
"Mati?!
Phhuuuiiiiiihhhhh ...
Kau mau membunuh ku? Bahkan raja mu saja belum tentu bisa melakukannya. Sombong sekali kau!", jawab Resi Simharaja sengit.
"Tua bangka keparat!
Mau mampus saja masih berani berlagak! Prajurit, tangkap dua orang itu. Kalau melawan, bunuh saja!", perintah perempuan cantik berbaju hijau muda ini seraya memberi isyarat kepada para prajurit siluman untuk bergerak.
Puluhan orang prajurit istana siluman itu segera menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Pertarungan sengit pun segera terjadi.
Dua orang prajurit membabatkan pedang nya ke arah Jaka Umbaran. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera melompat tinggi menghindari sabetan pedang kedua orang itu. Begitu Jaka Umbaran mendarat, dua orang lainnya langsung melompat ke arah nya dengan menusukkan tombak mereka ke arah tubuh sang pangeran muda.
Shreeeeettttthhh shhrreeettthhh!!
Jaka Umbaran dengan gesit menghindar dengan menggeser posisi tubuhnya ke kiri. Lalu dengan cepat ia menyambar dua tombak itu dan memegangnya erat-erat. Sekuat tenaga, Jaka Umbaran menarik tombak hingga dua orang prajurit itu tertarik ke depan karena ingin mempertahankan senjata mereka. Dengan cepat, ia melayangkan tendangan keras beruntun ke arah ulu hati kedua orang prajurit ini.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Dua orang prajurit istana siluman itu meraung keras dan jatuh terjengkang ke belakang. Sementara dua orang kawannya yang memegang pedang langsung bergerak maju ke arah sang pangeran muda. Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera melemparkan dua tombak di tangannya ke arah mereka.
Chhhrreeepppppppphhhh chhreepppppph..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Dua orang prajurit itu langsung jatuh usai tombak yang dilemparkan oleh Jaka Umbaran menembus tubuh mereka. Seperti kebanyakan siluman lainnya, saat mereka mati tubuh mereka langsung menjadi abu hitam yang kemudian hilang ditiup angin.
Hanya dalam beberapa gebrakan saja, puluhan orang prajurit istana siluman tewas di tangan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja. Mereka berdua begitu perkasa seolah menjadi malaikat maut bagi setiap prajurit istana siluman yang berani menantang nya.
Lelaki tua berambut merah jabrik yang ada di belakang perempuan cantik berbaju hijau muda ini mendengus keras lalu melesat cepat kearah Resi Simharaja. Tangannya tiba-tiba memanjang seperti sulur tumbuhan merambat yang dengan cepat mengikat tubuh Resi Simharaja.
"Rupanya kau sudah tidak tahan melihat prajurit mu mati, Patih Krendaseba.
__ADS_1
Hehehehe, inilah yang selalu aku tunggu", Resi Simharaja segera memanjangkan kukunya yang dengan cepat ia sabetkan pada sulur-sulur tumbuhan yang kini mengikat tubuhnya.
Chhraasshh chhraasshh!!!
Kuku jari tangan Resi Simharaja yang setajam pedang langsung memotong sulur-sulur tumbuhan ini seolah menebas semak belukar. Dalam dua kali tarikan nafas saja, seluruh sulur tumbuhan yang melilit tubuh Resi Simharaja telah menjadi potongan kecil-kecil.
"Nama besar mu memang layak untuk mendapatkan pujian, Raja Siluman Alas Roban!
Tapi ini masih belum selesai!", sehabis berkata demikian, lelaki tua berambut merah jabrik itu segera mengangkat kedua tangannya ke atas. Tiba-tiba, ribuan sulur tumbuhan merambat seperti punya nyawa sendiri, langsung bergerak cepat ke arah Resi Simharaja.
"Ajian Wana Segara...
Hehehehe, itu hanya kayu Krendaseba! Akan selalu kalah dengan api!", sembari melompat mundur, Resi Simharaja segera menghembuskan nafas panjang yang kemudian berubah menjadi api. Dengan cepat, api besar itu langsung membakar sulur tumbuhan merambat yang mendekat ke arah nya.
Melihat sulur tumbuhan merambat miliknya di hancurkan dengan api, Patih Krendaseba sang warangka praja Istana Siluman Alas Purwo semakin marah. Kedua telapak tangan nya bersatu di depan dada. Mulut lelaki tua berambut merah jabrik itu komat-kamit merapal mantra.
Sebentar kemudian, muncul cahaya hijau yang menyilaukan mata di antara kedua telapak tangan lelaki tua itu. Sekitar tempat dia berdiri terasa sangat sejuk seperti sedang di bawah pohon rindang yang di tiup angin semilir.
"Tak ku sangka kalau akhirnya aku akan melihat Ajian Pamungkas Dewandaru...
