
"Kau akan mendapatkan jawaban yang kau inginkan dari Prabu Bameswara, Gusti Pangeran.
Bukan ingin mengusir mu dari Pertapaan Dihyang, tapi ada yang sedang membutuhkan bantuan mu sebagai seorang pendekar penegak keadilan saat perjalanan mu ke arah Kotaraja Daha, maka aku sarankan agar Gusti Pangeran segera berangkat kesana esok pagi. Ini juga ada kaitannya dengan guru mu.
Sudah waktunya kita pulang ke Pertapaan Dihyang, Gusti Pangeran..", setelah berkata demikian, Begawan Sidicarita tersenyum tipis sebelum menjejak tanah dengan keras. Secepat kilat dia melesat bagaikan terbang ke arah Pertapaan Dihyang. Jaka Umbaran pun segera mengikuti nya. Jika kemarin ia masih belum mampu mengimbangi kecepatan Begawan Sidicarita, namun dengan Ajian Langkah Dewa Angin yang baru saja dia dapatkan, Jaka Umbaran mampu menyusul sang pimpinan Pertapaan Dihyang itu dengan kecepatan setara. Hanya dalam hitungan beberapa tarikan nafas saja, keduanya telah sampai di Pertapaan Dihyang.
Saat sampai di tempat yang dituju, Gendol yang tidak bisa tidur karena dingin yang teramat sangat, sedang berdiang di perapian depan pondokan. Melihat Jaka Umbaran berjalan menuju ke arah pondokan, ia langsung menyapa majikannya itu.
"Malam-malam begini darimana Ndoro Pendekar?
Huuuuffffffffff, dinginnya minta ampun..", Gendol merapatkan kain hitam yang dia gunakan sebagai selimut.
"Biasa Ndol, jalan-jalan saja", jawab Jaka Umbaran sekenanya saja sambil melangkah masuk ke dalam pondokan tempat tinggal sementara mereka.
"Jalan-jalan? Dingin dingin begini?!
Ndoro Pendekar kog punya kebiasaan aneh begitu ya? Atau jangan-jangan memang udara tidak sedingin perasaan ku. Ah lebih baik ku coba saja", Gendol melepaskan selimut yang membungkus tubuh nya.
"Aduh biyung, dingin sekali brrrrrrrrrrrrr...
Kog goblok sekali sih aku pakai coba-coba seperti Kanjeng Majikan Ndoro Pendekar. Dingin nya seperti mau menusuk tulang begini huuuuffffffffff", Gendol ngomel-ngomel sendiri sambil kembali membungkus tubuh nya dengan selimut hitam nya.
Malam berlalu seperti kilatan cahaya menembus angkasa. Terasa hanya sekejap mata kemudian, fajar mulai menyingsing di ufuk timur pertanda bahwa pagi menjelang tiba.
Setelah bangun tidur, Jaka Umbaran segera memberitahukan kepada Gendol dan Resi Simharaja untuk bersiap siap meninggalkan tempat itu. Gendol langsung bersorak kegirangan mendengar perintah dari sang majikan. Buru-buru dia merapikan pakaian dan barang bawaannya. Kemudian setelah sarapan pagi dengan di temani oleh Landungseta, Jaka Umbaran mengajak mereka semua untuk berpamitan pada Begawan Sidicarita di tempat tinggalnya.
"Ah sayang sekali, kau akan meninggalkan tempat ini Pendekar Gunung Lawu..
Aku pasti akan merindukan kehadiran mu lagi. Jika lewat tempat ini, mampirlah. Pintu gerbang Pertapaan Dihyang akan selalu terbuka untuk mu", ucap Landungseta di sela-sela langkah kaki mereka menuju ke arah kediaman Begawan Sidicarita.
"Tentu saja, aku akan mampir lagi jika lewat sini, Saudara Landungseta. Gendol sangat suka dengan udara dingin di tempat ini", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum penuh arti ke arah Gendol. Saat Gendol hendak menanggapi itu, Resi Simharaja meletakkan jari telunjuk nya ke depan mulut.
"Ssssttttttttt..
Jangan menyanggah kalau tidak ingin Ndoro Umbaran menambah waktu tinggal di sini", mendengar ucapan itu, Gendol langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan nya. Mereka pun sampai di tempat tinggal Begawan Sidicarita yang berada tepat di depan Candi Arjuna.
