
Resi Simharaja langsung terdiam sejenak mendengar pertanyaan Jaka Umbaran. Meskipun sesungguhnya dia telah melihat wujud awatara Dewa Wisnu dalam diri Jaka Umbaran, namun dia tidak bisa serta merta mengatakan bahwa Jaka Umbaran memang keturunan dari Prabu Bameswara.
Kemampuannya masih belum mampu untuk melihat masa lalu Jaka Umbaran hingga dia tidak berani untuk membenarkan bahwa omongan Dewi Angin-angin sang Ratu Siluman Laut Selatan itu benar adanya.
"Sejujurnya saja, sebagai sesama siluman, saya kurang begitu percaya dengan omongan iblis betina itu, Ndoro Pendekar.
Namun sepertinya dia memiliki sesuatu yang ia ketahui tentang kain biru bersulam benang emas itu hingga mengatakan hal yang demikian. Kita boleh percaya boleh tidak akan omongan nya karena hanya Prabu Bameswara saja yang mengetahui kebenaran sejati nya. Itu saja saran dari saya, Ndoro Umbaran", ucap Resi Simharaja segera.
Hemmmmmmm..
"Kalau dipikir-pikir, omongan mu ada benar nya juga Resi Simharaja. Lebih baik kita dengar omongan Ratu Laut Selatan tadi tapi tidak perlu percaya sepenuhnya. Mungkin lebih baik jika kita segera meneruskan perjalanan ke Kotaraja Daha untuk mencari tahu langsung dari Gusti Prabu Bameswara", Jaka Umbaran segera melangkah menuju ke arah kuda tunggangannya usai berkata demikian. Untung saja, luka dalam akibat pertarungan singkatnya dengan para siluman Laut Selatan tadi tidak parah hingga dia masih mampu melanjutkan perjalanan. Resi Simharaja segera mengekor langkah sang pimpinan rombongan, begitu pula dengan Gendol yang baru saja membersihkan wajah nya yang belepotan lumpur. Mereka bertiga pun segera menggebrak kuda tunggangan nya meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di Kota Kadipaten Bhumi Sambara, ketiganya mampir sebentar ke pasar besar untuk membeli beberapa makanan kering juga mengisi perut mereka yang mulai keroncongan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah timur. Meskipun ada beberapa pasang mata yang sempat menatap ke arah mereka bertiga, namun tak ada kejadian apa-apa.
Pemandangan alam indah terhampar di depan mata, menemani perjalanan Jaka Umbaran dan kawan-kawan ke arah timur. Perbukitan yang tinggi menjulang di sertai rimbun pepohonan menjadi pemandangan biasa yang mereka lewati. Menyusuri jalan raya menuju ke arah perbatasan wilayah Kadipaten Bhumi Sambara dan Kadipaten Wengker, cericit burung berkicau dan suara riuh monyet liar terdengar bersahutan seakan menjadi penghibur tersendiri bagi mereka. Menjelang sore hari, mereka memasuki wilayah Wanua Selogiri yang menjadi pemukiman penduduk terakhir di tapal batas paling timur Kadipaten Bhumi Sambara. Karena setelah menyeberangi Sungai Wulayu atau yang kita kenal sekarang sebagai Sungai Bengawan Solo, mereka masuk ke dalam wilayah Kadipaten Wengker.
Jaka Umbaran menatap ke arah timur laut dimana Gunung Lawu terlihat seperti sedang menunggu nya. Teringat dia akan masa kecilnya yang dihabiskan bersama sang guru yang telah merawat nya dari bayi.
"Ndoro Pendekar, kau kenapa?", tanya Gendol yang melihat majikannya sedang tertegun menatap ke arah Gunung Lawu di kejauhan.
"Ah tidak apa-apa, Ndol..
Hanya teringat akan kenangan masa kecil di utara gunung itu. Hah, betapa menyenangkannya tinggal bersama dengan guru di Pertapaan Watu Bolong. Rasanya seperti baru kemarin aku masih berlatih dengan guru. Entah apa yang sedang beliau lakukan saat ini", ucap Jaka Umbaran sembari terus memandangi Gunung Lawu di kejauhan.
"Ya doakan saja semoga beliau tetap sehat selalu, Ndoro Pendekar.
Pasti sekarang beliau sedikit banyak telah mendengar nama besar Ndoro Pendekar dan aku yakin dia pasti akan sangat bangga dengan apa yang sedang Ndoro Pendekar lakukan", ucap Gendol dengan gaya sok bijak.