Mulut lelaki paruh bertubuh gempal itu segera merapal mantra. Sebuah bola cahaya biru berhawa panas pun muncul di telapak tangan kanan Resi Simharaja. Ini adalah Ajian Muksaning Bawana, sebuah ilmu kesaktian langka yang dikembangkan sendiri oleh bekas raja siluman Alas Roban itu setelah puluhan tahun bertapa di tepi pantai Laut Utara.
Segera setelah itu, Resi Simharaja melesat cepat kearah Patih Krendaseba dengan tangan kanan maju ke depan. Lelaki tua berambut merah jabrik itu segera menyambut kedatangan serangan bekas raja siluman Alas Roban itu dengan Ajian Pamungkas Dewandaru.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Ledakan mahadahsyat terdengar kembali. Seisi tempat itu langsung berderak keras seolah dilanda gempa bumi berkekuatan besar.
Patih Krendaseba mencelat jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dari mulut nya keluar darah segar yang berwarna hijau muda. Sedangkan Resi Simharaja pun juga terpental ke belakang walaupun ia sempat merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan satu dengkul menyangga tubuh. Meskipun dadanya sedikit sesak, dia langsung bangkit dari tempat nya dan berdiri kokoh menatap ke arah Patih Krendaseba yang masih belum bisa bangun.
Gadis cantik berbaju hijau muda ini langsung memburu ke arah Patih Krendaseba untuk memastikan keadaan nya saat ini.
"Paman Patih Krendaseba, kau baik-baik saja?", tanya perempuan cantik itu segera.
Uhukkk uhukkk uhukkk..
__ADS_1
Hoooeeeeggggh!!!
"Gusti Putri Buanadewi...
Ja-jangan pedulikan hamba. Ce-cepatlah pergi dari tempat ini. Raja siluman Alas Roban itu bu-bukan tandingan ku uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh!!!", sembari batuk-batuk, mulut Patih Krendaseba terus mengeluarkan darah segar saat berbicara.
"Tidak mau, Paman Patih..
Aku akan tetap bertahan di tempat ini untuk mempertahankan nya. Ini adalah tempat tinggal ku, maka aku lebih baik mati di tempat ini daripada harus membiarkan mereka berbuat seenaknya", tegas Putri Buanadewi sembari bangkit dan menatap tajam ke arah Jaka Umbaran yang baru saja menghabisi nyawa lawan terakhirnya juga pada Resi Simharaja yang kini berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sebenarnya, kedatangan kami berdua kemari bukan untuk mencari permusuhan dengan kalian, wahai penghuni Istana Alas Roban. Akan tetapi, kami kemari untuk meminta Air Prawitasari yang dimiliki oleh Prabu Tirtabawana.
Serahkan kepada kami, maka kami akan pergi dengan damai", Patih Krendaseba dan Putri Buanadewi langsung terkejut bukan main mendengar ucapan Jaka Umbaran.
"Apa kau tahu bahwa air pusaka kedewaan itu adalah harta pusaka kerajaan kami hah?!!
Jika air pusaka kedewaan itu tidak ada di tempat ini, maka tempat ini akan runtuh. Jadi tidak mungkin kami memberikan nya kepada mu, bangsat! Uhukkk uhukkk..", ucap Patih Kerajaan Siluman Alas Purwo, Krendaseba, keras.
"Maaf..
Tapi kami terpaksa harus mengambilnya karena ini merupakan satu-satunya cara agar nyawa penguasa Kerajaan Panjalu selamat dari kutuk pasu yang telah di berikan oleh putri kerajaan kalian", tegas Jaka Umbaran segera.
Mendengar pernyataan ini, semua orang nampak terkejut bukan main. Adalah terlarang bagi para siluman Alas Roban untuk memberikan sebuah kutuk pasu pada manusia karena akan membawa keruntuhan kerajaan itu. Satu-satunya cara untuk bebas dari kutuk pasu adalah dengan kematian. Bisa yang memberikan atau yang menerima.
Wajah cantik Putri Buanadewi langsung pucat pasi mendengar itu semua. Ini tak luput dari perhatian Patih Krendaseba.
"Gusti Putri, kau kenapa?", tanya Patih Krendaseba segera.
"A-aku tidak apa-apa, Paman Patih", jawab Putri Buanadewi terbata-bata. Resi Simharaja segera tersenyum sinis mendengar jawaban putri raja siluman Alas Purwo ini.
"Kenapa kau mesti berdusta, hai putri Raja Siluman Alas Purwo?
Akui saja semuanya maka ini akan menjadi jelas", ucap Resi Simharaja segera. Patih Krendaseba pun semakin bingung dengan apa maksud dari ucapan bekas raja siluman Alas Roban ini.
"Apa? Apa yang harus diakui oleh junjungan kami, Raja Siluman Alas Roban?", kembali warangka praja Istana Siluman Alas Purwo ini bertanya. Sembari menunjuk ke arah Putri Buanadewi, Resi Simharaja berkata,
__ADS_1
"Dia adalah orang yang memberikan kutuk pasu itu..."