
"Katakan dulu siapa kau dan mau apa kemari?", tanya Jaka Umbaran segera usai mendengar permintaan pertolongan dari lelaki yang terikat pada pohon sawo itu segera.
"Hamba Secawiguna. Orang di Wanua Kitri di wilayah Kadipaten Matahun. Hamba adalah pembantu Nyai Paricara, tabib hebat yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit.
Hamba datang jauh-jauh kemari karena ada masalah besar yang sedang menimpa majikan Gusti Pangeran. Ini semua ada kaitannya dengan Istana Kadipaten Matahun", jawab lelaki paruh baya itu dengan cepat.
"Jangan banyak alasan..
Kalau mau minta tolong, bukan dengan cara menyelinap masuk ke atap istana ini pak tua. Cara mu itu persis seperti maling yang mau mencuri sesuatu..", ucap Gendol sembari mendelik tajam ke arah lelaki paruh baya itu.
"Sudah hajar saja.. Maling mana ada yang mau mengaku", sahut Besur sembari bersiap untuk memukuli Secawiguna. Selain masih kesal dengan kejadian semalam, Besur masih teringat jelas saat dia harus sendirian memanggul lelaki paruh baya itu.
"Dengar dulu penjelasannya, Sur..
Jangan main kasar terus. Kalau kau tidak bisa mengendalikan emosi mu, lebih baik kau diam saja", bentak Jaka Umbaran yang langsung membuat lelaki bertubuh bogel itu menutup rapat mulutnya.
"Hamba terpaksa harus menyelinap diam-diam ke Istana Katang-katang, Gusti Pangeran.
Dua hari yang lalu, hamba tiba di istana Kotaraja Daha. Tapi karena sedang ada persiapan untuk pernikahan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, makanya hamba tidak diijinkan untuk masuk. Terpaksa hamba menunggu kesempatan. Setelah mendengar berita pernikahan Gusti Pangeran dilakukan di Istana Katang-katang ini, hamba kembali untuk mencoba menemui Gusti Pangeran atau Gusti Prabu Bameswara tetapi dilarang masuk lagi karena ada peristiwa percobaan pembunuhan kemarin siang.
Karena itu, hamba terpaksa masuk lewat jalan yang tidak biasa seperti ini. Mohon Gusti Pangeran mengampuni", ucap Secawiguna segera.
"Lantas bagaimana dengan cerita tentang Nyai Paricara yang kau bilang tabib sakti itu?", kembali Jaka Umbaran segera bertanya.
"Nyai Paricara adalah majikan hamba. Dia tersohor sebagai tabib yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Namanya dikenal luas hingga ke Jenggala.
Dua pekan yang lalu, datang beberapa orang yang mengaku utusan dari Istana Kadipaten Matahun. Katanya mereka datang karena diutus oleh Adipati Natanegara untuk mengobati salah satu kerabatnya yang sedang sakit keras.
Awalnya Nyai Paricara menolak untuk ikut namun karena orang-orang itu sedikit memaksa, akhirnya Nyai Paricara berangkat juga. Hamba yang biasanya tidak enak badan, tidak diperbolehkan untuk ikut. Sepekan setelah peristiwa itu, hamba datang ke Istana Kadipaten Matahun untuk mencari keberadaan Nyai Paricara karena ada salah satu orang yang diobati nya datang meminta tambahan obat. Tapi Istana Kadipaten Matahun mengatakan bahwa Nyai Paricara tidak datang ke Istana Matahun sama sekali.
Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan baik dari Istana Kadipaten Matahun maupun para prajurit yang ada disana, hamba memutuskan untuk mengadukan nasib majikan hamba ini ke Kotaraja Daha. Karena itu tolong hamba Gusti Pangeran, hanya paduka saja satu-satunya harapan hamba agar Nyai Paricara kembali", ucap Secawiguna penuh harap.
Hemmmmmmm...
Terdengar helaan nafas panjang sebelum Jaka Umbaran melirik ke arah Resi Simharaja. Bekas raja siluman Alas Roban itu mengangguk sebagai isyarat kepada Jaka Umbaran dengan maksud mengatakan bahwa Secawiguna tidak terlihat sedang berdusta. Pria bertubuh kekar itu memang memiliki kemampuan untuk melihat apakah seseorang itu sedang berbohong atau tidak.
"Baiklah.. Aku akan bicara dengan Kanjeng Romo Prabu tentang masalah ini.
__ADS_1
Sementara kau tinggal saja dulu disini untuk mengobati lukamu. Besur, Baratwaja.. Kalian berdua aku tugaskan untuk melepaskan ikatan nya dan mengobati luka Secawiguna", titah sang pangeran mahkota ini segera.
