JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Perang Saudara ( bagian 3 )


__ADS_3

Para prajurit pemberontak pimpinan Prabhaswara seketika bergerak menuju ke arah pintu gerbang istana, begitu perintah dari sang pimpinan terucap. Senopati Giriwangsa yang mencoba untuk bertahan dari tekanan para prajurit pemberontak yang merangsek maju ke arah pintu gerbang, terus mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga. Tubuhnya kini penuh dengan darah para prajurit pemberontak yang terbunuh di tangan nya. Tak satupun prajurit pemberontak yang berani mendekati sang pimpinan utama dalam urutan keprajuritan Kadipaten Paguhan ini.


Jaka Umbaran segera melesat cepat sang perwira tinggi yang terus mengayunkan pedangnya ke segala arah agar tak seorang pun mendekati pintu gerbang istana. Melihat itu, Senopati Giriwangsa segera menebaskan pedangnya kearah Jaka Umbaran.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!


Tubuh Jaka Umbaran layaknya sebuah batu karang yang kokoh berdiri menantang gempuran ombak di samudera luas tatkala pedang Senopati Giriwangsa menebas bahu sang pendekar. Malah yang membuat mata Senopati Giriwangsa membeliak lebar, tajamnya pedang di tangan nya tak sedikitpun mampu membuat luka di kulit sang pendekar muda. Secepat kilat, Jaka Umbaran segera menangkap bilah pedang yang menempel di bahu kirinya. Sekuat tenaga Senopati Giriwangsa mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Jaka Umbaran namun usahanya sia-sia belaka karena pedangnya seolah melekat erat pada telapak tangan Jaka Umbaran.


Melihat itu, sambil terus memegang gagang pedang nya, Senopati Giriwangsa segera layangkan tendangan bebas beruntun kaki kanan ke arah rusuk kiri Jaka Umbaran.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Sekalipun menerima dua tendangan keras beruntun dari Senopati Giriwangsa, namun tubuh Jaka Umbaran sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri. Sembari tersenyum tipis, Jaka Umbaran segera lesakkan tendangan keras kearah perut sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Paguhan.


Dhhiiieeeeesssshhh!


Oouuugghhhhhh!!!


Senopati Giriwangsa melenguh tertahan kala tendangan keras kaki kanan Jaka Umbaran telak menghajar perutnya. Tubuh perwira tinggi yang gempal itu langsung terjengkang ke belakang dan menghantam sebuah pot bunga dari tanah liat di sisi kanan pintu masuk istana Kadipaten Paguhan itu. Pot bunga itu hancur seketika.


Namun sang perwira tinggi prajurit Paguhan itu segera bangkit sambil mengusap lelehan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Dia tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan lawan yang tangguh. Oleh karena itu, dia langsung mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada ilmu kanuragan tingkat tinggi miliknya.


Kedua tangan Senopati Giriwangsa segera terentang lebar. Lalu kedua telapak tangannya menyatu di depan dada. Asap putih tipis keluar dari pertemuan telapak tangan Senopati Giriwangsa, menyebarkan aroma tidak sedap dan sangat menggangu pernapasan. Kilatan cahaya hijau kehitaman redup berhawa dingin pun turut tercipta di telapak tangan Senopati Giriwangsa hingga tangannya seolah olah menjadi hijau kehitaman. Dia ingin menjatuhkan Jaka Umbaran dengan Ajian Tapak Wisa, sebuah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mengandung semacam racun sihir keji. Senopati Giriwangsa sendiri adalah kakak seperguruan anggota pemberontak Jerangkong Hitam yang terbunuh di Kawali, Tapak Wisa Gunung Saba.


Melihat itu, Jaka Umbaran segera mengerahkan tenaga dalam nya hingga cahaya kuning keemasan yang membentuk sebuah pelindung tipis pada tubuhnya dari Ajian Bandung Bondowoso terlihat semakin terang.


Senopati Giriwangsa segera melompat ke arah Jaka Umbaran sambil menghantam dada sang pendekar muda dengan telapak tangan kanannya yang di lambari Ajian Tapak Wisa.


"Mampus kau pemberontak..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!


Blllaaammmmmmmm!!!!!


Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Wisa menghantam dada Jaka Umbaran. Namun bukannya Jaka Umbaran yang terbunuh, malah sebaliknya yang terjadi. Tubuh Senopati Giriwangsa terpental mundur ke belakang. Belum sempat tubuhnya menyentuh tanah, Jaka Umbaran telah melesat cepat menyusul nya sambil menghantamkan kepalan tangannya ke arah dada sang perwira Paguhan.


Jllaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrr....


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!!


