JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Ajian Pancasona


__ADS_3

Selepas berkata demikian, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya melesat cepat keluar dari dalam Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha. Di temani oleh Resi Simharaja, sang pangeran muda yang menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin bergerak secepat kilat menuju ke arah timur. Ini karena penciuman tajam Resi Simharaja membaui keberadaan sosok Prabu Bameswara berada disana.


Ratu Dyah Chandrakirana langsung menoleh ke arah Mapatih Mpu Baprakeswara. Lelaki tua itu segera mengangguk mengerti.


"Kepada semua perwira prajurit Panjalu. Segera menyebar ke sekeliling Kotaraja. Siapa yang menemukan keberadaan Gusti Prabu Bameswara maupun Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya, segera lapor. Berangkat sekarang!"


"Sendiko dawuh Gusti Mapatih!", jawab kompak seluruh punggawa Istana Kotaraja Daha segera. Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera meninggalkan tempat itu.


Besur dan Baratwaja pun segera mengikuti langkah Gendol. Tak suka diikuti, Gendol langsung menghardik mereka berdua.


"Mau apa kalian mengikuti ku ha? Bukankah tugas Gusti Mapatih Mpu Baprakeswara sudah jelas untuk menyebar di sekeliling Kotaraja?", tanya Gendol yang sudah melepaskan tali kekang kudanya diluar tembok istana.


"Hehehehe, aku yakin saudara Gendol pasti sudah tahu kemana arah perginya Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Daripada capek-capek mencari kesana kemari tanpa tujuan jelas, ya lebih baik kami ikut Saudara Gendol yang sudah pasti ketemu lagi dengan Gusti Pangeran. Ya kan Ja?", Besur menoleh ke arah Baratwaja seolah mencari dukungan.


"Buntelan nasi ini tidak salah Saudara Gendol. Lebih kita mencari sama-sama, itu lebih cepat karena melibatkan banyak orang", timpal Baratwaja segera. Besur yang kesal di panggil dengan sebutan buntelan nasi ini langsung melotot ke arah kawan nya itu.


"Eh setan alas, siapa yang kau panggil buntelan nasi ha?! Aku bukan buntelan nasi ya, enak saja..", omel Besur namun justru itu terlihat seperti sedang melawak. Wajahnya memang lebih pantas menjadi seorang dagelan daripada seorang pejabat negara.


"Lantas kalau bukan buntelan nasi, lalu apa?", Baratwaja pun tersenyum penuh arti.


"Karung beras. Puas kau sekarang mengejek ku? Kawan macam apa kau ini?......", omelan panjang kali lebar langsung terlontar dari mulut Besur.


Selagi kedua nya masih saling berdebat tak tentu arah, Gendol diam-diam naik ke atas kuda nya dan perlahan meninggalkan Besur dan Baratwaja yang masih adu mulut. Keduanya sadar bahwa Gendol sudah tidak ada di tempat itu saat Gendol sudah cukup jauh dari mereka.


"Eh saudara Gendol, tunggu kami..!!!"


Besur buru-buru melepaskan tali kekang kudanya dan melompat ke atas kuda tunggangannya. Pun juga demikian dengan Baratwaja. Kedua perwira menengah itu langsung memacu kuda mereka masing-masing sekencang-kencangnya untuk menyusul Gendol yang sudah lebih dulu menuju ke arah timur.


*****


Zzzzzrrrrrrrrrrttttthhhhh..!!!


Munculnya Prabu Bameswara di tapal batas timur Kotaraja Daha bagaikan hembusan angin yang berhembus perlahan. Maharesi Wiramabajra dan muridnya Wara Andhira terkesiap juga melihat kedatangan sang penguasa Kerajaan Panjalu ini.


Selepas sampai di pintu gerbang selatan Kotaraja Daha yang ramai, mereka berdua memang sengaja memilih untuk menantang Prabu Bameswara di tapal batas timur Kotaraja yang memang berbatasan dengan hutan kecil. Daerah timur itu memang cukup sepi bila dibandingkan dengan gerbang selatan Kotaraja Daha yang memang merupakan jalan raya menuju ke arah Kabupaten Gelang-gelang.


"Kau yang bernama Panji Tejo Laksono?", Maharesi Wiramabajra menajamkan penglihatannya ke arah pria paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan mengenakan sebuah mahkota berhias permata itu segera.