Pimpinan Pertapaan Dihyang itu rupanya sudah menunggu kedatangan mereka. Dia berdiri di serambi kediaman nya saat Jaka Umbaran dan kawan-kawan datang untuk berpamitan.
__ADS_1
"Begawan Sidicarita..
Saya mengucapkan terima kasih atas semua petunjuk dan ilmu yang sudah Begawan turunkan kepada saya. Saya mohon pamit undur diri. Semoga jika kelak masih ada kesempatan, saya akan datang lagi ke tempat ini", Jaka Umbaran membungkuk hormat kepada pimpinan Pertapaan Dihyang ini.
"Aku juga berterimakasih karena kau sudi mampir ke tempat ini, Gusti Pangeran. Semoga Hyang Agung selalu melindungi setiap langkah mu kedepannya nanti. Banyak hal yang mesti kau selesaikan sebagai penentram dunia", ucap Begawan Sidicarita sembari tersenyum simpul.
"Dan kau bekas raja Alas Roban..
Kepada mu aku titipkan penjagaan Gusti Pangeran pada mu. Bersama nya nanti, kesempatan mu untuk menjadi penghuni Swargaloka akan terbuka lebar", mendengar ucapan itu, Resi Simharaja mengangguk mengerti.
"Kau tidak perlu khawatir, Begawan Tua..
Aku sudah bersumpah setia untuk terus mendukung setiap langkah nya sebagai penjaga ketentraman dunia. Maka aku pun tidak akan pernah membiarkan aral melintang di depannya nanti", ujar Resi Simharaja segera.
"Kalau untuk saya apa Begawan?
Ndoro Pendekar dan macan tua ini sudah kau beri petunjuk. Lah tinggal saya yang belum", ucap Gendol sembari menatap penuh harap pada Begawan Sidicarita. Brahmana tua itu langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Gendol.
"Kau di takdirkan untuk menjadi punokawan majikan mu, Bocah Bagus..
Ikutilah dia sampai akhir hayat mu, maka kau akan menemukan kemuliaan sejati", Gendol langsung tersenyum lebar mendengar jawaban Resi Simharaja.
****
"Lagi lagi mereka..
Apa sudah tidak ada cara untuk menumpas kelompok perampok ini, Paman Patih Jagakarsa?", ucap seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian bangsawan dengan kumis tebal melintang di wajahnya. Lelaki paruh baya itu terlihat gusar karena masalah yang sedang dia hadapi.
Rupanya dia adalah penguasa Kadipaten Lewa, Adipati Wangsakerta. Rupanya hari itu, dia menerima laporan dari Patih Jagakarsa, warangka praja Lewa, tentang adanya kelompok perampok yang menamakan dirinya sebagai Gerombolan Gagak Hitam. Konon kabarnya, gerombolan itu dipimpin oleh seorang pendekar golongan hitam yang sangat termasyhur di dunia persilatan Tanah Jawadwipa yakni Gagak Hitam Lengan Seribu.
Kemasyhuran Iblis Lengan Seribu terjadi karena ilmu kesaktian nya yang tak mampu di kalahkan oleh para punggawa prajurit Lewa. Bahkan Senopati Mpu Sagopa yang dikirim oleh Adipati Wangsakerta pun harus pulang tanpa nyawa setelah bertarung melawan Gagak Hitam Lengan Seribu. Pasukan Kadipaten Lewa pun sampai kocar-kacir menghadapi para pengikut Gagak Hitam Lengan Seribu yang jumlahnya mencapai ratusan orang.
"Apa sebaiknya kita meminta bantuan kepada pihak Istana Kotaraja Daha untuk menumpas kelompok perusuh ini Gusti Adipati?
Kita kehilangan banyak perwira prajurit yang menjadi pilar utama kekuatan Kadipaten Lewa. Jika kita meneruskan usaha penumpasan Gerombolan Gagak Hitam, hamba khawatir dengan kemampuan tempur prajurit Kadipaten Lewa yang akan menurun karena penyokong nya tidak ada. Kematian Senopati Mpu Sagopa kemarin merupakan kehilangan besar dalam keprajuritan Kadipaten Lewa", Patih Jagakarsa mencoba untuk memberikan pendapat nya.
"Apa Paman Patih ingin mencoreng muka ku di depan Gusti Prabu Bameswara?
__ADS_1
Jika kita sampai meminta bantuan kepada Istana Kotaraja Daha, maka kita pasti dianggap tidak mampu menjaga keamanan di wilayah kita. Jika sampai itu terjadi, mau di taruh dimana muka ku ini Paman Patih?", ucap Adipati Wangsakerta segera.
