JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Perang Saudara ( bagian 2 )


__ADS_3

Adipati Lokawijaya langsung menyambar keris pusaka nya yang tergeletak di atas meja kecil pada sudut ruangan bilik kamar tidur nya. Dia tidak sempat lagi mengenakan mahkota kebesarannya lagi. Apa yang baru saja di dengar nya adalah masalah besar.


Saking terburu-buru nya, Adipati Lokawijaya sampai tak sempat membuka pintu kamar tidur nya dan langsung menendangnya hingga daun pintu kamar tidur itu lepas dari tempatnya semula. Dayang istana yang berdiri di depan pintu kamar pun tak ayal langsung ikut terpental ke luar. Dayang istana bernasib naas itu buru-buru bangkit dari tempat jatuhnya dan kembali mendekat ke arah Adipati Paguhan itu.


"Bangsat!


Kemana saja para punggawa istana? Kenapa tidak ada yang melaporkan hal ini pada ku? Apa saja kerja mereka?", omel Adipati Lokawijaya.


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Para punggawa sepertinya telah berkumpul di depan Pendopo Agung. Mereka menunggu kedatangan Gusti Adipati", saat mendengar itu, tanpa menunggu lama lagi Adipati Lokawijaya bergegas meninggalkan kediaman pribadinya menuju ke arah Pendopo Agung Kadipaten Paguhan.


Di depan Pendopo Agung, puluhan punggawa istana termasuk Patih Pandusena dan Penasehat Mpu Sukracaya serta beberapa perwira prajurit telah menunggu. Kedatangan Adipati Lokawijaya segera membuat mereka menghormat pada sang penguasa Kadipaten Paguhan.


"Hormat kami kepada Gusti Adipati Lokawijaya", ucap mereka bersamaan.


"Sudah cukup, hentikan dulu tata krama kalian saat situasi seperti ini.


Sekarang katakan pada ku, situasi yang sedang terjadi sekarang seperti apa?", tanya Adipati Lokawijaya segera.


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Pasukan pemberontak dari sebelah barat telah berhasil menjebol pintu gerbang kota. Jumlah mereka kurang lebih sekitar 5 ribu orang prajurit. Senopati Giriwangsa sudah mengerahkan para prajurit di bawah pimpinan Tumenggung Darmogati untuk mengusir mereka.


Sedangkan Senopati Giriwangsa sendiri berupaya untuk mempertahankan wilayah selatan kota dari para pemberontak. Jumlah musuh sekitar 20 ribu orang. Sepertinya di wilayah selatan adalah kekuatan utama para pemberontak ini", ucap Tumenggung Gupati yang merupakan perwira prajurit yang bertugas sebagai penjaga istana sekaligus pimpinan pengawal pribadi sang Adipati.


"Kalau di sisi timur, para pemberontak telah berhasil masuk ke dalam kota. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun sepertinya mereka adalah para pendekar berilmu tinggi. Beberapa perwira prajurit yang mencoba menghentikan mereka telah terbunuh.


Sepertinya mereka adalah orang-orang dari Lembah Kali Luk Ulo di wilayah Pakuwon Panjer pimpinan Mpu Wiritanaya, Gusti Adipati", imbuh Demung Wiyasa, bawahan Tumenggung Gupati segera.


Hemmmmmmm..


"Orang-orang Panjer? Aku sudah menduga kalau mereka memang ingin memberontak sejak lama. Harusnya aku bumi hanguskan Pakuwon Panjer sejak dulu", Adipati Lokawijaya mengepalkan tangannya erat-erat mendengar laporan Demung Wiyasa.


"Tapi sesungguhnya Mpu Wiritanaya bukanlah pimpinan utama dari pemberontak ini, Nakmas Adipati.

__ADS_1


Otak di balik ini semua adalah saudara tiri mu Prabhaswara yang memimpin pasukan pemberontak dari sisi selatan. Apa yang aku khawatirkan ternyata benar-benar terjadi", timpal Patih Pandusena sembari mengelus jenggotnya.


"Bajingan itu rupanya hemmm...


Tumenggung Gupati dan para perwira prajurit Paguhan semuanya, aku perintahkan kepada kalian untuk mempertahankan Istana Kadipaten Paguhan ini hingga titik darah penghabisan. Kalian siap melakukannya?", Adipati Lokawijaya mengedarkan pandangannya ke segenap perwira tinggi dan tamtama prajurit yang hadir di tempat itu.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati!", ucap semua orang bersamaan sembari menghormat pada Adipati Lokawijaya. Selepas itu, mereka semua segera membubarkan diri untuk bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan kepada mereka. Adipati Lokawijaya sendiri segera kembali masuk ke dalam istana untuk mempersiapkan diri. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan memakai baju jirah perang nya. Lalu bersama dengan para pengawal pribadi nya, dia segera bergegas menuju ke puncak tembok istana yang menjadi benteng pertahanan terakhir.


