JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Delapan Bidadari Gumuk Mas ( bagian 2 )


__ADS_3

Bagi masyarakat sekitar Kadipaten Lamajang, mereka sering menyebut bukit dengan kata Gumuk. Sepanjang pesisir Selatan kaki Gunung Mahameru, memang banyak sekali bukit atau gumuk yang biasanya digunakan sebagai tempat tinggal para pendeta, para brahmana maupun padepokan pencak silat karena dianggap sebagai tempat yang mulia karena berada lebih tinggi daripada tempat sekitarnya. Ini juga merupakan salah satu upaya mereka untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Diantara ratusan gumuk yang tersebar di kawasan selatan hingga timur Kadipaten Lamajang, ada sebuah gumuk yang menjadi tempat tinggal seorang brahmana wanita atau brahmani yang memiliki kemampuan beladiri sangat tinggi. Dia adalah Nyai Pu Jayasiwi atau biasa disebut dengan Pendeta Wanita Berlengan Seribu. Gumuk itu adalah Gumuk Mas.


Dalam perjalanan hidupnya, dia lantas mengangkat beberapa murid perempuan yang berhasil dia selamatkan dari para perampok yang ingin menjual mereka sebagai pelacur di kota. Delapan perempuan cantik itu akhirnya diangkat menjadi murid nya untuk mewarisi ilmu beladiri yang dia miliki. Sepeninggal Pendeta Wanita Berlengan Seribu, kedelapan muridnya lantas malang melintang di dunia persilatan dengan nama Delapan Bidadari Gumuk Mas.


Selain cantik dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, ada beberapa sifat kurang terpuji dalam diri kedelapan perempuan muda ini. Mereka seringkali menggoda para lelaki dengan kemolekan tubuhnya.


Delapan perempuan cantik itu terdiri dari Dewi Melati, Dewi Mawar, Dewi Kantil, Dewi Kenanga, Dewi Cempaka, Dewi Anggrek, Dewi Kamboja dan Dewi Kemuning. Pemimpin sekaligus murid tertua di Padepokan Gumuk Mas, Dewi Melati pun akhirnya menjadi pimpinan dari kedelapan perempuan cantik itu.


Melihat seorang perempuan muda nan cantik berbaju putih nampak dengan senyum genit berjalan ke arah mereka, Besur langsung menyikut pelan pinggang Baratwaja yang duduk di sebelahnya.


"Ja, kau lihat perempuan cantik itu..


Sepertinya dia sedang memberi isyarat pada ku untuk mendekati nya. Coba kamu perhatikan..", ucap Besur dengan penuh percaya diri.


"Ah rasanya sulit untuk percaya bahwa perempuan secantik itu ingin berkenalan dengan mu Sur. Tampang mu saja mirip dengan wajah lutung begitu, mana mungkin membuat dia tertarik?", balas Baratwaja sembari tersenyum tipis.


"Eh Baratwaja semprul, kau bilang apa tadi?


Tampang ku mirip lutung begitu hah? Kawan macam apa kau ini, bukannya membela kawan malah menjatuhkan harga diri ku. Sialan kau ini..!", geram Besur yang kesal dikatakan mirip lutung oleh Baratwaja.


"Itu untuk mengingatkan mu agar tidak terlalu memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Saat jatuh akan sakit sekali Sur..", balas Baratwaja segera.


"Ah masa bodoh.. Kawan laknat seperti mu memang tidak bisa diharapkan..


Tuh tuh tuh, dia kemari bukan? Aku akan menyambut nya", Besur dengan kegirangan bangkit dari tempat duduknya sementara Baratwaja pun langsung menggelengkan kepalanya melihat sikap kawannya yang satu ini.


"Permisi Nisanak, apa kau sedang mencari seseorang?", tanya Besur segera. Dewi Melati pun menjawab pertanyaan itu dengan sedikit ketus.


"Tentu saja aku mencari seseorang tapi bukan seorang lelaki berwajah badak seperti mu", Baratwaja nyaris memuntahkan isi mulutnya yang penuh dengan air minum saking tersedak mendengar jawaban Dewi Melati. Usai menelan minuman nya, dia langsung tertawa terbahak-bahak sementara Besur pun menekuk wajahnya dalam-dalam.


"Kurang ajar!!


Siapa yang kau sebut lelaki berwajah badak hah? Apa kau tidak tahu kalau aku ini adalah seorang... Haaaeeeeeppppphh!!", belum sempat Besur menyelesaikan omongannya, Jaka Umbaran melemparkan sepotong lontong ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Anak Wredamantri Mpu Gumbreg ini hampir saja membongkar rahasia penyamaran mereka.


