
"Jangan judi kau jadikan sebagai kebiasaan, Ndol. Judi dan taruhan itu hanya akan mengantar mu dalam angan-angan yang tidak berujung pangkal.
Aku tahu kau bertaruh dengan Permadi kemarin saat Simharaja bertarung melawan Anjing Neraka itu. Aku masih belum lupa, wajah Permadi yang lemas setelah kehilangan duitnya dan wajah mu yang bersorak kegirangan mendapatkan uang taruhan Permadi. Dan setelah itu, Permadi menjadi tidak akrab lagi dengan mu.
Ingat baik-baik kata-kata ku ini, Ndol. Judi dan taruhan hanya akan menghancurkan mu, hidup mu dan pertemanan mu", ceramah Jaka Umbaran panjang lebar yang membuat Gendol langsung tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Saya patuh pada perintah dari Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar..", ucap Gendol sambil menunduk.
Sementara itu, pertarungan sengit antara Hadikusumah dan Barmawijaya telah mendekati akhir. Keduanya sama sama melompat mundur beberapa tombak ke belakang usai beradu ilmu kanuragan tingkat tinggi.
Hooosshhh hooosshhh hooosshhh...
'Brengsek! Si keparat dari Astanaraja ini benar-benar tidak bisa di anggap remeh. Aku harus segera menyelesaikan pertarungan jika tidak ingin mempermalukan nama besar perguruan', batin Barmawijaya sembari mengatur nafasnya yang memburu.
Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal itu segera menyilangkan kedua cakar tangan nya ke depan dada. Cahaya merah kekuningan tercipta di kedua telapak tangan Barmawijaya si Rajawali Merah. Rupanya dia sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri pertarungan ini dengan mengeluarkan ilmu kanuragan andalannya, Cakar Rajawali Membelah Gunung.
"Hadikusumah..
Aku akui kau hebat bisa memaksaku untuk mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri ku. Tapi aku tidak akan memberi ampun lagi kepada mu. Matilah kau, Hadikusumah!
Cakar Rajawali Membelah Gunung...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!!"
Barmawijaya segera melompat tinggi ke udara sambil mengayunkan kedua cakar tangan nya bersilangan ke depan. Sepuluh larik cahaya merah kekuningan tipis tajam meluruk cepat kearah si pendekar berbaju putih asal Kedewaguruan Astanaraja atau sering disebut sebagai Astanajapura di Bukit Gronggong ini. Hawa panas angin kencang yang menderu-deru mengikuti sepuluh larik cahaya merah kekuningan itu.
Hadikusumah pun tak tinggal diam. Dia segera memutar kedua telapak tangan nya di depan dada. Sebuah perisai cahaya hijau redup berhawa dingin tercipta di depan pendekar muda bertubuh tegap itu. Ini adalah Ajian Perisai Diri yang merupakan salah satu ilmu kanuragan andalan perguruan silat yang juga tempat menuntut ilmu agama yang bertempat di Bukit Gronggong yang merupakan wilayah Pakuwon Caruban ( Cirebon sekarang ).
Blllaaammmmmmmm!!!
Hadikusumah pun terpelanting jauh ke belakang setelah Ajian Cakar Rajawali Membelah Gunung menghantam telak Ajian Perisai Diri yang di gunakan nya. Tubuh pendekar muda ini tersurut mundur sampai 3 tombak jauhnya. Dia mencoba untuk bangkit meskipun telah memuntahkan darah segar.
Melihat lawannya masih mencoba untuk melawan, Barmawijaya mendengus keras sembari bersiap untuk menerjang maju ke arah Hadikusumah. Namun sebuah suara berat segera menghentikan niatnya.
"Cukup, Pendekar Rajawali Merah..
Aku mewakili Hadikusumah menyerah pada mu!", ucap seorang lelaki paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian serba putih yang melangkah maju ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti.
__ADS_1
"Ta-tapi Paman Guru, saya..."
Lelaki paruh baya yang di panggil dengan sebutan paman guru oleh Hadikusumah itu segera menoleh dan menatap tajam ke arah lelaki muda ini. Dia tidak suka jika omongannya di bantah. Hadikusumah pun tak bisa berkata apa-apa lagi selain mundur dari tempatnya berdiri.
Setelah Hadikusumah mundur, lelaki tua itu segera menoleh ke arah Barmawijaya.
