JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Dua Hantu Tua dari Lembah Hantu


__ADS_3

"Berhenti kalian!!"


Teriakan keras dari Ki Sempani membuat Jaka Umbaran menarik tali kekang kudanya. Begitu juga dengan Besur, Baratwaja, Gendol dan Resi Simharaja. Para prajurit pengawal sang pangeran muda yang letih setelah berjalan jauh itu juga sedikit kesal karena mereka menghadang di tengah jalan.


"Dia yang membantu Ragasoma kemarin?", bisik Ki Sempani sambil menoleh ke arah belakang nya. Seorang lelaki bertubuh kekar namun memiliki beberapa bagian tubuh yang dibalut dengan perban muncul dan langsung mengangguk cepat.


"Benar Sekali Ki..


Dialah orang yang sudah membunuh Mendhadahana", orang itu menunjuk ke arah Jaka Umbaran yang masih duduk tenang diatas kuda nya.


"Kau masih muda tapi memiliki kemampuan beladiri yang lumayan. Aku sama sekali tidak pernah mendengar nama mu sebelum nya.


Katakan padaku, siapa kau?!", Ki Widangkoro yang berdiri di samping Ki Sempani ikut angkat bicara. Terlihat dia menelisik ujung rambut hingga ujung kaki Jaka Umbaran untuk mengetahui barangkali dia mengetahui sosok lelaki muda di hadapannya itu.


"Aku Jaka Umbaran. Aku tidak kenal dengan kalian. Kenapa kalian menghalangi jalan ku?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Huhhhhh..


Kami mencari Ragasoma. Sekarang katakan pada ku, mana Ragasoma? Kenapa dia tidak ikut dalam rombongan kalian?", Ki Sempani mengamati orang yang menjadi buruan Lembah Hantu tapi tak menemukan nya dalam rombongan Jaka Umbaran.


"Dia sudah pergi ke Kotaraja Daha. Kalian bisa menyusul nya kalau mau. Minggir, jalan halangi perjalanan kami", ucap Jaka Umbaran dengan tenang.


"Minggir kata mu?!


Kau sudah membunuh Mendhadahana, kawan kami. Tentu saja kami akan membuat perhitungan dengan mu. Darah di bayar darah, nyawa mu akan menjadi tumbal persembahan untuk Mendhadahana di Swargaloka!", setelah berkata demikian, Ki Sempani langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil mengayunkan tangannya yang membentuk cakar dengan cahaya ungu kehitaman pada ujung kuku nya ke arah leher Sang Pendekar Gunung Lawu.


"Modar kowe bocah keparat!!


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh...


Resi Simharaja yang berkuda di samping kanan Jaka Umbaran, mendengus keras tatkala melihat serangan cepat Ki Sempani.


Sepertinya dia mengenal jurus yang dipakai oleh lelaki tua berpenampilan seram ini.


"Cakar Badol Iblis..


Aku paling benci ilmu beladiri rongsokan itu!!", Resi Simharaja segera menepak punggung kuda tunggangan nya dan langsung melesat cepat kearah Ki Sempani sambil mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah lawan. Cahaya kuning kehitaman di tangan kanan Resi Simharaja langsung memapak ayunan cakar Ki Sempani.


Brrraaaaaaakkkkkhhhh..


Kedua cakar tangan itu saling mengait hingga percikan bunga api kecil dari lontaran tenaga dalam tingkat tinggi mereka langsung beradu dengan cepat.


Jlllaaaaaaaaarrrrr...!!!


Resi Simharaja segera menggunakan kesempatan ini untuk merubah gerakan tubuh dengan memutar tubuhnya ke udara lalu melayangkan tendangan keras beruntun ke punggung Ki Sempani sekeras mungkin.


Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Ki Sempani langsung terjungkal menyusruk tanah. Baju ungu tua nya kotor dengan tanah dan rerumputan. Namun lelaki tua itu segera bangkit sambil meludahkan rumput yang masuk ke mulutnya.


"Phhuuuiiiiiihhhhh..


Bangsat kau bajingan licik!! Akan ku cabik-cabik tubuh mu menjadi daging cincang!!", sumpah serapah keluar dari mulut Ki Sempani.

__ADS_1


"Baru kali ini aku lihat ada badol ( elang Jawa ) doyan makan rumput..


Kau sudah kehabisan daging, elang tua? Hehehehe...", ujar Resi Simharaja dengan santainya.


Gendol yang berdiri di samping Besur langsung tersenyum kecil sambil berkata, " Baru kali ini aku melihat macan tua itu tertawa..".


"Iya Ndol, mana ketawanya jelek pula. Orang seperti dia memang sebaiknya tidak tertawa saja. Malah jadi aneh", sambut Besur sambil mengelus dagu.


