
Puluhan orang berpakaian sangar ini langsung menerjang maju ke arah Jaka Umbaran. Belum selangkah mereka bergerak, para prajurit pilihan yang dijadikan sebagai pengawal pribadi sang pangeran muda mencabut senjata mereka masing-masing dan menghadang laju pergerakan para anggota perompak sungai ini. Sedangkan punakawan Jaka Umbaran pun segera bersiaga penuh dengan memegang senjata yang mereka miliki di sekitar tempat duduk sang majikan. Pertarungan sengit pun pecah di tempat itu.
Selagi kedua pihak yang bersengketa masih beradu ilmu beladiri, Brajasena sang pimpinan perompak sungai ini mencabut sepasang golok pendek di pinggangnya dan segera melompat ke arah Jaka Umbaran yang masih duduk menikmati makanan nya. Hampir satu tombak jauhnya dari tempat Jaka Umbaran duduk, sang pangeran muda menyentil tulang paha ayam panggang yang baru saja dia makan ke arah Brajasena.
Cllaaaaaassshhhhh shhrreeettthhh!!
Bromocorah yang sering melakukan perampokan di Sungai Kapulungan ini melihat kedatangan serangan cepat itu. Buru-buru ia menyilangkan kedua golok pendek nya untuk menahan hantaman tulang ayam ini.
Dhhhaaaassshhhh!!!
Sentilan Jaka Umbaran rupanya di lambari tenaga dalam tingkat tinggi hingga mampu membuat Brajasena terdorong mundur dan nyaris saja jatuh ke lantai warung makan andai tak cepat menguasai diri. Lelaki yang wajahnya memiliki luka memanjang di sebelah kanan ini nampak terkesiap juga dengan apa yang baru saja dialami nya.
"Brengsek, pemuda tampan ini rupanya memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Aku tidak boleh berlama-lama di tempat ini kalau begitu', batin Brajasena.
Sebagai pimpinan perompak sungai ini, tentu saja Brajasena tidak akan mudah menyerah begitu saja. Dia segera memasang kembangan ilmu silat nya sebelum menjejak lantai warung makan dengan keras dan melesat ke arah Jaka Umbaran.
Namun sepertinya dia salah perhitungan. Saat dia hendak kembali melanjutkan rencana nya untuk melukai Jaka Umbaran, Besur dan Baratwaja segera memapak pergerakan Brajasena dengan sabetan senjata mereka masing-masing. Besur mengayunkan pedangnya ke arah kaki sedangkan Baratwaja mengarahkan pisau belati nya ke arah leher lelaki bertubuh gempal itu.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!
Melihat dua serangan cepat dari sisi kiri dan kanannya, Brajasena segera merubah gerakan tubuhnya dengan melompat ke arah diantara serangan cepat Besur dan Baratwaja. Dia lolos dari jebakan maut dua perwira prajurit Panjalu ini. Namun ini belum selesai.
Gendol yang memegang satu gada nya langsung mengayunkan senjata itu ke arah Brajasena sekuat tenaga.
Whhhuuuuuggggghhhh!!
Brajasena kaget bukan main melihat munculnya serangan ketiga yang mengarah ke kepala nya. Secepat mungkin dia berusaha untuk menahan hantaman gada Gendol dengan sepasang golok pendek nya.
Dhhhaaaassshhhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Brruuaaaakkkkkkkh....,!!!
Meskipun berhasil menghentikan serangan cepat Gendol, namun nyatanya Brajasena masih saja terpental ke belakang saking kuatnya tenaga Gendol. Tubuhnya mencelat mundur dan menabrak dinding warung makan yang terbuat dari bambu ini hingga dinding bambu ini jebol seketika.
Brajasena segera bangkit dari tempat jatuhnya sembari mengusap sisa darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Saat dia hendak maju, dia melihat para anak buahnya telah bertumbangan dengan luka di tubuh mereka. Beberapa ada yang terbunuh meskipun sebagian besar masih hidup. Belum sempat dia menyadari situasi yang sedang dia hadapi, Resi Simharaja yang sedari tadi hanya diam saja di samping Jaka Umbaran melesat cepat kearah belakang tubuh nya dan melayangkan tendangan keras kearah punggungnya.
Bhhhuuuuuuggggh!
__ADS_1
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Lelaki berwajah codet itu langsung jatuh terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Saat dia berusaha untuk bangkit, Gendol telah ada di belakang tubuhnya sembari menempelkan gada nya ke tengkuk Brajasena.