"Seorang apa? Seorang lelaki berwajah badak?

__ADS_1


Minggir kau, aku tidak ingin bicara denganmu", ucap Dewi Melati sambil mendorong tubuh Besur ke samping. Perempuan cantik itu berlenggak-lenggok seperti sedang menggoda setiap pandangan mata lelaki yang ada di tempat itu. Dia mendekati tempat makan Jaka Umbaran, Wara Andhira, Gendol dan Resi Simharaja.


"Pemuda tampan, nama ku Dewi Melati. Boleh kita berkenalan?", ucap Dewi Melati sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Jaka Umbaran yang masih asyik menikmati makanan nya. Perempuan cantik itu sengaja sedikit menundukkan tubuhnya sekaligus memamerkan keindahan lekuk tubuhnya juga belahan dada besar nya yang biasanya tidak bisa di tolak oleh setiap lelaki yang dijumpainya.


"Tidak tertarik..", tolak Jaka Umbaran singkat tanpa menoleh ke arah Dewi Melati.


Wajah cantik perempuan itu seketika merah padam menahan malu karena merasa tersinggung dengan penolakan Jaka Umbaran. Apalagi saat dia melirik ke arah adik seperguruan nya yang membekap mulut mereka masing-masing seolah sedang menertawakan dirinya apalagi Dewi Anggrek yang tadi bertaruh dengan nya.


"Hei kau jangan asal bicara ya..


Apa yang kurang dari diriku? Aku cantik, menarik, tubuh ku aduhai. Jika di bandingkan dengan perempuan manapun, aku pasti lebih unggul dari mereka. Ayolah jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena menolak untuk mengenal ku", Dewi Melati hendak menyentuh pundak Jaka Umbaran namun Wara Andhira dengan cepat mencekal lengan tangan nya erat-erat.


"Dia sudah menolaknya, jadi hentikan sikap murahan mu itu!", Wara Andhira mendelik kereng sambil memegang erat pergelangan tangan Dewi Melati.


Merasakan kesakitan akibat genggaman tangan Wara Andhira, Dewi Melati berusaha untuk melepasnya. Percobaan pertama, dia tidak bisa melepaskan pegangan tangan perempuan cantik asal Blambangan ini. Namun saat sentakan keras kedua, Wara Andhira sengaja melepaskan pegangannya hingga Dewi Melati pun langsung terjengkang di lantai rumah makan ini. Sontak saja, hal ini membuat semua pengunjung rumah makan ini tertawa terpingkal-pingkal.


Marah karena dipermalukan oleh Wara Andhira, Dewi Melati hendak mencabut pedang yang ada di pinggangnya. Begitu juga dengan ketujuh orang saudarinya yang tidak terima dengan penghinaan yang diterima oleh kakak seperguruan mereka. Namun seorang lelaki muda bertubuh gempal dengan kumis tebal yang ada di pojok ruangan rumah makan langsung berteriak keras, "Tahan amarah mu, Bidadari Gumuk Mas!"


Seketika semua mata tertuju pada sosok lelaki muda bertubuh gempal ini. Dilihat dari pakaiannya, jelas dia adalah seorang bangsawan ataupun seorang perwira prajurit dengan pangkat tumenggung atau juru. Sosok lelaki muda ini langsung mendekati tempat itu bersama dengan dua orang bertubuh kekar yang sepertinya merupakan pengawal pribadi nya.


"Gusti Tumenggung Ardhalepa...


"Sabar dulu, Dewi Melati...


Aku tidak akan mengganggu niat mu untuk bertarung. Tapi sebagai perwira prajurit Kadipaten Lamajang, aku tidak ingin ada keributan di tempat ini karena ini adalah tempat milik saudara ku. Jadi jika kau ingin bertarung melawan nisanak ini, silahkan di luar sana", ujar Tumenggung Ardhalepa sembari mempersilahkan mereka untuk keluar.


Mendengar itu, Dewi Melati pun langsung menoleh ke arah Wara Andhira sambil melotot lebar.


"Aku tunggu kau di luar!!", setelah berkata demikian, Dewi Melati pun langsung melesat ke halaman rumah makan ini sembari menghunus pedangnya.


Wara Andhira yang tidak bersenjata, langsung meraih pedang milik Besur yang tergeletak di atas meja makan.


"Eehhh mau apa kau, singa betina?", tanya Besur segera.


