JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Dewa Guru Resi Atmabrata


__ADS_3

HAAAAAAAHHHHHHHH??!!!


"Bukit Gronggong? Jangan-jangan Rengganis ah.. Bagaimana ini?", kepanikan seketika melanda hati Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan. Dia khawatir murid kesayangannya itu akan dijadikan sebagai tumbal persembahan dari Kedewaguruan Astanaraja jika merunut cerita Mundingjaya.


"Kau tenang saja Nyai..


Ini masih belum malam purnama. Upacara tumbal itu biasanya di lakukan pada saat malam bulan purnama jadi kalian masih punya waktu 1 hari untuk sampai kesana", ujar Mundingjaya segera.


Mendengar ucapan itu, semua orang langsung menghela nafas lega karena masih ada waktu untuk menyelamatkan nyawa Dewi Rengganis. Malam itu menjadi malam paling panjang yang dirasakan oleh Nyai Larasati dan Jaka Umbaran karena keduanya tak sabar menunggu pagi hari tiba.


Ratu Racun Pembunuh menghentikan langkahnya di antara rimbun pepohonan setelah melihat bukit menjulang tinggi di hadapan nya. Sembari terus memanggul tubuh Dewi Rengganis yang masih belum juga sadarkan diri dari pingsannya.


Dengan penerangan cahaya bulan yang mendekati purnama terlihat cerah di langit, dia melihat jelas di beberapa bagian dekat puncak bukit yang terletak di wilayah barat Pakuwon Caruban ini, ratusan pelita yang menerangi tempat sekitarnya menandakan bahwa ia telah sampai di tempat yang dituju. Begitu melangkahkan kakinya menuju ke arah kaki bukit sebelah timur, tiba-tiba..


Jlleeeegggg jlleeeegggg!!!


Dua orang berpakaian serba putih selayaknya seorang pertapa muda mencegat langkah Ratu Racun Pembunuh. Keduanya langsung mencabut pedang yang terselip di pinggangnya masing-masing dan mengacungkan nya pada Ratu Racun Pembunuh.


"Hentikan niat mu untuk memasuki wilayah Kedewaguruan Astanaraja! Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!!"


Mendengar ucapan itu, Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh segera merogoh kantong bajunya dan melemparkan sepotong lencana kayu berukir gambar sebuah rumah di atas bulan sabit ke arah mereka. Salah seorang diantara dua lelaki muda yang menghadang Nyi Dewayani segera menangkap lencana yang dilemparkan kepada nya.


"Ini lencana milik Kakang Lugina..


Darimana kau mendapatkan benda ini, heh perempuan asing?", tanya si murid Kedewaguruan Astanaraja itu segera.


"Lugina memberikan nya kepada ku agar aku bisa masuk ke dalam Kedewaguruan Astanaraja untuk mengantarkan barang titipan nya", jawab Ratu Racun Pembunuh sambil menepuk bungkusan kain panjang warna hitam di pundaknya.


"Rupanya kau suruhan dari Kakang Lugina. Kalau begitu, serahkan barang titipan itu pada kami. Kau boleh pergi dari sini", murid Kedewaguruan Astanaraja mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan kain panjang warna hitam itu namun Ratu Racun Pembunuh mundur selangkah ke belakang.


"Enak saja sembarangan mau mengambil barang bawaan ku tanpa membayar lunas semua biaya nya.


Serahkan dulu sebutir Batu Nirmala Hijau yang di janjikan oleh Lugina kepada ku. Baru kau boleh mengambil barang titipan ini".


Kedua murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung saling berpandangan. Keduanya tahu bahwa sebutir Batu Nirmala Hijau memiliki nilai setara dengan 100 kepeng emas dan ini adalah jumlah yang besar. Timbul niat tamak dari mereka yang melihat besarnya harga yang harus mereka bayar.


"Heh perempuan asing, kau jangan mengada-ada. Tidak ada Batu Nirmala Hijau yang akan kau terima setelah mengantar barang titipan itu kepada kami. Cepat serahkan sekarang juga!", ucap salah seorang diantara mereka dengan nada suara penuh ancaman.


"Oh jadi begini cara Kedewaguruan Astanaraja berurusan dengan barang. Tidak mau membayar biaya pengiriman tapi malah berniat untuk merampas nya. Kalian berdua benar-benar kurang ajar..", mendengar makian Ratu Racun Pembunuh, kedua orang murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung meradang.


"Bangsat, mulut beracun mu layak untuk mendapatkan pelajaran!!"

__ADS_1


Setelah berkata demikian, salah seorang murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung menerjang maju ke arah Ratu Racun Pembunuh sambil membacokkan pedang di tangan kanannya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Ratu Racun Pembunuh segera berkelit menghindari sabetan pedang tajam yang mengincar lehernya. Tangan kanan nya yang tidak memegangi bungkusan kain panjang warna hitam segera berputar cepat dan mengarah ke rusuk kanan lawannya.


