
Dua punggawa Istana Siluman Alas Roban itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan mereka mendengar jawaban Prabu Simharaja. Ini adalah hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua.
"D-dia Awatara Wisnu, Kanjeng Romo Prabu?", ulang Pangeran Simhamurti segera. Pangeran kerajaan siluman Alas Roban ini masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Huh, apa kau pikir aku sedang main-main Simhamurti?!
Senjata Cakra Bhaswara yang keluar dari dalam tubuh nya adalah salah satu penanda bahwa ia adalah titisan Dewa Wisnu selanjutnya. Dulu saat Prabu Airlangga membuat perjanjian dengan ku, dia juga menunjukkan wujudnya seperti itu. Lalu saat aku melihat Prabu Jayengrana dari Panjalu, memunculkan Butha Aghni sebagai tanda kemarahannya, maka aku juga langsung tahu bahwa dia juga salah satu dari sekian banyak awatara Dewa Wisnu.
Oh Jagad Dewa Batara, rupanya dia kembali menitis ke Arcapada lagi di dalam tubuh pemuda itu. Kali ini, kita tidak boleh membiarkan nya seorang diri berupaya menentramkan Tanah Jawadwipa. Kita harus membantu nya", ucap Prabu Simharaja sembari terus menatap ke arah perginya rombongan Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya.
"Simhamurti, sebagai putra ku, aku akan memberikan tugas untuk mu. Mulai sekarang kau yang akan menjadi raja istana siluman Alas Roban. Aku akan menjadi bayang-bayang nya dan mengikuti kemana pun ia pergi.
Saat dia membutuhkan bantuan, bala tentara siluman Alas Roban akan ku panggil dengan mengetuk tanah tiga kali", imbuh Prabu Simharaja sembari menoleh ke arah Pangeran Simhamurti.
"Perintah dari Romo Prabu akan menjadi jimat yang ada di dalam tubuh ku. Kapan pun Romo Prabu membutuhkan bantuan dari kami, maka para tentara siluman Alas Roban akan datang membantu", ujar Pangeran Simhamurti sembari menghormat pada Prabu Simharaja yang segera melepaskan mahkota Kerajaan Siluman Alas Roban di kepalanya.
Pangeran Simhamurti yang sekarang menjadi raja siluman Alas Roban, segera melepaskan mahkota pangeran nya dan berganti dengan mahkota milik Prabu Simharaja. Kini ia telah menjadi penguasa Alas Roban dengan sebutan Prabu Simhamurti. Seluruh siluman yang ada di tempat itu langsung menyembah pada nya.
Sedangkan Prabu Simharaja sekarang merubah penampilan nya menjadi seorang pertapa dengan nama Resi Simharaja. Segera setelah melepaskan tahtanya, Resi Simharaja berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar dan bergegas berlari kencang menyusul ke arah perginya Jaka Umbaran.
Menuruni jalan setapak yang membelah hutan lebat ini, rombongan murid Perguruan Bukit Katong yang tersisa 11 orang terus memacu kuda mereka masing-masing.
Dari ekor matanya, Jaka Umbaran samar-samar melihat sosok harimau putih besar turut serta meninggalkan Alas Roban, mengikuti langkah rombongan nya di balik rimbun pepohonan yang tumbuh subur di tempat itu.
'Cihh, harimau tua.. Rupanya kau ingin ikut serta dalam rombongan ini. Terserah pada mu, tapi jika kau macam-macam, aku tidak segan untuk mencabut kumis mu itu', batin Jaka Umbaran sembari menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya.
Selepas keluar dari Alas Roban, rombongan murid Perguruan Bukit Katong terus memacu kuda mereka ke arah Pakuwon Banyuputih yang ada di sebelah barat. Menjelang senja, mereka telah meninggalkan Pakuwon Banyuputih dan sampai di sebuah hutan yang ada di tepi sungai kecil yang bernama Kali Tulis yang menjadi tapal batas wilayah Kadipaten Kembang Kuning dan Kadipaten Kalingga.
