
"Gusti Prabu Bameswara meminta agar Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya segera pulang ke istana.
Ini ada dua masalah yang sedang terjadi. Yang pertama adalah kedatangan Gusti Pangeran Mapanji Jayagiri. Dia datang bersama rombongan besar dari Kotaraja Kawali.
Sedangkan yang kedua adalah berita dari telik sandi kita. Ada berita bahwa di dekat perbatasan wilayah dengan Kerajaan Jenggala, terdapat gerakan mencurigakan. Perkara jelasnya hamba kurang tahu Gusti Pangeran ", lanjut Senopati Naratama segera.
Hemmmmmmm...
"Ini adalah masalah besar. Kalau begitu, aku akan segera mempersiapkan diri untuk pulang ke Kotaraja Daha. Kau tunggu dulu sebentar disini, Paman Senopati..", ucap Jaka Umbaran yang segera melangkah ke arah belakang. Dia berniat untuk mandi sebelum pergi ke Istana Kotaraja Daha.
Setelah kepergiannya, Baratwaja dan Resi Simharaja yang hendak membangunkan Mapanji Jayabaya, datang ke tempat itu. Melihat kedatangan sang senopati, kedua orang itu segera menghormat pada perwira tinggi prajurit Panjalu ini.
"Salam hormat kami, Gusti Senopati...
Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba Gusti Senopati Naratama sepagi ini datang ke tempat ini?", tanya Baratwaja segera.
Mendengar pertanyaan Baratwaja yang merupakan salah seorang perwira menengah dalam keprajuritan Kotaraja Daha, Senopati Naratama segera memberikan penjelasan. Mendengar itu, kedua orang pengikut setia Mapanji Jayabaya ini saling berpandangan segera.
"Pergerakan mencurigakan?
Apa semacam upaya untuk membuat kekacauan di Kerajaan Panjalu, Gusti Senopati Naratama?", Baratwaja menatap ke arah lelaki paruh baya bertubuh kekar itu segera.
"Ada beberapa kemungkinan akan hal itu, Juru Baratwaja..
Kita masih menunggu laporan berikutnya dari para anggota Pasukan Khusus Lowo Bengi. Namun, untuk berjaga-jaga jika terjadi hal buruk seperti itu, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, Gusti Prabu Bameswara mengutus aku untuk memanggil Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya pulang ke Kotaraja Daha", terang Senopati Naratama sembari mengelus kumis tebal nya.
"Kalau begitu, kita harus secepatnya pulang ke Kotaraja Daha, Gusti Senopati. Paman Resi Simharaja, kau cari Gendol dan aku akan membangunkan Besur segera", Resi Simharaja mengangguk mengerti mendengar ucapan Baratwaja. Mereka berdua segera berbagi tugas. Baratwaja ke arah pondokan tempat tinggal Besur, sedangkan Resi Simharaja menuju ke arah Sungai Harinjing.
Besur masih pulas bergelung selimut diatas tempat tidur nya saat Baratwaja datang mencarinya. Melihat itu, Baratwaja pun langsung geleng-geleng kepala.
"Anak ini hihhhhh...
Sur Besur, cepat bangun!"
Teriakan keras Baratwaja sampai terdengar di kediaman Jaka Umbaran. Namun, dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun. Kesal dengan ulah manusia yang satu ini, Baratwaja pun langsung menendang tiang penyangga ranjang tidur yang terbuat dari bambu ini.
Bhhhuuuuuuggggh krrraaaakkkkkk..
Brruuaaaakkkkkkkh..!!!
Ranjang tidur Besur langsung ambruk seketika. Perwira prajurit Panjalu yang di tugaskan untuk menjaga keamanan Jaka Umbaran inipun langsung berguling dan jatuh tengkurap di lantai pondokan.
"Aduh kampret laknat!!!"
Maki Besur saat merasakan sakit akibat jatuh tengkurap di lantai. Matanya celingukan kesana kemari mencari penyebab jatuhnya ke tanah. Saat melihat kaki ranjang tidur nya mencelat ke dinding dan Baratwaja yang sedang berkacak pinggang di depan pintu, dia langsung tahu bahwa itu adalah ulah kawannya ini.
"Heh kawan sialan! Apa maksud mu sebenarnya hah? Kenapa kau sampai hati merobohkan kaki ranjang ku?", omel Besur sembari bangkit dari tempat jatuhnya.
__ADS_1
"Salahmu sendiri, tidur seperti kebo..
Aku sudah teriak-teriak membangunkan mu, tapi kau malah enak-enakan tidur. Tuh Gusti Senopati Naratama ada di tempat Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", ucap Baratwaja yang langsung membuat kaget Besur.
HEEEEEEEHHHHHH...!!
"Pagi buta begini?
Memangnya ada apa Ja?", Besur cepat mengucek matanya untuk membersihkan kotoran mata yang terlihat di ujung matanya.
