JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Wong Agung Gunung Raung


__ADS_3

Namanya Maharesi Wiramabajra, seorang pertapa tua yang sudah lama tidak ikut seluk beluk dunia persilatan. Dia adalah adik seperguruan Prabu Menak Luhur dari Kerajaan Blambangan yang pernah di kalahkan oleh Panji Tejo Laksono saat masih muda di Pertempuran Kali Lawor yang merupakan perbatasan wilayah antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Untuk saat ini usia kakek tua ini sudah lebih dari 1 abad.


Resi Wiramabajra selama ini bertapa di salah satu goa di Gunung Raung yang merupakan wilayah Kerajaan Blambangan. Dia sebenarnya ingin mencapai kesempurnaan hidup dengan bertapa keras agar jasadnya moksa bersatu dengan sang pencipta. Namun setelah hampir 20 tahun bertapa, dia tidak juga mampu untuk mencapai moksa seperti halnya sang Prabu Airlangga yang menjadi panutannya. Hanya kesaktian nya saja yang bertambah besar dan menakutkan.


Maharesi Wiramabajra sendiri sebenarnya bukan orang jahat. Lelaki sepuh yang jalan nya pincang ini bahkan dikenal oleh masyarakat Kerajaan Blambangan sebagai Wong Agung Gunung Raung saking saleh nya. Dia adalah pertapa tua yang sangat di hormati oleh para ksatria maupun pejabat Kerajaan Blambangan. Selain karena kesaktiannya, dia juga sangat ahli dalam bidang agama Hindu aliran Siwa. Banyak sekali orang yang berguru kepada nya, salah satunya adalah murid kesayangannya yang kini setia mendampinginya mencari pembunuh kakak seperguruannya Prabu Menak Luhur, Wara Andhira.


Sebenarnya, kematian Prabu Menak Luhur akibat dari pertarungan nya dengan Panji Tejo Laksono telah di maklumi sebagai tanda kekalahan perang. Namun, setelah kematian Pangeran Pangeran Ganeshabrata putra Prabu Menak Luhur, ada beberapa pihak pengikut setia Pangeran Ganeshabrata yang kemudian mengorek kembali luka lama. Mereka menyebarkan berita bahwa kematian Prabu Menak Luhur dan Pangeran Ganeshabrata adalah ulah dari Panji Tejo Laksono, sang pangeran Panjalu. Hal ini memantik kemarahan Maharesi Wiramabajra alias Wong Agung Gunung Raung usai menerima pisowanan beberapa orang pengikut setia Raden Ganeshabrata. Mereka yang pintar bersilat lidah, mampu membakar api kemarahan di hati Wong Agung Gunung Raung ini.


Oleh karena itu, sepekan lalu Wong Agung Gunung Raung turun gunung guna mencari keberadaan sosok Panji Tejo Laksono yang kini telah menjadi Raja Panjalu. Dari Gunung Raung, pertapa tua itu berjalan kaki ke Panjalu bersama murid kesayangannya, Wara Andhira. Dari berita yang mereka dapatkan saat sampai di pinggiran Kali Lawor, mereka berdua tahu bahwa kini Panji Tejo Laksono tinggal di Istana Kotaraja Daha.


"Dia adalah seorang Raja, Guru..


Tentu saja akan banyak sekali prajurit yang akan menjaga nya. Aku dengar, Istana Kotaraja Daha memiliki banyak punggawa yang berkemampuan beladiri tinggi. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak, Guru..", ucap Wara Andhira, si perempuan muda nan jelita itu segera.


Hemmmmmmm..


"Kau benar juga, Andhira.. Begini saja, aku akan mengirimkan tantangan untuk Panji Tejo Laksono. Kau tulis surat tantangan nya. Nanti akan ku kirimkan lewat Ajian Sampar Angin milik ku", sementara Wara Andhira melaksanakan perintah dari sang guru, lelaki sepuh berpakaian selayaknya seorang pertapa itu segera mengambil sepotong ranting pohon kering yang ada di dekat tempat nya berdiri. Mulut lelaki tua itu langsung komat-kamit merapal mantra.


Chllliiiiiinnnnggggg!


Sebentar kemudian, ranting kering di tangannya berubah wujud menjadi sebuah keris. Keris berlekuk 7 ini terlihat seperti keris yang baru saja selesai ditempa. Sembari tersenyum tipis melihat keris di tangan nya itu, Maharesi Wiramabajra segera mengikat gagang keris itu dengan sebuah sobekan kain yang bertuliskan tantangan bagi Prabu Bameswara pemberian sang murid kesayangan.


Mulut Maharesi Wiramabajra kembali komat kamit membaca mantra. Sekejap mata kemudian, keris yang ada di tangannya telah menghilang dari pandangan mata.