"Orang pertama di Astanajapura sudah mundur, Rajawali Merah. Kini saatnya orang kedua untuk maju. Bersiaplah..!!", ujar lelaki tua berjanggut pendek dengan uban menghiasi separuh jenggotnya. Dia adalah Resi Karmapala, salah satu sesepuh Kedewaguruan Astanaraja di Bukit Gronggong.
"Huhhhhh rupanya kau cukup licik juga, Resi Karmapala. Kau masukkan dulu Hadikusumah untuk melawanku, menguras tenaga dalam ku, dan setelah semuanya selesai, kau suruh Hadikusumah untuk mundur dan kau yang tinggal melakukan serangan terakhir pada orang yang sudah kelelahan.
Sungguh taktik yang sangat licik sekali", ucap Barmawijaya dengan cepat. Dia sengaja mengulur waktu untuk mengembalikan tenaga nya yang sempat terkuras banyak saat melawan Hadikusumah.
"Itu sah sah saja, Rajawali Merah. Ini juga sesuai dengan peraturan yang berlaku di tempat ini.
Sudah jangan banyak bicara, ayo maju! Biar aku saja yang melangkah ke babak selanjutnya dan menjadi pengatur wilayah barat", ujar Resi Karmapala sambil menyeringai lebar menatap ke arah Barmawijaya.
"Huh apa kau kira hanya itu saja kemampuan beladiri ku, Resi Tua? Sebaiknya kau bersiap siap untuk menerima ilmu pamungkas ku", setelah berkata demikian, Barmawijaya segera menangkupkan kedua tangannya ke depan dada. Mulut lelaki bertubuh kekar itu segera komat-kamit merapal mantra. Tak lama kemudian, cahaya biru kekuningan tercipta di kedua lengan Barmawijaya yang kemudian bergulung cepat melingkari kedua lengan lalu berkumpul di telapak tangan sang murid utama Perguruan Cakar Rajawali Galunggung.
"Rupanya Resi Buyut Raganata sangat menyukai mu, Barmawijaya. Dia bahkan sampai menurunkan Ajian Candra Kirana pada mu.
Tapi jangan besar kepala dulu. Belum tentu Ajian Geledek Sewu ku kalah dengan ajian pamungkas milik mu. Ayo kita adu, Barmawijaya!", Resi Karmapala yang tangan kanannya telah berubah warna menjadi agak kebiruan karena cahaya biru terang yang tercipta di sana, segera melesat cepat kearah Barmawijaya. Dengan sekuat tenaga, dia menghantamkan tangan kanannya ke arah murid utama Perguruan Cakar Rajawali Galunggung itu.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar. Barmawijaya mencelat jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dia pingsan seketika setelah memuntahkan darah segar.
Sedangkan Resi Karmapala tersurut mundur hampir dua tombak jauhnya. Meskipun dia terlihat baik-baik saja, namun benturan ajian pamungkas baru saja telah membuat tangan kanannya mati rasa.
Melihat Barmawijaya pingsan, Mpu Dirgo selaku wasit pertandingan segera maju ke tengah arena pertandingan.
"Murid Perguruan Cakar Rajawali Galunggung ada yang ingin menjajal kemampuan Resi Karmapala? Kalau ada silahkan maju", ucap Mpu Dirgo sembari menatap ke arah kerumunan kawan-kawan Barmawijaya. Kasak kusuk segera terdengar diantara mereka. Setelah beberapa saat lamanya, salah seorang melangkah maju.
"Rajawali Merah telah di kalahkan. Perguruan Cakar Rajawali Galunggung mengakui keunggulan lawan", ujar kawan Barmawijaya sembari membungkuk hormat. Setelah itu, dua orang kawan Barmawijaya yang lain segera bergegas menggotong tubuh Barmawijaya yang pingsan ke pinggir halaman.
"Apa masih ada yang ingin menantang Resi Karmapala? Dari perguruan silat lainnya ada yang ingin maju?", Mpu Dirgo menoleh ke arah kerumunan para murid perguruan silat lainnya. Mereka sama sekali tidak ada niat untuk maju karena sadar bahwa kemampuan beladiri mereka masih jauh dibawah Barmawijaya.
Setelah beberapa saat lamanya tidak ada yang maju, Mpu Dirgo menoleh ke arah para pendekar dunia persilatan tanpa perguruan yang hadir di tempat itu.
__ADS_1
"Jika ada yang ingin menantang Resi Karmapala dari Kedewaguruan Astanaraja, dipersilahkan untuk maju".
