
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tidak muda lagi ini tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang terucap dari mulut Prabu Bameswara.
"Yang kau lihat sekarang adalah aku dalam wujud seorang wanita bukan Prabu Bameswara?
Ini adalah untuk menarik perhatian mu karena kau memang buaya darat dengan segudang perempuan cantik di sekeliling mu. Huh, dasar hidung belang. Aku sangat mengenal mu, bahkan aku sudah cukup lama mengikuti mu waktu itu akan tetapi nyatanya aku malah mau tinggalkan pada pendekar tua busuk itu", ucap perempuan cantik berbaju hitam itu segera.
"Jangan bertele-tele, hai perempuan.
Katakan saja terus terang, siapa kau ini sebenarnya?", teriak Prabu Bameswara sedikit keras.
Hahahahahahahaha...
Perempuan paruh baya cantik berbaju hitam tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Prabu Bameswara. Hal yang paling menggelikan baginya tentu saja adalah sebutan perempuan.
"Perempuan ya? Memang apa aku terlihat seperti seorang perempuan sungguhan Prabu Bameswara atau perlu ku panggil kau dengan sebutan Taji Lelono seperti waktu itu hemm?
Hahahaha, sudahlah jangan membuat aku semakin terhibur dengan ocehan mu, Prabu Bameswara. Baiklah, mungkin kau tidak mengenali ku dengan wujud perempuan ini tapi kau tentu tidak lupa dengan seorang lelaki bertubuh gendut bernama Wiropati yang kau titipkan pada Pendekar Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara bukan?
Aku adalah Wiropati!", bagaikan mendengar bunyi guntur di terik siang hari, Prabu Bameswara terkejut bukan main mendengar perempuan cantik itu mengaku sebagai Wiropati, anak bekas Akuwu Brumbun yang dia titipkan pada Mpu Wanamarta, Sang Pendekar Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara beberapa puluh tahun yang lalu.
"Wi-wiropati? Kenapa kau bisa jadi seperti ini?", ucap Prabu Bameswara setengah tidak percaya dengan omongan perempuan cantik itu.
Ya, perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu memang Wiropati, seorang pencuri anak Akuwu Brumbun yang pernah di tolong oleh Prabu Bameswara di awal pengembaraannya. Tak ingin Wiropati ikut dalam petualangan yang tak tahu ujung pangkalnya, Prabu Bameswara menitipkan pemuda bertubuh gendut itu pada Pendekar Tombak Terbang dari Padang Rumput Utara yang saat itu bersama dengan putrinya Widowati.
Setelah Wiropati menjadi murid Mpu Wanamarta, Sang Pendekar Tombak Terbang ini membawa Wiropati ke Padang Rumput Utara di wilayah Kadipaten Lasem. Disana, Wiropati lantas diajari cara untuk menjadi seorang pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Seiring berjalannya waktu, Wiropati jatuh cinta pada Widowati. Namun dia justru mendapat caci maki dari putri gurunya itu. Wiropati pun menaruh dendam pada Widowati lalu memutuskan untuk meninggalkan Padang Rumput Utara. Dia kemudian mengembara ke timur untuk mencari keberadaan seorang guru baru hingga ke Kerajaan Jenggala tepatnya sampai di ujung Utara Kerajaan Blambangan.
Sesampainya di sebuah tempat yang bernama Gunung Baluran. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan seorang pendekar perempuan sakti mandraguna yang bernama Nyai Ciptawati atau yang lebih dikenal sebagai Peri Terbang Surga dari Gunung Baluran. Saat itu, Wiropati menantang Nyai Ciptawati hingga mereka pun bertarung habis-habisan. Namun sayangnya, Wiropati kalah dari Sang Peri Terbang Surga dari Gunung Baluran ini.
Dalam keadaan sekarat, Nyai Ciptawati yang tidak tega melihat menderita nya Wiropati kala itu, akhirnya menolong dengan menyalurkan ilmu tenaga dalam nya. Wiropati selamat namun mulai saat itu, jati dirinya sebagai seorang lelaki hilang. Ini karena tenaga dalam Nyai Ciptawati mengandung Ajian Sastra Ayu Jalma, sebuah ilmu langka yang mampu membuat pemiliknya memiliki tenaga dalam yang besar akan tetapi ini hanya bisa dipelajari oleh para perempuan saja.
Kepalang basah, Wiropati yang sudah setengah menjadi wanita akhirnya berguru kepada Nyai Ciptawati sang Peri Terbang Surga dari Gunung Baluran. Oleh Nyai Ciptawati, Wiropati yang diubah namanya menjadi Wireswari pun mempelajari seluruh ilmu kanuragan tingkat tinggi dari perempuan sakti mandraguna itu.
Setelah hampir 10 tahun berguru, pada suatu malam saat Nyai Ciptawati sedang bersemedi di atas batu goa tempat tinggalnya, Wireswari yang rupanya menyimpan dendam karena telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang lelaki, menusuk pinggang Nyai Ciptawati dengan sebilah pedang pusaka yang menjadi senjata andalan perempuan sakti mandraguna itu usai Wireswari diam-diam mencuri nya. Murid durjana ini berhasil menuntaskan dendamnya pada guru yang telah menyelamatkan nyawa itu.