Bhhhuuuuuuggggh...


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung meraung keras saat merasakan rusuk kanan nya seperti di hantam balok kayu gelondongan. Dia seketika jatuh tersungkur menyusruk tanah. Melihat kawannya di jatuhkan, satu murid lainnya langsung melesat cepat seraya menusukkan pedangnya kearah perut Ratu Racun Pembunuh.


Whhhuuuggghhhh!!


Dengan menjejak tanah, Ratu Racun Pembunuh meloncat mundur ke belakang. Dia juga menaikkan satu kaki ke atas dan menginjak bilah pedang yang mengancam nyawa. Setelah itu, ia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah dada si murid Kedewaguruan Astanaraja itu dengan cepat.


Dhhiiieeeeesssshhh!!


Oouuugghhhhhh...!!!!


Tendangan keras kaki kiri Ratu Racun Pembunuh seketika membuat si murid Kedewaguruan Astanaraja jatuh ke belakang dengan bokong menghantam tanah lebih dulu. Pedangnya lepas dari genggaman tangan. Segera ia bangkit dari tempat jatuhnya dan kembali menerjang maju ke arah Ratu Racun Pembunuh dengan mengayunkan kepalan tangannya ke arah wajah cantik Ratu Racun Pembunuh. Sementara kawan nya juga bergerak cepat ke arah Nyi Dewayani dengan pedang nya mengayun ke arah kaki.


Melihat dua serangan sekaligus mengancam nya, Nyi Dewayani segera melenting tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah dua orang lawan yang baru saja menyerang udara kosong. Dua tendangan keras kaki kanan dan kirinya mengarah pada bahu lawan.


Oouuugghhhhhh...!!!


Kedua murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung terjungkal ke tanah. Baju putih mereka kotor berlumuran tanah dan rumput. Meskipun meringis menahan rasa sakit, namun dua orang murid Kedewaguruan Astanaraja itu pantang menyerah dan segera bangkit namun satu tendangan keras kaki kanan Ratu Racun Pembunuh kembali membuat keduanya harus mencium tanah lagi.


Meskipun darah segar mengalir keluar dari mulut dan hidung keduanya, namun mereka masih berupaya untuk bangkit lagi. Saat ini sebuah bayangan putih berkelebat cepat kearah pertarungan sengit itu sembari menghantamkan sinar putih ke arah mereka.


Whhhhuuuuuummmm...


Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!


Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh yang merasakan adanya hawa dingin menusuk tulang menerabas cepat dari belakang, langsung berkelit cepat menghindar. Juga dengan dua murid Kedewaguruan Astanaraja itu. Mereka bertiga selamat meskipun harus terpisah hampir 5 tombak jauhnya. Rupanya serangan tadi hanya sebagai pemisah pertarungan antara mereka.


"Sudah cukup!!


Untuk apa kalian bertarung? Ini adalah tempat orang menuntut ilmu agama dan belajar tentang kesabaran!"


Ucapan sosok bayangan putih itu segera membuat Ratu Racun Pembunuh dan dua murid Kedewaguruan Astanaraja menatap ke arah nya. Seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang tubuh gempal dan berotot terlihat melangkah mendekati mereka. Ada aura yang cukup membuat orang segan pada orang tua yang usianya setidaknya sudah lebih dari 6 dasawarsa ini. Keriput di wajah nya, rambutnya yang memutih dan suara serak khas orang sepuh begitu terlihat dari penampilan lelaki yang mengenakan pakaian warna putih selayaknya seorang pertapa ini.

__ADS_1


"Guru besar???!!


Maafkan kami yang sudah membuat keributan disini", ucap salah satu murid Kedewaguruan Astanaraja itu seraya membungkuk hormat kepada orang tua itu.


Ya, dia adalah Dewa Guru Resi Atmabrata, pimpinan tertinggi sekaligus sebagai guru besar Kedewaguruan Astanaraja. Hampir seluruh pendekar sepuh dunia persilatan Tanah Jawadwipa mengenalnya. Kakek tua itu pernah ikut dalam pemilihan siapa jago terkuat di dunia persilatan dan harus mengakui keunggulan Maharesi Siwamurti dari Pertapaan Watu Bolong di Gunung Lawu. Meskipun dia kalah, namun tak seorang pendekar pun yang tak mengakui kehebatan ilmu kanuragan yang di miliki oleh orang tua ini. Namun setelah kekalahan itu, Dewa Guru Resi Atmabrata tidak pernah sekalipun mau ikut campur dalam urusan dunia persilatan hingga hari ini.