"Pinjam pedang mu sebentar untuk memberi pelajaran pada perempuan binal itu", jawab Wara Andhira sembari melesat ke halaman, menyusul Dewi Melati yang lebih dulu sampai disana. Besur yang hendak keberatan dengan itu, urung bicara setelah melihat Jaka Umbaran memberikan isyarat kepada nya untuk diam.


Dewi Melati langsung menerjang maju ke arah Wara Andhira dengan menyabetkan pedangnya kearah leher perempuan cantik berbaju kuning ini.

__ADS_1


Shhhrrrreeeeettttth!!!


Wara Andhira pun segera melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang Dewi Melati sambil mengayunkan pedangnya ke arah punggung perempuan cantik berbaju putih minim ini. Dewi Melati menekuk lutut nya, hingga tebasan pedang Wara Andhira menyambar angin sejengkal di atas kepala.


Pertarungan sengit dua perempuan cantik itu langsung menarik perhatian para pengunjung rumah makan ini. Mereka semua berkerumun di sekitar jendela rumah makan untuk melihat kedua perempuan cantik itu mengadu kepandaian ilmu silat mereka.


Namun berbeda dengan kebanyakan orang, Jaka Umbaran dan Resi Simharaja masih tetap saja asyik menikmati makanan mereka seolah tak peduli dengan apa yang terjadi. Besur yang khawatir dengan pedangnya, langsung ikut merangsek maju ke depan. Diikuti oleh Baratwaja dan Gendol, dia bersiap jika terjadi sesuatu pada Wara Andhira.


Dua orang lelaki bertubuh kekar yang mendampingi Tumenggung Ardhalepa pun segera berbisik-bisik pada majikan mereka hingga perwira tinggi prajurit Kadipaten Lamajang yang sedang menyaksikan pertarungan sengit antara Wara Andhira dan Dewi Melati inipun langsung melirik ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Sedikit heran, dia segera melangkah mendekati meja makan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja.


"Kau tidak mengkhawatirkan keselamatan kawan perempuan mu itu, Kisanak?


Dewi Melati meskipun terlihat seperti seorang perempuan nakal, tapi dia sangat kejam dalam pertarungan", ucap Tumenggung Ardhalepa segera.


"Hamba yakin dia bisa mengatasinya, Gusti Tumenggung", ucap Jaka Umbaran santai.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin dengan kemampuan beladiri kawan perempuan mu itu?


Sepertinya kau bukan orang sini hingga tak pernah mendengar nama besar Delapan Bidadari Gumuk Mas", kata Tumenggung Ardhalepa kemudian.


"Kami memang bukan orang Kadipaten Lamajang, Gusti Tumenggung. Kami pengelana dari jauh, tepatnya dari wilayah Paguhan di Kerajaan Panjalu.


Kami sudah melalui banyak rintangan untuk sampai di tempat ini. Dan kawan hamba juga terlatih untuk menghadapi bahaya apapun yang ada", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.


"Ya semua terserah pada mu, aku hanya memperingatkan saja. Asal tidak mengganggu ketenteraman masyarakat Kadipaten Lamajang, kau boleh saja bertarung melawan siapapun orang nya yang mengganggu perjalanan mu", usai berbicara demikian, Tumenggung Ardhalepa pun segera kembali menonton pertarungan di halaman rumah makan.


Setelah puluhan jurus berlalu, terlihat bahwa Wara Andhira si murid Pertapaan Gunung Raung ini mulai mendominasi permainan silat ini. Dua sayatan kecil sudah menghiasi tubuh Dewi Melati sedang dia masih baik-baik saja.


Sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya yang mulai tersengal akibat banyaknya tenaga dalam yang terkuras, Dewi Melati pun segera menoleh ke arah 7 saudari nya.


"Jangan diam saja, cepat bantu aku!"


Mendengar perintah dari sang pimpinan, 7 Bidadari Gumuk Mas lainnya pun segera mencabut pedangnya dan langsung mengepung Wara Andhira dari berbagai penjuru.


Melihat hal itu, Gendol, Besur dan Baratwaja pun segera saling berpandangan sejenak sebelum mereka bertiga melesat ke tengah halaman rumah makan dan berdiri di samping Wara Andhira. Besur yang mendapat pinjaman pedang dari Baratwaja, langsung menyeringai lebar menatap ke arah 8 orang wanita cantik yang sedang mengepung mereka sambil berkata,


"Mau main keroyokan?!

__ADS_1


Ingat, perempuan ini juga bagian dari pengawal pribadi majikan kami. Maka kami pun tidak akan pernah tinggal diam jika terjadi sesuatu pada nya.


Para gadis-gadis, ayo sini maju. Kami akan bermain dengan kalian..!!".


__ADS_2