JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Pencarian Dimulai


__ADS_3

Plong...


Itu yang dirasakan oleh Gendol setelah mendengar penjelasan Prabhaswara sang Adipati baru Paguhan. Rasa takut nya yang hampir membuat nya mati berdiri terkena serangan jantung mendadak, seketika hilang entah kemana. Dia langsung menghembuskan nafas lega sambil mengelus dada.


"Suman sumun selamet selamet selamet..


Huuuuffffffffff, untung saja aku mencelakai orang yang mau di bunuh. Kalau tidak...", belum sempat ia menyelesaikan gumaman nya, Resi Simharaja nyeletuk di sampingnya.


"Kalau tidak ya di penggal kepala mu, Ndol", mendengar ucapan itu, Gendol langsung melotot ke arah Resi Simharaja.


"Aku tidak bicara dengan mu, Macan Tua!


Kau ini memang ada dendam apa dengan ku hingga terus merecoki hidup ku? Mau nantang adu jotos? Ayo sini kalau berani", ucap Gendol seraya menyiapkan kuda-kuda ilmu beladiri nya.


"Sudah sudah, jangan ribut lagi. Kalian berdua ini seperti kucing dan tikus saja. Dimana pun tempatnya selalu ribut dan ribut terus", ucap Jaka Umbaran melerai pertikaian antara kedua pengikutnya itu.


"Macan tua ini yang memulainya, Ndoro Pendekar. Kalau bukan karena memandang dia juga pengikut Ndoro Pendekar, sudah ku kepruk kepala nya dengan gada ku", Gendol masih tidak terima dengan omongan Resi Simharaja.


"Coba saja kalau kau bisa.. Gigi jarang seperti mu, makan daging saja susah apalagi mau menganiaya orang. Pasti tidak bisa", ejekan Resi Simharaja semakin membuat Gendol berang.


"Macan tua ompong, kau..."


"CUKUP!!


Kalau kalian berdua masih ribut terus, tidak perlu ikut lagi dengan ku. Aku capek mendengar pertengkaran kalian berdua. Sudah tua-tua masih bertingkah laku anak kecil.


Paman Prabhaswara, kita pergi dari sini", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera melangkah meninggalkan tempat itu. Prabhaswara tersenyum tipis sembari geleng-geleng kepala ke arah Gendol dan Resi Simharaja. Dia lalu bergegas menyusul Jaka Umbaran diikuti oleh Mpu Wiritanaya dan para pengikutnya yang lain.


"Ini semua salah mu, Macan Tua..


Gara-gara kau, aku jadi kena marah Ndoro Pendekar. Dasar macan pikun", omel Gendol sambil buru-buru mengejar Jaka Umbaran.

__ADS_1


"Gigi Jarang keparat! Dia yang salah, enak saja menyalahkan orang lain. Awas kau lain kali", gerutu Resi Simharaja sembari ikut mengejar langkah kaki Jaka Umbaran. Mereka semua segera memasuki Pendopo Agung Kadipaten Paguhan dimana para pendukung Prabhaswara berkumpul.


Hari itu juga, Prabhaswara segera memerintahkan kepada para pengikutnya untuk membersihkan segala jenis kerusakan yang terjadi akibat pertempuran mereka. Mayat mayat prajurit Paguhan maupun para pemberontak semuanya di makamkan di luar Kota Kadipaten Paguhan, dimana sebuah makam massal di buat. Tak kurang dari 8 ribu orang tewas menjadi korban dari peperangan ini. Lebih dari 500 orang luka berat, 700 orang luka sedang sedangkan sekitar 1000 orang lainnya menderita luka ringan. Para korban perang baik dari pasukan pemberontak maupun prajurit Paguhan mendapatkan pengobatan, meskipun terpisah tempat.


Sedangkan untuk kerusakan pada bangunan, ada lebih dari 100 rumah roboh maupun terbakar. Para penduduk yang terdampak bencana ini kesemuanya di tempatkan di bekas kediaman Patih Pandusena sambil menunggu perbaikan tempat tinggal mereka. Harta benda warangka praja Paguhan itu telah disita dan di tempatkan pada Istana Kadipaten Paguhan. Termasuk para pengawal pribadi nya, keluarga Patih Pandusena dijebloskan ke dalam penjara kota.