Selepas menghabisi nyawa Nyai Ciptawati, Wireswari pun meninggalkan Gunung Baluran dengan membawa sejumlah senjata pusaka milik Nyai Ciptawati termasuk Jaring Penangkap Sukma dan Pedang Tanpa Nama lalu memulai sepak terjangnya sebagai pendekar perempuan yang memiliki kemampuan beladiri tinggi.
Pada satu kesempatan, dia datang ke Padang Rumput Utara dan menghabisi nyawa Mpu Wanamarta juga Widowati dengan suaminya. Setelah itu, ia kembali ke wilayah Kerajaan Jenggala, menebar malapetaka bagi setiap lelaki tampan yang dijumpainya. Ini karena dia juga menyimpan dendam pada Panji Tejo Laksono yang dia anggap telah menjerumuskan nya hingga menjadi seperti ini.
__ADS_1
Maka pada saat Maharani Uttejana mencari pendekar yang bersedia untuk membantu Kerajaan Jenggala menyerbu ke Panjalu, Wiropati alias Wireswari pun segera bergabung. Sejak awal, Wireswari dan Mpu Mangiran memang menjadi tameng hidup bagi keselamatan Senopati Tambakwedi yang dipercaya untuk memimpin pasukan Jenggala menggempur Panjalu.
Wiropati alias Wireswari pun tersenyum kecil mendengar pertanyaan Prabu Bameswara itu.
"Tidak perlu kau tahu apa-apa tentang ku lagi, Prabu Bameswara.
Sekarang nama ku adalah Wireswari dan aku adalah orang yang akan mencabut nyawa mu!", Wireswari memutar lagi ujung tali Jaring Penangkap Sukma hingga bundaran jaring benang emas itu semakin mengecil dan menjepit tubuh Prabu Bameswara.
Prabu Bameswara mendengus dingin dan menatap tajam ke Wireswari alias Wiropati.
"Aku tidak pernah punya niat buruk kepada mu saat aku menitipkan mu pada Pendekar Tombak Terbang. Tapi jika itu kau anggap salah dan ingin membunuh ku hanya karena hal itu, maka aku tidak akan tinggal diam", ucap Prabu Bameswara sembari menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
Tiba-tiba saja, hawa panas menyengat muncul di tubuh Prabu Bameswara. Semakin lama semakin panas bahkan Wireswari pun harus bertahan sekuat tenaga untuk tetap mengurung sang Penguasa Kerajaan Panjalu ini.
Sebuah bola cahaya kecil berwarna merah kekuningan seperti warna matahari pun tercipta di depan dada Prabu Bameswara. Satu persatu mulai bertambah hingga menjadi 8 bola cahaya merah menyala berhawa panas. Setelah itu, tangan sang raja Panjalu itu membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi 8 bola cahaya kecil itu. Ini membuat sekitar tempat ia berpijak menjadi semakin panas menyengat.
"Mangiran! Jangan diam saja!
Cepat bantu aku mengatasi buaya darat ini. Kalau tidak, usaha kita untuk mengalahkan nya akan sia-sia saja!", teriak Wireswari lantang. Dia mulai khawatir karena Jaring Penangkap Sukma milik nya mulai meleleh saking panasnya hawa yang keluar dari dalam tubuh Prabu Bameswara.
Whhhuuuuuggggghhhh!
Bersamaan dengan itu, Prabu Bameswara menghentakkan keduanya tangan nya ke atas. Seketika itu juga bola cahaya besar yang berisi 8 bola cahaya kecil membesar dan meledak di sekeliling tempatnya berdiri.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Ledakan mahadahsyat terdengar. Tubuh Wireswari dan Mpu Mangiran terpental ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Jaring Penangkap Sukma hancur lebur menjadi abu. Sedangkan ledakan mahadahsyat itu membuat beberapa bangunan di sekitar tempat itu langsung roboh. Tempat Prabu Bameswara pun juga menjadi lobang besar dengan lebar hampir dua puluh depa dengan kedalaman dua kali tinggi orang dewasa.
Mpu Mangiran lantas segera bangkit usai memuntahkan darah segar. Dia melirik ke arah Wiropati alias Wireswari yang masih terkapar di tanah sembari memuntahkan darah segar.
'Banci sialan ini sudah tidak bisa di harapkan lagi. Aku harus segera menghabisi nyawa Prabu Bameswara'
Segera dia menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada sambil mulutnya komat-kamit merapal mantra. Cahaya ungu kehitaman menyebar ke seluruh tubuh nya dan sebentar kemudian tubuh Mpu Mangiran membesar dengan otot-otot tubuh yang menonjol keluar. Sedangkan dari tubuhnya muncul air berwarna keruh kecoklatan yang semakin lama semakin banyak.
