
"Eh itu setelah Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar Umbaran pingsan, saya menggendong Ndoro ke dalam rumah ini. Pendekar Pedang Kilat dan Pendekar Pedang Bayangan kemudian menyalurkan hawa murni tenaga dalam ke punggung Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar, tapi Ndoro tidak juga bangun.
Nah semalaman hamba berjaga di sini setelah yang lain beristirahat", sahut Gendol sembari menepuk dadanya seolah dia yang paling berjasa.
"Kalau Resi Simharaja, kemana dia?", tanya Jaka Umbaran kemudian.
Belum sempat ada yang menjawab, dari arah belakang Resi Simharaja melangkah masuk ke dalam rumah tua itu. Lelaki paruh baya dengan pakaian serba putih selayaknya seorang pertapa itu pun segera mendekati tempat Jaka Umbaran berada.
"Hamba disini Yang Mulia", jawab Resi Simharaja sembari membungkuk hormat kepada Sang Pendekar Gunung Lawu.
"Seingat ku, tadi malam kau kena gigit dua kepala anjing liar itu. Bagaimana luka-luka mu?", Jaka Umbaran menelisik ujung rambut hingga ujung kaki Resi Simharaja seolah mencari bagian tubuhnya yang terluka. Namun dia tidak menemukan apa-apa di tubuh bekas raja siluman Alas Roban ini. Sedangkan Resi Simharaja tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan itu.
"Kami bangsa siluman harimau, memiliki kemampuan menyembuhkan luka tubuh hanya dengan menjilati luka yang ada, Yang Mulia. Jadi gigitan anjing liar itu tidak akan bisa membuat hamba mati begitu mudah", mendengar jawaban Resi Simharaja, Jaka Umbaran menarik nafas lega.
"Kau jangan terus-terusan menyebut ku sebagai Yang Mulia, Resi Simharaja. Orang bisa salah paham dengan mengira aku adalah seorang bangsawan.
Panggil saja aku Umbaran atau Ndoro Umbaran seperti Gendol kalau kau tidak keberatan", Resi Simharaja mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pendekar muda ini.
"Lantas bagaimana dengan mayat wiku tua itu, Adhi Sadewa? Sudah kau urus?", sambung Jaka Umbaran kemudian.
"Aku sudah melemparkan mayat wiku sesat itu ke Kali Comal, Kakang. Kau tak perlu merisaukannya lagi", sahut Locana si Pedang Bayangan.
"Baiklah jika semuanya sudah beres..
Bagaimana dengan Kali Comal? Apa banjirnya sudah surut?", Jaka Umbaran menatap ke arah Sadewa sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Permadi dan Juwana sudah aku utus untuk melihat keadaan, Kakang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kemari", jawab Sadewa segera.
Setelah kedatangan Permadi dan Juwana dan menerima laporan mengenai keadaan Kali Comal yang sudah tidak banjir lagi, Sadewa selaku pimpinan rombongan itu memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan. Mereka segera meninggalkan tempat itu.
Usai menyeberangi Kali Comal, mereka terus bergerak menuju ke barat tepatnya ke arah markas Perguruan Golok Sakti di Lembah Kali Gung yang merupakan tempat pertemuan para pendekar dunia persilatan.
****
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh..
Thhrraaanggg thhrraaanggg!!!
Dhhhaaaassshhhh!!!!!
Seorang gadis cantik yang menggunakan kemben ungu kehitaman, mengenakan beberapa cunduk di sanggul rambut nya yang panjang dan hitam legam dengan sebuah selendang merah tersemat di depan dada nampak mengatur nafasnya yang memburu usai beradu ilmu pedang dengan seorang perempuan paruh baya dengan pakaian yang cukup bagus. Gadis cantik itu nampak menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Ayo Rengganis... Jangan berpuas diri, kau harus lebih giat berlatih untuk meningkatkan ketajaman panca indra mu", ucap perempuan paruh baya yang mengenakan pakaian jubah ungu kehitaman ini sembari memutar gagang pedang di tangan nya.
__ADS_1
Gadis cantik yang di panggil dengan nama Rengganis itu segera menghela nafas panjang sebelum kembali melesat cepat kearah perempuan paruh baya itu sembari kembali mengayunkan pedangnya ke arah perempuan tua ini.
Whhhuuuggghhhh whhhuuutthh..
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!