"Tapi harus ada pemecahan masalah ini segera. Aku tidak mau masalah ini terjadi berlarut-larut, Paman Patih.
Coba kau pikirkan cara yang lainnya", sambung Adipati Wangsakerta sembari menatap ke arah lain. Suasana pertemuan para punggawa Istana Kadipaten Lewa itu pun menjadi sunyi. Semua orang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, berupaya keras untuk mencari pemecahan masalah yang sedang mereka hadapi.
Tiba-tiba saja salah satu punggawa istana yang bernama Mantri Narmada, pejabat negara pengurus perpajakan di Kadipaten Lewa, segera menyembah pada Adipati Wangsakerta. Tentu saja ini langsung memecah keheningan antara mereka.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Ijinkan hamba mengutarakan pendapat hamba. Mungkin bisa menjadi salah satu pilihan bagi Gusti Adipati maupun Gusti Patih untuk menumpas kelompok perusuh ini", ucap Mantri Narmada segera.
"Katakan saja, Mantri Narmada", Adipati Wangsakerta mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat persetujuan dari nya.
"Begini menurut hamba. Kita sedang kesulitan untuk menumpang Gerombolan Gagak Hitam sedangkan di lain sisi kita juga kehilangan satu pilar kekuatan Kadipaten Lewa. Apa tidak sebaiknya kita umumkan sebuah sayembara bagi siapapun yang berani menantang Gagak Hitam Lengan Seribu?
Kita siapkan hadiah besar dan pangkat sebagai Senopati Lewa. Syarat nya adalah menyerahkan kepala Gagak Hitam Lengan Seribu pada Gusti Adipati. Hamba rasa itu adalah jalan satu-satunya untuk kita untuk bisa memecahkan masalah ini sekaligus mendapatkan pengganti Senopati Mpu Sagopa", Mantri Narmada segera menghormat usai berbicara. Senyum lebar terukir di wajah Adipati Wangsakerta mendengar uraian sang punggawa istana.
"Hehehehe pemikiran yang cemerlang, Mantri Narmada.
Kalau begitu, segera umumkan titah ku kepada seluruh rakyat Kadipaten Lewa. Barangsiapa yang bisa membawa kepala Gagak Hitam Lengan Seribu, dia akan ku angkat menjadi Senopati Kadipaten Lewa. Tambahan lagi, jika dia masih muda, jika laki-laki akan ku jadikan sebagai menantu ku. Jika perempuan, akan ku angkat menjadi putri angkat ku. Namun jika dia sudah berumur, akan ku ganti hadiah nya menjadi tanah seluas 2000 tombak persegi", titah sang penguasa Kadipaten Lewa segera.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati..", seluruh punggawa Istana Kadipaten Lewa kompak menghormat pada Adipati Wangsakerta.
Siang itu juga, para prajurit menyebar pengumuman di seluruh wilayah Kadipaten Lewa. Selain dengan bende di keramaian, sayembara itu juga ditulis pada sehelai kulit kambing dan di tempel pada beberapa tempat seperti pasar besar dan tepi jalan raya.
****
Jaka Umbaran segera menghentikan pergerakan kuda tunggangan nya. Di tepi hutan lebat yang ada di depannya, ada sebuah persimpangan jalan. Yang satu mengarah ke utara sedangkan satu nya lurus ke arah timur. Mereka telah menyusuri lereng Gunung Sumbing dan Sindoro dan sampai di hutan kecil yang dinamakan Alas Pandansari.
"Kenapa berhenti Ndoro Pendekar? Kita harus segera meneruskan perjalanan jika tidak ingin kemalaman di hutan", ucap Gendol sembari mengusap peluh yang membasahi dahinya.
"Kamu hapal dengan daerah ini Ndol?", tanya Jaka Umbaran segera.
Mendengar pertanyaan itu, Gendol langsung tersenyum tipis. Dengan sedikit sombong, lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung berkata,
"Kalau urusan jalan, Ndoro Pendekar tidak perlu khawatir. Gendol pernah berkelana hingga ke Blambangan. Jadi tahu seluk beluk jalan ini. Kalau ke Utara, kita akan sampai di Pakuwon Jatiwangi. Tapi kalau lurus ke timur,
__ADS_1
Kita akan memasuki wilayah Kota Bhumi Sambara.."