JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Rahasia Mustika Berdarah


__ADS_3

Seorang lelaki bertubuh kurus tampan dengan wajah pucat sekali seperti mayat hidup nampak duduk di atas singgasana dari batu yang berukir gambar bulatan yang melambangkan bulan depan tengkorak manusia di tengah nya. Jika ada orang yang pertama kali bertemu dengannya, pasti menduga bahwa lelaki yang berusia sekitar 3 dasawarsa lebih sedikit ini sedang menderita penyakit berat. Meskipun terlihat seusai itu, namun sebenarnya dia berusia lebih dari 8 dasawarsa. Tampang lelaki ini memang mirip dengan orang penyakitan.


Bola mata nya yang cekung terlihat seperti sedang mencari kebenaran dari seorang lelaki yang tubuhnya memiliki beberapa luka dan lebam. Dia masih meragukan berita yang disampaikan oleh anak buah Mendhadahana ini.


"Jadi benar Mendhadahana terbunuh oleh pemuda itu?", tanya lelaki berpakaian serba hitam ini sembari berupaya mencari tahu tentang berita yang diterimanya.


"Benar Gusti Pangeran. Hamba melihat nya dengan mata kepala hamba sendiri", jawab anak buah Mendhadahana ini segera.


Hemmmmmmm...


Terdengar suara dengusan nafas panjang dari lelaki yang di panggil dengan sebutan Gusti Pangeran ini. Kematian Mendhadahana memang akan berpengaruh terhadap kekuatan Lembah Hantu namun itu masih bisa di tutupi dengan jagoan lain Lembah Hantu yang lain. Hanya saja, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Mendhadahana, salah satu dari sekian orang kepercayaannya bisa mati semudah itu.


Ya, dia Mpu Karnawijaya atau orang dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur menjulukinya sebagai Pangeran Lembah Hantu. Dia adalah cucu dari Pangeran Lembah Hantu yang dahulu pernah dikalahkan oleh Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana. Ia menerima gelar ini secara turun temurun dari generasi sebelumnya karena menjadi pucuk pimpinan Lembah Hantu, sebuah perkumpulan para pendekar golongan hitam yang sangat disegani oleh baik para ksatria Kahuripan maupun para pendekar dunia persilatan lainnya.


Semula tubuh Karnawijaya normal seperti orang kebanyakan namun setelah ia mempelajari ilmu kanuragan peninggalan eyang nya yang dia temukan di salah satu goa tempat eyangnya bertapa, Karnawijaya perlahan berubah penampilan nya seperti mayat hidup yang seperti sekarang ini. Ilmu kanuragan yang di pelajari nya adalah Ajian Raga Dedemit Neraka yang merupakan salah satu ilmu kanuragan terlarang.


Penyebab Ajian Raga Dedemit Neraka menjadi terlarang adalah karena ilmu kesaktian ini menyerap darah merah pemakainya yang mengakibatkan sang pemilik selalu berwajah pucat dan nampak seperti orang kurang darah. Meskipun demikian, seluruh keturunan pimpinan Lembah Hantu wajib untuk mempelajarinya karena dengan ilmu ini, mereka setidaknya bisa hidup hingga ratusan tahun sekaligus membuat mereka seperti mayat hidup yang tidak bisa mati.


"Ini tak boleh merusak rencana besar kita. Mustika siluman di tangan Ragasoma harus kita dapatkan karena itu untuk menguatkan tenaga dalam ku agar saat nanti aku memimpin pasukan dari Jenggala, aku tidak akan kalah dari para perwira prajurit Panjalu.


Sempani, Widangkoro...", Pangeran Lembah Hantu menoleh ke arah dua orang lelaki tua bertampang seram di sisi kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", kedua orang tua yang bernama Ki Sempani dan Ki Widangkoro itu segera menghormat pada sang pimpinan Lembah Hantu.


"Kemampuan beladiri kalian berdua jauh diatas Mendhadahana. Pastinya kalian berdua tidak akan kesulitan untuk mengalahkan orang yang membunuh Mendhadahana.


Cari pembunuh Mendhadahana, dan bawa pulang mustika siluman yang ada pada Ragasoma. Jangan kembali tanpa membawa benda itu!", mendengar perintah dari Pangeran Lembah Hantu, dua orang lelaki tua itu segera menghormat sebelum mereka meninggalkan tempat itu.


