JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Badai Di Tengah Kebahagiaan ( bagian 4 )


__ADS_3

Demung Gombang segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya. Ratusan orang prajurit Pasukan Garuda Panjalu telah membidik mereka dengan panah masing-masing. Belum lagi para prajurit di belakang nya yang juga sudah siap untuk mendukung kawan mereka dengan senjata terhunus.


Ini benar-benar pilihan yang sulit bagi Demung Gombang. Jika menyerah, kemungkinan untuk hidup masih besar meskipun mungkin para bawahannya akan membocorkan rahasia pergerakan mereka. Namun jika melawan, sudah pasti mereka akan mati di bawah berondongan anak panah para prajurit Panjalu.


Hemmmmmmm..


Terdengar suara dengusan nafas berat dari Demung Gombang. Saat ini hidup mati anak buahnya tergantung pada ucapan nya. Sembari menggenggam erat gagang keris di tangan kanannya, Demung Gombang nampak seperti sedang putus asa.


"Anak buah ku!


Kita adalah orang Jenggala. Mati dan hidup hanya untuk Jenggala! Besok kita mungkin mati, kalaupun sekarang apa bedanya?!


Bawa sebanyak mungkin Wong Panjalu untuk menemani kita di neraka! Semuanya, serraaaaaaangggggggggg....!!!!!"


Teriakan keras dari mulut Demung Gombang lantang terdengar sebelum lelaki berkepala plontos itu mulai melompat ke arah para prajurit Panjalu.


Melihat pergerakan sang pimpinan perusuh keamanan ini, Senopati Naratama segera mengayunkan golok nya ke depan sebagai isyarat kepada para prajurit pemanah jitu untuk menjalankan tugas mereka.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!!


Ratusan anak panah langsung melesat cepat kearah para pembunuh dari Kerajaan Jenggala ini. Teriakan kengerian bercampur dengan ketakutan setengah mati bercampur sumpah serapah terdengar dari mulut para pembunuh itu.


"Bajingan keparat kau wong Panjalu.."


"Anak turun ku akan membalaskan dendam ini, bangsat..."


"Aku masih ingin hidup ya Dewa.. Aku tidak mau mati disini...!!!"


Sekejap mata kemudian...


Jllleeeeeppppphhh jllleeeeeppppphhh..


Aaaarrrgggggghhhhh auuuggghhhhh...!!!


Jeritan keras memilukan hati terdengar dari mulut para bawahan Demung Gombang. Hujan anak panah baru saja langsung menewaskan puluhan orang dalam sekejap mata. Lainnya ada yang masih hidup namun juga dengan tubuh tertancap anak panah. Hanya yang memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni saja yang masih bisa bertahan hidup dari hujan anak panah para prajurit Panjalu.


Sedangkan saat hujan deras anak panah para prajurit Panjalu menghujani tubuh nya, Demung Gombang menggunakan Ajian Tapak Iblis Neraka miliknya untuk menghancurkan semua anak panah yang melesat ke arah nya.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Puluhan anak panah langsung hancur berantakan di udara sebelum sempat mengenai tubuh Demung Gombang. Lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos itu selamat namun saat ia mendarat, sebuah pemandangan yang mengerikan langsung terhampar di depan matanya.


Melihat kematian para anak buahnya yang mengenaskan, Demung Gombang langsung naik darah. Bagaimanapun juga, mereka lah yang selama ini selalu menjadi kawan sekaligus sekutunya dalam menjalankan tugas sebagai telik sandi Jenggala. Dari keseluruhan anak buah nya yang mencapai ratusan orang tadi, kini hanya tersisa 8 orang saja yang masih berdiri tegak. Sisanya sekitar 15 orang masih hidup meskipun hampir mati.


"Bajingan keparat!!!


Kalian semua harus mati bersama ku!!", teriak Demung Gombang sembari melesat cepat kearah Jaka Umbaran dan para pembesar istana Kerajaan Panjalu.


Melihat itu, Gendol langsung menghormat pada sang pangeran muda.


"Ijinkan hamba yang maju Gusti Pangeran..

__ADS_1


Tadi hamba sudah dipukuli oleh dia, waktunya untuk membalas perbuatannya", ucap Gendol segera.


"Hati-hati Ndol.. Yang satu ini cukup tangguh..", setelah mendengar persetujuan dari Jaka Umbaran, Gendol langsung memutar gada kembar di kedua tangan nya sebelum bergerak memapak pergerakan Demung Gombang.


