JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Telik Sandi Jenggala


__ADS_3

Sabda sang Raja Panjalu telah di titahkan maka pada keesokan paginya, Kotaraja Daha mulai berhias untuk merayakan kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya ke istana. Semuanya bertugas sesuai dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Beberapa orang pekerja nampak sibuk menghias batang bambu yang telah di bersihkan dengan hiasan dari janur yang di sebut sebagai penjor. Mereka terlihat cekatan mengatur tata letak daun muda dari pohon kelapa itu dengan bentuk beraneka ragam hingga nampak indah di pandang mata. Sedangkan beberapa orang prajurit juga turut membantu pemasangan penjor penjor ini di setiap sudut istana dan beberapa titik keramaian di Kotaraja Daha.


Beralih ke depan alun-alun istana, nampak beberapa tukang sibuk membuat sebuah panggung besar yang akan di gunakan sebagai panggung kehormatan. Rencananya nanti, setelah acara penobatan Pangeran Mapanji Jayabaya sebagai putra mahkota Kerajaan Panjalu, di sambung dengan perayaan besar yang akan berlangsung selama 7 hari 7 malam.


Beberapa pedagang bahan makanan pokok pun terlihat keluar masuk ke dalam istana. Ada yang menuntun beberapa ekor kerbau dan kambing, ada yang memikul beberapa ikat padi dan jagung, beberapa orang terlihat memanggul keranjang berisi kelapa dan gula merah dan lainnya sibuk berlalu lalang di istana negara. Sepertinya sedang disiapkan sebuah perayaan besar-besaran. Ini juga memantik perhatian beberapa orang yang tinggal di seputar Kotaraja Daha.


Seorang lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa lebih, dengan tubuh sedikit gendut dengan kumis tebal nampak dia seperti sedang mengamati kesibukan yang terjadi di Kotaraja Daha. Pakaian nya terbuat dari sutra mahal berwarna merah, menjadi penanda bahwa dia adalah orang kaya. Lelaki itu dikenal masyarakat Kotaraja Daha sebagai seorang pedagang kain yang cukup terkenal, Ki Martoloyo.


Di balik kedoknya sebagai pedagang yang dermawan dan baik hati, Ki Martoloyo memiliki sebuah rahasia besar yang bisa saja menghilangkan nyawa nya. Namun hampir sepuluh tahun ini, dia sempurna memainkan peran nya dengan berbaur menjadi satu dengan masyarakat Kotaraja Daha.


Tak bisa menutupi rasa penasarannya, Ki Martoloyo mendekati beberapa orang prajurit yang sedang sibuk memasang penjor dekat rumah kediamannya.


"Hehehehe, sepertinya sedang sibuk Ndoro Prajurit..


Kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi? Kog saya lihat seluruh sudut kota penuh dengan umbul-umbul dan penjor", tanya Ki Martoloyo dengan sopan.


Pertanyaan ini langsung membuat para prajurit menoleh ke arah Ki Martoloyo. Salah seorang prajurit yang mengenal Ki Martoloyo langsung menghentikan pekerjaannya.


"Ah ini adalah tugas kami, Ki Marto..


Istana Kotaraja Daha sedang melakukan persiapan untuk menyambut kepulangan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Dengar-dengar sih sekalian penobatan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sebagai Raja Muda atau Yuwaraja Panjalu", ucap sang prajurit segera.


"Hahhhhhh?


Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya? Kog aku belum pernah dengar nama nya ya Ndoro Prajurit. Putra dari siapa dia?", Ki Martoloyo berusaha keras untuk mengorek keterangan lebih.

__ADS_1


"Kau belum genap 10 tahun tinggal disini jadi kau pasti tidak tahu dengan peristiwa penculikan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sewaktu masih bayi.


Dia itu adalah putra Gusti Ratu Dyah Chandrakirana. Jadi tidak salah kalau dia yang dinobatkan sebagai putra mahkota Kerajaan Panjalu", sang prajurit menerangkan sepengetahuan nya.