Jurus demi jurus berlalu dengan cepat. Gerakan tubuh dua perempuan berbeda usia ini sungguh luwes namun juga cepat dan mematikan. Rengganis sendiri terlihat sudah selincah dan segesit sang guru dalam pertarungan antara hidup dan mati.
Rengganis yang berhasil menghindari tebasan pedang perempuan tua yang ternyata adalah guru nya ini melompat mundur beberapa langkah lalu dengan cepat menyalurkan tenaga dalam pada bilah pedang di tangan kanannya. Cahaya biru redup berhawa dingin tercipta dari pamor yang keluar dari pedang itu. Rengganis memutar gagang pedang nya dan dengan cepat menyabetkan pedang ke arah sang guru.
Cahaya pedang berhawa dingin setipis kain meluncur cepat kearah perempuan paruh baya itu. Tanpa ragu-ragu, perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu segera mengayunkan pedangnya membabat ke arah arah cahaya tipis biru redup itu.
Whhhuuuuuuuutttttth...
Cllaaaaaassshhhhh...
Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!
Cahaya biru redup berhawa dingin itu terbelah dan mencelat ke samping kiri kanan belakang tubuhnya. Ketika menghantam dua bongkahan batu besar di belakangnya, ledakan beruntun terdengar. Perempuan paruh baya itu tersenyum lebar melihat itu semua.
"Bagus sekali, Rengganis..
Tak sia-sia aku susah payah mengajari mu Ilmu Sembilan Pedang Surga. Kau sungguh-sungguh berbakat", ucap perempuan paruh itu sembari kembali menyimpan pedang ke dalam sarungnya.
Rengganis pun segera menyimpan pedang nya ke sarung pedang yang terikat pada pinggang. Perempuan muda cantik itu segera melangkah mendekati sang guru.
"Kau adalah putri dari Prabhaswara sahabat ku, tentu saja kau berbakat seperti halnya ayah mu yang merupakan seorang pendekar hebat. Jangan terlalu merendah, Rengganis.
Oh iya, sebentar lagi kita sampai di Perguruan Golok Sakti. Akan banyak sekali pendekar hebat yang hadir. Jaga sikap mu disana", ucap perempuan paruh baya yang memiliki nama besar di dunia persilatan, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan.
"Murid mengerti Guru", jawab Rengganis dengan penuh hormat.
Keduanya segera mengumpulkan barang mereka yang sengaja di letakkan pada atas batu dibawah pohon rindang tempat mereka beristirahat. Keduanya datang dari kawasan selatan Pulau Jawa tepatnya dari Kadipaten Paguhan yang merupakan wilayah paling barat Kerajaan Panjalu. Mereka telah berhari-hari menempuh perjalanan jauh ke Lembah Kali Gung untuk mengikuti acara pertemuan para pendekar dunia persilatan yang diadakan setiap 4 tahun sekali.
Setelah selesai membereskan barang, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan dan murid semata wayangnya Dewi Rengganis segera melangkah meninggalkan tempat itu.
Setelah keduanya cukup jauh berjalan, di persimpangan jalan dekat Lembah Kali Gung, mereka berpapasan dengan rombongan orang-orang yang memakai pakaian warna merah dengan ikat kepala hitam. Melihat ciri ciri itu, mereka berasal dari satu perguruan.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus dengan wajah sedikit tirus dengan satu gigi taring yang terlihat seperti gigi kelelawar menonjol keluar dari mulut sebelah kiri terlihat memimpin rombongan orang berbaju merah ini. Sebuah senyuman aneh terukir di bibir nya. Kumisnya yang jarang dan jenggot panjang nya yang tipis semakin menambah keanehan di wajah pria yang mungkin berusia sekitar 5 dasawarsa ini.
Ya, dia adalah Dewa Kalong Merah, pimpinan Perguruan Kelelawar Merah sekaligus guru besar perguruan silat yang bermarkas di kaki sebelah selatan Gunung Wilis. Meskipun penampilan nya aneh, namun lelaki paruh baya ini bukanlah pendekar sembarangan. Diantara para pesilat dunia persilatan Tanah Jawadwipa kala itu, nama besar Dewa Kalong Merah bukanlah hal yang bisa disepelekan begitu saja. Ajian Cakar Kalong Siluman miliknya yang terkenal memiliki daya hancur tinggi, membuat lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus ini begitu dihormati oleh banyak orang.
"Wah-wah, rupanya aku sedang beruntung kali ini. Ada seorang wanita cantik namun hanya bisa berjalan kaki. Sungguh sayang sekali.