Senopati Giriwangsa menjerit keras saat hantaman kepalan tangan Jaka Umbaran yang dilapisi oleh cahaya putih kebiruan Ajian Guntur Saketi menghantam dada nya. Perwira andalan Kadipaten Paguhan itu mencelat ke belakang dan menabrak pintu gerbang istana lalu melorot turun dengan posisi duduk. Dia sudah tak bernafas lagi karena dada kiri nya bolong sebesar kepalan tangan hingga tembus punggung.

__ADS_1


Jaka Umbaran pun segera mengulangi lagi pukulan keras yang yang kali ini dia padukan dengan Ajian Bandung Bondowoso miliknya. Kepalan tangannya langsung menghantam pintu gerbang istana Paguhan yang terbuat dari kayu jati setebal tiga lebar jari tangan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr....


Kraaattttttttaaaaakk bhhuuuuummmmmmhh!


Pintu gerbang istana Paguhan sekarang hancur dan roboh ke dalam. Beberapa orang prajurit yang mencoba untuk menahan pintu gerbang istana itu langsung tertimpa pintu gerbang yang ambruk. Melihat itu, Prabhaswara bersama para prajurit pemberontak pimpinan nya langsung merangsek masuk ke dalam istana Paguhan. Perang yang sempat mereda sebentar, berkecamuk lagi dengan sengit.


Jaka Umbaran yang hendak ikut masuk ke dalam istana, tiba tiba merasakan sesuatu yang sangat sakit di dadanya. Dan...


Hoooeeeeggggh...!!!


Dia muntah darah segar kehitaman. Rupanya racun sihir yang ada dalam Ajian Tapak Wisa milik Senopati Giriwangsa tadi mampu membuat nya cidera dalam. Gendol yang hendak mengikuti pergerakan para pemberontak langsung mendekati Jaka Umbaran bersama Resi Simharaja yang juga melihatnya muntahan darah kehitaman sang pendekar muda. Dia langsung memapah tubuh Jaka Umbaran yang sempat oleng hendak jatuh.


"Ndoro Pendekar, kau baik-baik saja?", tanya Gendol penuh kekhawatiran.


"Uhukkk uhukkk..


Ilmu kanuragan milik perwira prajurit Paguhan itu rupanya mengandung semacam racun sihir, Ndol. Aku sedikit ceroboh dalam bertarung melawan nya hingga racunnya melukai tubuh ku uhukkk uhukkk..


Bantu aku beristirahat sebentar. Aku harus segera mengeluarkan Kembang Wijayakusuma untuk bebas dari racun terkutuk ini".


Gendol langsung mengangguk cepat. Bersama dengan Resi Simharaja, dia memapah tubuh Jaka Umbaran ke samping pintu gerbang istana. Di sebuah tempat yang cukup sejuk di bawah lindungan pohon besar yang ada di situ, Gendol menghentikan langkah nya. Jaka Umbaran segera duduk bersila dengan kedua tangannya bersatu di depan dada. Dia memusatkan perhatiannya untuk mengeluarkan Kembang Wijayakusuma yang tersimpan dalam tubuhnya.


"Kroco kroco kecil ini huhh..


Macan tua, kau jaga Ndoro Pendekar Umbaran. Para kroco ini biar aku atasi".


Gendol langsung melompat maju ke arah para prajurit Paguhan yang bergerak ke arah mereka setelah berkata demikian. Resi Simharaja menggeram dingin melihat ulah manusia yang satu ini.


"Macan tua lagi macan tua lagi..


Brengsek kau, Gigi Jarang! Seenaknya saja memerintah ku. Dasar kurang ajar!", umpat Resi Simharaja sembari terus menatap ke arah Gendol yang mengamuk menghadapi kelompok prajurit Paguhan yang ingin balas dendam.


Bersenjatakan sepasang gada kembar nya, Gendol berulang kali berhasil menghempaskan tubuh para prajurit Paguhan. Satu persatu para prajurit Paguhan itu mulai bertumbangan dengan nyawa melayang.


Kita tinggalkan pertarungan Gendol dan para prajurit Paguhan di dekat pintu gerbang istana. Di depan Pendopo Agung Istana Kadipaten Paguhan, pertarungan sengit antara prajurit pemberontak pimpinan Prabhaswara melawan para prajurit istana Paguhan berlangsung sengit. Para prajurit yang terdesak kini membentuk sebuah pagar betis dimana mereka berusaha keras untuk melindungi Adipati Lokawijaya dan putranya Raden Lokaswara yang merupakan calon pengganti sang Adipati Paguhan kelak di kemudian hari.


"Lokawijaya, menyerahlah!