"Nah ini kedua kalinya kau omong benar Ndol.
Sudah cocok untuk menjadi seorang brahmana. Kapan kau mau bertapa untuk mencapai kesempurnaan hidup?", celetuk Resi Simharaja yang langsung membuat Gendol mendelik kereng.
__ADS_1
"Eh macan tua, kalau ngomong jangan sembarangan. Siapa yang mau bertapa di tempat sepi? Enak saja...", gerutu Gendol sambil mendengus dingin.
Setelah berhenti sejenak di tapal batas Wanua Selogiri, ketiganya segera memasuki pemukiman penduduk terdekat karena sudah tidak mungkin lagi untuk melanjutkan perjalanan. Untung saja, ada salah seorang penduduk yang berbaik hati memberikan tempat bermalam. Hingga mereka tidak perlu repot-repot lagi mencari tempat untuk beristirahat malam itu.
Cahaya jingga di ufuk timur menjadi pertanda bahwa pagi hari telah menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan terdengar bersahutan seakan ingin membangunkan semua penghuni Wanua Selogiri. Burung burung pun mulai bernyanyi dengan kicauan yang indah pada ranting pepohonan yang tumbuh di sekitar pemukiman penduduk.
Pagi itu juga, setelah mengucapkan terima kasih atas kebaikan penduduk Wanua Selogiri yang memberi tumpangan bermalam, Jaka Umbaran dan kawan-kawan berpamitan. Mereka pun segera bergegas menuju ke arah penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kadipaten Bhumi Sambara dengan wilayah Kadipaten Wengker. Tinggi air sungainya hanya sedengkul kuda hingga mereka tidak membutuhkan bantuan alat penyeberangan untuk sampai di wilayah Kadipaten Wengker.
Mereka pun segera menuju ke arah timur sesuai dengan petunjuk dari penduduk yang mereka temui. Tujuan mereka adalah sampai di timur Gunung Wilis secepatnya. Menyusuri jalan di kaki Gunung Lawu sebelah selatan, mereka bergerak ke arah Kota Kadipaten Wengker. Melewati beberapa wanua dan perkampungan penduduk seperti Wanua Joho dan Soco, menjelang tengah hari mereka sampai di Wanua Pohpelem yang merupakan persimpangan jalan menuju ke arah Lewa dan Wengker.
"Ndoro Pendekar, kita berhenti dulu ya? Lapar nih", ucap Gendol sembari mengelus perutnya yang terus mengeluarkan bunyi semenjak keluar dari Wanua Soco.
"Apa kau tahu daerah ini Ndol?", tanya Jaka Umbaran segera setelah menarik tali kekang kudanya.
"Kalau lurus kita ke Kota Wengker. Tapi kalau belok kiri kita akan masuk ke Pakuwon Sukowati yang masuk wilayah Kadipaten Lewa.
Itu di pikir nanti saja Ndoro Pendekar. Sebaiknya kita berhenti sebentar untuk beristirahat. Tuh warung makan nya terlihat dari sini", Gendol menunjuk ke sebuah warung makan yang ada di dekat persimpangan jalan. Terlihat beberapa kuda tertambat pada geladakan di halaman sedangkan warung makan itu nampak penuh dengan para pengunjung.
"Perut ku ini masih perlu diisi dengan nasi dan lauk pauk, ya Macan Tua.
Aku tidak seperti kau yang bisa sekali makan cukup untuk seminggu. Aku heran, sebenarnya tembolok mu itu bisa muat berapa banyak makanan sih?", ejek Gendol segera.
"Kau..."
Sudah jangan ribut. Kita istirahat dulu. Ndol, kau pimpin di depan karena kau hapal jalan ini", ucap Jaka Umbaran menengahi perdebatan antara mereka berdua. Gendol menjulurkan lidahnya pada Resi Simharaja sebelum menjalankan kudanya ke arah warung makan.
Setelah menambatkan kuda mereka, ketiganya langsung masuk ke dalam warung makan. Kedatangan mereka bertiga pun segera mendapat perhatian dari para pengunjung warung makan itu. Beberapa orang langsung kembali melanjutkan acara makannya namun ada dua pasang mata yang terus menatap ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Kedua orang itu langsung berbisik-bisik lirih. Setelah itu, kedua orang itu segera keluar dari warung makan tanpa menghabiskan makanan mereka setelah meletakkan beberapa kepeng tembaga di atas meja makan.
