
Kasak kusuk segera terdengar diantara para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa yang memadati tempat itu. Semuanya sangat mengenal senjata yang pernah menjadi salah satu senjata andalan seorang pejabat tinggi Kerajaan Panjalu, Mapatih Warigalit.
Ya, itu memang senjata yang pernah di gunakan oleh Mapatih Warigalit. Seorang pendekar yang turut membantu Prabu Jayengrana yang pernah menggegerkan dunia persilatan Tanah Jawadwipa dengan mengalahkan beberapa dedengkot pendekar golongan hitam seperti Iblis Bukit Jerangkong dan Dewa Rampok Hitam. Bersama dengan sang pangeran muda dari Kadiri kala itu yang bersenjatakan Pedang Naga Api, Warigalit menjadi seorang pendamping yang tangguh dengan ilmu beladiri yang dia dapat dari Kitab Tombak Suci, Tombak Angin dan Ajian Tapak Dewa Api nya.
Pradipta sendiri adalah cucu dari Mapatih Warigalit. Dari rahim Ratri istri nya, Mapatih Warigalit memiliki sepasang putra putri, Sambangbuana dan Citraresmi. Sambangbuana menikah dengan seorang gadis asal Pajajaran dan hidup menetap disana sedangkan Citraresmi dipersunting oleh putra bungsu Adipati Matahun, Satriawangsa. Dari pernikahan itu lahirlah Pradipta yang kemudian belajar di Padepokan Padas Putih yang kini dipimpin oleh Mpu Wiratmaya. Usai lengser dari jabatan nya sebagai Mapatih usai meninggalnya Prabu Jayengrana, Warigalit menyepi ke wilayah Kadipaten Seloageng Utara, tepatnya di Wanua Karangrejo dan menjadi seorang pertapa dengan nama Resi Lodhangjagad.
Ketika Pradipta mengunjungi kediaman kakeknya di Pertapaan Karangrejo, Resi Lodhangjagad alias Warigalit mewariskan senjata pusaka andalannya Tombak Angin beserta Kitab Tombak Suci kepada cucunya itu. Walhasil, Pradipta mempelajari Ilmu Tombak Suci di bawah bimbingan sang kakek sebelum pulang ke Padepokan Padas Putih untuk menghadiri acara pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung.
Kini kemunculan kembali Tombak Angin yang telah lama tidak ada kabarnya tentu saja mengejutkan pendekar dunia persilatan. Semuanya bertanya-tanya, siapa pendekar muda berkumis tebal itu sebenarnya dan darimana ia berasal.
Locana yang tidak peduli dengan itu semua, langsung melesat cepat kearah si pendekar muda berkumis tebal itu sambil mengayunkan pedangnya. Si pendekar muda ini langsung menyambut kedatangan serangan cepat Locana dengan putaran tombak pendek nya.
Whhhuuuggghhhh whhhuuutthh..
Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!!
Pertarungan itu berlangsung seru dan menegangkan. Locana yang merasa dirinya lebih jago, terus memburu si pendekar muda asal Padepokan Padas Putih ini dengan ilmu pedang bayangan nya.
"Locana benar-benar ceroboh. Dia terlalu meremehkan kemampuan lawannya", ujar Sadewa sambil terus menatap ke arah tengah halaman Perguruan Golok Sakti dimana Locana dan pendekar muda berkumis tebal itu mengadu ilmu beladiri.
"Kenapa kakang bicara seperti itu? Aku lihat dari tadi, Kakang Locana terus mendesak pendekar muda itu. Aku bahkan yakin sekali, dia akan cepat memenangkan pertandingan ini", ujar Surtikanti segera.
"Huh, jangan melihat itu saja Surtikanti. Sedari tadi, pendekar muda ini masih tenang saja dan tidak ada tanda-tanda dia kerepotan menghadapi serangan cepat Locana..
Jangan-jangan.. Ah celaka, Locana dalam bahaya..", Sadewa yang baru menyadari kalau sang pendekar muda berkumis tebal itu sengaja mengulur waktu, langsung berteriak lantang.
"Locana, hati-hati! Dia menyiapkan ilmu kanuragan nya!!!"
Locana yang baru menyabetkan pedang nya ke arah lawan dan di tangkis dengan tombak pendek itu, begitu mendengar teriakan keras Sadewa berusaha untuk menjauh dari si pendekar muda berbaju putih itu. Namun dia terlambat beberapa saat karena si pendekar muda berkumis tebal asal Padepokan Padas Putih ini sudah memutari tubuh nya dan menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api.
Whhhuuuggghhhh!
Betapa terkejutnya Locana melihat kedatangan serangan cepat itu. Tak ingin lawannya berbuat semaunya, Locana langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya di tangan kiri dan memapak hantaman tapak tangan kiri lawan dengan tapak tangan yang sama.