"Sebaiknya kita segera mencari tempat bermalam di sini, Adhi Sadewa..
Lihatlah, langit barat telah memerah dan sebentar lagi senja akan segera tiba", ujar Jaka Umbaran sembari menunjuk ke arah barat.
"Kamu benar, Kakang Umbaran..
__ADS_1
Sebaiknya kita memang harus segera beristirahat untuk memulihkan kembali tenaga kita", balas Sadewa sambil menarik tali kekang kudanya hingga tunggangan nya itu meringkik keras sebelum berhenti.
Di tepi Kali Tulis, mereka segera mempersiapkan diri untuk bermalam. Beberapa orang terlihat mengumpulkan ranting-ranting kering dan pelepah daun kelapa kering yang banyak berserakan di sekitar tempat itu. Surtikanti, Niluh Wuni dan Sekar Kantil mempersiapkan makan malam dari bahan makanan seadanya, sedangkan yang lain terlihat mengikat tali kekang kudanya di semak belukar untuk mengamankan tunggangan nya sembari memberi makan kepada kuda.
Gendol menarik kudanya ke pinggiran Kali Tulis yang berbatu. Dia berniat untuk memandikan kuda nya sambil membersihkan tubuhnya yang kotor setelah seharian berkuda.
"Aman yo Le..
Kamu tak mandikan, habis ini makan rumput. Besok pagi kita jalan lagi. Jangan rewel loh", ujar Gendol sambil menyiramkan air sungai yang dingin ke arah tubuh kuda tunggangannya. Segenggam rumput yang dia cabut dari tepi sungai dijadikan sebagai alat pembersih tubuh kuda berwarna coklat tua itu.
Tiba-tiba saja...
Hiiieeeeeeeeeeekkkhhhhh!!
Kuda tunggangan Gendol langsung mundur sembari meringkik ketakutan. Gendol yang tak sempat lagi menghindar, tersenggol kuda tunggangan nya dan jatuh tengkurap di lumpur di belakangnya.
"Aduh kampret..
Kenapa kau tiba-tiba mundur begitu Le? Lihat ini, baju ku jadi kotor semuanya..", omel Gendol sembari membersihkan lumpur yang masih menempel di wajah nya. Saat melihat kudanya mundur ketakutan dan meringkik keras berulang kali, Gendol langsung mengusap badan kuda tunggangan nya itu.
Mata Gendol langsung melotot lebar saat melihat seekor harimau putih besar sedang asyik menjilati air sungai hanya 20 depa dari tempat nya berada. Seketika itu juga, tanpa peduli dengan wajah nya yang penuh lumpur, Gendol langsung kabur dari pinggir Kali Tulis saking takutnya.
"Kyaaaaaaaaaaaa....!!!
Ada macan besar di pinggir kali!!!!"
Teriakan keras dari Gendol langsung membuat semua orang yang sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk bermalam bangkit dari tempat nya dan mencabut senjata mereka masing-masing. Mereka pun bergegas menuju ke arah suara Gendol yang ketakutan setengah mati.
"Ndol, mana macan nya? Akan ku kuliti dia untuk pajangan di rumah ku", ujar Locana si Pedang Bayangan sembari menatap ke arah Gendol yang pucat ketakutan.
"I-itu disana Pendekar Pedang Bayangan..
Hiiiiiiiii, seram...!!!", Gendol bergidik ngeri sembari menunjuk ke arah dimana harimau putih besar itu berada. Pandangan mata semua orang langsung tertuju pada arah yang ditunjuk oleh Gendol, dan benar saja, seekor harimau putih besar sedang asyik menjilati air sungai untuk minum. Kucing besar itu seolah tak peduli dengan pandangan mata semua orang yang tertuju padanya.
