JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Saudara Resi Simharaja


__ADS_3

Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja yang berdiri di samping kiri nya setelah mendengar ucapan dari lelaki paruh baya itu.


"Kau mengenal nya, Resi Simharaja?", mendengar pertanyaan Jaka Umbaran ini, Resi Simharaja segera mengangguk cepat.


"Berbeda dengan aku, Ragasoma adalah seorang manusia setengah siluman. Ayahnya adalah seorang siluman harimau seperti aku, tetapi ibunya dari manusia biasa.


Ayahnya adalah ayah ku juga, jadi dia adalah adik tiri ku", ucap Resi Simharaja segera.


"Kalau dia setengah siluman dan masih saudara dekat mu, bukankah seharusnya dia memiliki kemampuan beladiri yang lumayan? Kenapa dia justru malah terlihat lemah begitu, Resi?", Baratwaja pun ikut nimbrung dalam obrolan mereka berdua.


"Ragasoma memiliki kecacatan berupa tubuh siluman batu yang membuatnya tak bisa menerima ilmu kanuragan apapun yang diberikan pada nya.


Karena itu ia tak ubahnya seperti seorang manusia biasa yang tidak melatih diri dengan ilmu kanuragan. Satu-satunya kemampuan alami yang dia miliki adalah penciumannya yang setajam milik ku", ucap Resi Simharaja sembari menatap ke arah pertarungan sengit itu.


"Lantas apa yang membuat mereka nampak ingin membunuh orang tua itu, Resi?", tanya Baratwaja kemudian.


"Aku tidak tahu, Baratwaja..


Aku sudah lama tidak berhubungan dengan nya. Dia sudah lama tidak tinggal di Kadipaten Kembang Kuning selama puluhan tahun", balas Resi Simharaja segera.


"Karena kau kenal dengan orang tua itu, sebaiknya kita tidak berdiam diri saja", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah pertarungan sengit itu sambil mengayunkan tapak tangan kanan nya yang berwarna putih kebiruan pada salah satu diantara pengeroyok itu. Resi Simharaja dan Baratwaja pun segera ikut menyusul sang pangeran.


Blllaaammmmmmmm..!!!


Aaaarrrgggggghhhhh...!!


Orang yang terkena hantaman Ajian Guntur Saketi itu langsung meraung keras dan terpelanting jauh ke belakang dengan tubuh separuh gosong. Para pengeroyok kakek tua dan cucunya serta beberapa orang pengiring nya ini langsung berhamburan menjauh. Seorang lelaki bertampang seram namun dengan tubuh sedikit pendek langsung mendelik tajam ke arah Jaka Umbaran dan Resi Simharaja juga Baratwaja yang baru saja sampai.


"Bangsat, kenapa ikut campur urusan kami? Siapa kalian?", teriak lelaki bertubuh pendek dengan janggut panjang itu segera. Sepertinya dia adalah pimpinan para pengeroyok.


"Siapa kami? Kami hanya orang yang lewat dan melihat beberapa orang sedang menindas orang tua. Jadi kami terpaksa ikut campur!", ucap Jaka Umbaran segera.


"Huh, kurang ajar!! Kalian rupanya sudah bosan hidup dengan menantang orang-orang Lembah Hantu.


Waktunya kau untuk menerima akibatnya jika berani mencampuri urusan kami!", setelah berkata demikian, lelaki bertubuh pendek dengan janggut panjang yang bernama Mendhadahana itu segera melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil memutar sepasang trisula yang menjadi senjata andalan nya. Bersamaan dengan itu, para pengikutnya pun ikut menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya.


"Lagi lagi orang-orang dari Lembah Hantu membuat ulah! Kalian memang harus dihentikan!", ucap Jaka Umbaran sembari bersiap untuk bertarung.


Baratwaja yang berdiri di samping Jaka Umbaran pun segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan empat pisau belati nya yang berwarna putih keperakan. Sementara tangan kirinya dengan cepat meraih gagang pedang pendek yang terselip di pinggang. Segera dia melemparkan empat pisau belati itu ke arah para pengeroyok.


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg shhhrriinggg..


Empat pisau belati itu langsung melesat cepat kearah mereka. Kegelapan malam menyamarkan pergerakan pisau belati itu dan ini luput dari perhatian para anak buah Mendhadahana.


Chhhrreeepppppppphhhh chhreepppppph..


Auuuggghhhhh ouugghhh!!

__ADS_1


Empat orang pengeroyok itu langsung roboh terjungkal menyusruk tanah dengan pisau menembus tenggorokan mereka. Mereka berempat pun tewas saat itu juga.


