JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Empat Istri Sang Pangeran Mahkota


__ADS_3

"Apa yang lebih penting dari kesembuhan mu Kanjeng Romo Prabu?


Jangan mempersulit diri sendiri. Rakyat Panjalu masih membutuhkan bimbingan dan pengayoman dari Kanjeng Romo Prabu", Jaka Umbaran menatap heran pada Prabu Bameswara yang sedang terbaring lemah di atas pembaringan.


"Panjalu membutuhkan seorang pemimpin yang mampu melindungi mereka saat ada bahaya besar yang mengancam, putra ku ..


Aku sudah mendengar bahwa ada pergerakan para prajurit Jenggala menuju ke arah Kotaraja Daha ini uhukkk uhukkk uhukkk... Aku aku uhukkk uhukkk menugaskan mu untuk memimpin pasukan kita menumpas mereka. Setelah kau bisa melaksanakannya, aku akan menggunakan Air Prawitasari ini untuk kesembuhan ku", ujar Prabu Bameswara sembari menatap wajah tampan Jaka Umbaran.


"Tapi Kanjeng Romo Prabu, waktu yang tersisa untuk kau menggunakan Air Prawitasari ini tinggal 2 pekan lagi", sambung Jaka Umbaran segera.


"Maka dalam waktu dua pekan ini kau harus bisa mengalahkan mereka", Prabu Bameswara keukeuh dengan permintaannya.


"Tapi.."


"Nakmas Pangeran, ikuti saja apa kemauan ayah mu. Sekali dia memutuskan, maka percuma saja kau ingin menyanggahnya.


Sekarang, pulanglah dulu ke Istana Katang-katang. Temui para istri mu agar mereka bahagia dengan kehadiran mu. Kau baru saja pulang dari perjalanan jauh, jadi harus beristirahat barang sejenak", Ratu Dyah Chandrakirana tersenyum tipis setelah berbicara.


Tak ingin berbantah dengan sang penguasa Kerajaan Panjalu, Jaka Umbaran menghela nafas berat sebelum menghormat pada kedua orang tuanya. Lalu dia melangkah keluar dari dalam ruang pribadi raja. Indrawati pun segera mengikuti langkah sang suami yang hendak pulang ke Istana Katang-katang.


Setelah Jaka Umbaran pergi, Ratu Dyah Chandrakirana langsung menoleh ke arah Prabu Bameswara.


"Kangmas Prabu, kenapa kau sepertinya mempersulit putra kita?


Dia jauh-jauh dari Blambangan untuk mendapatkan penyembuh dari kutuk pasu yang ada di dalam tubuh mu", ucap Ratu Dyah Chandrakirana lembut.


"Aku tahu waktu ku sudah tidak banyak lagi, Dinda Kirana...


Maka aku harus secepatnya memastikan bahwa putra kita akan mampu memikul tanggung jawab besar sebagai Raja Panjalu selanjutnya. Ini bukan untukku sendiri akan tetapi untuk masa depan Kerajaan Panjalu setelah kepergian ku nanti", terhenyak Ratu Dyah Chandrakirana mendengar jawaban sang suami.


"Waktu Kangmas Prabu Bameswara tidak banyak? Apa maksud nya?", segera Ratu Dyah Chandrakirana bertanya.


"Dua hari yang lalu, aku mendapat wangsit dari Kahyangan Suralaya bahwa waktu ku hampir tiba.


Dalam petunjuk itu, Kanjeng Romo Prabu Jayengrana sendiri yang datang dan mengatakan nya kepada ku. Maka dari itu, aku tidak akan pernah menggunakan Air Prawitasari ini untuk menghindari garis takdir Dewata, Dinda Ratu. Aku tidak akan keberatan untuk bersatu kembali dengan Sanghyang Tunggal karena ini adalah garis takdir yang telah ditetapkan", ujar Prabu Bameswara sembari tersenyum tipis.


"Oh Kangmas Prabu.... Huhuhuhuhuhu...", tangis Ratu Dyah Chandrakirana langsung pecah mendengar penuturan sang suami. Tangisan Ratu Dyah Chandrakirana sontak membuat para putri dan putra Prabu Bameswara beserta para selir raja Panjalu masuk ke dalam kamar tidur sang raja.


*****


Sementara ruang pribadi raja sedang heboh karena tangisan Ratu Dyah Chandrakirana, Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya telah meninggalkan Istana Kotaraja Daha. Ditemani oleh Indrawati dan para pengikut setia nya seperti Baratwaja, Gendol, Wara Andhira dan Besur serta seekor harimau putih besar, Jaka Umbaran bergegas menuju ke arah Istana Katang-katang.