"Iya, aku Panji Tejo Laksono..

__ADS_1


Siapa kau kakek tua? Kenapa kau membuat keributan di Kotaraja Daha?", ucap Panji Tejo Laksono alias Prabu Bameswara dengan nada suara yang tenang namun sangat berwibawa.


"Mungkin kau tidak mengenal ku, Panji Tejo Laksono. Tapi kau memiliki hutang darah kakak seperguruan ku dan juga putra nya.


Hari ini, aku akan menagih hutang darah itu, Raja Panjalu!", ucap Maharesi Wiramabajra seraya memutar tongkat kayu berukir kepala gajah layaknya Arca Dewa Ganesha.


"Tunggu dulu, kakek tua..


Melihat dandanan mu, kau adalah seorang pertapa. Selama ini aku tidak pernah berurusan dengan pertapa, apalagi sampai membunuhnya. Jelaskan padaku, siapa yang telah aku ciderai?", ucap Prabu Bameswara sembari melangkah mundur selangkah ke belakang.


"Huhhhhh, kau memang tidak membunuh seorang pertapa tapi kau telah melukai kakak seperguruan ku Prabu Menak Luhur hingga menyebabkan kematian nya dan putranya Pangeran Ganeshabrata.


Kau sudah tidak bisa berkilah lagi, Panji Tejo Laksono", ucap Maharesi Wiramabajra seraya menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada tongkat kayu yang seperti bukan tongkat kayu biasa. Perlahan cahaya kuning kebiruan menyelimuti seluruh tongkat kayu berwarna hitam itu.


"Prabu Menak Luhur berusaha menyerbu masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu, sebagai putra Prabu Jayengrana, aku tentu saja tidak akan tinggal diam. Sedangkan Pangeran Ganeshabrata membentuk persekongkolan jahat yang bernama Kelompok Bulan Sabit Darah yang tujuannya adalah untuk mengacaukan ketentraman Kerajaan Panjalu. Sudah sewajarnya saja jika dia harus mati karena berani mengusik Kerajaan Panjalu..", ucap Prabu Bameswara tetap dengan nada suara tenang, namun tangannya yang ada belakang punggungnya perlahan mulai memancarkan cahaya merah menyala seperti api yang berhawa panas menyengat.


"Banyak bicara! Serahkan nyawa mu Panji Tejo Laksono, agar kakak seperguruan ku dan putra nya tenang di alam baka.


Matilah kau, keparat!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"


Whhhhuuuuuummmm!!!


Prabu Bameswara segera melompat mundur sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala berhawa panas ke arah cahaya kuning kebiruan dari tongkat Maharesi Wiramabajra. Cahaya merah menyala langsung menerabas cepat kearah laju pergerakan serangan lawan.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua ilmu kanuragan tingkat tinggi ini beradu. Maharesi Wiramabajra segera melompat tinggi ke udara menghindari gelombang kejut besar yang tercipta dari benturan dua kekuatan besar ini. Di saat yang sama, Prabu Bameswara juga melakukan hal yang sama hingga keduanya langsung beradu ilmu silat tangan kosong di udara sambil meluncur turun.


Sedangkan Wara Andhira si murid kesayangan Maharesi Wiramabajra langsung menjauh sejauh mungkin dari tempat pertarungan antara Maharaja Panjalu Prabu Bameswara dengan Maharesi Wiramabajra. Dia tahu, kekuatan kedua orang ini tidak bisa di anggap enteng. Sekali tidak waspada, hilang nyawa bila memaksa untuk melihat pertarungan sengit itu.


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk


Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh..


Blllaaammmmmmmm..!!!!


Ledakan dahsyat kembali mengguncang daerah tepi hutan kecil itu. Sebuah pohon randu alas besar roboh dan terbakar hingga menyebabkan burung burung dan hewan penghuni hutan kecil itu berhamburan menjauh dari tempat itu.

__ADS_1


Prabu Bameswara melompat mundur sejauh hampir 10 tombak jauhnya ke belakang selepas lolos dari sergapan mematikan Maharesi Wiramabajra dengan Ajian Tapak Pembelah Angin miliknya. Sang Maharaja Panjalu itu segera merapal mantra Ajian Mundri Sasongko Jati. Cahaya menyilaukan mata terpancar jelas di kedua telapak tangannya hingga saat Maharesi Wiramabajra datang dengan Ajian Tapak Pembelah Angin nya, sang penguasa Kerajaan Panjalu itu segera menyambut nya dengan tapak tangan kanan yang tiba-tiba membesar hingga ratusan kali dari ukuran biasa.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!!"