"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran", ucap Secawiguna segera.
Setelah menyelesaikan omongannya, Jaka Umbaran segera melangkah masuk ke dalam Istana Katang-katang. Dia langsung menuju ke arah tempat pemandian sementara Besur dan Baratwaja melepaskan ikatan yang mengikat tubuh Secawiguna segera.
Pagi selepas makan bersama dengan Nararya Padmadewi, Mapanji Jayabaya mengenakan pakaian kebesarannya lagi dan menuju ke arah Istana Kotaraja Daha dengan kawalan Besur, Gendol, Baratwaja dan Resi Simharaja. Karena belum genap sepekan dia menjadi pengantin, maka dia tidak akan dibebani dengan tugas kenegaraan terlebih dahulu.
Kedatangan sang pangeran mahkota ke Istana Kotaraja Daha langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Para punggawa Istana Kotaraja Daha langsung menyembah pada calon penerus tahta Kerajaan Panjalu itu tatkala ia memasuki Pendopo Agung Kerajaan Panjalu. Sesampainya di depan sang ayahanda, Jaka Umbaran segera berjongkok dan menyembah pada Prabu Bameswara.
"Sembah bakti saya Kanjeng Romo", ucap Mapanji Jayabaya segera.
"Sembah mu aku terima anak ku.. Bangun dan duduklah di tempat mu", ucap Prabu Bameswara sembari tersenyum. Dalam pisowanan rutin sepekan sekali ini, selain Ratu Dyah Chandrakirana, Selir Gayatri dan Luh Jingga pun juga ikut serta menemani suami mereka.
Jaka Umbaran segera melangkah ke sisi kanan dimana sebuah kursi kosong yang lebih rendah tempatnya dari singgasana berada. Itu adalah tempat yang selama bertahun-tahun lamanya tidak di duduki. Bahkan Pangeran Mapanji Lodaya pun tak diijinkan untuk duduk disana.
Setelah Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya duduk, pisowanan rutin pun dilanjutkan kembali. Kali ini semua punggawa Istana Kotaraja Daha melaporkan tugas-tugas yang diberikan oleh Sang Maharaja Panjalu kepada mereka. Satu persatu melaporkan hasil kerja mereka selama sepekan terakhir ini. Rata-rata mereka memberikan laporan yang cukup memuaskan namun ada satu laporan dari garis perbatasan wilayah dengan Kerajaan Jenggala yang cukup menarik perhatian Prabu Bameswara.
Tumenggung Setawahana yang memimpin pasukan pemburu keberadaan sosok Ki Martoloyo yang menjadi dalang penyusupan di Istana Katang-katang, menemukan bahwa ada lumbung-lumbung pangan baru di wanua wilayah Kerajaan Jenggala. Sepertinya ini baru saja di dirikan oleh mereka dan terlihat sedang berupaya untuk dipenuhi dengan berbagai macam bahan pangan.
Meskipun Ki Martoloyo berhasil kabur ke wilayah Kerajaan Jenggala, namun laporan yang dibawa oleh Tumenggung Setawahana cukup untuk mengobati kekecewaan akibat kegagalan mereka menangkap orang Jenggala itu.
Kita semua tahu bahwa lumbung pangan baru ini pasti dipersiapkan oleh Jenggala untuk perbekalan pasukan mereka yang akan bergerak menuju ke arah Kerajaan Panjalu. Kita harus cepat mencari cara untuk berjaga-jaga jika mereka benar-benar menyerbu ke Kotaraja Daha", Mapatih Mpu Baprakeswara menghormat usai berbicara.
"Minta kepada semua penguasa wilayah perbatasan dengan Kerajaan Jenggala untuk membangun lumbung pangan tersembunyi di sekitar benteng pertahanan kita. Yang paling rawan menjadi jalan bagi mereka untuk masuk ke Panjalu seperti Kadipaten Matahun, Kayuwarajan Kadiri, Gelang-gelang, Selopenangkep, Singhapura maupun Bojonegoro harus memiliki pertahanan yang kuat agar mereka setidaknya bisa menghambat pergerakan prajurit Jenggala kalau hal itu terjadi", titah sang raja kemudian.
"Mohon ampun Kanjeng Romo Prabu. Maaf jika saya lancang bicara tanpa diminta.
