JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pralaya Kadipaten Selopenangkep


__ADS_3

Berita itu sontak membuat geger seluruh penghuni Istana Katang-katang. Semuanya benar-benar tidak menduga bahwa hal yang mereka khawatirkan ternyata datang lebih cepat dari perkiraan.


"Senopati Agung Sembada ..


Atur pasukan untuk bersiap berangkat ke Selopenangkep. Minta Pasukan Garuda Panjalu untuk bergerak lebih dulu. Usahakan untuk sampai secepatnya di Selopenangkep", titah Prabu Bameswara segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Senopati Agung Sembada segera menghormat sebelum meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.


"Paman Mapatih Mpu Baprakeswara, kau urusi tamu undangan yang datang. Aku akan bersiap untuk memimpin pasukan. Pangeran Mapanji Jayabaya, ayo kita ganti baju", mendengar perintah dari sang ayah, Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti.


Segera setelah itu, Prabu Bameswara dan Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu. Keduanya segera berganti pakaian. Prabu Bameswara di bantu oleh Ratu Dyah Chandrakirana, Gayatri dan Luh Jingga. Sementara Jaka Umbaran dibantu oleh keempat istrinya yakni Nararya Padmadewi, Dewi Rengganis, Putri Pandan Wangi dan Indrawati.


Kini Jaka Umbaran mulai terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya. Sebuah mahkota berhias permata merah kecil menghiasi kepalanya, juga gelang bahu dan pelindung lengan yang terbuat dari emas. Sementara itu, dia juga menggunakan baju zirah penutup dada dari kulit lembu yang berhiaskan ukiran san beberapa kancing emas.


Saat Prabu Bameswara mendatangi Jaka Umbaran dengan pakaian lengkap bersama para istri nya, Nararya Padmadewi masih memasangkan gelang bahu sedangkan Dewi Rengganis sibuk mengikat tali pelindung lengan nya.


"Kalian harus banyak belajar dari pengalaman ibu mertua kalian. Agar cepat saat mendandani suaminya", seloroh Prabu Bameswara sembari tersenyum melihat keempat menantunya itu masih perlu banyak belajar tentang pakaian seorang ksatria Panjalu.


"Lain kali kami pasti akan belajar bagaimana caranya mendandani suami kami seperti dandanan Kanjeng Romo Prabu", ucap Dewi Rengganis yang paling awal menyelesaikan tugas nya.


Setelah semuanya selesai, Jaka Umbaran segera berdiri dari tempat duduknya.


"Aku minta kalian semua tetap tenang, jangan sampai membuat kegaduhan di Kotaraja Daha. Doakan saja pada Hyang Agung agar kami secepatnya kembali dengan selamat", ucap Prabu Bameswara segera.


"Doa kami selalu kami berikan kepada mu, Kangmas Prabu.


Aku, Wulan dan Kirana akan selalu menunggu kedatangan mu kembali", ucap Selir Gayatri sembari mengusap janggut Prabu Bameswara yang mulai ditumbuhi uban.


Setelah itu, mereka pun keluar dari dalam ruang pribadi Yuwaraja dan segera melangkah ke arah para pengawal pribadi Jaka Umbaran.


"Baratwaja, Gendol, Besur dan kau Resi Simharaja..


Segera susul kami ke Selopenangkep setelah kami pergi. Secepat mungkin, jangan sampai menunda waktu", ucap Jaka Umbaran sembari menatap ke arah 4 orang pengawal setia nya ini.


"Hamba tetap bersama dengan Gusti Pangeran. Mereka bertiga biar menyusul", ujar Resi Simharaja sembari menghormat. Besur langsung hendak protes akan tetapi urung dilakukan setelah ada isyarat dari Baratwaja untuk tetap diam.


Jaka Umbaran, Prabu Bameswara dan Resi Simharaja segera bersedekap tangan di depan dada. Perlahan, tubuh Jaka Umbaran dan Prabu Bameswara mulai ditutupi oleh kabut putih tipis sedangkan Resi Simharaja nampak di kelilingi oleh cahaya putih. Sekejap mata kemudian, ketiga orang itu sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.


"Kampret, mentang-mentang punya ilmu kanuragan yang bisa menghilang, seenaknya saja meninggalkan kawan untuk menyusul.


Dasar kawan brengsek!", maki Besur lirih karena takut terdengar oleh Ratu Dyah Chandrakirana dan para istri Jaka Umbaran yang masih belum sepenuhnya meninggalkan tempat itu.


"Sudah jangan banyak menggerutu..


Ayo kita cepat susul mereka. Kalau terlalu lama kau mengomel, nanti kita terlambat sampai di Kota Kadipaten Selopenangkep", potong Baratwaja segera sambil melangkah meninggalkan tempat itu bersama Gendol. Besur mendengus dingin lalu menyusul kedua kawannya yang lebih dulu meninggalkan Istana Katang-katang.