Kau sudah tahu bahwa kau tidak akan pernah bisa memenangkan perang ini. Menyerah dan kita hentikan perang ini sekarang juga. Aku akan mengampuni nyawa mu dan anak mu itu..", ucap Prabhaswara sambil menatap tajam ke arah Adipati Lokawijaya yang berdiri di Pendopo Agung Kadipaten Paguhan di tengah pagar betis prajuritnya.


"Jangan percaya dengan omongan nya, Nakmas Adipati.

__ADS_1


Dia pasti akan langsung membunuh mu dan Raden Lokaswara jika kita menyerah", ucap Patih Pandusena sembari menggenggam erat gagang keris pusaka miliknya.


"Pandusena Pandusena..


Sudah sejak lama kau menjadi duri dalam daging bagi Istana Kadipaten Paguhan. Pria bejat seperti kau yang berani merusak pagar ayu istana ini, tidak layak untuk menjadi seorang Patih", sahut Mpu Wiritanaya segera.


"Tutup mulut mu, Wiritanaya!


Kau jangan menebar fitnah sembarangan. Mana buktinya jika aku merusak pagar ayu istana Paguhan ha? Pemberontak seperti mu sebaiknya tidak bicara macam-macam", Patih Pandusena mendelik tajam ke arah Mpu Wiritanaya. Prabhaswara segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan surat yang ditulis pada daun lontar begitu sanggahan dari Patih Pandusena terucap.


"Sekali maling tetap saja selamanya menjadi maling, hai Pandusena. Ini adalah bukti perselingkuhan mu dengan Ratu Banuwati. Di dalamnya tertulis jelas bahwa kau adalah ayah kandung Lokawijaya", sahut Prabhaswara lantang. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara agar semua orang bisa melihat lembaran daun lontar itu.


Mendengar ucapan itu, semua prajurit Paguhan terkejut bukan main. Kesemuanya langsung saling berpandangan seolah saling berbicara meskipun tak ada kata yang terucap. Tak terkecuali Adipati Lokawijaya sendiri. Dia hampir saja jatuh jika Raden Lokaswara tidak segera menyangga tubuhnya.


"Be-benarkah itu semua, Paman Patih Pandusena?", Adipati Lokawijaya segera menatap ke arah Patih Pandusena.


"Jangan dengarkan omongan mereka, Nakmas Adipati. Itu semua dusta. Saya tidak mungkin melakukan hal nista itu.


Para prajurit Paguhan, bunuh semua pemberontak!!"


Selepas berkata demikian, Patih Pandusena segera melompat ke arah Prabhaswara sembari menusukkan keris pusaka miliknya. Meskipun sang warangka praja Paguhan telah memberi perintah, namun seluruh prajurit Paguhan hanya diam mematung di tempatnya berdiri.


"Mampus kau keparat!!"


Dengan cepat, Prabhaswara segera menangkis tusukan keris itu dengan keris di tangannya. Adu silat menggunakan keris pun segera terjadi.


Thhrraaaaaaaaaaangggggg thhrraaanggg!


Setelah cukup lama mereka mengadu kepandaian, Prabhaswara berhasil menyarangkan tusukan keris nya ke arah perut Patih Pandusena dengan sekuat tenaga.


Jllleeeeeppppphhh..


Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!


"Ini untuk saudara saudara ku yang menjadi korban kelicikan mu, Pandusena!", ucap Prabhaswara segera menusukkan kembali keris miliknya ke perut Patih Pandusena.


Jllleeeeeppppphhh jllleeeeeppppphhh!


Tak kurang 7 tusukan keris Prabhaswara bersarang di tubuh Patih Pandusena. Lelaki tua itu langsung roboh ke halaman Pendopo Agung Istana Kadipaten Paguhan dengan perut penuh lobang. Dia mengejang sesaat sebelum diam untuk selamanya.


Kematian dari Patih Pandusena serta merta membuat Adipati Lokawijaya menggeram keras. Dia langsung terbayang saat kecil dulu, Patih Pandusena lah yang menjadi orang yang paling dekat dengannya. Dia seperti tumbuh di dalam asuhan warangka praja Paguhan itu daripada dengan Adipati Lokananta. Entah karena memang Pandusena adalah ayah kandung nya atau karena hal-hal lain, tapi Adipati Lokawijaya memang memiliki kedekatan tersendiri dengan Patih Pandusena.


Dengan penuh nafsu membunuh, Adipati Lokawijaya segera mencabut keris pusaka di pinggangnya. Lalu melompat ke arah Prabhaswara sembari berteriak keras,

__ADS_1


"Bajingan kau Prabhaswara..!!!"


__ADS_2