Melihat lawannya sudah tak bernyawa, Baratwaja pun segera melesat cepat menggunakan Ajian Langkah Kilat dengan memegang erat-erat gagang pedang pendek nya. Putra Mapatih Mpu Baprakeswara ini segera mengamuk di antara para pengeroyok yang ingin menuntut balas kematian kawannya yang terbunuh oleh Baratwaja.


Di lain sisi, Mendhadahana langsung menusukkan trisula di tangan kanannya ke arah dada Jaka Umbaran. Sang Pendekar Gunung Lawu hanya menggeser sedikit tubuhnya hingga tusukan itu hanya menyambar angin sejengkal di samping kanan sang pangeran muda.


Melihat itu, Mendhadahana langsung memutar tubuhnya dan melayangkan tusukan trisula di tangan kirinya ke arah pinggang Jaka Umbaran.


Shhhrrrreeeeettttth!!


Jaka Umbaran menjejak tanah dengan keras lalu melenting sambil bersalto di udara dan mendarat dua tombak jauhnya dari Mendhadahana. Melihat serangannya bisa di hindari juga, Mendhadahana langsung memburu Jaka Umbaran dengan serangan cepat nya yang berbahaya. Pertarungan sengit antara keduanya langsung terjadi.


Meskipun Mendhadahana langsung mengerahkan seluruh kemampuan beladiri nya untuk mengalahkan Jaka Umbaran, namun pangeran muda ini tetap saja mampu menghindari serangan-serangannya dengan mudah. Bahkan sesekali sang pangeran muda melayangkan serangan balik cepat kearah Mendhadahana yang membuat lelaki bertubuh pendek dengan janggut panjang itu menerima beberapa pukulan keras nya.


Resi Ragasoma, si kakek tua itu segera mendekati Resi Simharaja yang berdiri di membelakanginya. Meskipun dia tidak melihat langsung wajah orang di hadapannya itu, namun dia sudah tahu siapa orang yang ada di hadapannya ini karena ia memiliki kemampuan penciuman tajam.


"Kakang Prabu, kenapa kau datang ke tempat ini? Ini sudah terlalu jauh dari Alas Roban", ucap Resi Ragasoma segera.


"Aku sudah bukan raja lagi, Ragasoma. Kerajaan Siluman Alas Roban sekarang ini dipimpin oleh Simhamurti, putra ku. Aku disini karena mengikuti junjungan ku", ucap Resi Simharaja tanpa membalikkan badannya ke arah Resi Ragasoma.


"Junjungan? Kau seorang raja, memilih untuk mengikuti seorang manusia. Apa yang membuat mu keblinger seperti itu Kakang Simharaja?", kembali Resi Ragasoma bertanya.


"Heh kau ini benar-benar dangkal pikiran mu. Aku tidak mungkin melepaskan kedudukan ku hanya untuk mengikuti seorang manusia biasa.


Yang aku ikuti sekarang adalah titisan Batara Wisnu, Ragasoma..", Resi Simharaja segera mengarahkan tangan nya ke arah pertarungan antara Jaka Umbaran dan Mendhadahana. Melihat isyarat tangan ini, Resi Ragasoma segera menatap ke arah Jaka Umbaran. Samar-samar, penciuman tajam nya membaui sesuatu yang tidak biasa pada tubuh Jaka Umbaran. Itu adalah aroma tubuh para dewa yang tidak ada di dunia. Dia pernah sekali membauinya dan itu sudah lama sekali terjadi.


"Nanti saja kau tanyakan sendiri pada nya setelah pertarungan ini berakhir. Sudah tutup mulut, jangan cerewet. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu sekarang!", bentak Resi Simharaja sembari mengibaskan tangannya sebagai isyarat tidak mau diganggu. Pandangan mata nya terus mengawasi pertarungan antara Jaka Umbaran dan Mendhadahana.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!


Kalau kau ksatria, jangan kabur kesana-kemari seperti pengecut! Ayo kita adu kesaktian!!", maki Mendhadahana sembari menyalurkan tenaga dalam nya pada sepasang trisula di tangan nya. Benda berujung tiga ini perlahan memancarkan cahaya merah menyala.


Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya yang baru saja mendarat di tanah, tersenyum tipis mendengar tantangan dari Mendhadahana ini.


"Kau benar. Sudah saatnya mengakhiri pertarungan ini", ucap Jaka Umbaran segera. Melihat Jaka Umbaran berhenti, Mendhadahana langsung melemparkan sepasang trisula di tangan nya pada Jaka Umbaran.


"Huh, modar kau bajingan!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!"


Shhhrrrreeeeettttth...!!!


Dua senjata tajam itu langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran yang masih berdiri kokoh di tempatnya. Saat kedua trisula itu menyentuh kulit nya, ledakan keras pun terdengar lagi.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Dua trisula itu langsung mencelat jauh ke arah yang berlawanan. Rupanya kedua senjata yang telah di lapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi ini tak mampu menggores kulit Jaka Umbaran yang sudah menggunakan Ajian Bandung Bondowoso.