"Lantas bagaimana dengan Mapanji Lodaya? Bukankah dia yang di gadang-gadang akan menjadi penerus tahta Kerajaan Panjalu selanjutnya?", kembali Ki Martoloyo mengajukan pertanyaan. Dari keseluruhan istri Prabu Bameswara, hanya Rara Kinanti yang punya hubungan dengan nya karena kain-kain dagangannya sering di beli oleh putri Pangeran Arya Tanggung itu meskipun melalui perantara. Dia sering merugi hanya karena ingin menjalin hubungan dengan ibu Pangeran Mapanji Lodaya yang sebelumnya memang merupakan calon tunggal penerus tahta Kerajaan Panjalu setelah Prabu Bameswara lengser keprabon. Berita terbaru ini tentu saja merusak semua rencana yang telah di susun nya selama ini.


"Memang Gusti Mapanji Lodaya sempat di calonkan jadi Yuwaraja Panjalu, tapi begitu Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya kembali, hak atas tahta akan langsung jatuh ke tangan nya. Ini merupakan hukum yang berlaku di masyarakat kita, bahwa putra tertua lah yang akan menjadi penerus keluarga selanjutnya.


Sudah, aku mau melanjutkan pekerjaan ku Ki Marto. Permisi..", ucap si prajurit sembari kembali melangkah ke arah teman-temannya yang tetap sibuk menata penjor.


Ki Martoloyo segera mengangguk hormat kepada para prajurit sembari tersenyum sebelum berbalik badan. Namun saat tubuhnya membelakangi para prajurit, senyum itu langsung menghilang seketika. Dia bergegas menuju ke arah kediamannya. Sesampainya di sana, dia langsung mendekati dua orang lelaki bertubuh gempal yang merupakan centeng pribadi nya.


"Gangsir, Wungkal..


Kalian berdua bersiap-siaplah. Kita harus keluar kota hari ini juga. Kita akan ke Selopenangkep", selepas memberikan perintah kepada para bawahannya, Ki Martoloyo segera masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuah buntalan kain hitam yang sepertinya merupakan bekal perjalanan. Mereka bertiga pun segera memacu kuda nya ke arah timur.


Menjelang sore hari, Ki Martoloyo dan kedua pengikutnya telah sampai di sebuah rumah kecil yang terletak di dekat tapal batas wilayah timur Kota Pakuwon Bedander. Ki Martoloyo langsung melompat turun dari kudanya dan bergegas masuk ke dalam rumah.


"Ada apa kau kemari, Topeng Tua? Sepertinya ada sesuatu yang penting", ucap perempuan cantik itu segera. Dia memanggil Ki Martoloyo dengan sebutan Topeng Tua.


"Huh, apa tidak ada panggilan yang lebih baik, Nyi Pu Karti? Aku saja tidak pernah memanggil mu dengan sebutan Kembang Layu..", gerutu Ki Martoloyo.


"Hehehehe, begitu saja kau sudah marah marah. Ya sudah, ada apa kau kemari Pendekar Topeng Setan?", ucap Nyi Pu Karti segera sembari tersenyum tipis.


"Nah begitu baru enak di dengar..


Aku punya berita besar untuk segera kau laporkan pada Gusti Maharani Uttejana di Kahuripan. Begini....", Ki Martoloyo lalu menceritakan kembali apa yang baru saja disampaikan oleh prajurit Daha tadi pagi. Dia juga menceritakan tentang keadaan seperti apa yang sedang terjadi di Kotaraja Daha.

__ADS_1


Mendengar itu, Nyi Pu Karti kaget seketika. Berita ini pasti akan membuat Maharani Uttejana, penguasa Kerajaan Jenggala selepas mangkatnya mendiang Prabu Samarotsaha, merencanakan sesuatu yang besar. Suami pendamping nya, Pangeran Jayengresmi, pasti akan mengatur segala sesuatunya.


"Aku akan segera melaporkan hal ini ke Jenggala. Sekarang kau cepat kembali ke Kotaraja Daha agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Jika ada yang penting lagi, cepat lapor pada ku. Pergilah..", ucap Nyi Pu Karti sembari mengibaskan tangannya.


