
Para wanita muda yang menjadi korban penyekapan itu langsung meringkuk ketakutan setengah mati melihat munculnya lelaki tua bertubuh gempal ini. Selama ini, mereka memang sudah menjadi bahan penyiksaan yang dilakukan oleh lelaki tua itu karena tidak memiliki sesuatu yang diinginkan oleh lelaki tua itu.
Resi Guru Ekajati menggeram keras melihat kedatangan orang yang sangat di kenalnya itu. Lelaki tua berjanggut panjang itu dulu pernah mengalahkan nya dan nyaris membuat nya cacat andai saja gurunya Dewa Resi Jaluwisesa tidak menyelamatkan nya tepat waktu.
"Atmabrata...!!
Rupanya kau benar-benar sudah keblinger. Dasar pemuja setan, hari ini di tahun depan adalah hari peringatan kematian mu!!"
Lelaki tua berjanggut panjang dengan pakaian serba putih selayaknya seorang pertapa itu pun segera menajamkan penglihatannya untuk melihat siapa orang yang berani mengatai nya. Dia mengorek hal hal yang pernah di lakukan nya dulu lalu menyeringai lebar saat ingat sosok Resi Guru Ekajati.
"Ehehehehehehe...
Rupanya kawan lama yang datang kemari. Ekajati, sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Apa kau masih tetap pecundang seperti dulu?", ucap Dewa Guru Resi Atmabrata dengan nada suara penuh ejekan.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Sudah tua bangka bau tanah tapi masih juga kau belum bertobat, heh Atmabrata..
Aku memandang mu sebagai kawan lama jadi aku akan melepaskan mu kali ini jika kau tidak menghalangi jalan ku untuk keluar dari tempat terkutuk ini", ucap Resi Guru Ekajati sembari menatap tajam ke arah Dewa Guru Resi Atmabrata. Keremangan cahaya lampu obor yang tergantung di dinding goa tak mampu menyembunyikan pancaran rasa geram di wajah orang tua itu.
"Mau membawa tawanan ku pergi dari sini? Langkahi dulu mayat ku jika kau mampu, Ekajati!!"
Dewa Guru Resi Atmabrata mulai memutar ujung kain putih memanjang yang merupakan pakaian khas seorang pertapa di tangan kanannya. Perlahan angin kencang berhawa panas mulai berhembus di sekitar tempat Dewa Guru Resi Atmabrata. Cahaya hijau kemarahan berpendar cepat dari telapak tangan pimpinan Kedewaguruan Astanaraja itu. Setelah itu ia segera mengambil mengibaskan tangannya ke arah Resi Guru Ekajati.
"Makan ini Ekajati..!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!!"
Sebuah bayangan telapak tangan raksasa berwarna hijau kemerahan yang tercipta di telapak tangan Dewa Guru Resi Atmabrata meluncur deras ke arah Resi Guru Ekajati setelah lelaki tua itu mengibaskan tangannya.
"Semuanya, cepat menghindar!!", teriak Resi Guru Ekajati sembari melompat menghindari hantaman ilmu kesaktian pimpinan Kedewaguruan Astanaraja ini. Semua orang langsung berhamburan menyelamatkan diri. Nyai Larasati segera melesat cepat kearah samping sambil menggendong tubuh Dewi Rengganis yang masih tidak sadarkan diri sementara para perempuan tawanan langsung berlari ke arah dinding goa sambil meringkuk ketakutan.
Blllaaammmmmmmm!!!
'Tapak Pemukul Naga..
Ada hawa kegelapan yang ikut serta dalam ajian ini. Jadi benar rupanya dia bersekutu dengan iblis. Aku harus menghentikannya sebelum semakin membuat kerusakan di muka bumi ini', batin Resi Guru Ekajati. Pimpinan Pertapaan Gunung Cakrabuana itu langsung merapal mantra ilmu kanuragan andalannya.
Seberkas cahaya putih kehijauan menyilaukan mata tercipta di telapak tangan kanannya. Setelah itu, Resi Guru Ekajati melesat cepat kearah Dewa Guru Resi Atmabrata sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya.
"Ajian Gugur Daun hehehehe...
Kau terlalu meremehkan kemampuan ku, Ekajati!!!"
Dewa Guru Resi Atmabrata segera menyambut kedatangan serangan cepat itu dengan telapak tangannya yang memancarkan cahaya hijau kemerahan.
