
Dari arah yang sama, muncul Jaka Umbaran diikuti oleh para murid Perguruan Bukit Katong dan para prajurit Pakuwon Weleri. Rupanya Iblis Kalajengking Biru cukup mengenali pakaian yang di kenakan oleh para murid Perguruan Bukit Katong terutama Sadewa, Locana dan Surtikanti yang berada di dalam kelompok itu.
"Tiga Pedang Bukit Katong..
Hemmmmmmm, rupanya kalian yang ikut campur urusan ku ya? Berani sekali kalian!!", teriak Iblis Kalajengking Biru sembari mendelik kereng pada Sadewa dan kawan-kawannya. Dia cukup mengenal ketiga orang murid Perguruan Bukit Katong itu sekaligus mengerti tentang kemampuan beladiri yang mereka miliki.
"Memangnya kenapa kalau kami ikut campur, Kalajengking Tua?
Apa kau pikir kami tidak berani untuk menghadapi mu? Dasar tua bangka bau tanah tak tahu diri", sahut Locana lantang.
"Kurang ajar!!!
Jangankan kalian bertiga, si Tua Hanggabhaya pun juga belum tentu bisa mengalahkan ku. Ayo maju sini, heh orang-orang Bukit Katong", teriak Iblis Kalajengking Biru sembari melakukan kembangan ilmu silat nya, bersiap untuk bertarung melawan Tiga Pedang Bukit Katong.
"Menghadapi tua bangka tak tahu diri seperti mu, Tiga Pedang Bukit Katong pasti akan dianggap menindas orang tua bau tanah dengan mengandalkan jumlah orang. Itu merendahkan martabat kami sebagai pendekar golongan putih. Tentu saja kami tidak akan pernah melakukannya.
Cukup seorang saja sudah cukup untuk membuat mu babak belur tua bangka", kembali Locana membalas omongan Iblis Kalajengking Biru.
"Bedebah!! Banyak omong kosong kau rupanya..
Ayo cepat maju!!", Iblis Kalajengking Biru mulai kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Locana.
"Aku yang maju? Phhuuuiiiiiihhhhh.. Kau belum pantas untuk menjadi lawan ku, Iblis Tua. Ilmu mu bukan lawan sebanding dengan ku.
Kakang Umbaran, monggo silahkan maju hehehehe...", Locana menoleh ke arah Jaka Umbaran dan dengan sikap sopan langsung memberi jalan kepada pendekar muda ini.
"Ckckckckckk...
Rupanya kau cukup licik juga ya Adhi Locana. Aku kira tadi kau yang akan maju, eh ujung-ujungnya aku juga yang harus bertindak. Licik, sungguh sungguh licik..", Jaka Umbaran melangkah maju sembari membenarkan pelindung lengannya yang bergeser.
"Hehehehe bukan licik Kakang, tapi badan ku masih belum sehat benar setelah pertarungan kita yang terakhir. Jadi aku memberikan kesempatan pada mu untuk menjadi pahlawan sejati hari ini.
Eh Ndol kau mau apa?", Locana melihat ke arah Gendol yang hendak maju mengikuti langkah sang pendekar muda sambil memegang sepasang gada di kedua tangannya.
"Biar aku kepruk kepala si tua bangka itu, Pendekar Pedang Bayangan. Gada kembar ku pasti senang minum darah segar si bangkotan itu", ujar Gendol sambil memutar-mutar gagang gada kembar di tangan nya, bersiap untuk menerjang maju.
"Haih, ini bukan waktunya kau untuk tampil. Mundur kau, biar Kakang Umbaran saja yang mengatasi iblis tua itu", hardik Locana segera. Dia tahu siapa Iblis Kalajengking Biru dan bagaimana kekuatan lelaki sepuh itu. Jika Gendol ikut campur, itu tidak akan meringankan beban Jaka Umbaran tapi malah akan membuat konsentrasi bertarung nya pecah gegara ikut memikirkan keselamatan lelaki bertubuh tinggi besar itu.
"Tapi tapi aku..."
"Ndol, patuhilah omongan Paman Locana. Kau tenang saja, majikan mu itu bukan pendekar kacangan", mendengar ucapan Niluh Wuni yang memotong omongannya, Gendol langsung mengangguk mengerti. Meskipun tidak secerdas orang lain, tapi kesetiaan lelaki bertubuh tinggi besar itu patut diacungi jempol.
