel.


Sesampainya di tempat yang dituju, Besur segera mendudukkan tubuh pingsan itu dan cepat mengikatnya dengan seutas tali tambang yang dia dapat di dekat pintu samping istana. Begitu selesai, dia langsung mendekati ketiga kawannya dengan nafas ngos-ngosan seperti baru saja bekerja keras.


"Kampret laknat..


Kalian semua benar-benar tidak setia kawan. Tega sekali menyuruhku menggotong orang sebesar itu. Tubuhnya berat sekali, mungkin kebanyakan dosa huffftt huffftt...", ucap Besur sambil meluruskan kakinya untuk mengurangi pegal.


"Kau itu yang kebanyakan dosa..


Makanya lain kali jangan main tangan sembarangan. Biar kau tidak menerima hukuman karena tidak mampu menahan diri", ucap Baratwaja sembari tersenyum geli. Besur tidak menjawabnya, hanya melengos kesal mendengar jawaban kawannya itu.


Gelapnya malam terus bergerak menuju pagi. Selepas tengah malam, hujan deras mengguyur wilayah Kotaraja Daha di sertai gemuruh suara petir yang menyambar-nyambar. Udara menjadi begitu dingin. Gendol dan kawan-kawan terpaksa harus berpindah tempat ke serambi samping dan tidur di sana hingga pagi tiba.


Akibat hujan deras yang turun lepas tengah malam tadi, kabut turun menjelang pagi. Bahkan saat waktunya sang surya menampakkan dirinya di langit timur pun tak langsung terlihat karena tebalnya kabut yang menyelimuti seluruh kawasan Kotaraja Daha.


Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya menguap lebar sekali sebelum mengucek matanya untuk melihat keadaan sekitarnya. Nararya Padmadewi masih tertidur pulas dengan memeluk tubuh nya dengan selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Melihat itu Jaka Umbaran tersenyum penuh arti teringat akan kejadian semalam sembari mencium lembut kening sang istri. Perlahan, sang pangeran muda memindahkan tangan sang istri lalu beringsut turun dari ranjang. Setelah mengenakan pakaian nya, dia melangkah keluar dari dalam bilik kamar tidur.


Melihat kedatangan Jaka Umbaran, Gendol dan Resi Simharaja segera mendekati sang pangeran. Sedangkan Baratwaja pun segera menyepak bokong Besur yang masih tertidur pulas. Besur langsung bangun. Saat hendak protes, Baratwaja pun menunjuk ke arah Jaka Umbaran hingga makian Besur yang mau keluar pun langsung hilang entah kemana. Dia bergegas bangkit dan menyusul ketiga kawannya yang lain.


"Semalam ada masalah apa hingga ribut seperti itu?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..

__ADS_1


Itu semalam ada orang yang mencoba untuk mengintip ke dalam istana. Kami berhasil menangkapnya namun sayangnya dia pingsan kena tempelengan Besur. Itu orangnya kami ikat disana", lapor Gendol sembari menghormat pada sang pangeran muda.


Hemmmmmmm...


"Coba kita cari tahu siapa orang itu dan mau apa dia kemari? Ayo kita lihat..", Jaka Umbaran segera melangkah menuju ke arah pohon sawo yang ditunjukkan oleh Gendol. Diikuti oleh keempat punakawan nya, Jaka Umbaran pun berhenti di depan sosok bertopeng itu.


"Lepaskan topengnya"


Mendengar perintah dari sang pangeran muda, Baratwaja pun segera melepas topeng warna putih itu segera. Disana ada seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal yang sudah ditumbuhi uban.


"Bangunkan dia sekarang. Pakai segala cara untuk membuatnya sadar", ucap Jaka Umbaran segera.


Baratwaja pun segera menepuk pipi orang itu segera namun tidak juga membuat lelaki paruh baya itu bangun dari pingsannya. Besur langsung mengambil air di gentong yang ada di dekat tangga naik ke istana. Dia langsung mengguyur lelaki itu tapi juga masih belum berhasil.


Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Gendol sebuah ide nakal. Dia segera melangkah maju ke arah lelaki paruh baya itu lalu memunggungi nya.


"Kau mau apa Ndol?", tanya Jaka Umbaran yang heran melihat ulah manusia yang satu ini.


"Sebaiknya Gusti Pangeran agak mundur sedikit. Perut hamba dari tadi mulas mulas terus. Mungkin ini bisa membangunkan nya", ujar Gendol sambil nungging di depan wajah lelaki paruh baya itu. Jaka Umbaran yang paham dengan sikap aneh ini langsung mundur beberapa langkah ke belakang.


Dhhhuuuuuuutttttttt....


"Aaaahhhhhhhh lega rasanya...", ujar Gendol sambil mengelus perutnya. Dan....


Uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh...


"Bau sekali uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh..


Bau apa ini? Hoooeeeeggggh hoooeeeeggggh!!!", ujar lelaki tua itu sambil muntah-muntah berulang kali. Dia langsung sadar seketika. Jaka Umbaran menutup hidungnya, begitu pula dengan Resi Simharaja dan Baratwaja. Besur yang terlambat beberapa saat masih sempat menghirup aroma busuk kentut Gendol.


"Kau baru makan bangkai ya Ndol? Hoooeeeeggggh bau sekali kentut mu", omel Besur sembari menutup rapat hidungnya.


"Ini Ajian Kentut Semar, Sur..


Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menguasainya. Dan kau tidak termasuk dalam kelompok itu", cebik Gendol dengan penuh kemenangan.


"Ah kentut bau bangkai saja sombong..


Kalaupun ada ajian semacam itu, aku juga tidak sudi memilikinya", damprat Besur sengit. Gendol hanya cengengesan saja mendengar omelan kawan nya ini.


Usai bau kentut itu menghilang, Jaka Umbaran segera mendekati sang lelaki paruh baya yang terikat pada pohon sawo itu.


"Katakan padaku, siapa kau dan mau apa memasuki wilayah Istana Katang-katang ini seperti maling begitu?", tanya Jaka Umbaran segera.


Bukannya langsung menjawab, lelaki paruh baya itu segera menangis tersedu-sedu. Semua orang langsung saling pandang melihat ulah lelaki ini.


"Heh jangan banyak bertingkah, lekas katakan apa mau mu kemari ha? Jangan membuat Gusti Pangeran menunggu kau bicara", hardik Besur sembari mendelik kereng.


Lelaki paruh baya itu segera menghentikan tangisannya sebelum dia berkata,

__ADS_1


"Tolong hamba Gusti Pangeran..."


__ADS_2