"Rencana besar Gusti Maharani Uttejana tidak boleh gagal! Aku akan mempertaruhkan segalanya", gumam Karnawijaya si Pangeran Lembah Hantu sembari meremas ujung singgasana batu nya.


****


"Sebenarnya, ada masalah apa hingga orang-orang dari Lembah Hantu itu mengejar mu, Resi Ragasoma?", tanya Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya setelah mereka duduk bersama di sekitar api unggun yang menjadi tempat menghangatkan tubuh dari dinginnya udara malam kawasan selatan Kota Kadipaten Matahun.


Resi Ragasoma terlihat seperti sedang bingung mau berkata bagaimana untuk menjawab pertanyaan tersebut. Wardhani, gadis cantik berkulit sawo matang yang juga merupakan cucu lelaki tua itu, mendengus dingin karena sikap orang tua itu.

__ADS_1


"Ini semua karena mustika busuk itu, Kisanak..


Kalau saja bukan karena benda terkutuk itu, ayah dan ibu ku tidak akan mati juga kami tidak terlunta-lunta seperti ini", ucap Wardhani ketus. Dia begitu membenci benda pusaka yang dibawa oleh Resi Ragasoma.


"Mustika terkutuk?


Ragasoma, katakan pada ku. Apakah kau membawa mustika peninggalan kanjeng romo?", tanya Resi Simharaja sembari menatap ke arah saudara tirinya itu.


"Aih gadis ini ...


Benar Kakang Simharaja, aku memang membawa mustika naga bumi peninggalan dari Kanjeng Romo Prabu Dewasimha. Para anak buah Lembah Hantu yang mengetahui keberadaan mustika siluman itu, terus memburu ku dan para keturunan ku", ucap Resi Ragasoma sembari menghela nafas panjang.


Terbayang dalam ingatan nya, putranya Sucitra dan menantunya Rara Amiluhur harus menjadi korban dari keserakahan orang orang Lembah Hantu yang menginginkan agar mustika naga bumi miliknya diberikan kepada mereka. Sucitra yang bersikukuh untuk mempertahankan mustika ini harus meregang nyawa di tangan para petinggi Lembah Hantu bersama sang istri di Lamajang. Para pengawal pribadi Rara Amiluhur yang merupakan putri seorang Adipati, berhasil menyelamatkan nyawa mereka hingga sampai di tempat ini.


"Kau sungguh bodoh, Ragasoma..


Mustika naga bumi adalah barang pusaka yang bisa membuat kita memiliki tenaga dalam luar biasa setelah mampu menyerapnya. Tubuh mu yang cacat itu, sekalipun memilikinya juga tidak akan ada gunanya.


Asal kau tahu, mustika naga bumi itu memiliki sejarah yang sangat mengerikan. Pemilik pusaka terkutuk itu yang pertama adalah Ratu Calon Arang, raja wanita bertubuh tinggi besar seperti raksasa dari kawasan yang sekarang ini menjadi Kadipaten Karang Anom, Tanggulangin dan Wengker. Karena memiliki pusaka ini juga Kitab Lontar Pangiwa yang membuatnya memiliki ilmu hitam yang luar biasa, hingga dia mampu bertahan dari gempuran prajurit Medang Kamulan di bawah pimpinan Prabu Airlangga.


Kau boleh percaya atau tidak, tapi tentu kau juga bisa melihat jelas bahwa kematian Kanjeng Romo Prabu Dewasimha adalah bukti kutukan itu", urai Resi Simharaja panjang lebar.


Semua orang langsung kaget setelah mendengar kisah Resi Simharaja. Baratwaja pun langsung menyikut pinggang Besur disampingnya.


"Biasanya kau tergila-gila pada benda pusaka, Sur. Kau mau mustika naga bumi itu?", bisik Baratwaja segera.


"Ih amit-amit jabang bayi, Ja..


Lebih baik aku begini-begini saja tapi tetap mujur di kehidupan ku daripada memiliki benda pusaka itu tapi sial seumur hidup. Daripada batu mustika itu, lebih baik cucu kakek tua itu aku malah mau hehehehe", Besur terkekeh kecil.