Melihat Jaka Umbaran maju ke depan nya, Iblis Kalajengking Biru terkesan meremehkan kemampuan anak muda itu. Dia bahkan mengendurkan kewaspadaan nya dengan merubah kuda-kuda ilmu beladiri nya.
"Bocah!! Kau cukup punya nyali juga rupanya..
Majulah, biar aku tunjukkan pada mu betapa jauhnya jarak antara langit dan bumi", ucap Iblis Kalajengking Biru sembari tersenyum sinis ke arah Jaka Umbaran.
Mendengar ucapan itu, Jaka Umbaran seketika menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Iblis Kalajengking Biru sembari menghantamkan tangan kanannya. Ini langsung membuat pendekar tua berambut biru itu terkejut bukan main dan dengan cepat menyilangkan kedua tangannya ke depan dada untuk bertahan.
Whhhuuuggghhhh...
Dhhaaaassshhh!!!!
__ADS_1
Tubuh gempal Iblis Kalajengking Biru sampai tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Melihat itu, Jaka Umbaran segera bergerak maju dengan merendahkan tubuhnya dan membuat gerakan cepat menyapu betis sang pendekar tua dengan kaki kanan.
Dhhiiieeeeesssshhh!!
Tubuh Iblis Kalajengking Biru oleng ke sebelah kanan. Jaka Umbaran tak membuang kesempatan dan langsung mengunakan tangan sebagai tumpuan untuk memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras beruntun ke arah pinggang lelaki tua berjanggut putih itu.
Whhhuuutthh...
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!!
Aaauuuuggggghhhhh...!!!!
Iblis Kalajengking Biru mengaduh keras saat dua tendangan keras beruntun menghajar pinggang. Tubuhnya langsung melayang dan jatuh terjerembab ke samping mayat Pendekar Cambuk Api yang baru saja dibunuhnya.
Segera ia bangkit dari tempat jatuhnya dan mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Iblis Kalajengking Biru mendengus keras sembari menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.
'Bocah ini benar-benar tidak bisa di remehkan. Aku harus berhati-hati jika tidak ingin dipermalukan oleh nya', batin lelaki tua berambut biru itu.
Iblis Kalajengking Biru segera meloloskan senjata nya di pinggang. Sebuah senjata seperti pedang yang terpotong-potong mirip ekor kalajengking berwarna biru kehitaman.
Melihat itu, Sadewa langsung berteriak keras untuk memperingatkan Jaka Umbaran.
"Hati-hati dengan pedangnya, Kakang Umbaran! Pedangnya di baluri racun dari kalajengking biru!", mendengar teriakan keras dari Sadewa, Jaka Umbaran mengangguk mengerti.
Iblis Kalajengking Biru segera melesat ke arah Jaka Umbaran sembari membabatkan pedang nya meskipun masih jauh dari jangkauan senjata. Hebatnya, tiba-tiba senjata itu memanjang dan ujung nya yang lancip melengkung langsung mengancam nyawa lawannya layaknya ekor kalajengking hendak menusuk musuh.
Whhhuuuggghhhh!!
Jaka Umbaran sedikit kaget melihat perubahan wujud senjata lawannya. Namun dia segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari sabetan senjata Iblis Kalajengking Biru yang dinamakan Pedang Cambuk Ekor Kalajengking.
Setelah 10 jurus berlalu....
Jaka Umbaran berkelebat cepat kearah kanan menjejak batang pohon sawo sebagai pijakan. Ujung lancip Pedang Cambuk Ekor Kalajengking yang terus memburunya meluncur cepat kearah kepala. Sang pendekar muda menggeser posisi kepalanya sedikit hingga ujung lancip Pedang Cambuk Ekor Kalajengking menyambar udara di samping kepala. Secepat kilat, Jaka Umbaran menyambar bagian Pedang Cambuk Ekor Kalajengking yang memanjang.
Chhreepppppph!!
Lalu sekuat tenaga, Jaka Umbaran segera menarik Pedang Cambuk Ekor Kalajengking yang membuat Iblis Kalajengking Biru ikut tertarik ke arah nya. Tangan kiri sang pendekar muda telah berubah warna menjadi putih kebiruan karena Ajian Guntur Saketi yang di rapal.