Ki Martoloyo telik sandi Kerajaan Jenggala yang telah 10 tahun tinggal di Kotaraja Daha itupun hanya mendengus dingin sembari berbalik badan meninggalkan kediaman Nyi Pu Karti yang merupakan penghubung antar telik sandi Jenggala. Segera setelah itu, dia bersama dengan para pengawal pribadi nya segera meninggalkan tempat itu.


Di Kotaraja Daha sendiri, persiapan untuk acara penyambutan kedatangan Sang Pangeran Mapanji Jayabaya rampung hari itu juga. Segera setelah itu, pada malam hari nya hiburan rakyat berupa pertunjukan kesenian berupa wayang kulit pun segera di gelar. Warga Kotaraja Daha berduyun-duyun datang ke alun-alun Kotaraja dimana perhelatan besar itu digelar. Ramainya pengunjung terlihat memenuhi alun-alun hingga penuh berdesakan. Sampai pertunjukan wayang itu bubar, suasana alun-alun kota masih ramai.


Pada hari kedua acara hiburan ini, siang harinya di bagikan makanan hasil olahan juru masak istana. Banyak orang mengantri untuk mendapatkan masakan lezat yang hanya bisa dinikmati oleh keluarga bangsawan dan kerabat dekat istana. Sedangkan pada malam harinya, hiburan rakyat kembali digelar. Malam ini, pertunjukan wayang orang pun menjadi tontonan yang menarik bagi seluruh rakyat Kotaraja Daha.


Hari demi hari, Kotaraja Daha selalu meriah dengan aneka hiburan yang memanjakan mata semua orang. Pelbagai jenis kesenian rakyat silih berganti mengisi malam hingga hari ini yang merupakan hari ketujuh yang juga merupakan hari puncak perayaan penyambutan kepulangan Mapanji Jayabaya.


Saat matahari sepenggal naik ke atas langit, di Pendopo Agung sedang diadakan penobatan Pangeran Mapanji Jayabaya menjadi Adipati Anom / Raja Muda / Yuwaraja Panjalu. Seluruh pejabat negara hadir dalam kesempatan itu. Para penguasa kadipaten di dekat Kotaraja Daha seperti Kabupaten Gelang-gelang, Kadipaten Anjuk Ladang, Selopenangkep, Karang Anom, Singhapura, Bojonegoro dan Matahun juga turut hadir dalam acara besar ini.


"Hari ini, aku Maharaja Sri Bameswara menobatkan putra ku, Pangeran Mapanji Jayabaya, sebagai Yuwaraja Panjalu. Dengan ini, dia memiliki kekuasaan setingkat lebih rendah di bawah ku. Perintah dari nya sama seperti perintah langsung dari ku", ucap Prabu Bameswara sembari meletakkan mahkota Yuwaraja di kepala Jaka Umbaran yang berjongkok sambil menyembah pada singgasana Raja Panjalu.


"Hidup Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya!


Hidup Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya!!"


Suara riuh rendah dan tepuk tangan terdengar membahana di Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha. Semua pejabat negara yang hadir nampak tersenyum melihat penobatan Pangeran Mapanji Jayabaya. Mereka yang sempat khawatir dengan keberlangsungan kerajaan karena Mapanji Lodaya yang di gadang-gadang akan menjadi penerus tahta masih berusia sangat muda, kini nampak bergembira karena munculnya seorang pewaris tahta yang sudah cukup umur.


Sementara itu, di pintu gerbang Kotaraja Daha sebelah selatan, seorang lelaki tua berjanggut panjang nampak tajam menatap ke arah tengah kota. Matanya nyalang seolah ingin menghancurkan semua yang ada di tempat itu. Bersamanya, seorang perempuan muda nan cantik, nampak mengikuti langkah lelaki tua yang jalannya sedikit pincang itu.


"Guru, kita sudah sampai di Kotaraja Daha. Apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya perempuan cantik berbaju ungu kehitaman itu segera. Si lelaki tua berjanggut panjang dengan tubuh sedikit kurus dengan pakaian serba lusuh seperti seorang pengelana ini, mendengus keras sembari berkata,

__ADS_1


"Rencananya hanya satu,


Membunuh Tejo Laksono segera!"


__ADS_2