Kedatangan Jaka Umbaran segera disambut hangat oleh Nararya Padmadewi, Dyah Pandan Wangi dan Dewi Rengganis. Ketiga orang perempuan cantik itu segera bergantian memeluk tubuh suami mereka.

__ADS_1


"Selamat datang di Istana Katang-katang, Kangmas Pangeran", ucap Dewi Rengganis mewakili Nararya Padmadewi dan Dyah Pandan Wangi.


"Terimakasih atas penyambutan kalian bertiga. Senang sekali rasanya bisa berkumpul dengan kalian disini", Jaka Umbaran tersenyum penuh arti.


"Kami juga Kangmas Pangeran..


Oh iya, ada sebuah berita gembira untuk Kangmas Pangeran. Sekarang coba Kangmas Pangeran lihat Kangmbok Padmadewi", sahut Dyah Pandan Wangi sembari menunjuk ke arah perut perempuan cantik asal Kerajaan Galuh Pakuan itu.


Jaka Umbaran segera memperhatikan kondisi tubuh Nararya Padmadewi. Tak banyak perubahan yang terjadi pada diri perempuan cantik putri Pangeran Rakeyan Jayagiri ini. Hanya terlihat sedikit montok dengan perut sedikit buncit saja.


"Yayi Padmadewi terlihat sedikit lebih berisi saja, memangnya kenapa Yayi Pandan Wangi?", tanya Jaka Umbaran segera. Belum sempat Dyah Pandan Wangi bicara, Indrawati yang sedari tadi hanya diam saja langsung memotong pembicaraannya.


"Kangmas Pangeran ini...


Urusan adu jotos paling jago tapi kalau urusan perempuan kenapa tidak pernah paham? Kangmbok Padmadewi sedang hamil muda Kangmas", tutur Indrawati sembari tersenyum penuh arti.


HAAHHHHHHHHHH??!!


"Benarkah apa yang diucapkan Yayi Indrawati, Yayi Padmadewi?", Jaka Umbaran masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku sudah tidak datang bulan selama 3 purnama Kangmas Pangeran", ucap Nararya Padmadewi sembari memerah wajahnya.


Hahahaha...


Sementara Jaka Umbaran masih menciumi pipi Nararya Padmadewi, ketiga orang istrinya yang lain saling berbisik. Sepertinya sebuah kesepakatan telah di dapatkan setelah ketiganya mengangguk setuju.


"Kangmas Pangeran, Kangmbok Padmadewi sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Aku juga ingin seperti dia Kangmas".


Ucapan Dewi Rengganis ini langsung menghentikan ciuman Jaka Umbaran. Saat dia hendak bicara, Dewi Rengganis telah lebih dulu memotongnya.


"Eit eit eit, jatah malam untuk Kangmbok Padmadewi untuk sementara di hapuskan. Jadi malam ini, Kangmas Pangeran harus bermalam dengan ku", wajah cantik Dewi Rengganis memerah seperti tomat matang saat berbicara demikian.


"Haishh baiklah..


Aku juga tidak mau menjadi suami yang tidak adil pada istri-istrinya. Malam ini, aku akan menemanimu Yayi Rengganis", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum simpul. Mendengar jawaban itu, tak hanya Dewi Rengganis saja yang tersenyum lebar tetapi juga Indrawati dan Dyah Pandan Wangi.


Sembari menunggu waktu, mereka terus berbincang hangat sembari tertawa kecil. Keluarga besar itu nampak bahagia dengan kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya.


Setelah matahari terbenam di langit barat dengan meninggalkan seberkas cahaya jingga di angkasa, suasana malam hari di Istana Katang-katang menjadi sepi. Lampu sentir dari minyak jarak mulai terlihat menyala di setiap sudut istana. Para penjaga istana pun segera berganti sebagaimana giliran yang telah di berikan.


Jaka Umbaran yang terlihat tampan dengan pakaian mewah selayaknya seorang bangsawan, melangkah menuju ke arah kamar tidur Dewi Rengganis yang ada di paling ujung lorong tempat tinggal para istrinya.


Begitu sampai di depan pintu kamar, dua orang dayang istana yang duduk di dekat pintu langsung menyembah pada sang calon raja Panjalu itu. Jaka Umbaran segera memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk segera meninggalkan tempat itu. Dua orang dayang istana ini tersenyum penuh arti dan segera meninggalkan tempat mereka.