"Bergerak sedikit saja, hancur kepala mu aku kepruk!", ancam Gendol perlahan.
"B-baik a-aku menyerah.. Aku tidak akan melawan lagi", ucap Brajasena segera. Dia tahu bahwa jika dia bersikeras untuk melawan orang-orang ini, kematian sudah pasti datang kepada nya. Mungkin dengan menyerah, nyawanya masih bisa bertahan.
Sementara itu para prajurit pengawal pribadi Sang Yuwaraja Panjalu segera mengumpulkan beberapa orang anggota perompak sungai yang masih hidup ini di belakang tempat Brajasena berada. Mereka pun berlutut dengan tangan diatas kepala.
Jaka Umbaran bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Brajasena yang kini telah berlutut di tanah. Agaknya ia ingin tahu sesuatu. Tadi dia sekilas melihat sebuah liontin perak di leher Brajasena berbentuk bulat seperti bulan dengan gambar tengkorak manusia di tengah nya dan itu adalah lencana sebuah perkumpulan rahasia atau kelompok tertentu yang mungkin bisa menjadi petunjuk bagi Jaka Umbaran.
"Apa kalian semua benar-benar para perompak sungai?", tanya Jaka Umbaran segera.
Betapa terkejutnya Brajasena mendengar pertanyaan itu. Dia langsung berpikir keras bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan itu tanpa membocorkan rahasia jati diri dia dan kelompoknya.
"Cepat jawab! Jangan coba coba untuk membohongi majikan ku", bentak Gendol sambil menekan tengkuk Brajasena dengan gada besi nya.
"Eh oh ma-mana mungkin kami punya jati diri yang lain, Pendekar.
Kami ini hanya perompak sungai yang ingin mendapatkan harta mudah untuk bersenang-senang saja", kilah Brajasena mencoba untuk berdalih. Dan..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Brajasena langsung meraung keras tatkala Besur yang sedang berada di samping kanan melesat cepat dan menampar pipi kanan nya dengan keras. Pipi kanan Brajasena langsung memerah seperti tomat matang. Jaka Umbaran segera melotot ke arah perwira prajurit Panjalu ini.
"Ada nyamuk Ndoro Umbaran. Kasihan kalau tidak di tepuk hehehehe...", ujar Besur sambil cengengesan.
"Mana ada nyamuk siang-siang begini Sur? Kau pasti hanya cari alasan untuk menamparnya bukan?
Tapi kalau si wajah parut ini berani berbohong, aku pasti akan membantu mu untuk membuat wajah nya babak belur. Kau tenang saja, kawan..", ucap Gendol sembari mendelik kereng pada Brajasena. Lelaki bertubuh gempal itu pun langsung keder mendengar ancaman Gendol. Bagaimanapun juga, dia telah merasakan betapa kuatnya lelaki bertubuh tinggi besar itu.
"A-aku akan mengaku iya mengaku..
Tolong jangan pukul lagi. Tangannya yang kapalan itu keras sekali", ucap Brajasena terbata-bata.
"Nah ini baru benar. Kalau kau tidak berbelit-belit dari tadi, pasti kau tidak akan merasakan tamparan ku ini. Cepat katakan, siapa kalian sebenarnya sebelum aku kembali memukuli mu", ancam Besur segera. Brajasena menghela nafas berat sebelum berbicara.
"Kami adalah orang-orang dari Lembah Hantu. Pangeran Lembah Hantu pimpinan kami memecah beberapa pengikut setia untuk ditugaskan mencari harta benda sebanyak mungkin. Yang aku dengar, itu akan digunakan oleh penguasa Kerajaan Jenggala untuk sebuah tujuan besar", urai Brajasena segera. Dia mencoba menggunakan nama besar Pangeran Lembah Hantu untuk menakuti Jaka Umbaran dan kawan-kawan dengan harapan mereka melepaskan dia dan anak buahnya.
__ADS_1
"Ndoro Umbaran..
Lembah Hantu terletak di barat Kadipaten Hujung Galuh, tepatnya di dekat perbatasan wilayah dengan Kadipaten Matahun. Pimpinan mereka, Pangeran Lembah Hantu, adalah seorang pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Sebaiknya kita lepaskan orang-orang ini jika kelak tidak ingin berurusan dengan mereka", ucap Secawiguna mencoba untuk mengingatkan bahaya dari kelompok ini.
"Takut apa?
Jangankan cuma hantu, iblis saja tak kami takutkan karena ada macan tua bersama kita. Ya kan Resi Simharaja?", sahut Gendol seraya melirik ke arah Resi Simharaja.