Sentakan keras dari Jaka Umbaran yang di barengi dengan hantaman tapak tangan kiri nya di sambut dengan cara yang sama oleh Iblis Kalajengking Biru.
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh tua Iblis Kalajengking Biru mencelat mundur hingga tepi halaman dalam Istana Pakuwon Weleri. Pedang Cambuk Ekor Kalajengking terlepas dari genggaman tangan. Setelah terbanting keras di tanah, Iblis Kalajengking Biru masih berguling beberapa kali sebelum berhenti. Pakaian nya kotor dan penuh dengan rumput dan debu. Sembari sempoyongan mencoba bangkit, Iblis Kalajengking Biru muntah darah segar.
Hoooeeeeggggh!!!
Sementara itu, Jaka Umbaran hanya terdorong mundur 2 langkah ke belakang saja. Setelah menghela nafas panjang, dia berjalan mendekati Iblis Kalajengking Biru yang masih berupaya bangkit dari tempat jatuhnya setelah beberapa kali muntah darah. Dedengkot pendekar dunia persilatan golongan hitam yang namanya menjadi momok bagi para pendekar lainnya ini nampak tak berdaya dengan wajah memucat.
"A-aku menyerah, pendekar uhukkk uhukkk..
Ampuni nyawa ku. Aku berjanji akan melepaskan Akuwu Weleri Mpu Narpati seterusnya..", ujar Iblis Kalajengking Biru sembari sedikit menunduk saat Jaka Umbaran.
"Jangan percaya omongan nya! Dia itu licik!!", teriak Mpu Narpati Akuwu Pakuwon Weleri lantang. Jaka Umbaran sedikit menoleh ke arah Akuwu Pakuwon Weleri dan ini adalah kesempatan yang di tunggu oleh lelaki tua itu.
__ADS_1
Saat itu juga, Iblis Kalajengking Biru segera mengibaskan rambutnya yang diikat kepang ke arah Jaka Umbaran.
Whhhuuuuuuuutttttth!!
Shhhrriinggg!!!
Kibasan kepang rambut itu melemparkan sebuah jarum kecil berujung warna biru kehitaman yang mengandung semacam racun ke arah Jaka Umbaran. Semua orang terkejut bukan main melihat kelicikan Iblis Kalajengking Biru sedangkan orang tua itu terlihat menyeringai lebar.
"Mampus kau bocah keparat!", geram Iblis Kalajengking Biru sembari tersenyum penuh kemenangan.
Namun mata lelaki tua berjanggut putih itu seketika melebar kala melihat Jaka Umbaran dengan santainya menangkap senjata rahasianya dengan mulutnya.
"Ba-bagaimana mungkin bisa terjadi?!", gumam Iblis Kalajengking Biru lirih.
Pffuuuuuhhhhhhhhh...!
Jaka Umbaran dengan santainya meniupkan jarum kecil berujung warna biru kehitaman di mulut nya itu ke arah salah satu tumbuhan pacar air yang ada di antara tangga naik Pendopo Pisowanan Pakuwon Weleri. Seketika itu juga, tumbuhan pacar air ini langsung layu dan mati. Ini berarti, ada racun keji yang di ujung senjata rahasia itu. Jaka Umbaran mendengus keras.
"Kau layak untuk mati!", secepat kilat, Jaka Umbaran menendang dada Iblis Kalajengking Biru sekuat tenaga. Tubuh tua itu seketika mencelat jauh ke tengah halaman dalam. Tak sampai di situ, Jaka Umbaran melompat tinggi ke udara dan meluncur turun secepat kilat ke arah tempat jatuhnya Iblis Kalajengking Biru. Menggunakan kaki kanan nya, dia menghantam dada Iblis Kalajengking Biru.
Bhhhuuuuuuggggh krrraaaakkkkkk!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Jeritan keras Iblis Kalajengking Biru menjadi akhir dari hidupnya. Dia tewas dengan dada remuk dan beberapa tulang rusuknya patah menembus jantung dan paru-paru.
Melihat kematian Iblis Kalajengking Biru, yang telah menebar ketakutan selama beberapa pekan belakangan ini di wilayah Pakuwon Weleri, semua orang langsung menghela nafas lega. Akuwu Mpu Narpati yang paling merasa lega setelah melihat itu, langsung berjalan mendekati Jaka Umbaran yang melangkah meninggalkan mayat Iblis Kalajengking Biru.