__ADS_1


*****


Sementara itu, saat Warupa dan Jaladri sedang dalam perjalanan menuju ke arah Kotaraja Daha, Kota Kadipaten Selopenangkep telah kedatangan para prajurit Jenggala. Sejumlah besar pasukan Jenggala berhasil masuk ke dalam Kota setelah menjebol pintu masuk Kota Kadipaten Selopenangkep dari arah timur. Perang besar pun langsung terjadi.


Meskipun prajurit Selopenangkep berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kota ini dari gempuran prajurit Jenggala, namun kalah dalam jumlah membuat mereka sedikit demi sedikit dipaksa mundur ke dekat istana.


Sambil mendesak para prajurit Kadipaten Selopenangkep, para prajurit Jenggala juga membumihanguskan bangunan yang ada di sekitar Kota Kadipaten Selopenangkep ini. Puluhan rumah kayu beratapkan daun alang-alang kering telah di lalap si jago merah yang disulut oleh para prajurit Jenggala. Suasana di dalam Kota Kadipaten Selopenangkep benar-benar kacau-balau dan tidak terkendali.


"Gusti Patih, pintu gerbang istana ini tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Bagaimana ini?


Para kerabat dekat istana telah diungsikan lewat jalan rahasia, tinggal kita saja yang ada di dalam istana ini", tanya Senopati Kadipaten Selopenangkep, Pranajiwa, dengan penuh kekhawatiran. Beberapa luka telah menghiasi beberapa bagian tubuhnya namun meskipun demikian dia masih kuat untuk bertarung melawan para prajurit Jenggala.


Patih Mpu Narattama menghela nafas berat sembari menatap ke arah para prajurit Kadipaten Selopenangkep yang mati-matian berusaha keras untuk menahan gedoran pintu gerbang istana dari kayu gelondongan besar yang terus menerus dihantamkan oleh para prajurit Jenggala dari luar pintu gerbang istana.


Sejenak lelaki paruh baya itu menatap langit biru di barat kota sebelum menatap ke arah Senopati Pranajiwa.


"Mungkin, ini saat kita mengorbankan nyawa kita demi Kadipaten Selopenangkep, Pranajiwa..


Aku lebih baik mati daripada harus tunduk pada orang-orang Jenggala itu. Ayo Pranajiwa, kita bertarung melawan mereka sampai titik darah penghabisan!", Mpu Narattama segera mencabut keris pusaka di pinggangnya. Melihat semangat juang dari warangka praja Selopenangkep ini, Senopati Pranajiwa ikut terbakar hatinya. Dia kembali mencabut pedang yang sempat tersarung di pinggangnya. Sembari menggenggam erat gagang senjata mereka, dua orang punggawa Istana Kadipaten Selopenangkep itu segera meloncat ke arah pintu gerbang istana.


"Buka gerbang istana nya, kita bertarung hingga titik darah penghabisan!", teriak Senopati Pranajiwa sembari memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedang menahan pintu gerbang untuk mundur dari tempatnya dan memegang senjata mereka masing-masing.


Bhhhuuuuuuggggh.. Krrraaaakkkkkk...


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!!


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg..


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Aaaarrrgggggghhhhh...!!!


Puluhan prajurit yang paling depan langsung terjungkal setelah anak panah menembus tubuh mereka. Namun para prajurit Jenggala yang ada di belakangnya, terus meloncat maju ke arah para prajurit Kadipaten Selopenangkep. Pertempuran besar yang sempat terhenti ini kembali berkobar hebat.


Patih Mpu Narattama dan Senopati Pranajiwa langsung mengamuk dengan seluruh kemampuan beladiri yang mereka miliki. Setiap kali ada prajurit Jenggala yang mencoba untuk mendekati mereka berdua, akan langsung bermandikan darah terkena sabetan senjata andalannya.


Kejadian ini tidak lepas dari pengawasan Tumenggung Citragadha. Tangan kanan Senopati Tambakwedi ini segera melompat ke arah Senopati Pranajiwa yang baru saja menghabisi nyawa seorang prajurit Jenggala.


Segera lelaki bertubuh gempal itu melesat cepat kearah Senopati Pranajiwa dengan mengayunkan senjatanya yang berupa sebuah gada berukuran sedang ke arah kepala sang pimpinan prajurit Kadipaten Selopenangkep ini.


Whuuuggghh...


Perhatian Senopati Pranajiwa yang belum sepenuhnya peka terhadap bahaya besar yang sedang mengancamnya, membuat pria bertubuh kekar itu sedikit gelagapan saat serangan itu datang. Dia langsung menyilangkan pedangnya dan menahan dengan kedua tangannya untuk menerima hantaman gada Tumenggung Citragadha.