Sedangkan untuk para prajurit Paguhan yang telah menyerah, Prabhaswara mengumpulkan mereka semua di alun-alun Kota Kadipaten Paguhan. Tak kurang 8 ribu orang prajurit Paguhan yang telah menyatakan penyerahan diri berkumpul di sana, termasuk Tumenggung Gupati dan beberapa punggawa istana. Kesemuanya menunggu keputusan dari sang penguasa baru Kadipaten Paguhan mengenai nasib mereka selanjutnya.


"Aku hanya ingin kalian semua yang ada di tempat ini menjawab pertanyaan ku dengan sejujurnya.


Diantara kalian semua, apa yang kalian lakukan setelah keputusan aku berikan? Jika aku mengampuni nyawa kalian, apa kalian semua akan bersumpah setia pada ku?", Prabhaswara mengedarkan pandangannya pada seluruh prajurit Paguhan yang sedang duduk bersila di tanah alun-alun.


Semua prajurit Paguhan saling berpandangan seolah mencari jawaban di wajah kawan seperjuangan mereka yang kini sama-sama menjadi pesakitan. Meskipun tidak ada suara yang terdengar, namun terlihat mereka seperti sedang kebingungan dengan pertanyaan itu.


"Mohon ampun Gusti Adipati Prabhaswara..


Jika dikatakan bahwa kami bersalah karena bertempur dengan mendiang Adipati Lokawijaya, ini semua karena tugas kami pada Paguhan. Kami mencintai negeri ini siapapun pemimpinnya.


Andai Gusti Adipati Prabhaswara mengampuni nyawa kami, tentu kami akan sangat berterimakasih kepada Gusti Adipati yang telah berbesar hati. Kami sanggup bersumpah setia pada Gusti Adipati Prabhaswara. Karena yang paling utama bagi kami, siapapun penguasa Kadipaten Paguhan selanjutnya, kami akan tetap setia pada Paguhan apapun yang akan terjadi", Tumenggung Gupati segera menghormat pada Prabhaswara setelah berbicara. Dia bisa di katakan mewakili isi hati ribuan orang prajurit Paguhan yang telah meletakkan senjata mereka.


Keinginan terbesar ku, membangun kembali Paguhan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku yakin, bersama kalian semua, kita bisa menjadikan Paguhan sebagai wilayah Kerajaan Panjalu yang paling makmur. Kita lupakan saja pertikaian antara kita sebelum nya dan menatap masa depan yang lebih cerah untuk Kadipaten ini", begitu Prabhaswara mengakhiri ucapan nya itu, terdengar suara dari tengah barisan prajurit Paguhan yang menyerah.


"Hidup Gusti Adipati Prabhaswara!


Hidup Gusti Adipati Prabhaswara!


Hidup Gusti Adipati Prabhaswara!!!!"


Sorak sorai tanda dukungan untuk Prabhaswara membahana di seluruh alun-alun Kota Kadipaten Paguhan. Mereka menerima permintaan dari adipati baru Paguhan itu sebagai bentuk penghargaan mereka pada sikap Prabhaswara yang tulus dan penuh kasih sayang. Mereka pun bersumpah setia pada adik tiri mendiang Adipati Lokawijaya ini.


Dan demikianlah, hari hari setelahnya Kota Kadipaten Paguhan sibuk berbenah diri. Sehari setelah pertempuran itu, Adipati Prabhaswara dinobatkan sebagai Adipati baru Paguhan. Selain menata tata pemerintahan Kadipaten Paguhan, Adipati Prabhaswara memerintahkan kepada para prajurit, punggawa dan rakyat Kadipaten Paguhan untuk bergotong royong membangun kembali bangunan yang hancur akibat perang. Para pemberontak yang kini telah diangkat menjadi punggawa istana pun juga menyumbangkan harta benda mereka untuk menata kembali kehidupan para penduduk kadipaten yang terletak paling ujung barat dalam wilayah Kerajaan Panjalu ini.