Umpatan keras terdengar dari mulut Maharesi Wiramabajra yang kaget melihat munculnya telapak tangan raksasa yang tiba-tiba muncul di hadapan nya. Ajian Tapak Pembelah Angin sama sekali berpengaruh apa-apa pada telapak tangan raksasa itu bahkan benda itu mampu menjatuhkan Maharesi Wiramabajra hingga ke tanah dan menimpa nya.


Aaaarrrgggggghhhhh...!!!


Bhhhuuuuuummmmmmmmmm!!!


Tubuh Maharesi Wiramabajra langsung hancur tertimpa tangan raksasa Ajian Mundri Sasongko Jati yang memang memiliki bobot hingga segunung beratnya. Prabu Bameswara segera menghela nafas panjang sembari menarik kembali ilmu kesaktiannya.


Namun satu keanehan terjadi pada tubuh Maharesi Wiramabajra. Tubuhnya yang hancur nyaris tak berbentuk lagi ini perlahan bergerak dan berkumpul lagi menjadi satu kesatuan. Prabu Bameswara yang melihat itu semua, cukup kaget pula melihatnya.


'Ilmu kanuragan apa ini? Tidak seperti Ajian Rawa Rontek yang pernah aku hadapi, tapi sepertinya itu mampu menghidupkan kembali orang tua itu.


Hemmmmmmm...


Aku tidak boleh lengah melawannya!', batin Prabu Bameswara sembari terus menatap ke arah potongan-potongan tubuh Maharesi Wiramabajra yang perlahan berkumpul kembali. Satu cahaya kemerahan melingkupi seluruh tubuh Maharesi Wiramabajra dan mata yang tertutup itu kembali terbuka lebar. Dia tersenyum lebar sembari menatap ke arah Prabu Bameswara.


"Jangan kau pikir bisa membunuh ku semudah itu, Panji Tejo Laksono. Sesakti apa kau, tetap tidak akan mampu mengalahkan Ajian Pancasona milik ku hahahaha..", ucap Maharesi Wiramabajra lantang.


Ajian Pancasona adalah ajian pamungkas tingkat tinggi yang mampu membuat seseorang tidak dapat mati meskipun tubuhnya dihancurkan sekalipun. Konon, ini adalah ilmu suci pemberian para Dewa yang awalnya diturunkan kepada Resi Subali dalam kisah Ramayana. Ajian ini nyaris tidak memiliki kelemahan. Dia hanya bisa dikalahkan jika pemilik ajian ini rela akan kematian yang akan menjemputnya. Kecuali para Dewa sendiri yang mengambil ilmu itu dari jasad sang pemilik, pemilik Ajian Pancasona tidak bisa mati dengan cara apapun.


Prabu Bameswara mendengus dingin sembari berpikir keras bagaimana cara mengalahkan Maharesi Wiramabajra. Pada saat itu, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya datang bersama dengan Resi Simharaja. Jaka Umbaran segera mendekati sang ayah yang nampak sedang berpikir keras.


"Kanjeng Romo Prabu, bagaimana situasinya sekarang? Kanjeng Romo Prabu baik-baik saja bukan?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Aku baik-baik saja, putra ku. Tapi resi tua itu memiliki ajian pamungkas Aji Pancasona yang membuat nya tak bisa mati meskipun sudah terkena Ajian Mundri Sasongko Jati dari ku.


Aku masih belum bisa menemukan cara untuk mengalahkan nya", ucap Prabu Bameswara sembari menatap tajam ke Maharesi Wiramabajra.


Saat itulah, Resi Simharaja yang banyak diam segera menyembah pada Prabu Bameswara.


"Mohon ampun Gusti Prabu. Ajian Pancasona adalah ajian suci pemberian para Dewa. Ia tidak akan bisa hilang jika bukan dewa sendiri yang mengambilnya.


Hanya Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya saja yang bisa mengalahkan nya", ucap Resi Simharaja segera.


Mapanji Jayabaya dan Prabu Bameswara segera menoleh ke arah Resi Simharaja sambil kompak bertanya,

__ADS_1


"Bagaimana cara nya..??"


__ADS_2