Sempani menggembor buas mendengar ejekan dari Resi Simharaja. Dia langsung melesat cepat kearah pria paruh baya bertubuh kekar itu dengan serangan cepat nya yang mematikan. Melihat kawan nya menerjang maju, Ki Widangkoro ikut meloloskan cambuk di pinggangnya dan segera ikut menghambur ke arah Resi Simharaja. Begitu juga dengan para pendukung nya, mereka yang sudah menggenggam erat gagang senjata nya dari tadi langsung mengikuti langkah sesepuh Lembah Hantu ini.


Melihat pergerakan itu, Baratwaja pun segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan 4 pisau belati nya. Secepat kilat, dia mengibaskan tangannya ke arah lelaki tua bermata juling itu segera.


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg shhhrriinggg!!


Empat pisau belati kecil itu segera melesat cepat kearah pergerakan para pengikut Lembah Hantu. 6 orang berhasil lolos, namun 2 orang lain nya langsung terjungkal menyusruk tanah usai pisau belati kecil itu menembus lehernya.


Gendol dan Besur pun langsung ikut merangsek maju ke arah Ki Widangkoro dengan mengayunkan senjatanya ke arah lelaki tua bermata juling itu segera.


Whhhuuuuuggggghhhh shhrreeettthhh!


Ki Widangkoro menggunakan cambuk nya yang tiba-tiba menjadi kaku usai dialiri tenaga dalam sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke udara. Dia berhasil lolos dari sabetan senjata dua pengawal Jaka Umbaran ini. Saat ia ada di udara, Ki Widangkoro langsung melecutkan cambuk nya ke arah Jaka Umbaran yang masih duduk di atas kudanya.


Ctttaaaaaaaaaaaaarrrrr..!!!


Ujung cambuk seketika meluncur cepat kearah Jaka Umbaran. Sang Pendekar Gunung Lawu pun segera menyambar ujung cambuk itu dan berhasil memegang nya erat-erat. Sekuat tenaga, Jaka Umbaran menarik cambuk itu hingga Ki Widangkoro ikut tertarik ke arah nya.


Namun sepertinya lelaki tua bermata juling itu sudah cukup punya banyak pengalaman dalam pertarungan hingga saat cambuk nya di tarik oleh Jaka Umbaran, salah satu sesepuh Lembah Hantu itu segera melayangkan hantaman tapak tangan kiri nya yang berwarna hijau kehitaman ke arah sang pangeran muda.


Jaka Umbaran pun langsung menyambut serangan tapak tangan kiri Ki Widangkoro dengan tapak tangan kanan nya yang sudah di lambari cahaya putih kebiruan Ajian Guntur Saketi.


Blllaaammmmmmmm!!!


"Uhukkk uhukkk.. Bajingan itu rupanya benar-benar berilmu tinggi, Kakang Sempani..


Kalau mau mengalahkannya, kita harus menggunakan ilmu gabungan kita", ujar Ki Widangkoro sembari mengusap sisa darah segar yang ada di sudut mulutnya.


"Kau benar, Adhi Widangkoro..


Sebaiknya kita segera menggunakan Ajian Tapak Hantu Neraka agar cepat menyelesaikannya pertarungan ini. Bajingan tua itu telah banyak menguras tenaga dalam ku", Ki Sempani mengangguk setuju.


Kedua orang tua itu yang tersohor sebagai Dua Hantu Tua dari Lembah Hantu ini segera berdiri berjajar. Dengan cepat keduanya menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka. Cahaya hijau kehitaman segera tercipta di kedua telapak tangan dua orang sesepuh Lembah Hantu ini. Lalu Ki Sempani merentangkan tangan kanannya sedangkan Ki Widangkoro merentangkan tangan kirinya hingga kedua telapak tangan mereka bersatu. Kedua orang tua itu berteriak lantang sembari menghantamkan tapak tangan kanan dan kiri mereka yang tidak bersatu.


"Tapak Hantu Neraka.....


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"


Whhhhuuuuuummmm....


Dua larik cahaya hijau kehitaman bergulung-gulung menjadi satu lalu menerabas cepat kearah Jaka Umbaran. Hawa dingin udara berbau busuk seperti bangkai manusia berdesir kencang mengikuti cahaya hijau kehitaman ini.


Gendol dan Besur yang geram karena merasa dipecundangi oleh Ki Widangkoro tadi, langsung memapak pergerakan cahaya hijau kehitaman itu dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada senjata mereka masing-masing.


Blllaaammmmmmmm....!!!


Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!!

__ADS_1


Ledakan dahsyat terdengar hingga ke Kota Kadipaten Matahun saat ilmu pamungkas mereka beradu. Gendol dan Besur terpental ke belakang dan menyusruk tanah di samping kanan dan kiri Jaka Umbaran sambil memuntahkan darah segar. Senjata mereka berdua terlepas dari tangan.