"Kita disuruh pulang ke Istana Kotaraja Daha. Ada sesuatu yang penting. Cuci muka mu dulu sebelum berkumpul. Cepat!", ucap Baratwaja sembari melangkah keluar dari dalam pondokan Besur. Pria bertubuh bogel itu segera menuju pojokan pondokan dimana sebuah gentong berada. Dia langsung membasuh muka dengan air gentong sebelum menyusul Baratwaja ke serambi kediaman Jaka Umbaran.
Sesampainya di tempat yang dituju, nampak Baratwaja, Gendol, Resi Simharaja dan Senopati Naratama telah berkumpul. Dia orang prajurit pengawal sang senopati juga terlihat berdiri di tangga naik serambi itu. Besur langsung menghormat pada Senopati Naratama sebelum dia duduk di samping kawan-kawannya yang lebih dulu sampai.
Tak berapa lama kemudian, Jaka Umbaran datang bersama dengan Begawan Mpu Narada. Rupanya sehabis mandi, dia langsung mencari sang guru di kediaman nya untuk berpamitan.
"Berhati-hatilah dalam bertindak, Gusti Pangeran..
Sepertinya ini masalah yang cukup pelik. Gusti Pangeran harus bijaksana dalam mengambil tindakan apapun", ucap Begawan Mpu Narada segera.
"Saya akan mendengarkan petunjuk Guru. Kalau begitu, kami mohon pamit. Semoga Hyang Agung memberikan umur panjang hingga saya bisa sowan lagi ke Harinjing", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera menghormat pada sang guru. Begawan Mpu Narada mengangkat tangan kanannya sebagai tanda restu nya.
Setelah berpamitan, rombongan itu segera meninggalkan Pertapaan Harinjing menuju ke arah selatan dimana Kotaraja Daha berada. Debu debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka mencecah jalanan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di Kotaraja Daha. Jaraknya memang tidak jauh dari Pertapaan Harinjing. Rombongan itu segera menuju ke arah Istana Kotaraja Daha yang berada di tengah kota. Para penduduk yang berpapasan dengan mereka, segera menepi dan menghormat tatkala mereka melewati jalan.
Di dalam ruang pribadi raja, Prabu Bameswara bersama Ratu Dyah Chandrakirana sudah menunggu kedatangan mereka. Mapatih Mpu Baprakeswara dan Rakryan Rangga Mapanji Amaraha nampak juga sudah hadir di tempat itu. Jaka Umbaran segera menyembah pada Prabu Bameswara bersama para pengikutnya.
"Sembah bakti hamba Kanjeng Romo Prabu, Kanjeng Biyung Ratu..", ucap Jaka Umbaran segera.
"Bangunlah putra ku.. Sembah bakti mu kami terima", ucap Prabu Bameswara seraya mengangkat tangan kanannya. Ratu Dyah Chandrakirana pun ikut mengangkat tangan kanannya sembari tersenyum manis.
Jaka Umbaran dan yang lainnya segera duduk bersila di lantai ruang pribadi raja.
"Mohon ampun Kanjeng Romo Prabu..
Tadi Paman Senopati Naratama telah sedikit menjelaskan tentang situasi yang sedang di hadapi oleh Istana Kotaraja. Apakah Kanjeng Romo Prabu telah mempunyai cara untuk memecahkan masalah ini?", tanya Jaka Umbaran sembari menghormat.
"Begini putra ku, paman mu Pangeran Mapanji Jayagiri telah datang bersama rombongan besar nya dengan tujuan ingin menagih janji kami beberapa puluh tahun silam yakni menjodohkan mu dengan putri nya Nararya Padmadewi. Ini adalah janji kami agar keturunan nya tetap terhubung dengan Istana Kotaraja Daha. Mereka kemarin baru saja sampai.
Sekarang Romo Prabu tanya bagaimana pendapatmu tentang hal ini?", Prabu Bameswara menatap ke arah Jaka Umbaran.
"Itu adalah janji seorang ksatria dan janji seorang saudara, Kanjeng Romo Prabu. Saya selaku putra Kanjeng Romo Prabu wajib untuk mentaati nya", mendengar jawaban itu, Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana langsung tersenyum lebar.
"Kalau begitu, masalah yang pertama bisa dianggap selesai.
Sedangkan untuk masalah yang kedua, Panjalu sedang dalam masa bahaya. Ini dikarenakan adanya pergerakan orang-orang yang tidak dikenal di sekitar Kotaraja Daha. Aku khawatir jika ini ada hubungannya dengan munculnya beberapa lumbung pangan di dekat perbatasan wilayah kita dengan Jenggala. Sepertinya Istana Kotaraja Kahuripan sedang mempersiapkan sesuatu secara diam-diam dan ini yang Romo Prabu khawatirkan.
__ADS_1
Apakah menurut mu tidak akan berbahaya jika kita menggelar acara pernikahan mu sementara keadaan sedang seperti ini?", mendengar itu, Jaka Umbaran menghela nafas berat.