Blllaaammmmmmmm!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar dari dalam goa ini. Gelombang kejut nya cukup membuat beberapa batu longsor dan dinding batu berderak seperti terkena gempa bumi. Resi Guru Ekajati tersurut mundur beberapa tombak ke belakang begitu pula dengan Dewa Guru Resi Atmabrata. Keduanya merasakan ngilu pada pergelangan tangannya setelah saling beradu ilmu kesaktian.
'Bangsat, kemampuan beladiri Ekajati rupanya sudah meningkat pesat.. Dia mampu mengimbangi Ajian Tapak Pemukul Naga ku. Ini tidak boleh dibiarkan..', batin Dewa Guru Resi Atmabrata. Kakek tua itu segera menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Tiba-tiba saja muncul angin panas menderu kencang di sekitar tempat orang tua itu berdiri.
__ADS_1
'Ajian Kincir Metu??'
"Nyai Larasati!
Cepat bawa semua orang keluar dari tempat ini. Aku akan menahan Atmabrata sekuat tenaga. Cepatlah!!!"
Mendengar teriakan keras dari Resi Guru Ekajati, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan mengangguk mengerti. Dia segera bergegas berlari keluar dari dalam goa itu bersama para perempuan muda yang menjadi korban penculikan Dewa Guru Resi Atmabrata.
"Mau kabur?!!
Tidak semudah itu, bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn!!!"
Dewa Guru Resi Atmabrata segera menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah Resi Guru Ekajati. Angin kencang berhawa panas bersamaan dengan kilatan cahaya hijau setipis kain meluncur cepat kearah Nyai Larasati dan para perempuan yang berusaha untuk menyelamatkan diri.
Melihat itu, Resi Guru Ekajati segera menurunkan telapak tangan nya sejajar pinggang, memutar sekali dan melesat cepat menghadang laju pergerakan serangan cepat Dewa Guru Resi Atmabrata dengan kedua tangan memancarkan cahaya biru kehijauan.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr...!!!!
Auuuggghhhhh...!
Resi Guru Ekajati terpelanting ke belakang dan menghantam dinding goa batu. Meski sempat memuntahkan darah segar, lelaki tua berjanggut pendek itu langsung melesat cepat keluar dari dalam goa menyusul Nyai Larasati dan para perempuan korban penculikan. Ini karena dinding goa mulai berderak keras hendak runtuh.
Bhhuuuuummmmmmhh bhhuummmh!!
Batu-batu besar mulai berjatuhan dari atap goa. Jaka Umbaran dan Resi Simharaja yang baru saja selesai mengakhiri perlawanan para murid Kedewaguruan Astanaraja melesat masuk ke dalam goa. Melihat Nyai Larasati berlari cepat kearah nya sambil menggendong tubuh Dewi Rengganis, pendekar muda ini langsung bertanya.
"Resi Guru Ekajati dimana?"
Krrraaaakkkkkk... Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Begitu Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya berhasil keluar dari dalam goa, terdengar suara seperti benda pecah yang sangat keras. Goa tempat upacara persembahan Dewa Guru Resi Atmabrata runtuh.
Semua orang yang berhasil menyelamatkan diri menghela nafas lega karena telah lolos dari maut. Asap tebal dan debu beterbangan di sekitar tempat itu.
"Akhirnya si sesat itu mati juga uhukkk uhukkk uhukkk..
Dia terkena karma nya sendiri. Dia layak mendapatkan nya", ucap Resi Guru Ekajati sembari menatap kepulan asap tebal yang menutupi bekas goa ini.
Namun tiba-tiba..
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar dari dalam goa yang runtuh ini. Selanjutnya sebuah bayangan merah berkelebat cepat kearah Resi Guru Ekajati yang berdiri paling depan.
Dhhaaaassshhh...
Aaauuuuggggghhhhh!!
Kecepatan tinggi bayangan berkelebat yang menghantam dada Resi Guru Ekajati langsung membuat lelaki tua itu terpelanting ke belakang. Mata semua orang terbelalak lebar tatkala mereka melihat sesosok makhluk berkulit hitam legam dengan mata merah menyala seperti kobaran api dengan dua tanduk melengkung di kepalanya sedang menyeringai lebar menatap ke arah Resi Guru Ekajati yang terkapar muntah darah 5 tombak jauhnya.
__ADS_1
"Ehehehehehehe...
Jangan kau pikir sudah menang Ekajati. Kau memang berhasil menghancurkan goa altar keramat ku tapi Hyang Batara Kala masih satu jiwa dengan ku!"
