
Jaka Umbaran segera menyikut wajah Shuralangi sang siluman ikan hiu. Namun siluman asal Kerajaan Siluman Laut Utara ini lebih dulu melepaskan gigitannya dan melompat mundur. Dia lolos dari serangan Jaka Umbaran.
'Pendekar muda ini rupanya memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Aku tidak boleh setengah-setengah dalam bertarung melawan nya kalau tidak mau kalah', batin Shuralangi.
Segera, kedua tangan Shuralangi menyilang di depan dada. Dia mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya kali ini. Cahaya biru kehitaman segera menutupi seluruh tubuh Shuralangi.
Perlahan tubuh sang siluman ikan hiu itu membesar dan terus membesar hingga dua kali orang dewasa. Di punggungnya sebuah sirip mencuat keluar seperti kebanyakan ikan hiu pada umumnya. Dari belakang pantatnya, muncul ekor ikan sedangkan wajahnya kini sedikit maju ke depan seperti wajah ikan hiu. Diantara jari jemari tangannya muncul selaput. Wujud Shuralangi kini menjadi manusia setengah hiu.
Setelah itu ia melesat cepat bagaikan kilat ke arah Jaka Umbaran. Dengan cepat Shuralangi menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah Sang Pendekar Gunung Lawu.
Whhhuuuuuuuutttttth!
Perubahan kecepatan gerak Shuralangi membuat Jaka Umbaran kaget bukan main. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini masih sempat menyilangkan kedua tangannya ke depan wajah sebelum pukulan keras Shuralangi mengenainya.
Bhhhuuuuuuggggh....!!!!
Jaka Umbaran langsung terpelanting jauh ke belakang dan menghantam gentong air yang ada di depan tangga naik Pendopo Pisowanan Pakuwon Watugaluh. Gentong air itu langsung hancur berantakan. Namun Jaka Umbaran segera bangkit sambil menatap tajam ke arah Shuralangi yang menyeringai lebar memamerkan gigi tajamnya. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.
'Tak hanya kecepatan nya yang meningkat puluhan kali lipat, tapi juga tenaga nya pun bertambah tinggi. Siluman ini tak boleh dibiarkan begitu saja', batin Jaka Umbaran sembari mengusap sisa darah yang ada di bibir sudut kiri.
Jaka Umbaran pun segera mengerahkan tenaga dalam nya. Jika tadi dia hanya seperempat mengerahkan tenaga dalam nya, kini dia membuatnya menjadi separuh. Cahaya kuning keemasan yang semula hanya tipis saja menutupi seluruh tubuhnya, kini bertambah tebal.
Tak ingin kecolongan lagi dengan kejadian seperti tadi, Jaka Umbaran pun merapal mantra Ajian Langkah Dewa Angin. Seusai rapalan itu selesai, ada angin dingin yang mengikuti langkah kaki sang pangeran muda. Tak hanya itu, Pangeran Mapanji Jayabaya pun lantas merapal mantra Ajian Brajamusti yang bisa digunakan untuk siluman. Cahaya biru terang berpendar cepat di sekitar telapak tangan Sang Pendekar Gunung Lawu. Shuralangi kaget setengah mati melihat hal ini.
"Ajian apa itu? Kenapa tiba-tiba aku merasa bahwa diri ku sedang dalam bahaya besar?", gumam Shuralangi tanpa sadar.
Siluman ikan hiu itu lebih terkejut lagi saat tiba-tiba Jaka Umbaran sudah muncul di hadapan nya sembari menghantamkan kepalan tangan kanan nya ke arah wajah Shuralangi.
Whhhuuuuuggggghhhh!
__ADS_1
Meskipun sedikit gugup, Shuralangi cepat angkat tangan kiri nya untuk menangkis pukulan keras sang pangeran muda dari Kadiri ini. Tak lupa, dia memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada tangan kiri.
Bhhuuuggghhh.. Blllaaammmmmmmm!!
Tubuh besar Shuralangi langsung tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Ada rasa sakit yang luar biasa pada lengan kiri nya yang menangkis hantaman tangan kanan Jaka Umbaran tadi. Saat Shuralangi memeriksa nya, mata nya terbelalak lebar tatkala ia melihat kulit lengan kiri nya gosong seperti baru saja terbakar api. Kini dia mulai mengerti kenapa mata batin nya melihat bahaya besar saat melihat Jaka Umbaran mengeluarkan Ajian Brajamusti nya.
'Brengsek pemuda ini..
Aku tidak boleh bertarung dalam jarak dekat dengan nya!'
Shuralangi segera melesat menjauhi Jaka Umbaran sambil memutar tubuhnya. Keringat yang keluar dari dalam telapak tangannya segera dikibaskan ke arah Jaka Umbaran yang bergerak menuju ke arah nya.
Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg shhhrriinggg!!
Keringat dingin ini mengeras seperti besi dan menerabas cepat kearah laju pergerakan sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu itu secepat lemparan senjata rahasia.
Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
"Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya rupanya memiliki kesaktian yang tinggi..