Segera Mpu Mangiran mengibaskan kedua tangan nya ke arah lobang besar di sekitar tempat Prabu Bameswara berdiri. Air keruh kecoklatan ini langsung memenuhi lobang besar itu lalu dengan cepat membumbung tinggi ke langit, mengurung tubuh Prabu Bameswara.
Inilah Ajian Banyu Alas pemberian Prabu Tirtabawana yang sanggup membunuh lawan dengan menenggelamkannya. Prabu Bameswara berusaha untuk keluar dari kepungan air keruh ini namun kemanapun ia bergerak, air keruh ini sepertinya bergerak sesuai pergerakan tubuhnya.
__ADS_1
Tak ingin mati tenggelam dalam air keruh kecoklatan ciptaan Ajian Banyu Alas, Prabu Bameswara segera melepaskan hawa panas menyengat dari Ilmu Sembilan Matahari yang dia miliki. Akibatnya terbentuk semacam ruang panas yang membuat sang raja Panjalu itu tetap mampu bertahan hidup meskipun dalam kurungan penjara air keruh kecoklatan ini.
'Bangsat! Raja Panjalu ini susah sekali untuk dibunuh. Aku harus menggunakan Keris Segara Wedang untuk menghabisi nya', batin Mpu Mangiran seraya mencabut sebilah keris pusaka yang terselip di pinggangnya. Keris berlekuk 9 itu memiliki pamor biru kemerahan seperti ombak lautan api yang berkobar.
Selepas itu, Mpu Mangiran melompat ke dalam penjara air keruh kecoklatan Ajian Banyu Alas ini dan langsung menghujamkan Keris Segara Wedang andalannya ke dada Sang Maharaja Panjalu.
Thhrraaanggg!!
Ketika bilah tajam Keris Segara Wedang mengenai kulit Prabu Bameswara, terdengar suara seperti logam keras beradu. Ini sangat mengejutkan Mpu Mangiran. Keris berlekuk 9 ini tak pernah gagal membunuh orang yang menjadi korbannya namun itu tidak berlaku bagi Prabu Bameswara.
Belum hilang keterkejutan nya, Prabu Bameswara segera menyambar leher Mpu Mangiran dengan tangan kiri nya.
"Sekarang giliran ku untuk membalas serangan mu!"
Hoooaaarrrrrrggggghhhhh!!!
Cahaya hijau kebiruan langsung terlontar dari mulut Prabu Bameswara. Rupanya dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Mpu Mangiran dengan Ajian Waringin Sungsang nya. Seketika itu juga, cahaya hijau kebiruan itu segera membelit tubuh Sang Iblis Berwajah Setengah Dewa hingga ke seluruh tubuh nya. Perlahan daya hidup dan tenaga dalam milik Mpu Mangiran tersedot masuk ke dalam tubuh Prabu Bameswara.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Mpu Mangiran menjerit keras saat daya hidup nya terhisap masuk ke dalam tubuh Prabu Bameswara. Rasa sakit yang luar biasa menyerang hampir semua bagian tubuh nya termasuk sendi dan otot-otot tubuh nya. Darah segar mengalir keluar dari setiap lobang di tubuhnya dan perlahan tubuhnya mulai menjadi kurus dan terus mengurus hingga menyisakan tulang dan kulit saja. Bersamaan itu pula, air keruh kecoklatan Ajian Banyu Alas pun surut lalu menghilang entah kemana.
Tubuh Mpu Mangiran pun terus mengering dan perlahan mulai menghitam. Saat Ajian Waringin Sungsang menghisap habis daya hidup dan tenaga dalam Mpu Mangiran, tubuh lelaki tua yang pernah menggegerkan dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini menjadi hitam seluruhnya. Prabu Bameswara segera menghantam dada Mpu Mangiran dengan tangan kanan nya.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh Mpu Mangiran meledak dan hancur lebur menjadi abu. Bersamaan dengan itu, dari arah barat Pasukan Garuda Panjalu di bawah pimpinan Senopati Naratama datang. Pertempuran besar ini mulai memasuki babak baru.
Jika sebelumnya, para prajurit Jenggala berada di atas angin berkat dukungan Mpu Mangiran dan Wireswari, kini setelah kematian Mpu Mangiran keadaan pun mulai berbalik arah. Kedatangan Gendol, Baratwaja dan Besur serta Pasukan Garuda Panjalu langsung mengubah semuanya.
Prabu Bameswara yang telah menghabisi nyawa Mpu Mangiran lantas hendak meninggalkan tempat pertarungan mereka, namun belum genap dua langkah tiba-tiba tubuhnya oleng hendak jatuh ke tanah. Dari mulut nya keluar darah kehitaman.
Jaka Umbaran yang baru saja selesai mengakhiri perlawanan Tumenggung Genggong, langsung melesat cepat dan tiba tepat waktu sebelum tubuh sang ayahanda jatuh. Segera dia bertanya,
"Kanjeng Romo Prabu, kau kenapa?"
__ADS_1