Melihat Gendol maju, Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja pun segera ikut menerjang maju ke arah para bawahan Demung Gombang yang masih hidup. Pertarungan sengit pun dilanjutkan kembali.


Gendol yang bergerak maju, langsung mengayunkan kedua gada kecil di tangan nya ke arah tubuh Demung Gombang. Satu mengarah ke kepala dan satu lagi mengincar pinggang.


Whhhuuuuuuuutttttth whhhuuuggghhhh!!


Demung Gombang pun segera memapak hantaman gada Gendol dengan kedua telapak tangan nya yang berwarna merah kehitaman.


Bhhhuuuuuuggggh blllaaaaaarrr!!!


Gendol hampir saja jatuh terjengkang andai saja dia tidak segera merubah gerakan tubuhnya dengan cepat. Sembari menggeram keras, lelaki bertubuh tinggi besar dengan gigi jarang ini segera salurkan tenaga dalam tingkat tinggi ke gada kembar nya. Mulutnya langsung komat-kamit merapal mantra Ajian Gada Petir. Dari permukaan gada kembar itu, muncul percikan cahaya putih kebiruan seperti warna petir yang menyambar-nyambar.


Selepas itu terjadi, Gendol pun langsung melesat ke arah Demung Gombang dengan mengayunkan gada di tangan kanannya ke arah kepala lelaki plontos itu.


"Remuk kepala mu, botak biadab!!


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...."


Demung Gombang segera melompat mundur. Akibatnya gebukan gada Gendol langsung menghajar tanah bekas tempat nya berdiri.


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!


Melihat serangannya gagal total, Gendol memutar tubuhnya secepat mungkin dan segera melemparkan gada di tangan kirinya ke arah Demung Gombang yang bergerak mundur. Gada itu segera melesat cepat kearah lelaki berkepala plontos itu.


Blllaaaaaarrr!!


Gada itu mencelat ke arah sang empunya namun Gendol sudah tidak ada di tempat. Demung Gombang langsung mendongak ke atas dan melihat Gendol sudah ada di atas nya sembari mengayunkan gada dengan kedua tangan memegang gagangnya.


Rupanya setelah melemparkan gada miliknya ke arah Demung Gombang, Gendol langsung menjejak tanah dengan keras lalu melompat tinggi ke arah lawan. Jadi lemparan gada nya di awal tadi hanya sebagai serangan pengalihan saja sebelum serangan utama dia lancarkan.


"Modar kowe, botak biadab!!!"


Whhhuuuuuggggghhhh...


Demung Gombang yang kaget bukan main melihat munculnya serangan Gendol dari atas, berupaya keras untuk menahan dengan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah kehitaman akibat Ajian Tapak Iblis Neraka miliknya. Namun dia masih kalah cepat dengan hantaman gada Gendol yang berlapis cahaya putih kebiruan.


Bhhhuuuuuuggggh blllaaammmmmmmm!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Demung Gombang menjerit keras saat gada Gendol telak mengepruk ubun-ubun kepala nya. Seketika itu juga, kepalanya langsung pecah dan mengeluarkan mengeluarkan isi kepalanya. Lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos dan kumis tebal itu langsung roboh ke tanah. Dia tewas di tangan Gendol.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Itu balasan untuk mu yang berani memukuli wajah ku, botak biadab! Aku belum kawin, kalau wajah ku hancur, mana ada perempuan yang mau sama aku. Dasar brengsek!", maki Gendol sambil menendang mayat Demung Gombang hingga tubuh yang sudah tidak bernyawa itu langsung melayang ke arah mayat para bawahannya.


Di sisi lain, Baratwaja berhasil menangkap salah seorang diantara mereka dalam keadaan hidup sedangkan Resi Simharaja dan Besur membantai para perusuh keamanan ini tanpa ampun. Mereka berempat pun segera melangkah ke arah para bangsawan Kerajaan Panjalu yang berkumpul di depan Pendopo Istana Katang-katang.

__ADS_1


"Kau rupanya secerdas ayah mu, Baratwaja..", puji Prabu Bameswara melihat Baratwaja mendekat sambil meletakkan pisau belati nya ke leher dari satu-satunya bawahan Demung Gombang yang masih hidup.


"Hamba masih kurang mengerti, kenapa menangkap cecunguk ini dianggap cerdas Gusti Prabu?", ucap Besur segera. Mendengar pertanyaan itu, baik Prabu Bameswara maupun Mapanji Jayabaya tersenyum tipis.