Siluman jelek itu saja tak mampu untuk melukainya. Dan aku lihat dia terus menerus berupaya untuk menjauhi nya", ujar Rara Arumsari yang kini telah dalam perlindungan Akuwu Mpu Setyaki. Putri sulung Akuwu Watugaluh dari sang istri Rara Aditi ini rupanya tak lepas menatap ke arah pertarungan antara Jaka Umbaran dan Shuralangi.
"Kita hanya bisa menggantungkan harapan pada Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, Arumsari..
Berdoalah kepada Hyang Akarya Jagat agar Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya mampu mengalahkan siluman ikan hiu itu. Sebab jika tidak, maka kau akan di bawa pergi siluman itu dan aku tidak mungkin bisa menghalangi niat nya", ujar Akuwu Mpu Setyaki segera. Rara Arumsari mengangguk mengerti dan segera merapal mantra pujian kepada Sanghyang Tunggal sebagai permohonan agar Jaka Umbaran bisa mengalahkan siluman ikan hiu itu.
Shuralangi terus menghujani tubuh Jaka Umbaran dengan senjata rahasianya. Perlahan, sambil terus bergerak menjauhi Jaka Umbaran, dia memasukkan tangan kanannya ke dalam mulut.
Krrraaaakkkkkk Aaaarrrgggggghhhhh!!!
__ADS_1
Terdengar suara seperti tulang patah dan Shuralangi menjerit keras. Saat tangan kanannya keluar dari dalam mulutnya, Shuralangi telah memegang sebuah senjata seperti tulang ikan berwarna putih dengan panjang sekitar setengah depan dengan ujung lancip seperti sebuah jarum. Ini adalah senjata pamungkas Shuralangi yang bernama Pedang Tulang Hiu.
Sesuatu dengan namanya, Pedang Tulang Hiu memang tercipta dari tulang rusuk sang pemilik. Namun jangan salah, jika menganggap bahwa pedang ini tidak tajam dan rapuh seperti tulang ikan biasa. Pedang ini sangat tajam bahkan mampu untuk memotong batu karang dengan mudah. Shuralangi selaku anggota keluarga siluman ikan hiu, menguasai betul kemampuan pedang ini meskipun ini sangat menyakitkan.
Sembari menenteng Pedang Tulang Hiu di tangan kanannya, Shuralangi merapal mantra ilmu kanuragan andalannya, Tapak Hiu Iblis. Cahaya biru kehitaman bersinar terang di telapak tangan kiri Shuralangi. Siluman ikan hiu ini rupanya ingin cepat mengakhiri pertarungan sengit ini karena wujud manusia setengah hiu nya akan segera menghilang.
"Ku cincang tubuh mu bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!!!", Shuralangi menggembor lantang sebelum melesat cepat kearah Jaka Umbaran.
Melihat kedatangan serangan Shuralangi, tangan kanan Jaka Umbaran segera meraih gagang Keris Pulanggeni yang tersarung rapi di pinggangnya. Begitu Shuralangi datang dengan tebasan Pedang Tulang Hiu nya, Jaka Umbaran segera menyambutnya dengan tangkisan Keris Pulanggeni
Thhrraaanggg...!!!!
Ketika tebasan pedang nya berhasil di tangkis oleh Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya, Shuralangi langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah dada sang pendekar muda dari Gunung Lawu ini. Namun, lagi-lagi harapan nya untuk mencuri kesempatan itu gagal total tatkala Jaka Umbaran menyambut hantaman tangan kiri dengan tapak tangan kiri sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu.
Blllaaammmmmmmm...!!!!
Shuralangi terpental jauh ke belakang. Siluman ikan hiu itu langsung memuntahkan darah nya yang berwarna hijau kehitaman. Akan tetapi, belum sempat tubuhnya menyentuh tanah, lagi-lagi Jaka Umbaran telah muncul di atas tubuhnya dan segera menghujamkan Keris Pulanggeni ke dahi Shuralangi sekuat tenaga.
Chhhrreeepppppppphhhh...
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Shuralangi menjerit keras saat ujung bilah Keris Pulanggeni yang tajam, menembus dahi hingga ke otaknya. Tubuh Shuralangi menggeliat-geliat seperti ikan yang meronta berusaha melepaskan diri dari tangkapan nelayan. Perlahan tubuh Shuralangi berubah menjadi seekor ikan hiu besar sebelum akhirnya ikan hiu itu diam untuk selamanya. Shuralangi tewas di ujung bilah Keris Pulanggeni.
Kematian Shuralangi membuat satu-satunya siluman pengikutnya yang masih hidup saat berhadapan dengan Besur, melarikan diri dengan cara menghilangkan tubuhnya. Besur menyarungkan kembali pedangnya dan menoleh ke arah Jaka Umbaran yang baru saja mencabut Keris Pulanggeni dari dahi Shuralangi.
Sembari senyum-senyum layaknya orang gila, Besur pun berkata,
"Wah lumayan besar juga Gusti Pangeran tangkapan ikan nya.
__ADS_1
Malam ini kita pesta makan ikan hiu besar!"