Begitu sampai di puncak tembok istana, dia melihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Asap tebal membumbung tinggi ke udara dimana-mana bersama dengan api yang berkobar menyala-nyala. Denting senjata beradu berikut jeritan memilukan hati terdengar dari mulut prajurit yang menemui ajalnya. Keadaan Kota Kadipaten Paguhan sekarang benar-benar kacau-balau.


"Keparat Prabhaswara!


Aku sendiri yang akan menghabisi nyawa mu kalau kau sampai berhasil mendekati istana ini!", gerutu Adipati Lokawijaya yang begitu geram melihat apa yang sedang terjadi di dalam kota kekuasaannya ini.


Di sisi timur Kota Kadipaten Paguhan, pasukan pemberontak dari wilayah Pakuwon Panjer terus merangsek maju mendekati istana. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun pelatihan yang telah mereka lakukan selama puluhan tahun benar-benar berguna untuk membantu mereka mendesak para prajurit Paguhan di bawah pimpinan Tumenggung Janjangkeling.


Seluruh anggota kelompok pemberontak ini memang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan para prajurit Paguhan, hingga korban tewas di pihak prajurit Paguhan berjatuhan dengan cepat. Dari 5 ribu orang prajurit yang di pimpin oleh Tumenggung Janjangkeling, kini hanya tinggal tersisa sekitar 3 ribu orang prajurit saja sedangkan para pemberontak pimpinan Mpu Wiritanaya hanya kehilangan sekitar 700 orang prajurit dari 5 ribu orang pengikutnya.


Betapa geramnya Tumenggung Janjangkeling melihat para prajurit nya terbunuh dengan mudah oleh para prajurit pemberontak. Dia lantas mengamuk tidak terkendali di tengah medan laga. Puluhan orang pemberontak asal Pakuwon Panjer terbunuh di tangan nya.


Mpu Wiritanaya, pimpinan kelompok pemberontak yang menyerbu dari arah timur, melihat amukan Tumenggung Janjangkeling semakin mengkhawatirkan, langsung melesat cepat kearah lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan janggut lebat itu sambil menusukkan tombaknya.


Merasakan sesuatu hal sedang bergerak cepat ke arah nya, Tumenggung Janjangkeling melirik ke arah samping kanan. Dia buru-buru berkelit sambil membabatkan pedang nya ke arah mata tombak yang nyaris saja menusuk lehernya.


Thhrraaanggg!!!


Keduanya langsung mengadu nyawa dengan senjata mereka masing-masing. Pertarungan antara pengguna tombak dan pemegang pedang itu berlangsung sangat seru di tengah medan perang yang sedang berkobar hebat. Masing-masing berupaya keras untuk bisa menjatuhkan lawan secepat mungkin.


Whhhuuuggghhhh blllaaaaaarrr!!!


Baik Mpu Wiritanaya maupun Tumenggung Janjangkeling sama-sama tersurut mundur beberapa tombak ke belakang setelah beradu pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.


"Tak ku sangka kalau nama besar Mpu Wiritanaya memang tidak perlu diragukan lagi. Kau mampu mengimbangi Ajian Tapak Pemecah Batu ku dengan sempurna", puji Tumenggung Janjangkeling sembari menatap tajam ke arah lelaki paruh baya yang memakai pakaian warna biru gelap itu segera.


"Tumenggung Janjangkeling, ini semua karena kau membela manusia pengkhianat itu. Kalau kau berada di jalan yang benar, tentu aku tidak akan mampu untuk mengimbangi mu.

__ADS_1


Lokawijaya bukan anak sah Adipati Lokananta. Dia anak selingkuhan Ratu Banuwati dengan si keparat Patih Pandusena. Dia tidak berhak untuk menjadi penguasa wilayah Paguhan. Kau seharusnya tidak membela orang yang salah", ucap Mpu Wiritanaya sembari menggenggam erat gagang tombaknya.


"Aku tidak peduli dengan itu semua, Mpu Wiritanaya. Bagiku, siapapun yang ingin mengobrak-abrik isi kota ini, maka aku Tumenggung Janjangkeling yang akan menjadi lawannya", ucap Tumenggung Janjangkeling sembari memutar gagang pedang yang nampak basah oleh darah segar.


"Kesetiaan yang buta adalah bentuk sejati dari kebodohan, Tumenggung Janjangkeling. Kau memaksa untuk membela Lokawijaya, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi mu!"