Setelah tidak ada yang terdengar ingin menjajal kemampuan beladiri Resi Karmapala, Mpu Dirgo bersiap untuk mengumumkan hasilnya. Resi Karmapala sudah tersenyum lebar sembari membayangkan bahwa sebentar lagi dirinya lah yang akan menjadi pengatur wilayah barat dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Namun senyum lebar itu segera memudar saat seorang wanita cantik dengan tampilan dandanan seperti seorang gadis remaja melangkah maju. Pakaian hitam yang menjadi ciri khas perempuan cantik itu melambai tertiup angin.
"Aku yang akan menjajal kemampuan kakek tua licik itu!", tunjuk perempuan cantik berpakaian serba hitam itu pada Resi Karmapala. Dia adalah seorang pendekar wanita yang cukup disegani di wilayah barat, Ratu Racun Pembunuh.
Melihat itu semua, Mpu Dirgo selaku wasit pertandingan segera memberi isyarat kepada mereka berdua untuk segera memulai pertarungan.
Ratu Racun Pembunuh segera meloloskan sebuah senjata dari pinggangnya yang berbentuk seperti pedang namun panjang lentur dan terdiri dari tiga bilah tipis. Semua orang terkejut bukan main melihat munculnya senjata yang dinamakan Pedang Cambuk Beracun ini karena benda itu adalah senjata yang pernah di gunakan oleh salah satu dedengkot pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat, Hyang Racun Barat.
"Da-darimana kau dapat senjata itu, wanita iblis?", Resi Karmapala sedikit gugup saat ini.
"Hehehehe, memangnya kenapa ha? Apa kau takut, Resi Tua?
Senjata ini adalah warisan dari guru ku. Tentu saja aku yang mendapatkan nya. Kau mau mencoba keampuhannya? Mari kita mulai, Resi Licik!", Ratu Racun Pembunuh segera memutar gagang pedang aneh di tangan kanannya. Di dalam putaran bilah pedang tipis itu, muncul angin berbau busuk seperti bangkai yang menderu kencang kearah Resi Karmapala.
Sesepuh Kedewaguruan Astanaraja ini mundur beberapa langkah ke belakang untuk mempersiapkan diri. Kujang perak bergagang gading gajah di pinggangnya segera dia keluarkan dari dalam warangka. Dia tidak ingin mati konyol menghadapi senjata yang sudah dia ketahui tentang kekuatannya. Segera ia menggenggam erat gagang gading kujang perak di tangan seraya menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi miliknya hingga cahaya putih keperakan memancar keluar dari pusaka yang dia pegang.
Ratu Racun Pembunuh segera menyabetkan Pedang Cambuk Beracun kearah Resi Karmapala. Tiga hawa tipis tajam menerabas cepat kearah Resi Karmapala.
Whhhuuuggghhhh whhhuuutthh whhhuuutthh!!!
Mendapat serangan cepat itu, Resi Karmapala segera menusukkan kujang perak nya dan cahaya putih keperakan itu segera menerjang maju memapak serangan Ratu Racun Pembunuh.
Blllaaammmmmmmm!!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Ratu Racun Pembunuh menjerit kecil ketika ia terlempar ke belakang saat merasakan hantaman gelombang kejut dari ledakan keras itu. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulut nya namun perempuan cantik itu segera merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan sempurna. Di sisi lain, Resi Karmapala hanya terdorong mundur beberapa tombak ke belakang namun dia terlihat baik-baik saja.
Namun itu tidak berlangsung lama. Ratu Racun Pembunuh tersenyum tipis kala melihat Resi Karmapala jatuh terduduk dengan mulut mengeluarkan darah kehitaman. Rupanya dia terkena racun yang masuk ke dalam tubuh nya saat angin berbau busuk yang mengikuti ayunan senjata Ratu Racun Pembunuh tadi.
"K-kau perempuan be..ra..cunnnn....!!!
Hoooeeeeggggh..!!!", Resi Karmapala kembali memuntahkan darah kehitaman. Sementara itu, Ratu Racun Pembunuh menyeringai lebar penuh kemenangan.
Mpu Dirgo segera menoleh ke arah Resi Karmapala. Melihat itu, dia hendak mengumumkan bahwa Ratu Racun Pembunuh akan menjadi pengatur wilayah barat. Bersamaan dengan itu, seorang lelaki paruh baya berjanggut pendek dengan melesat cepat kearah tengah halaman Perguruan Golok Sakti.
__ADS_1
"Biarkan aku menjajal kemampuan mu"