__ADS_1


Melihat itu semua, Mendhadahana langsung menggeram keras. Dia segera menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dada. Cahaya hijau kehitaman berbau tidak sedap langsung menyebar di sekeliling tempatnya berdiri. Rupanya dia ingin menggunakan ajian pamungkas milik Lembah Hantu yang bernama Ajian Tapak Hantu Beracun.


Jaka Umbaran pun segera merapal mantra Ajian Waringin Sungsang yang baru dia dapat dari sang ayahanda. Dia ingin mencobanya kali ini. Perlahan cahaya hijau kebiruan langsung muncul di dada sang pangeran lalu dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh nya.


Mendhadahana yang tidak tahu apa ilmu beladiri yang di miliki oleh lawan, langsung melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya ke dada sang pangeran muda.


Dhhhaaaassshhhh...


Blllaaammmmmmmm!!!!


Terdengar bunyi ledakan dahsyat saat tapak tangan Mendhadahana menghantam dada Mapanji Jayabaya. Namun betapa terkejutnya ia saat tangannya seperti menempel di dada sang pendekar muda ini. Dia berusaha keras untuk melepaskan telapak tangannya dari dada Jaka Umbaran namun usahanya sia-sia belaka karena tangannya seperti melekat pada kulit putra mahkota Kerajaan Panjalu itu.


"Sekarang giliran ku..!!!


Haaaaaarrrrrrrrgghhh...!!


Cahaya hijau kebiruan langsung terlontar dari mulut Jaka Umbaran yang segera melilit tubuh Mendhadahana. Cahaya hijau kebiruan itu segera menyebar ke seluruh tubuh Mendhadahana dan perlahan mulai menghisap daya hidup dan tenaga dalam milik lelaki bertubuh pendek itu segera.


Rasa sakit seketika terasa di sekujur tubuh Mendhadahana. Semakin lama semakin sakit dan ini sungguh menyiksa tubuh lelaki tua berjanggut panjang itu.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


"Sakkkkiiiittttt aaaarrrgggggghhhhh...


Ampuni aku aaaarrrgggggghhhhh ampuuuunnnnnnnnn....!!!!"


Mendhadahana terus meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri namun tidak sedikit pun dia lepas dari jeratan Ajian Waringin Sungsang. Daya hidup dan tenaga dalam nya terus mengalir ke dalam tubuh Jaka Umbaran. Perlahan tubuh nya mengering hingga menyisakan tulang belulang belaka. Lalu tubuhnya menghitam dan terus menghitam.


"Ilmu yang mengerikan..!", gumam Baratwaja yang baru saja membantai seluruh pengikut Mendhadahana bersama para pengawal Resi Ragasoma. Sembari menjajari Resi Simharaja yang juga terus menatap ke arah Jaka Umbaran dan Mendhadahana, dia menyimpan kengerian bercampur aduk dengan rasa kagum dengan kemampuan beladiri yang di miliki oleh Mapanji Jayabaya.


Disaat daya hidup dan tenaga dalam Mendhadahana habis dan tubuhnya mengeras seperti batu, Jaka Umbaran segera menghantam dada Mendhadahana dengan kepalan tangannya.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Tubuh Mendhadahana langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Dia tewas di tangan Jaka Umbaran. Usai melihat lawannya sudah musnah, Jaka Umbaran menghela nafas panjang sebelum melangkah mendekati Resi Ragasoma bersama para pengikutnya.


"Terimakasih atas bantuannya, Kisanak..


Tanpa bantuan mu, mungkin kami semua sudah tewas di tangan mereka", ucap Resi Ragasoma sembari membungkuk hormat.


"Sudahlah, aku membantu kalian semua karena Resi masih ada hubungan dengan Resi Simharaja.


Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini. Perkemahan kami ada di sebelah sana. Kita pergi kesana saja. Mari Resi..", mendengar jawaban itu, Resi Ragasoma pun mengangguk mengerti. Bersama dengan Jaka Umbaran dan para pengikutnya, Resi Ragasoma meninggalkan tempat itu menuju ke arah perkemahan Jaka Umbaran.


Setelah cukup lama mereka pergi dari tempat itu, sebuah tangan bergerak perlahan sebelum akhirnya seorang lelaki dengan tubuh penuh luka bangkit dari tanah. Rupanya dia masih hidup dan hanya pingsan saat tadi bertarung melawan Baratwaja. Sembari mengedarkan pandangannya pada mayat-mayat kawan-kawannya yang bergelimpangan tak tentu arah, dia melangkah tertatih-tatih meninggalkan tempat itu menuju ke arah timur.

__ADS_1


"Akan ku laporkan ini pada Pangeran Lembah Hantu..."


__ADS_2