__ADS_1
Para murid Perguruan Bukit Katong pun langsung melesat cepat kearah tempat harimau putih besar itu berada. Mereka pun dengan cepat mengepung harimau putih itu dengan senjata terhunus siap untuk memotong hewan buas itu.
Jaka Umbaran yang baru saja pulang dari berburu di dalam hutan, langsung melemparkan menjangan berukuran sedang yang berhasil dia temukan ke dekat tempat perapian dimana Niluh Wuni dan Sekar Kantil berada. Melihat sepi nya tempat itu, ia segera bertanya kepada Niluh Wuni.
"Wuni, dimana semua orang? Kenapa mereka tidak terlihat di sekitar tempat ini?", mendengar pertanyaan itu, Niluh Wuni segera menjawabnya.
"Mereka sedang mengepung seekor macan putih besar yang muncul tiba-tiba di samping tempat Gendol memandikan kuda, Kakang Umbaran ", jawab Niluh Wuni sembari menunjuk ke arah para murid Perguruan Bukit Katong berada.
Hemmmmmmm..
"Harimau putih besar? Sepertinya aku tidak asing dengan hal itu. Tunggu... Jangan-jangan.....
Celaka sungguh celaka..!!!", Jaka Umbaran langsung melesat cepat kearah yang dimaksud oleh Niluh Wuni. Tak paham dengan kekhawatiran Jaka Umbaran, Niluh Wuni segera ikut melesat mengejar ke arah perginya Jaka Umbaran.
Hanya dalam waktu dua tarikan nafas saja, Jaka Umbaran telah sampai di pinggiran Kali Tulis dimana para murid Perguruan Bukit Katong yang dipimpin oleh Locana telah mengepung harimau putih besar itu. Meskipun sedikit ngeri melihat harimau putih besar itu memamerkan gigi taringnya yang panjang, namun mereka tetap tak memberi ruang bagi hewan buas itu untuk bergerak.
"Semuanya tahan! Jangan ada melukai harimau putih itu!", teriakan keras dari mulut Jaka Umbaran membuat semua orang menoleh ke arah nya. Kesemuanya langsung mundur beberapa langkah ke belakang Jaka Umbaran meskipun tidak mengendurkan kewaspadaan mereka.
"Harimau tua, aku tahu kau mengikuti ku dari Alas Roban tadi. Sekarang katakan jelas apa mau mu sebenarnya?", tanya Jaka Umbaran segera. Meskipun semuanya terlihat keheranan melihat Jaka Umbaran bicara dengan seekor hewan, namun mereka tetap diam saja.
Aaauuummmm...
Haauuummmmmmmm!!!
Harimau putih besar itu terdengar mengaum beberapa kali di telinga para murid Perguruan Bukit Katong meskipun sebenarnya dia tengah bicara dengan Jaka Umbaran.
"Aku ingin mengikuti mu, wahai sang titisan Dewa Wisnu. Mohon kau mengijinkan ku, Resi Simharaja, untuk mengikuti kemanapun kau pergi", jawab harimau putih besar penjelmaan dari Resi Simharaja, bekas penguasa Kerajaan Siluman Alas Roban ini.
"Tapi penampilan mu ini terlalu mencolok perhatian, Resi Simharaja. Sebaiknya kau merubah penampilan mu agar mempermudah langkah ku", ujar Jaka Umbaran yang sama sekali tidak keberatan dengan permintaan dari harimau putih besar itu.
"Aku mengerti, sang Awatara Wisnu", setelah berkata demikian, harimau putih besar itu merunduk lalu tubuhnya pun berubah wujud menjadi seorang lelaki paruh baya dengan pakaian serba putih dan sorot mata yang tajam.
Jaka Umbaran tersenyum lebar melihat perubahan wujud ini. Dia segera menoleh ke arah para murid Perguruan Bukit Katong, sambil berkata lantang,
__ADS_1
"Para murid Perguruan Bukit Katong,
Kita mendapatkan pengikut baru.."