__ADS_1


Mpu Wiritanaya diangkat menjadi Patih Kadipaten Paguhan. Jaludara, saudara angkat sekaligus kawan karib Prabhaswara diangkat menjadi Senopati. Tumenggung Gupati tetap bertugas sebagai penjaga istana Kadipaten, sedangkan jabatan-jabatan tertentu lainnya diisi oleh para pengikut setia Prabhaswara dan para punggawa lama yang telah bersumpah setia pada adipati baru Paguhan ini.


Yang paling mengejutkan bagi semua orang, Prabhaswara sang adipati baru Paguhan melamar Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan untuk dijadikan sebagai Ratu baru Paguhan. Mula nya dia enggan karena merasa sudah tidak muda lagi, namun desakan Dewi Rengganis yang dekat dengan nya, membuat perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu tak kuasa untuk menolaknya lagi.


Satu purnama masa pemerintahan Adipati Prabhaswara, pembenahan besar-besaran di lakukan di Kadipaten Paguhan. Pajak dan upeti hasil bumi yang semula sangat mencekik leher para penduduk, diturunkan hingga separuh nya. Para penduduk Kadipaten Paguhan sangat bersyukur dengan kebijaksanaan Adipati Prabhaswara ini. Beberapa Pakuwon yang semula enggan untuk mengakui adipati baru Paguhan ini, langsung menyatakan dukungan penuh mereka pada sang penguasa baru.


Selama itu pula, hubungan Jaka Umbaran dan Dewi Rengganis semakin lengket. Keduanya langsung menjadi contoh bagi para muda maupun golongan tua karena tetap menjaga kehormatan diri masing-masing meskipun telah mendapat restu dari orang tua Dewi Rengganis.


Senja itu, Adipati Prabhaswara memanggil Jaka Umbaran di kediaman pribadi nya. Bersama dia, Gendol dan Resi Simharaja yang selalu menjadi bayang-bayang sang pendekar muda turut ikut menghadap Adipati Prabhaswara.


"Jaka Umbaran, apa kau tahu maksud aku memanggilmu kemari hari ini?", Adipati Prabhaswara menatap ke arah Jaka Umbaran yang duduk bersila di lantai ruang pribadi nya.


"Saya kurang mengerti, Gusti Adipati. Mohon diterangkan maksud Gusti Adipati", Jaka Umbaran menghormat usai berbicara.


"Aku lihat, hubungan mu dengan putri ku sudah sangat dekat. Kapan kau berencana untuk menjadikan dia sebagai istri mu?", tanya Adipati Prabhaswara terus terang.


"Hamba memang berencana untuk menjadikan Dewi Rengganis sebagai istri hamba, Gusti Adipati.


Namun....", Jaka Umbaran terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan omongannya.


"Hamba masih ada sesuatu yang ingin hamba lakukan sebelum menetap dan menikah dengan Dewi Rengganis. Hamba sudah membicarakan hal ini dengan Rengganis, Gusti Adipati Prabhaswara. Dia juga sudah mengerti dan memahami perasaan hamba. Dia pun tak keberatan jika harus menunggu sampai hamba kembali", imbuh Jaka Umbaran segera.


"Apa itu, Pendekar Gunung Lawu? Sepertinya itu sesuatu yang sangat penting untuk mu.


Coba terangkan kepada ku", Adipati Prabhaswara sangat penasaran dengan apa yang diinginkan oleh lelaki muda yang akan menjadi calon mantu nya ini.


"Hamba ingin mencari keberadaan sosok orang tua hamba, Gusti Adipati Prabhaswara.


Dari kecil hingga besar, hamba tidak pernah sekalipun tahu siapa orang tua hamba. Jadi hamba punya keinginan sebelum menikah, hamba ingin lebih dulu bertemu dengan mereka", ujar Jaka Umbaran sembari menghela nafas panjang.


"Lantas, dimana keberadaan mereka sekarang? Apa kau tahu tempat tinggal mereka?", kembali Adipati Prabhaswara bertanya. Mendengar pertanyaan itu, Jaka Umbaran menggeleng perlahan lalu berkata,

__ADS_1


"Hamba tidak tahu, Gusti Adipati. Satu-satunya petunjuk tentang keberadaan mereka hanya ucapan guru hamba yang mengatakan bahwa beliau menyelamatkan hamba......


Di timur Gunung Wilis..."


__ADS_2