"Wah sungguh hebat sungguh luar biasa..
Kau benar-benar pendekar pilih tanding, Kisanak. Aku Akuwu Mpu Narpati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk pertolongan mu menumpas pengacau keamanan itu", puji Mpu Narpati sembari membungkuk hormat.
"Tentu saja, Kakang Umbaran ini adalah seorang pendekar yang kondang dengan sebutan Pendekar Gunung Lawu. Semua orang mengakui kehebatan ilmu kanuragan nya", sahut Sekar Kantil segera. Murid Ki Suradipa itu bersama Niluh Wuni dan para murid Perguruan Bukit Katong bergegas mendekati Jaka Umbaran.
"Oh jadi ini to orangnya, pendekar muda yang sanggup menghentikan sepak terjang Rampok Topeng Tengkorak yang meresahkan masyarakat Wanua Mantingan tempo hari.
Sungguh sesuai dengan cerita yang beredar luas di kalangan para pedagang. Hebat sekali kau, Pendekar Gunung Lawu", imbuh Akuwu Weleri itu segera.
"Sudah cukup, jangan berlebihan memuji ku. Aku hanya melakukan hal yang aku bisa saja, tidak ada yang istimewa.
Dan kau adhi Locana, lain kali jangan pernah coba-coba untuk menipu ku untuk bertarung jika aku tidak berniat sama sekali. Camkan itu baik-baik", Jaka Umbaran menatap ke arah Locana dengan sedikit kesal.
"Hehehehe, iya ya Kakang Umbaran.. Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi Kakang Umbaran juga harus ingat untuk selalu menjaga kami sesuai dengan amanat guru", jawab Locana sambil tersenyum penuh arti.
"Pendekar semuanya, sebagai tanda terima kasih ku atas pertolongan yang kalian berikan, aku ingin menjamu kalian sebagai tamu kehormatan Pakuwon Weleri. Aku tidak mau ada penolakan. Anggap saja aku memohon kepada kalian", ujar Akuwu Mpu Narpati sembari membungkuk hormat kepada para murid Perguruan Bukit Katong.
Sadewa langsung menepuk jidatnya, Locana mengangkat bahunya dan Surtikanti tersenyum kecut mendengar permintaan dari Akuwu Weleri ini. Semula niat mereka ke istana ini hanya untuk membersihkan nama mereka dari dugaan keterlibatan dengan Iblis Kalajengking Biru. Namun tak dinyana jika mereka harus menghentikan perjalanan di tempat itu untuk sementara waktu.
Akhirnya malam itu, rombongan murid Perguruan Bukit Katong terpaksa harus bermalam di Istana Pakuwon Weleri setelah tak kuasa menolak permintaan Akuwu Mpu Narpati. Malam itu, jamuan makan malam dibuat sedemikian mewah oleh Akuwu Mpu Narpati untuk memanjakan para tamu kehormatan yang telah berjasa menyelamatkan nyawa nya juga menentramkan Kota Pakuwon Weleri dari gangguan Iblis Kalajengking Biru.
Matahari pagi bersinar malu-malu di langit timur, melewati sela-sela awan yang menjadikan pemandangan yang indah. Menjelang musim hujan, mendung kelabu telah sering muncul di langit. Angin selatan yang datang membawa uap air membuat udara kadang menjadi dingin.
Setelah semalaman terlelap dalam buaian mimpi di istana Pakuwon Weleri, pagi itu juga rombongan murid Perguruan Bukit Katong melanjutkan perjalanan nya. Setelah berpamitan pada Akuwu Mpu Narpati, mereka mendapatkan bekal tambahan berupa beberapa ratus kepeng perak, mereka pun segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat.
__ADS_1
Debu beterbangan mengiringi derap langkah kaki kuda mereka menembus jalan raya Kota Pakuwon Weleri. Selepas melewati tugu tapal batas Kota Pakuwon Weleri, mereka terus memacu kuda mereka sekencang-kencangnya. Namun, agaknya nasib mereka akan kurang beruntung saat memasuki sebuah wilayah hutan lebat yang terkenal dengan binatang buas dan keangkerannya,
Alas Roban.