__ADS_1


Thhookkkk thhookkkk thhookkkk!!


Terdengar suara ketukan sedikit keras di pintu kamar tidur Dewi Rengganis. Dari dalam terdengar suara.


"Siapa?", ucap suara lembut seorang wanita dari dalam kamar tidur itu. Jaka Umbaran mengenalinya sebagai suara Dewi Rengganis.


"Aku Yayi Rengganis. Suami mu..", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum simpul.


"Masuk saja Kangmas Pangeran. Tidak dikunci", mendengar jawaban itu, Jaka Umbaran segera menekan daun pintu kamar tidur.


Krriiieeeeeettttthhhh!!!


Pintu kamar tidur terbuka lebar dan Jaka Umbaran segera melangkah masuk. Setelah itu ia segera menutupnya kembali. Lalu melangkah menuju ke arah ranjang tidur dimana Dewi Rengganis yang nampak cantik dengan pakaian berwarna biru muda duduk di sisi ranjang. Jaka Umbaran segera duduk di samping Dewi Rengganis yang tertunduk sambil tersenyum penuh arti.


"Bisa langsung kita mulai sekarang, Yayi Rengganis?", ucap Jaka Umbaran sembari mencium lembut pipi kiri sang istri. Belum juga Dewi Rengganis menjawab, tiba-tiba..


"Kami juga mau ikut..."


Jaka Umbaran kaget bukan main melihat Dyah Pandan Wangi dan Indrawati berjalan mendekati mereka berdua.


Rupanya dua orang perempuan cantik itu bersembunyi di sudut ruangan kamar tidur Dewi Rengganis yang tertutup oleh tabir kain hitam. Sepertinya inilah rencana yang mereka susun tadi siang.


"Kalian kok bisa ada disini?", Jaka Umbaran segera menggaruk kepalanya yang terasa gatal tiba-tiba.


"Kangmas Pangeran tidak usah kaku begitu. Kata Indrawati, di Negeri Champa biasa seorang suami tidur bersama dengan beberapa orang istri nya sekaligus.


Indrawati, keluarkan anggur nya", ucap Dyah Pandan Wangi sembari tersenyum penuh arti. Indrawati pun segera mendekati sang suami sembari menyodorkan sebuah cawan yang telah berisi cairan berwarna sedikit merah gelap dan berbau harum menyengat.


"Minum saja Kangmas Pangeran. Ini akan membuat mu perkasa di atas ranjang hihihi", ucap Indrawati segera. Jaka Umbaran geleng-geleng kepala melihat ulah ketiga orang istri nya ini, namun juga tidak menolak saat Indrawati memberikan minuman keras itu.


Habis 3 cawan, tubuh Jaka Umbaran terasa panas. Dia terbiasa minum twak dan sidhdhu, tapi minuman keras yang diberikan oleh Indrawati jauh lebih kuat dari kedua minuman keras yang biasa dia minum. Segera dia melepaskan pakaian nya dan langsung menerkam Dewi Rengganis yang senyum-senyum saja di atas pembaringan.


Pergulatan panas antara keduanya pun segera terjadi. ******* dan lenguhan panjang penuh kenikmatan terus terdengar dari mulut kedua insan manusia yang sedang menggapai puncak kenikmatan ini. Indrawati dan Dyah Pandan Wangi pun turut mencicipi kerasnya minuman yang di minum oleh suami mereka. Dan setelah cukup lama Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis bercinta, ..


Uuuuuuggggghhhhhhh!!!


Jaka Umbaran terlihat bersimbah keringat saat sesuatu terlepas dari tubuhnya. Sesaat dia merebahkan tubuhnya di atas Dewi Rengganis yang tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Perempuan cantik itu nampak tersenyum puas setelah bergumul dengan penuh cinta bersama sang suami.


Setelah menuntaskan kewajiban nya sebagai seorang suami pada Dewi Rengganis, Jaka Umbaran segera bangkit dari ranjang tidur itu. Dia menatap ke arah Dyah Pandan Wangi dan Indrawati yang terlihat seperti sedang menggoda ke arah nya. Jaka Umbaran langsung tersenyum lebar.


Melihat itu, Indrawati pun segera melepaskan pakaiannya begitu juga dengan Dyah Pandan Wangi. Dua perempuan cantik itu segera mendekati sang pangeran muda sembari menariknya sedikit menjauh dari Dewi Rengganis.


"Sekarang, giliran kami ..."

__ADS_1


__ADS_2