"Sekarang yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, apakah acara pernikahan ini tidak bisa ditunda Kanjeng Romo Prabu?", tanya Jaka Umbaran segera. Mendengar itu, Prabu Bameswara menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin untuk ditunda, Jayabaya..
Kalau ditunda, ini bisa menimbulkan salah pemahaman dari Dhimas Jayagiri. Lagipula dia juga harus segera kembali ke Kawali usai acara pernikahan ini karena aku dengar Gusti Prabu Langlangbumi sedang tidak sehat", jawab Prabu Bameswara segera.
Semua orang langsung terdiam mendengar ucapan sang raja. Masalah ini benar-benar membuat mereka pusing tujuh keliling.
"Paman Mapatih Mpu Baprakeswara..
Kalau menurut Paman, apa yang harus kita lakukan?", Jaka Umbaran mengalihkan perhatian nya pada sang warangka praja.
"Menurut hamba, sebaiknya pernikahan itu tetap saja dilaksanakan namun tidak disini, Gusti Pangeran.
Istana Kotaraja Daha adalah lambang penguasa Kerajaan Panjalu. Jika sampai istana ini diserang oleh musuh saat kita sedang lengah, maka runtuhlah kerajaan ini. Sekedar saran, sebaiknya kita melaksanakan rencana pernikahan itu di Istana Katang-katang", ucap Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka sembari menghormat pada Sang Pendekar Gunung Lawu.
"Usul Paman Mapatih Mpu Baprakeswara ada benarnya juga..
Jikalau pun mereka berani mencuri kesempatan dalam kesempitan dengan menyusup ke Istana Katang-katang, Istana Kotaraja Daha masih bisa memberikan bantuan. Kita juga bisa menjebak mereka dengan membiarkan mereka memasuki Istana Katang-katang", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum tipis.
"Tapi ini sangat berbahaya, Nakmas Pangeran..
Biyung takut akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan..", sahut Ratu Dyah Chandrakirana segera.
"Kanjeng Biyung Ratu tenang saja..
Kita akan mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Begitu mereka berani bergerak, kita akan menghabisi mereka di Istana Katang-katang", jawab Jaka Umbaran penuh keyakinan.
"Kalau begitu, kita persiapkan jebakan ini sebaik mungkin. Karena ini bersifat rahasia, maka selain orang yang ada di ruangan ini, rencana ini tidak boleh bocor.
Senopati Naratama, atur Pasukan Garuda Panjalu di sekitar Istana Katang-katang. Katakan saja, ini untuk pengamanan acara pernikahan Mapanji Jayabaya dengan Nararya Padmadewi. Rakryan Rangga Mapanji Amaraha, buat pengamanan tersembunyi di sekitar Kotaraja Daha. Siagakan pasukan yang menyamar sebagai rakyat untuk berjaga-jaga.
Sedangkan kau Paman Mapatih Mpu Baprakeswara, siapkan acara pernikahan yang meriah di Istana Kotaraja Daha. Apa semuanya sudah mengerti?", titah Sang Maharaja Panjalu itu seketika. Semua orang yang ada di ruang pribadi raja langsung menyembah pada Prabu Bameswara.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu.."
Hari itu juga, persiapan untuk acara pernikahan Putra Mahkota Mapanji Jayabaya segera ditata sedemikian rupa. Kotaraja Daha kembali dihias sedemikian rupa sehingga nampak meriah. Seluruh kota nampak sibuk dengan persiapan acara besar ini.
Dua orang lelaki bertubuh gempal diam-diam berjalan menuju ke arah pintu gerbang kota. Kerepotan para prajurit yang sibuk menghias setiap sudut kota dengan penjor dan aneka hiasan janur kuning, membuat pergerakan mereka luput dari perhatian para penjaga gerbang kota. Namun sepasang mata terus memperhatikan segala gerak-gerik mereka.
Di luar tembok kota, tepatnya di sebuah hutan bambu yang terletak selatan kota, beberapa orang berpakaian serba hitam nampak sedang duduk di sebelah pondokan sederhana. Beberapa orang nampak asyik menenggak twak dan arak, sedangkan yang lain nampak sibuk berjaga-jaga. Dua orang bertubuh gempal yang baru saja keluar dari dalam kota langsung menuju ke arah pondokan sederhana ini. Kedatangan mereka hanya disambut dengan lirikan mata dari orang-orang berbaju hitam ini. Sepertinya mereka telah saling mengenal satu sama lain.
Dua lelaki bertubuh gempal itu segera masuk ke dalam pondokan. Namun tak berapa lama kemudian mereka telah keluar dari dalam pondokan itu bersama seorang lelaki paruh baya berjambang lebat dan kumis tebal namun kepalanya plontos tanpa rambut. Munculnya lelaki paruh baya itu sontak membuat semua orang yang ada di tempat itu segera mendekat ke arah pondokan.
"Kawan seperjuangan semuanya, saat yang kita tunggu sudah dekat! Persiapkan diri kalian sebaik mungkin karena sebentar lagi,
__ADS_1
Kita akan menyerang Istana Katang-katang.."