Sedangkan Jaka Umbaran dan kawan-kawan usai memesan makanan, segera mencari tempat duduk di meja makan yang ada di salah satu sudut ruangan warung makan ini.
"Apa kau yakin ingin ikut sayembara itu, Kang Tirto?
__ADS_1
Hadiahnya memang menggiurkan bagi siapapun yang mengikuti nya. Menjadi menantu dari Adipati Lewa dan mendapatkan kedudukan sebagai pimpinan pasukan. Tapi resiko nya sangat tinggi. Bukan cuma perampok kacangan loh, tapi Si Gagak Hitam Lengan Seribu itu", ucap seorang pendekar yang memiliki sepasang pedang di punggungnya sembari menatap ke arah seorang lelaki muda bertubuh gempal yang menyandang sebilah golok yang memiliki gagang perak berukir kepala serigala. Pembicaraan mereka terdengar jelas oleh Jaka Umbaran dan kawan-kawan yang duduk tak jauh dari tempat mereka berada.
"Takut apa, Sudhana?
Aku Tirtonolo, Pendekar Golok Serigala Perak, tidak akan takut pada siapapun apalagi jika itu untuk satu tujuan besar. Lagipula, saudara seperguruan ku dari Padepokan Bukit Asam juga sudah siap mendukung ku untuk menumpas kelompok perusuh keamanan itu.
Jika aku berhasil menumpas Gerombolan Gagak Hitam, tentu saja aku akan menjadi putra mantu Adipati Wangsakerta dan diangkat menjadi punggawa istana. Karena itu, maukah kau membantuku Sudhana? Jika kita menggabungkan kekuatan untuk melawan Gerombolan Gagak Hitam, peluang menang nya akan lebih besar. Aku pasti akan mengangkat mu sebagai tangan kanan ku di keprajuritan Kadipaten Lewa jika kau bersedia bergabung", ucap si lelaki bertubuh gempal yang bernama Tirtonolo si Pendekar Golok Serigala Perak itu dengan berapi-api.
"Kakang Tirtonolo sudah seperti saudara bagi ku. Apalagi Kakang pernah menyelamatkan nyawa ku jadi aku tidak akan keberatan jika harus membalas budi yang telah kakang berikan", ucap Sudhana si Pendekar Pedang Kembar itu segera.
"Baguslah kalau begitu..
Setelah ini kau ikut aku ke Padepokan Bukit Asam. Saudara seperguruan ku sudah menunggu kedatangan kita disana. Kejayaan besar telah menanti kita berdua, Sudhana hahahaha..", tawa keras Tirtonolo langsung disambut dengan tawa pula oleh Sudhana, kawan sekaligus sekutunya itu. Keduanya segera menyantap hidangan dengan penuh semangat. Setelah itu, mereka berdua segera meninggalkan tempat itu.
"Wah rupanya ada sayembara loh Ndoro Pendekar. Tadi saya juga sempat mendengar kalau di Kadipaten Lewa sedang ada masalah keamanan karena munculnya Gerombolan Gagak Hitam yang merampok pemukiman penduduk di sekitar Kadipaten Lewa. Nah, katanya juga ada sayembara itu. Cuma saya kurang jelas eh dua jagoan kampung baru saja malah menjelaskan nya.
Ndoro tidak berminat ikut?", tanya Gendol sembari mengunyah paha ayam panggang yang menjadi pesanan nya tadi.
"Kemarin, Begawan Sidicarita mengatakan bahwa ada beberapa orang yang sedang membutuhkan bantuan ku. Mungkin ini yang dimaksud oleh beliau.
Sebaiknya kita..."
Belum sempat Jaka Umbaran menyelesaikan omongannya, dari arah pintu masuk warung makan, beberapa orang yang memakai pakaian hitam dengan ikat kepala merah dan juga diikuti oleh seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan mengenakan mantel kain berwarna merah datang. Rupanya dua orang yang berbisik-bisik lirih tadi yang datang dengan membawa beberapa orang mengikuti nya. Dia langsung menunjuk ke arah Jaka Umbaran.
"Guru besar, bukankah dia Jaka Umbaran?"
Jaka Umbaran segera menoleh ke arah sumber suara dan melihat beberapa orang berpakaian hitam dengan ikat kepala merah itu. Dia sangat mengenali si lelaki tua bertubuh kurus yang mengenakan mantel kain berwarna merah dan menatap nya dengan penuh rasa benci. Sambil tersenyum tipis, dia langsung berkata,
"Dewa Kalong Merah,
Ada perlu apa kau kemari?"
__ADS_1