__ADS_1
Heh, Nyai Larasati.. Sebegitu miskinnya kamu hingga tak mampu membeli seekor kuda ya? Hahahaha...", ejek Dewa Kalong Merah yang segera disambut dengan gelak tawa oleh para pengikutnya.
"Rupanya semakin tua, mulut mu semakin tidak terkendali ya Kalong bangkotan?
Apa kau pikir sudah begitu kaya dengan dandanan mu yang tetap lusuh seperti hanya punya pakaian itu saja he? Memalukan sekali ", balas Nyai Larasati tak kalah sadis.
"Kurang ajar!!!
Jelas-jelas kau yang mirip gembel, tapi malah menghina orang lain seenaknya. Dasar pendekar tak tahu tata krama ", Dewa Kalong Merah mulai kesal dengan balasan Nyi Larasati.
Kedua dedengkot pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini memang punya masalah di masa silam. Keduanya pernah bertarung memperebutkan sebuah batu mustika yang bisa membuat tenaga dalam seseorang meningkat pesat. Namun akhirnya batu mustika ini justru malah hilang di curi dari mereka oleh seseorang yang disebut sebagai Setan Maling saat keduanya beradu ilmu kesaktian. Inilah yang menjadi penyebab keduanya terlibat perseteruan panjang.
"Mulut mu memang beracun, Kalong bangkotan!
Apa kau pikir aku takut dengan ilmu cakar kelelawar gua mu itu? Jika kau benar-benar pendekar pilih tanding, turun sini. Jangan hanya banyak bicara!", tantang Nyai Larasati yang geram dengan omongan Dewa Kalong Merah.
Phhuuuiiiiiihhhhh..!!
"Perempuan laknat! Aku sudah bersabar dari tadi tapi kau terus saja tidak memberi muka pada ku. Hari ini, akan ku buat kau melihat kehebatan ilmu kanuragan ku!!", Dewa Kalong Merah meludah kasar ke tanah, lalu melompat tinggi ke udara. Pria paruh baya bertubuh kurus itu memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.
Di atas udara, Dewa Kalong Merah merubah gerakan tubuhnya dan meluncur turun dengan cepat ke arah Nyai Larasati sambil mengayunkan tangan kiri nya yang terbungkus sarung tangan besi berujung runcing ke arah Nyai Larasati.
Shhhrrrraaaaaakkkkkkh...
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi ini segera mencabut pedang di pinggangnya dan menangkis sabetan cakar besi Dewa Kalong Merah secepat kilat.
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!
Begitu serangannya di tangkis Nyai Larasati, Dewa Kalong Merah memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada Nyai Larasati. Guru Dewi Rengganis ini segera menjejak tanah hingga tubuhnya melenting mundur beberapa langkah ke belakang. Begitu dia menjejak tanah, Nyai Larasati kembali maju dengan menusukkan pedangnya kearah Dewa Kalong Merah yang baru saja menjejak tanah.
Tak mau kalah, sarung tangan besi berujung runcing di tangan kiri Dewa Kalong Merah langsung mencengkeram bilah pedang yang hampir saja menembus lehernya. Tangan kanan kakek tua yang sudah berwarna merah kehitaman itu pun segera merangsek maju, mengincar dada Nyai Larasati.
Perempuan paruh baya bertubuh ramping ini segera menyambut kedatangan serangan tapak Dewa Kalong Merah dengan tapak tangan kiri yang bersinar hijau terang.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat kedua telapak tangan keduanya beradu. Dewa Kalong Merah tersurut mundur beberapa tombak ke belakang begitu pula dengan Nyai Larasati. Tingkat tenaga dalam kedua orang ini memang berimbang.
Keduanya bersiap untuk melanjutkan pertarungan namun tiba-tiba sebuah tebasan cahaya putih tipis menerabas cepat ke tengah arena pertarungan mereka.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaammmmmmmm!!!
__ADS_1
Baik Dewa Kalong Merah maupun Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sama sama menoleh ke arah datangnya serangan cepat itu. Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan perut sedikit buncit membekap sebuah golok pendek sepanjang dua jengkal tangan melangkah ke arah mereka. Dengan sedikit mengerahkan tenaga dalam pada tenggorokan, lelaki berambut panjang sebahu itu segera bersuara,
"Apa kalian berdua tidak bisa menghargai ku?"