Dewa Guru Resi Atmabrata sudah hampir 3 dasawarsa memimpin Kedewaguruan Astanaraja, sebuah tempat menuntut ilmu agama dan kanuragan yang sangat tersohor di kalangan masyarakat wilayah Tatar Pasundan. Bahkan Prabu Rakean Jayagiri, adik Prabu Bameswara Raja Panjalu, pengganti Prabu Langlangbumi yang telah tutup usia, menghormati nya sebagai sesepuh yang sangat di hormati. Ini membuktikan bahwa Kedewaguruan Astanaraja mempunyai martabat tinggi di mata para ksatria Kerajaan Galuh Pakuan.


Hemmmmmmm...


"Memangnya ada masalah apa hingga kalian membuat keributan disini?", tanya Dewa Guru Resi Atmabrata sembari menatap ke arah dua murid Kedewaguruan Astanaraja itu.


Segera keduanya menceritakan tentang semuanya tanpa ada yang dirahasiakan. Kecuali bagian Batu Nirmala Hijau, semuanya di ungkapkan oleh dua murid itu.


"Apa benar cerita nya seperti itu, Nisanak?", Dewa Guru Resi Atmabrata menoleh ke arah Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh.


"Tak ada yang salah dengan cerita mereka, Dewa Guru Resi Atmabrata. Tapi mereka berdua tidak mengungkap apa yang aku minta agar titipan dari Lugina ini aku serahkan kepada mereka.


Aku tambahkan sedikit saja. Aku meminta upah yang dijanjikan oleh Lugina kalau aku berhasil mengantar barang ini ke Bukit Gronggong. Satu butir Batu Nirmala Hijau", ucap Nyi Dewayani tegas.


"Huh kalian berdua ini benar-benar keterlaluan. Sebutir Batu Nirmala Hijau saja bisa membuat keributan semacam ini. Memalukan sekali.. ", Dewa Guru Resi Atmabrata memasukkan tangan nya ke balik bajunya. Lalu dia menjentikkan jarinya yang berisi Batu Nirmala Hijau ke arah Ratu Racun Pembunuh.


Cllaaaaaassshhhhh!


Shhhheeeppphh...!!!


Dengan sigap, Ratu Racun Pembunuh menangkap batu permata berwarna hijau itu. Mulutnya segera menyunggingkan senyuman lebar dan memasukkan batu mulia itu ke dalam balik bajunya. Lalu dia melemparkan bungkusan kain panjang warna hitam itu ke arah Dewa Guru Resi Atmabrata.


Bersamaan dengan itu dia melesat cepat menuruni kaki Bukit Gronggong, meninggalkan Dewa Guru Resi Atmabrata dan kedua murid Kedewaguruan Astanaraja.


Begitu tangan Dewa Guru Resi Atmabrata menerima bungkusan kain panjang warna hitam titipan dari Lugina ini, dia yang merasakan adanya hawa sejuk dari dalam bungkusan itu terkesiap sebentar namun kemudian ia menyeringai kecil tanpa ketahuan oleh dua murid Kedewaguruan Astanaraja itu.


"Kalian berdua telah melakukan kesalahan. Hukumannya adalah bersemedi sambil merapal doa pujian pada Dewa selama 3 hari tanpa makan dan minum.


Lakukan mulai dari sekarang..", ucap Dewa Guru Resi Atmabrata segera. Kedua murid Kedewaguruan Astanaraja itu langsung membungkuk hormat kepada guru besar Kedewaguruan Astanaraja ini. Setelah berkata demikian, Dewa Guru Resi Atmabrata melesat bagaikan terbang ke arah tebing batu di timur Bukit Gronggong sambil membawa barang titipan dari Lugina.


Sementara itu, Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh terus bergerak cepat menuju ke arah timur. Dia berulang kali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikutinya. Sesampainya di sebuah hutan kecil, dia menghentikan langkahnya karena merasa sudah cukup jauh dari Bukit Gronggong.


Rasa letih setelah seharian penuh berlari kencang dari Lembah Kali Gung, membuat mata Nyi Dewayani si Ratu Racun Pembunuh ingin cepat tidur untuk menghilangkan penat. Di antara tambi ( akar besar ) pohon wadang yang tumbuh di hutan kecil itu, Ratu Racun Pembunuh merebahkan tubuhnya. Tak lama kemudian dia sudah tertidur lelap.


Cahaya matahari pagi yang hangat membuat Nyi Dewayani terbangun dari tidurnya. Namun betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa ada empat bayangan hitam membelakangi matahari sedang mengepung tempat bermalam nya. Salah seorang diantara mereka berkata,

__ADS_1


"Disini kau rupanya..."


__ADS_2