Blllaaammmmmmmm!!
Locana langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dia langsung muntah darah segar sementara tangan kirinya terlihat melepuh seperti terkena kobaran api. Pria bertubuh gempal itu pingsan kemudian.
Melihat kondisi Locana yang memprihatinkan, Mpu Dirgo melesat cepat ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti untuk menghentikan pertandingan.
"Pendekar muda, siapa namamu?", tanya Mpu Dirgo segera.
"Saya Pradipta, Pendekar Golok Sakti", balas pemuda berkumis tebal itu segera.
Hemmmmmmm..
__ADS_1
"Saudara para pendekar dunia persilatan semua nya. Pradipta dari Padepokan Padas Putih telah memenangkan pertandingan. Selanjutnya dia akan bertanding melawan Perguruan Kelelawar Merah.
Siapa yang mewakili Perguruan Kelelawar Merah, silahkan maju ke tengah halaman ini", ucap Mpu Dirgo lantang.
Mendengar itu, Dewa Kalong Merah langsung melangkah maju ke hadapan Pradipta dan Mpu Dirgo. Melihat itu, Mpu Dirgo mengernyitkan dahinya.
"Kau yang maju sendiri, Sukrasana ( Mpu Dirgo menyebut nama asli Dewa Kalong Merah)?", tanya Mpu Dirgo segera.
"Hehehehe.. Apa boleh buat, Mpu Dirgo. Murid ku Parta sedang tidak enak badan jadi aku sendiri yang akan menjadi penantang pendekar muda ini", jawab Dewa Kalong Merah alias Sukrasana sambil tersenyum lebar.
Huhhhhh..
"Aku ingatkan pada mu, jangan sampai membunuh pendekar muda ini karena jika kau melakukannya, Mpu Wiratmaya (pimpinan Padepokan Padas Putih) pasti tidak akan melepaskan mu", mendengar ucapan itu, Sukrasana alias Dewa Kalong Merah langsung membeliak lebar.
"Apa peduli mu, Dirgo? Jangankan Wiratmaya, seluruh Padepokan Padas Putih maju pun aku tidak akan mundur selangkah pun", bentak Dewa Kalong Merah sembari mendelik tajam ke arah Mpu Dirgo.
"Kalau ini bukan pertandingan resmi untuk menentukan pengatur wilayah tengah, aku tidak akan segan mencabut Golok Sakti Penebar Maut ku untuk menebas batang leher mu Sukrasana.
Tapi jika melakukan hal yang diluar batas kemanusiaan, aku tidak akan pernah segan-segan untuk menindak mu", setelah berkata seperti itu, Mpu Dirgo segera memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk memulai pertandingan.
Dewa Kalong Merah langsung membuka lebar kedua tangan nya ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Sebuah kain merah yang terikat pada pergelangan tangan nya ikut membuka lebar. Ini menjadi pertanda bahwa dia sudah siap untuk untuk bertarung. Di lain sisi, Pradipta segera memutar gagang Tombak Angin di tangan kanannya dengan cepat.
"Bocah, kita lihat saja angin siapa yang lebih kuat hari ini!!"
Dewa Kalong Merah langsung mengibaskan tangan kanannya ke depan. Serangkum angin kencang berhawa panas langsung menderu kencang kearah Pradipta yang berjarak 4 tombak di depannya. Selesai tangan kanan, tangan kiri nya ikut mengibas cepat kearah lawan.
Dua rangkaian angin kencang berhawa panas menderu ke arah Pradipta. Pendekar muda asal Padepokan Padas Putih ini segera memutar gagang Tombak Angin nya untuk menahan gempuran angin panas dari lawan.
Tubuh Pradipta harus terdorong mundur selangkah demi selangkah ke belakang walaupun terlindungi oleh putaran gagang Tombak Angin yang dipegangnya.
Melihat itu, Dewa Kalong Merah mengeram keras sambil kembali mengibaskan kedua tangan nya bergantian ke arah Pradipta.
Whhuuusshhh whhuuusshhh whhuuusshhh!!
Gempuran angin panas dari lawan membuat Pradipta terus tersurut mundur ke belakang. Satu hempasan gelombang angin panas terakhir yang di lepaskan oleh Dewa Kalong Merah membuat pendekar muda ini terlempar dan jatuh menyusruk tanah dengan keras.
Pradipta segera bangkit dari tempat jatuhnya dan bersiap untuk menghadapi lawannya yang memang memiliki kemampuan beladiri lebih tinggi dari dia. Bersamaan dengan itu, Dewa Kalong Merah melesat cepat kearah nya sambil mengayunkan cakar tangan nya yang berkuku tajam ke arah wajah Pradipta.
Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!
Menggunakan Tombak Angin sebagai senjata, Pradipta segera memutar gagang Tombak Angin dan segera mengayunkan nya pada cakar tangan kiri Dewa Kalong Merah.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
__ADS_1
Dewa Kalong Merah menjerit keras saat sambaran cepat bilah tipis Tombak Angin memutus jari kelingkingnya. Darah segar segera mengucur deras dari luka di jari kelingking kiri Dewa Kalong Merah yang putus itu. Namun dedengkot pendekar dunia persilatan ini langsung memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada Pradipta.
Dhhiiieeeeesssshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!!
Pradipta menjerit tertahan dan tubuh nya terlempar jauh ke belakang. Dari mulut nya darah segar muncrat keluar. Tombak Angin terlepas dari genggaman tangannya dan tergeletak tak jauh dari tempat ia jatuh. Setelah bangkit dari tempat jatuhnya, pemuda berkumis tebal itu segera merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan tubuhnya. Lalu dengan cepat ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada. Cahaya merah menyala berhawa panas menyengat seperti api berkumpul di kedua telapak tangannya.
Dewa Kalong Merah yang baru saja menghentikan pendarahan pada jari kelingking kiri nya, menggembor murka dan melesat cepat kearah Pradipta dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi. Cakar tangan kanan nya memancarkan cahaya merah kehitaman.
"Cakar Kalong Siluman....
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!!"
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat tercipta saat Pradipta memapak hantaman lima larik cahaya merah menyala berhawa panas yang dilepaskan oleh Dewa Kalong Merah. Meskipun Ajian Tapak Dewa Api adalah salah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi, namun perbedaan tingkat tenaga dalam membuat Pradipta harus menerima kenyataan pahit dengan terpelanting jauh ke belakang. Meskipun dia masih sadar, namun dia sudah tidak berdaya.
Dewa Kalong Merah yang sudah terbakar amarah karena kehilangan satu jari tangan kiri nya, kembali melesat cepat kearah Pradipta hendak menghabisi nyawa pendekar muda ini. Mpu Dirgo yang menonton pertarungan sengit dari pinggir halaman, melesat cepat ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti sambil membabatkan Golok Sakti Penebar Maut nya ke depan pergerakan Dewa Kalong Merah.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
Cahaya tipis hijau kekuningan dengan cepat membelah halaman, menciptakan garis lurus dengan perisai tipis berwarna serupa. Dewa Kalong Merah serta merta menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Mpu Dirgo yang baru saja menjejak tanah halaman Perguruan Golok Sakti.
"Sudah cukup, Sukrasana. Pemuda itu sudah kalah. Hentikan niat mu untuk membunuh nya", ucap Mpu Dirgo segera.
"Kau berani membela nya? Apa kau tidak takut aku mengobrak-abrik tempat mu ini ha?", Dewa Kalong Merah mendelik tajam ke arah Mpu Dirgo namun lelaki paruh baya itu malah tersenyum lebar ketika mendengar ancaman lelaki tua berwajah tirus ini.
"Hehehehe coba saja kalau kau berani, Sukrasana..
Saat ini Dewi Kembang Bulan dan Maharesi Haridharma berada di pihak ku. Apa kau pikir mereka akan diam saja jika kau berani membuat ulah disini?", ucap Si Pendekar Golok Sakti sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kauuuuu....
Huhhhhh rubah licik, awas kau nanti", Dewa Kalong Merah mendengus dingin sembari menatap ke arah lain. Begitu Dewa Kalong Merah berhasil dikendalikan, Mpu Dirgo segera menoleh ke arah para pendekar dunia persilatan yang memadati tempat itu.
"Pradipta dari Padepokan Padas Putih telah dikalahkan. Kesempatan selanjutnya adalah untuk Perguruan Bukit Katong untuk maju menantang Dewa Kalong Merah.
Yang mewakili silahkan maju", ucap Mpu Dirgo keras.
Mendengar ucapan itu, Jaka Umbaran segera menyenggol lengan Sadewa yang masih berdiri di tempatnya.
"Adhi Sadewa, sekarang giliran mu"
"Kakang Umbaran, kemampuan ku hanya sedikit lebih tinggi dari Locana. Dia saja sudah dikalahkan oleh murid Padepokan Padas Putih. Jika aku yang maju, itu hanya akan semakin mempermalukan nama besar perguruan kami", ucap Sadewa si Pedang Kilat yang sadar diri dengan kemampuan beladiri yang ia miliki.
__ADS_1
"Kakang Umbaran saja yang menghadapi kelelawar tua itu.
Pasti kakang bisa mengalahkan nya.."