Bhhuuuggghhh... Oooouuuuuuggggghhhhh!

__ADS_1


Senopati Pranajiwa melengguh tertahan sembari berupaya keras agar tidak terjatuh meskipun hantaman gada Tumenggung Citragadha membuatnya tersurut mundur hampir 2 tombak jauhnya ke belakang.


"Cuma segini kemampuan seorang senopati Selopenangkep? Tak ubahnya seperti kemampuan beladiri seorang bekel prajurit di keprajuritan Jenggala. Memalukan!", ejek Tumenggung Citragadha sembari menyeringai lebar menatap ke arah Senopati Pranajiwa yang sedang mengatur nafas. Luka-luka yang dia dapat dari pertarungan sebelum nya terus mengeluarkan darah dan ini cukup mengganggu konsentrasi tempurnya.


"Aku masih belum kalah, hai wong Jenggala!


Ayo kita lanjutkan lagi permainan ini..", usai berkata demikian, Senopati Pranajiwa melakukan kembangan ilmu silat nya sebelum menerjang maju ke arah Tumenggung Citragadha.


Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.


Namun karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, kemampuan beladiri maupun kecepatan Senopati Pranajiwa berkurang jauh. Dan ini benar-benar dimanfaatkan oleh Tumenggung Citragadha untuk mengalahkan pimpinan prajurit Selopenangkep itu.


Senopati Pranajiwa membabatkan pedang nya ke arah kaki Tumenggung Citragadha. Namun wakil pimpinan prajurit Jenggala ini segera melompat tinggi dan turun cepat sambil mengayunkan gada di tangan kanannya ke arah ubun-ubun kepala Senopati Pranajiwa.


Bhhhuuuuuuggggh Aaaarrrgggggghhhhh!!


Senopati Pranajiwa menjerit keras kala gebukan gada Tumenggung Citragadha telak menghajar kepalanya. Pimpinan prajurit Kadipaten Selopenangkep itu langsung roboh. Tubuhnya mengejang hebat sesaat sebelum dia diam untuk selamanya.


Sementara itu di sisi lain pertempuran, Patih Mpu Narattama benar-benar bukan tandingan yang sepadan dengan kekuatan beladiri Senopati Tambakwedi. Dalam beberapa gebrakan saja, warangka praja Selopenangkep itu sudah jatuh terduduk sambil muntah darah segar usai menerima hantaman ajian ilmu kanuragan yang dimiliki oleh pimpinan prajurit Jenggala ini.


Melihat lawannya sudah tak berdaya, Senopati Tambakwedi melangkah mendekati lelaki paruh baya itu dan langsung menyambar kerah baju zirah penutup dada nya lalu mengangkat nya dengan satu tangan.


"Ini kesempatan terakhir mu, Patih Selopenangkep.


Menyerah sekarang atau mati!", ancam Senopati Tambakwedi segera. Bukannya langsung tunduk pada ancaman lelaki bertubuh gempal itu, Patih Mpu Narattama justru malah meludahi wajah nya.


Chhuuuiiiihhhh...!


Senopati Tambakwedi murka bukan main dengan ulah warangka praja Selopenangkep itu.


"Benar-benar tidak tahu diuntung! Sebaiknya kau mati saja!", Senopati Tambakwedi segera mencekik leher Patih Mpu Narattama sekuat tenaga. Warangka praja Selopenangkep itu meronta berusaha untuk melepaskan diri namun dia kalah tenaga dari pimpinan pasukan Jenggala.


Saat gerakan tubuh Mpu Narattama semakin lemah, tiba-tiba..


Jlleeeegggg jlleeeegggg jlleeeegggg!!!


Tiga orang muncul di dekat tempat pertarungan antara Patih Mpu Narattama dan Senopati Tambakwedi. Salah seorang diantara mereka langsung melepaskan hantaman cahaya merah menyala seperti api yang berkobar pada Senopati Tambakwedi.


Shhiiuuuuuuuuttttt..


Sesosok bayangan berkelebat cepat menghadang laju hantaman cahaya merah menyala berhawa panas menyengat itu dengan tangan kanan nya yang di lambari cahaya ungu kehitaman.


Blllaaammmmmmmm..!!!!


Ledakan keras terdengar saat dua ajian ini beradu. Sosok bayangan hitam yang tak lain adalah salah seorang pendekar bercaping bambu tirai hitam yang terus mengawal Senopati Tambakwedi sejak awal. Dia menyeringai lebar dari balik caping bambu bertirai hitam nya sambil berkata,

__ADS_1


"Selamat datang Prabu Bameswara..


Aku telah lama menunggu kedatangan mu".


__ADS_2