"Karena dia adalah satu-satunya petunjuk yang ada, Juru Besur..


Hei kau, katakan pada ku. Darimana sebenarnya asal mu? Dan kenapa kau melakukan hal ini?", Prabu Bameswara mengalihkan perhatian nya pada lelaki bertubuh kekar itu. Sejenak dia hanya diam saja. Melihat itu, Besur pun segera bertindak.


Plllaaaakkkkk..


"Jawab pertanyaan Gusti Prabu. Kau mau mati cepat ya ha?", bentak Besur sambil menempeleng wajah lelaki yang berusia sekitar 3 dasawarsa ini.


"Juru Besur, jangan main tangan..


Kita harus halus dan lembut saat menanyai pembunuh seperti dia. Tapi kalau dia tidak mau bicara, kau beritahu aku nanti aku bantu kau cincang tubuh nya", sahut Pangeran Mapanji Jayagiri sembari tersenyum simpul. Rupanya ucapan halus dari calon raja Galuh Pakuan itu langsung berimbas pada keberanian bawahan Demung Gombang ini.


"A-ampuni hamba Gusti.. Hamba hanya orang kecil, hanya bawahan.


Hamba masih punya anak kecil yang butuh ayahnya", hiba si lelaki bertubuh kekar itu memelas.


"Sudah jangan banyak bicara. Jawab saja, jangan berbelit-belit", bentak Besur sambil mendelik ke arah lelaki itu.


"Ka-kami adalah orang-orang utusan dari Jenggala. Ki Demung Gombang adalah pimpinan utama dalam kelompok kami ini. Kalau dari yang saya dengar, orang yang mengutus Ki Demung Gombang adalah seorang bangsawan di Istana Kotaraja Kahuripan. Itu saja yang hamba tahu", ucap lelaki itu terbata-bata.


"Dasar kurang ajar!!


Maharani Uttejana pernah berjanji kepada ku untuk tidak akan pernah menyerang Kerajaan Panjalu lagi tapi kali ini dia diam-diam lempar batu sembunyi tangan. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja", ucap Prabu Bameswara sembari mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya nyalang berkilat marah usai mendengar jawaban dari lelaki bawahan Demung Gombang ini.


"Tahan dulu amarah mu, Kangmas Prabu Bameswara..


Sekarang yang penting dalam masalah ini adalah mencari tahu siapa mata-mata Jenggala yang ada di dalam Kotaraja Daha ini hingga mereka bisa masuk ke dalam Istana Katang-katang ini", ucapan Pangeran Mapanji Jayagiri segera membuat Jaka Umbaran segera menoleh ke arah lelaki bertubuh kekar yang sedang berlutut di tanah ini.


"Katakan pada kami, siapa orang yang menjadi mata-mata di Kotaraja Daha?


Jangan coba untuk menutupinya kalau kau masih sayang nyawa mu", Jaka Umbaran menatap ke arah orang itu segera.


"Ki Ki Mertalaya ya dia adalah orang..."


Shhhrriinggg!! Chhreepppppph..


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Belum sempat lelaki bertubuh kekar itu menyelesaikan omongannya, sebuah jarum beracun melesat cepat dari arah samping kiri kearah lehernya. Kejadian ini begitu cepat hingga semua orang tak sempat untuk menghentikannya. Lelaki itu langsung tersungkur ke tanah dengan mulut terbuka dan mengeluarkan busa putih tanda bahwa dia sedang keracunan.


"Brengsek! Siapa yang berani menantang kewibawaan ku?


Prajurit, periksa semua orang !! Tangkap semua orang yang membawa sumpit di tempat ini. Juga Ki Mertalaya bawa kemari hidup atau mati. Cepat!!", titah Raja Panjalu Maharaja Sri Bameswara lantang.


Mendengar perintah dari Sang Penguasa Kerajaan Panjalu, para prajurit Panjalu langsung bergerak menyisir Kotaraja Daha. Di bawah pimpinan Tumenggung Setawahana, mereka segera mengepung kediaman keluarga Ki Mertalaya. Namun setelah di geledah, rumah itu telah kosong.


Mereka segera mendekati sang tumenggung untuk melaporkan keadaan ini. Mendengar laporan ini, Tumenggung Setawahana langsung memberikan perintah,

__ADS_1


"Kejar mereka sampai tertangkap!"


__ADS_2