Selepas berkata demikian, Mpu Wiritanaya segera melemparkan tombaknya ke arah Tumenggung Janjangkeling sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu, dia melesat cepat mengikuti gerakan tombak dengan kedua tangannya memancarkan cahaya hijau kekuningan dengan hawa dingin yang berdesir kencang.


Melihat itu, Tumenggung Janjangkeling bergegas hentakkan tangan lurus ke depan, lalu merentang lebar ke samping kiri kanan lalu membuat gerakan melingkar. Bersamaan dengan itu, sebuah perisai cahaya biru tipis berbentuk setengah lingkaran tercipta di sekeliling tubuh perwira andalan Kadipaten Paguhan. Tombak yang di lemparkan ke arah nya pun seketika berhenti melesat dan tertahan di udara.


Mpu Wiritanaya mendengus keras untuk kesekian kalinya setelah melihat lemparan tombak nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi mampu ditahan oleh Tumenggung Janjangkeling. Lelaki tua asal Pakuwon Panjer itu segera melompat tinggi ke udara dan meluncur turun dengan menyatukan dua kepalan tangannya yang dilapisi dengan cahaya hijau kekuningan untuk menghantam tanah.


Bhhuuuuummmmmmhh!!


Getaran kuat seperti gempa bumi hebat langsung merambat cepat ke segala arah. Kuda-kuda ilmu beladiri Tumenggung Janjangkeling goyah hingga tubuhnya oleng. Ini menyebabkan perisai ghaib itu menghilang dan tombak yang di lemparkan oleh lawannya meluncur cepat kearah nya. Namun dia mampu berkelit di saat ujung bilah tombak itu nyaris menusuk lehernya.


Namun dia masih belum bisa lepas dari maut setelah Mpu Wiritanaya melesat cepat kearah samping nya dan menghantamkan cahaya hijau kekuningan ke arah nya.


Whhhuuutthh!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Tubuh Tumenggung Janjangkeling seketika meledak dan hancur lebur berkeping-keping. Potongan daging tubuhnya menyebar ke segala arah. Dia tewas mengenaskan.


Begitu pimpinan utama prajurit Paguhan itu terbunuh, para prajurit Paguhan yang tersisa seperti ayam kehilangan induknya. Gerakan mereka kacau balau dan beberapa waktu kemudian mereka berhamburan menyelamatkan diri ke arah istana Kadipaten Paguhan. Para pemberontak pimpinan Mpu Wiritanaya langsung mengejar mereka.


Di sisi lain nya, pasukan pemberontak pimpinan Jaka Umbaran juga berhasil mendesak para prajurit Paguhan di bawah pimpinan Tumenggung Darmogati. Korban tewas berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Paguhan ini bertahan di depan pintu gerbang istana Kadipaten Paguhan dengan seluruh kekuatan yang tersisa.


Tumenggung Darmogati yang sudah luka parah membawa sisa prajurit nya untuk mundur ke arah istana Kadipaten Paguhan. Disana mereka juga bertemu dengan sisa pasukan Tumenggung Janjangkeling yang kocar-kacir menghadapi gempuran pasukan Mpu Wiritanaya.


Sedangkan pasukan Paguhan di bawah pimpinan Senopati Giriwangsa sendiri juga tak mampu menahan serangan pasukan pemberontak di bawah pimpinan Prabhaswara. Pasukan itu kini bersatu dengan pasukan Paguhan lainnya untuk bertahan dari gempuran pasukan pemberontak. Perang terus berkecamuk dengan sengitnya. Ribuan mayat prajurit baik dari pihak Istana Kadipaten Paguhan maupun para pemberontak bergelimpangan dimana-mana. Jerit kesakitan dari mulut-mulut yang tengah sekarat karena luka yang mereka terima benar-benar memilukan hati. Asap tebal dari beberapa bangunan yang terbakar, semakin menambah pemandangan yang mengerikan di Kota Kadipaten Paguhan.


Jaka Umbaran yang baru saja menyudahi perlawanan Tumenggung Darmogati, melesat cepat kearah pertarungan sengit antara Prabhaswara melawan Senopati Giriwangsa yang sudah terluka parah. Ketika Jaka Umbaran sampai, Prabhaswara mengusap pedangnya yang bersimbah darah usai menebas batang leher pimpinan prajurit Kadipaten Paguhan itu. Mpu Wiritanaya juga sampai di dekat Prabhaswara.


"Paman Prabhaswara,

__ADS_1


Selanjutnya apa langkah kita?", tanya Jaka Umbaran segera. Mpu Wiritanaya pun juga menatap wajah Prabhaswara yang merah terciprat darah segar musuhnya. Sembari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, Prabhaswara segera berteriak lantang,


"Gempur istana Paguhan...!!!"


__ADS_2