Sementara itu, Ki Widangkoro dan Ki Sempani langsung menyeringai lebar melihat dua pengawal Jaka Umbaran ini berhasil di jatuhkan. Keduanya kembali mengulangi gerakan yang sama dan segera melontarkan cahaya hijau kehitaman ke arah Jaka Umbaran.


Sadar bahwa dua orang tua ini bukan lawan yang sepadan dengan Gendol dan Besur, Resi Simharaja dan Baratwaja yang hendak menghadapi serangan Dua Hantu Tua dari Lembah Hantu ini pun segera di cegah oleh Jaka Umbaran.


"Kalian minggir dulu. Biar aku yang menghadapi mereka", ucap Jaka Umbaran sembari melompat dari punggung kudanya dengan tangan kanannya yang sudah berwarna putih kebiruan disertai dengan lompatan bunga api putih seperti petir yang menyambar-nyambar dari Ajian Guntur Saketi.


Whhhuuummmmm...


Blllaaammmmmmmm!!!


Jaka Umbaran tersurut mundur beberapa langkah ke belakang walaupun masih baik-baik saja. Sementara itu Dua Hantu Tua dari Lembah Hantu itu juga terdorong mundur. Bisa dipastikan bahwa kedua ilmu kesaktian mereka berimbang.


Jaka Umbaran segera memejamkan matanya. Perlahan cahaya kuning keemasan bersinar di manik mata pendekar muda ini. Kekuatan nya pun langsung meningkat puluhan kali lipat dari sebelumnya karena Ajian Bandung Bondowoso telah dia keluarkan. Kali ini, Jaka Umbaran segera merapal mantra Ajian Brajamusti nya. Cahaya biru terang muncul dari dada dan menyebar ke kedua tangan sang pangeran muda.


Saat serangan berikutnya dari Dua Hantu Tua ini, Jaka Umbaran segera melesat cepat memapak pergerakan cahaya hijau kehitaman itu.


"Ajian Brajamusti...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr...!!!!!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar. Sepasang sesepuh Lembah Hantu itu terpental jauh ke belakang usai gelombang kejut besar menghantam tubuh mereka. Keduanya langsung memuntahkan darah segar untuk kali kedua. Sedangkan Jaka Umbaran terlihat masih segar bugar dan nampak tersenyum menatap ke arah mereka berdua. Ini membuat kedua dedengkot pendekar dunia persilatan golongan hitam itu terkejut bukan main. Mereka berdua langsung sadar bahwa mereka bukan lawan tanding dari pendekar muda ini.


Timbul ketakutan di hati kedua orang tua itu. Kedua berusaha keras untuk menjauh dari Jaka Umbaran yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan mengesot mundur.


"Uhukkk uhukkk..


Sudah cukup pendekar muda! K-kami bukan lawan mu.. A-ampuni kami..", ucap Ki Widangkoro sembari terus berusaha menjauhi Jaka Umbaran.


"Apa kalian juga mengampuni nyawa setiap pendekar yang kalian kalahkan? Huh, pasti tidak!


Tapi aku punya satu syarat jika kalian masih ingin hidup", ucap Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera.


"K-katakan a-apa syarat nya? Kami pasti memenuhi nya", ucap Ki Sempani terbata-bata.


"Aku dengar, Pangeran Lembah Hantu sedang mempersiapkan sesuatu yang ada hubungannya dengan Istana Kotaraja Kahuripan.


Sekarang aku ingin tahu apa rencana itu? Jika sampai kalian tidak bicara, Ajian Brajamusti ku akan mengantar kalian berdua ke neraka", ucap Jaka Umbaran dengan penuh hawa membunuh yang menakutkan. Cahaya biru terang kembali memancar dari telapak tangan sang pangeran muda.


Ki Sempani dan Ki Widangkoro langsung saling berpandangan mendengar syarat yang mesti mereka penuhi. Itu adalah rencana rahasia yang di buat oleh Pangeran Lembah Hantu dan Maharani Uttejana bersama para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur yang berpihak pada Istana Kahuripan.


Karena lama tidak ada jawaban, Jaka Umbaran segera menghantam tugu tapal batas wilayah Kota Kadipaten Matahun segera.


Blllaaammmmmmmm!!


Tugu tapal batas wilayah sebesar arca Dwarapala yang ada di pintu gerbang istana Katang-katang yang ada di samping Ki Sempani dan Ki Widangkoro ini langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Ini menggambarkan bahwa kekuatan ilmu kesaktian sang pangeran muda tidak main-main.


"Jika kalian tidak mengatakannya, nasib kalian berdua akan sama seperti tugu tapal batas itu", ancam Jaka Umbaran segera.


Tak dapat menutupi rasa ketakutan setengah mati nya, dengan wajah yang memucat, Ki Sempani segera berkata,


"Tu-tunggu dulu pendekar muda..

__ADS_1


A-aku akan mengatakan semuanya.."


__ADS_2