"Tutup mulut mu, Gigi Jarang.. Kau jangan asal bicara sembarangan.
Ndoro Umbaran, apa yang sebaiknya kita lakukan pada mereka?", tanya Resi Simharaja sembari menatap ke arah Jaka Umbaran yang masih diam.
"Serahkan saja mereka pada mereka..", Jaka Umbaran menunjuk ke arah luar warung makan dimana puluhan orang prajurit Pakuwon Watugaluh datang. Seorang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian seperti seorang perwira rendah langsung masuk bersama dengan para prajurit nya.
"Hei kau, siapa yang...", si perwira rendah berpangkat bekel prajurit itu langsung diam seketika tatkala ia melihat Baratwaja menunjukkan sebuah lencana perak Ardhachandralancana. Dia tahu siapa orang yang ada di hadapannya dan itu tidak boleh disinggung oleh nya.
"Masukkan para penjahat ini ke penjara. Sampai kami mampir ke tempat ini lagi, jangan pernah lepaskan mereka", ujar Jaka Umbaran sembari berbalik badan.
"Kami mengerti..", ucap sang bekel prajurit itu sembari mengangguk hormat.
Setelah membereskan masalah ini, rombongan Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu. Mereka menyeberangi Sungai Kapulungan dengan bantuan perahu penyeberangan. Buih kecoklatan terlihat diantara arus listrik yang mengalir ke Laut Jawa ini.
Dua pasang mata yang terus mengawasi pergerakan Jaka Umbaran dari kejauhan, segera melepaskan dua ekor burung merpati surat. Burung ini pun langsung terbang ke arah selatan. Mereka berdua telah mengikuti langkah sang pangeran muda sejak keluar dari Kotaraja Daha.
Setelah menyeberangi Sungai Kapulungan, rombongan Jaka Umbaran segera bergerak menuju ke arah Kota Kadipaten Matahun. Sepanjang perjalanan mereka, terlihat pemandangan yang kurang sedap dipandang mata. Beberapa rumah penduduk nampak seperti bangunan reyot yang menunggu roboh. Ini tak luput dari perhatian Pangeran Mapanji Jayabaya.
Menjelang sore hari, mereka baru sampai di sebuah hutan kecil yang ada di selatan Kota Kadipaten Matahun. Menurut Secawiguna, untuk sampai ke Kota Matahun, masih cukup jauh jadi Jaka Umbaran tidak memaksakan kehendak untuk meneruskan perjalanan. Mereka memilih untuk berkemah di tempat itu.
Senja dengan cepat di ganti malam. Bintang gemintang terlihat berkelap-kelip di angkasa, menjadi pelita indah diantara bulan yang hampir purnama yang menggantung di langit timur dengan angkuhnya. Suasana sekitar tempat itu sangat sepi. Hanya terdengar suara jangkrik dan belalang yang terdengar bersahutan. Sesekali terdengar suara burung hantu yang semakin menambah kesunyian malam ini.
Namun sepertinya ketenangan malam itu tidak berlangsung lama. Jaka Umbaran dan para pengikutnya yang sedang berdiang menghangatkan tubuh dari dinginnya udara malam di kejutkan dengan datangnya suara ledakan keras. Sepertinya itu adalah suara pertarungan.
"Kalian tunggu disini. Aku akan memeriksa nya", ujar Jaka Umbaran sebelum melesat cepat kearah datangnya suara itu. Resi Simharaja pun segera menyusul nya diikuti oleh Baratwaja. Tak sampai 4 tarikan nafas, Jaka Umbaran menghentikan langkahnya yang ringan diantara pucuk-pucuk pepohonan. Segera dia meluncur turun ke balik rimbun pepohonan dan mengamati apa yang sedang terjadi.
Beberapa orang pendekar terlihat sedang mengadu ilmu kesaktian. Terlihat mereka seperti sedang melindungi seorang gadis muda dan seorang lelaki tua. Lawan mereka seperti datang dari satu kelompok karena memakai pakaian serupa. Meskipun dengan pencahayaan yang redup, namun masih terlihat jelas oleh Jaka Umbaran keberadaan mereka.
Resi Simharaja dan Baratwaja pun segera mendarat di samping sang pangeran muda. Mata tua Resi Simharaja segera terbelalak lebar tatkala ia melihat sosok lelaki tua berjanggut putih pendek itu.
"Ragasoma..
__ADS_1
Apa yang sedang dia lakukan disini?!"