****

__ADS_1


Suasana penobatan Pangeran Mapanji Jayabaya sebagai Yuwaraja Panjalu masih baru saja selesai dilakukan. Semua orang yang hadir di Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha terlihat gembira.


Mpu Gumbreg sang Wredamantri mengelus jenggotnya yang memutih sambil bergumam sendiri sembari tak mengalihkan pandangannya ke arah Jaka Umbaran yang baru saja selesai dinobatkan sebagai Putra Mahkota.


"Tak ku sangka kalau aku akan melihat 3 pangeran muda menjadi Yuwaraja Panjalu. Dari Gusti Prabu Jayengrana, Gusti Prabu Bameswara hingga Pangeran Mapanji Jayabaya.


Rupanya aku sudah tua sekarang", ucap Mpu Gumbreg perlahan.


"Baru sadar kau sekarang, Mbreg..


Kita itu sudah hidup di dua setengah jaman. Makanya kurangi sifat buaya darat mu itu. Ingat umur dan malu sama Besur", sahut Mpu Landung yang duduk di sebelahnya.


"Jangan sok bijak kau Ndung..


Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang sering kau lakukan dengan Rajegwesi di pinggiran kota sana, di tempat Nyi Sampir? Huh, dasar munafik! Mbok jadi orang itu kayak aku, jujur apa adanya. Kalau memang nakal ya nakal saja, tidak usah pakai sok alim segala ", gerutu Mpu Gumbreg yang langsung membuat Mpu Rajegwesi dan Mpu Landung kaget bukan main.


Kau jangan sangka", ucap Mpu Landung segera.


"Heleh, maling mana ada yang mau ngaku? Lagipula, tidak mungkin Ludaka menyuruh kalian berdua mengurusi rumah pelacuran Nyi Sampir. Kau pikir aku goblok ya?", sergah Mpu Gumbreg sedikit keras. Karuan saja, Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka yang ada di tempat nya langsung melotot ke arah Mpu Gumbreg.


"Ssssttttttttt, jaga sikap mu Mbreg. Ini acara agung", bisik Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka sembari mendelik kereng.


"T-tapi Lu.."


Belum sempat Mpu Gumbreg menyelesaikan omongannya, tiba-tiba saja..

__ADS_1


Whhiiiiiiiiirrrrrrrrrrhhhhh....!!!


Suara dengungan keras terdengar oleh semua orang. Kesemuanya langsung mencari sumber suara. Suara dengungan itu semakin lama semakin keras dan..


Shhhrrrreeeeettttth!!


Sebuah keris melesat cepat kearah Prabu Bameswara. Namun Raja Panjalu ini dengan cepat langsung mengibaskan tangannya hingga keris itu mencelat ke arah samping kanan dan menancap pada tiang penyangga bangunan Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha.


Chhhrreeepppppppphhhh!!


Semua orang terkejut dan langsung bangkit dari tempat duduk mereka masing-masing. Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga mereka sama sekali tidak menyadarinya. Rakryan Rangga Mapanji Amaraha langsung berteriak keras.


"Prajurit, periksa di luar!!!"


Para prajurit penjaga istana pun segera bergegas memeriksa sekitar Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha. Sedangkan Prabu Bameswara segera mendekati keris yang menancap di tiang penyangga bangunan besar ini karena melihat sepotong kain terikat pada gagangnya. Segera Prabu Bameswara mencabut keris itu sembari membaca tulisan yang tertera di atas nya.


'Prabu Bameswara, kalau kau seorang ksatria, aku tunggu di tapal batas timur Kotaraja Daha'


Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara mendengus dingin sembari menggenggam erat gagang keris itu. Dia kemudian memejamkan matanya sebentar dan sebuah kabut putih tipis segera menutupi seluruh tubuhnya. Sesaat kemudian, dia sudah menghilang dari pandangan mata semua orang. Rupanya dia menggunakan Ajian Halimun nya untuk pergi secepatnya ke tempat sang penantang.


Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera menoleh ke arah Resi Simharaja yang duduk bersila di belakang para punggawa Istana Kotaraja Daha. Seperti memiliki ikatan batin yang kuat, Resi Simharaja langsung paham dengan apa mau sang pangeran muda. Dia mengangguk cepat.


Begitu isyarat Resi Simharaja diterima, Pangeran Mapanji Jayabaya langsung bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu namun Dyah Kirana sang Ratu Panjalu langsung bertanya, "Nakmas Pangeran Jayabaya, kau mau kemana?"


Sembari merapal mantra Ajian Langkah Dewa Angin miliknya, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera menjawab,

__ADS_1


"Menyusul Kanjeng Romo Prabu, Biyung Ratu.."


__ADS_2