"Gigi mu itu yang mau.. Sudah jangan bicara lagi, buat aku muak saja", sungut Baratwaja sembari mengalihkan perhatian nya pada obrolan Resi Simharaja dan saudaranya.


"Aku menjaga mustika ini juga karena perintah dari Kanjeng Romo, Kakang.. Kalau tidak, aku juga tidak mau berurusan dengan orang-orang dari Lembah Hantu itu", ucap Resi Ragasoma segera.


"Kalau begitu, biarkan mustika itu di bawa Eyang Simharaja saja, Eyang Resi", usul cepat Wardhani yang membuat Resi Ragasoma termenung beberapa saat lamanya.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin ini sudah menjadi takdir Dewata Yang Agung bahwa hari ini jodohku dengan mustika ini berakhir.


Kakang Simharaja, sekarang beda peninggalan Kanjeng Romo Prabu Dewasimha ini aku serahkan kepada mu", ucap Resi Ragasoma sembari mengulurkan sebuah mustika berwarna merah kehitaman pada kakak tirinya.


"Kau yakin Ragasoma?", tanya Resi Simharaja sebelum menerima uluran tangan dari saudaranya ini.


"Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya", mendengar jawaban itu, Resi Simharaja menerima mustika naga bumi itu dan segera menyimpannya di balik bajunya.


Malam terus merangkak naik ke tahtanya. Udara malam di tepi hutan ini memang sedikit lebih dingin dari biasanya. Orang-orang yang berkemah di tempat itu pun segera merebahkan tubuhnya untuk beristirahat menunggu pagi hari tiba.


Saat pagi menjelang tiba, rombongan Resi Ragasoma berpamitan pada Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Rupanya mereka punya tujuan untuk tinggal di wilayah Kadipaten Anjuk Ladang karena salah satu saudara dari ibu Wardhani menjadi seorang lurah di wilayah selatan Anjuk Ladang yang dekat dengan Kotaraja Daha. Mereka ingin memulai hidup baru di sana, melupakan segala kesedihan setelah kematian Sucitra dan Rara Amiluhur.


"Aku pamit Kakang Simharaja. Kalau ada waktu, kunjungi kami di sana. Semoga Hyang Agung selalu melindungi mu. Permisi..", ucap Resi Ragasoma sebelum melompat ke atas kuda pemberian Jaka Umbaran. Mereka berenam pun segera memacu kuda mereka masing-masing sekencang-kencangnya ke arah barat. Resi Simharaja terus menatap ke arah perginya saudara tirinya itu hingga mereka menghilang di balik tikungan jalan.


Gendol langsung menjawil lengan kiri Resi Simharaja hingga lelaki paruh baya itu segera menoleh ke arah nya.


"Kau tidak takut ketiban sial karena mustika berdarah itu, Macan Tua?", ucap Gendol seraya menatap kasihan pada Resi Simharaja.


"Takut kenapa? Aku punya cara sendiri untuk menghilangkan kutukan itu, Gigi Jarang..


Dan aku pastikan bahwa kesialan itu tidak akan pernah datang pada ku karena dari awal aku menerima mustika naga bumi itu, dia telah di bersihkan dengan air suci petirtaan hehehehe ", Resi Simharaja terkekeh kecil sembari melangkah ke arah rombongan yang hendak bersiap untuk melanjutkan perjalanan.


"Huh dasar tua bangka licik!!


Jadi omongan mu semalam hanya sandiwara saja ya? Menyesal aku mengasihani mu tadi..", omel Gendol sambil menyusul langkah Resi Simharaja.


Rombongan itu bergerak meninggalkan tempat itu menuju ke arah utara dimana Kota Kadipaten Matahun berada.


Perjalanan mereka menjadi lambat karena kuda-kuda mereka di berikan kepada rombongan Resi Ragasoma hingga para prajurit pengawal sang pangeran muda pun terpaksa harus berjalan kaki. Setelah melewati hutan kecil itu, mereka terus bergerak ke arah Kota Kadipaten Matahun.


Namun saat memasuki tapal batas Kota Kadipaten Matahun, dua orang tua berwajah seram dan beberapa orang pengikutnya menghadang di tengah jalan. Besur langsung mendesah panjang sebelum berkata,


"Hadeeeeeeehhhhhh...


Lagi-lagi ada orang mengantar nyawa.."

__ADS_1


__ADS_2