Mendengar ucapan itu, semua orang langsung tahu bahwa makhluk hitam menyeramkan ini adalah bentuk Dewa Guru Ekajati yang telah berubah wujud.
Jaka Umbaran segera merapal mantra Ajian Bandung Bondowoso nya sembari memejamkan matanya sebentar. Manik mata pendekar muda ini langsung berubah warna menjadi kuning keemasan. Saat makhluk hitam menyeramkan ini melesat cepat kearah Resi Guru Ekajati yang masih terduduk di tanah sambil memeluk dadanya untuk membunuh pengatur wilayah barat dari Pertapaan Gunung Cakrabuana ini, Jaka Umbaran segera melesat cepat menghadang laju pergerakan nya sambil menghantamkan kepalan tangannya.
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!
Makhluk menyeramkan itu langsung terpelanting ke belakang dan menghantam batu besar di bekas goa yang sudah runtuh. Meskipun cairan berwarna hijau meleleh keluar dari sudut mulutnya yang bergigi tajam, dia segera bangkit.
"Bocah kurang ajar!!
Minggir kau jika masih sayang dengan nyawa mu!!", hardik Dewa Guru Resi Atmabrata sembari menunjuk ke arah Jaka Umbaran yang berdiri di depan Resi Guru Ekajati.
"Kau bersekutu dengan iblis, kakek tua!
Kehadiran mu di dunia ini adalah kesalahan. Kau seharusnya tidak ada di dunia ini!"
Setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera menghentak tanah dengan keras. Seketika itu juga, tanah langsung retak dan menjalar cepat kearah Dewa Guru Resi Atmabrata dalam wujud iblis nya. Tak ayal lagi, tubuh manusia setengah iblis ini langsung melesak masuk ke dalam tanah hingga ke pinggang. Setelah itu kembali Jaka Umbaran segera menghentak tanah dan seketika itu pula retakan tanah di depannya menutup dengan cepat hingga menjebak manusia separuh iblis itu hingga tak bisa bergerak.
Selepas itu, Jaka Umbaran menyambar sebuah batu besar seukuran gajah lalu melenting tinggi ke udara dan meluncur cepat hendak mengepruk kepala manusia setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata.
Tak ingin mati secepat itu, manusia setengah iblis ini langsung menggunakan seluruh kemampuannya untuk meloloskan diri. Tepat sesaat sebelum Jaka Umbaran menghantamkan batu besar di kepalanya, makhluk menyeramkan itu berhasil lolos dari jebakan yang di buat oleh Jaka Umbaran.
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
"Mau membunuh ku?!!
Terlalu cepat 100 tahun bagi mu bocah tengik. Aku akan membuat tubuh mu hancur lebur sampai mayat mu sulit untuk dikenali lagi!!"
Makhluk menyeramkan itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Sebutir telur besar keluar dari sana. Satu, dua, tiga, empat. Empat butir telur besar dia keluarkan. Perlahan telur besar itu pecah dan sesosok makhluk hitam menyeramkan keluar dari sana. Meskipun mirip dengan manusia setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata, mereka lebih pendek mirip dengan remaja berusia 10 tahun. Mereka semua langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran dan kawan-kawan.
Sadar bahwa ia kini butuh bantuan, Jaka Umbaran diam-diam mengusap cincin pusaka bermata merah di jari manisnya. Asap tebal keluar dari cincin itu, dan sesosok kera besar berbulu merah muncul disana.
"Pancer, Resi Simharaja!!!
Lawan mereka untuk ku!"
Mendengar perintah dari sang majikan, kera besar berbulu merah perwujudan dari Pancer langsung melompat ke arah para makhluk ciptaan manusia setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata ini. Resi Simharaja pun segera melompat ke arah mereka dan berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar.
Pertarungan sengit antara Pancer dan Resi Simharaja melawan para makhluk ciptaan itu berlangsung sangat menegangkan. Baik Nyai Larasati maupun para perempuan muda yang menjadi korban penculikan Dewa Guru Resi Atmabrata sampai melongo melihat semua kejadian yang terjadi di depan mata mereka. Sedangkan Resi Guru Ekajati nampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
Setelah Pancer dan Resi Simharaja maju bertarung, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah manusia setengah iblis jelmaan Dewa Guru Resi Atmabrata sembari berkata,
"Sekarang tidak ada lagi yang menggangu.
Ayo kita lanjutkan pertarungan kita!!"
__ADS_1