Kalau memang begitu adanya, ijinkan saya untuk berangkat ke Kadipaten Matahun Kanjeng Romo Prabu. Biar saya yang membawa surat perintah dari Kanjeng Romo Prabu kepada Adipati Natanegara", Mapanji Jayabaya segera menghormat sebelum berbicara.
"Kenapa tiba-tiba sekali kau ingin ke Matahun, Nakmas Pangeran?
Apa ada sesuatu yang perlu diperhatikan?", ucap lembut Ratu Dyah Chandrakirana.
Jaka Umbaran segera menceritakan tentang orang yang tadi malam masuk ke dalam Istana Katang-katang. Semua cerita nya di sampaikan pada semua orang yang ada di tempat itu. Semua orang langsung terdiam mendengar cerita Jaka Umbaran ini. Kesemuanya nampak berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Nyai Paricara.
Hemmmmmmm...
__ADS_1
"Ini adalah masalah keadilan dan kebenaran tetapi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur seberapa siap Matahun sebagai wilayah terdepan jika Jenggala menyerbu ke Panjalu.
Baiklah, aku setuju dengan keinginan mu, Putra ku. Tapi dengan syarat setelah kau lepas sepekan setelah kau menikah", ujar Prabu Bameswara segera.
"Ananda mengerti Kanjeng Romo Prabu", Mapanji Jayabaya kembali menghormat usai berbicara demikian.
Setelah memberikan perintah dan petunjuk kepada para punggawa Istana Kotaraja Daha, pisowanan rutin sepekan sekali ini di bubarkan. Mereka semua langsung menjalankan tugas sesuai dengan yang telah mereka terima.
Pada malam hari nya, Prabu Bameswara mendatangi Istana Katang-katang bersama dengan Selir Gayatri. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan secara empat mata antara ayah dan anak ini.
Kedatangan Prabu Bameswara dan Selir Gayatri langsung disambut baik oleh Mapanji Jayabaya dan Nararya Padmadewi. Mereka kemudian berbincang di dalam pendopo.
"Apa kau sudah siap dengan tugas pertama yang kau jalankan, Putra ku?", tanya Prabu Bameswara sembari menatap ke arah Jaka Umbaran yang duduk bersila di lantai pendopo ini.
"Sebagai calon raja Panjalu selanjutnya, saya harus belajar bagaimana cara memecahkan masalah yang dihadapi oleh rakyat, Kanjeng Romo.
Bagaimanapun juga, rakyat Panjalu adalah tiang penyangga berdiri tegak nya kerajaan ini, jadi mereka harus diutamakan. Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan di dapatkan apabila pemimpin nya memiliki kepedulian terhadap masalah yang mereka hadapi", balas Jaka Umbaran sembari menghormat pada sang ayahanda. Mendengar jawaban itu, baik Prabu Bameswara maupun Selir Gayatri tersenyum lebar.
"Kau memiliki kebijaksanaan yang masih perlu diasah lagi, Nakmas Pangeran..
Itu butuh waktu dan pengalaman agar kau benar-benar bisa mempelajari ilmu ketatanegaraan yang telah kau pelajari di Pertapaan Harinjing. Tapi aku salut pada mu. Di usia semuda ini, kau memiliki pandangan luas tentang kehidupan masyarakat Kerajaan Panjalu", Selir Gayatri tersenyum lebar.
"Tapi di perjalanan mu nanti akan muncul bahaya yang mungkin saja datang dari berbagai penjuru.
Sepertinya aku perlu memberikan sesuatu kepada mu sebagai bekal perjalanan pertama mu sebagai seorang putra mahkota", setelah berkata demikian, Prabu Bameswara segera bangkit dari tempat duduknya.
"Ikut aku sekarang, Jayabaya.."
Mendengar itu, Jaka Umbaran segera bangkit di samping sang raja. Prabu Bameswara segera memegang pergelangan tangan Jaka Umbaran dan sekejap mata kemudian mereka telah hilang dari pandangan mata Gayatri dan Padmadewi setelah kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh mereka berdua.
Di salah tepian Sungai Kapulungan, Jaka Umbaran dan Prabu Bameswara muncul. Tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, Jaka Umbaran segera mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa kita kemari Kanjeng Romo Prabu? Dimana kita sekarang?", tanya Jaka Umbaran segera.
"Kita ada di tepi Sungai Kapulungan, putraku..
Romo akan menurunkan sebuah ajian yang bisa kau gunakan saat kau dalam keadaan terdesak. Kau bisa berpindah tempat sesuka hati mu kemanapun kau ingin pergi dengan syarat kau telah tahu kemana arah tujuan mu", jawab Prabu Bameswara sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Namanya adalah Ajian Halimun.."