JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Runtuhnya Kesombongan Saguna


__ADS_3

Hoooeeeeggggh....!!


Dewi Rengganis segera memuntahkan darah segar dari mulutnya yang mungil dan berbibir tipis merah muda sebelum ia menjawab pertanyaan Jaka Umbaran. Rupanya hantaman Saguna yang meskipun sudah di tahan dengan pedang di tangan kanannya, masih mampu melukai organ dalam perempuan cantik itu.


Melihat itu, tanpa melepaskan pelukannya pada pinggang Dewi Rengganis, Jaka Umbaran segera menotok beberapa urat nadi dan jalan darah gadis cantik itu.


Tuukkkk tuuukkkk...!


Setelah mendapat dua totokan itu, Dewi Rengganis terlihat bisa bernafas dengan lega. Dia sudah bisa tersenyum meskipun dengan bibir yang masih terlihat sedikit pucat.


Saat yang bersamaan, Nyai Larasati guru Dewi Rengganis yang tidak sempat menyelamatkan muridnya saat hampir celaka di tangan Saguna, bergegas ke arah mereka berdua. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di masa tuanya itu segera berdiri di samping mereka berdua.


"Terimakasih atas bantuan mu, Pendekar muda. Kalau kau tidak menolong Rengganis tepat waktu, pasti dia sudah celaka menghantam pintu gerbang batu ini", ucap Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera.


"Sesama pendekar wajib tolong menolong, Nini.. Aku hanya membantu sedikit saja", jawab Jaka Umbaran sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu, tolong jaga Rengganis sebentar. Aku akan memberi pelajaran pada pemuda sombong itu dan tidak meremehkan Ilmu Sembilan Pedang Surga milik ku", Nyai Larasati membungkuk tanda bahwa dia memohon bantuan. Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti. Setelah mendapat persetujuan itu, Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera melesat cepat ke tengah halaman Perguruan Golok Sakti dimana Saguna dengan jumawa berdiri di samping Mpu Dirgo. Putra Mpu Untara itu tersenyum penuh kemenangan sembari melihat ke sekeliling tempat itu.


Kedatangan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan cukup membuat kaget Mpu Dirgo dan Saguna.


"Aku Nyai Larasati, salah seorang pendekar di wilayah selatan. Ijinkan aku menjajal kemampuan mu, hei orang Perguruan Pedang Keadilan", ujar Nyai Larasati usai mendarat di depan keduanya.


"Nenek peyot, rupanya kau tidak terima murid mu di kalahkan ya? Hahahaha..


Maju sini, biar aku perlihatkan kepada semua orang bahwa ilmu berpedang Perguruan Pedang Keadilan jauh lebih baik daripada Ilmu Sembilan Pedang Surga milik mu", ujar Saguna dengan senyum sinis nya.


"Jaga bicaramu, heh anak muda.. Saat Nyai Larasati melanglang buana, kau masih mengompol dalam popok ibu mu.


Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan, beri pelajaran pada bocah sombong ini. Biar dia tahu bagaimana cara bersopan santun pada yang lebih tua", ucap Mpu Dirgo yang juga kesal dengan sikap pongah Saguna. Dia segera memberikan isyarat kepada keduanya untuk segera bertarung.


Saguna segera melemparkan pedangnya kearah para murid Perguruan Pedang Keadilan. Salah seorang murid segera maju ke halaman sambil membawa sebuah pedang bersarung kuningan berukir yang indah. Segera Saguna mencabut pedang itu dan terlihat sebilah pedang dengan pamor tubuh naga yang saling membelakangi di pangkal pedang.


"Pedang Naga Keadilan..??!!!"


Semua orang terkejut dengan kemunculan senjata di tangan Saguna. Semua orang dunia persilatan Tanah Jawadwipa tahu bahwa Pedang Naga Keadilan adalah senjata pusaka yang selalu menjadi andalan Mpu Untara, pimpinan Perguruan Pedang Keadilan yang tersohor sebagai salah satu pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Cahaya putih kehijauan menyilaukan mata tercipta dari bilah pedang di tangan Saguna.


"Kau lihat pedang ini, Nyai Larasati? Jangan sampai kau terluka dalam adu kesaktian kita hehehehe", senyum pongah Saguna terukir lebar di wajahnya.


Phhuuuiiiiiihhhhh...

__ADS_1


"Jangan karena kau pegang senjata pusaka itu lalu kau sombong di hadapan ku, anak muda!


Kemampuan beladiri mu belum setinggi Mpu Untara jadi senjata itu tidak akan banyak membantu mu dalam pertarungan ini", ucap Nyai Larasati sambil tersenyum sinis.


"Nenek peyot bangkotan!


Rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin mati secepatnya. Baik, akan ku kabulkan keinginan mu!!"


Saguna menarik nafas dalam-dalam sambil menarik Pedang Naga Keadilan sejajar dengan bahu dengan kedua tangannya. Setelah itu ia menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi seraya mengayunkan pedangnya ke arah Nyai Larasati.


"Mampus kau, perempuan tua!!"


Cahaya putih kehijauan menyilaukan mata menerabas cepat kearah Nyai Larasati. Hawa panas berselimut angin kencang berseliweran cepat mengikuti cahaya yang keluar dari Pedang Naga Keadilan.


"Cuma mengandalkan daya linuwih senjata pusaka? Huhhhhh, kau masih belum pantas melawan ku, bocah Perguruan Pedang Keadilan!!"


Nyai Larasati berjumpalitan menghindari cahaya putih kehijauan yang keluar dari Pedang Naga Keadilan di tangan Saguna. Setelah itu, dia melesat cepat ke arah samping kanan Saguna yang baru saja mendarat di tanah. Dia segera mengayunkan pedangnya ke arah putra Mpu Untara itu.


"Sembilan Pedang Surga..


Tebasan Pedang Membelah Langit!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"


Whhhuuuggghhhh!


Saguna gelagapan melihat kedatangan dua serangan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang silih berganti menderu kencang kearah nya. Dia berjibaku dengan cahaya biru redup yang pertama. Belum sempat dia berdiri tegak, dia harus menghadapi serangan kedua.


Tak punya pilihan lain, Saguna segera mengayunkan Pedang Naga Keadilan di tangan kanannya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat Pedang Naga Keadilan membabat cahaya biru redup berhawa dingin yang dilepaskan oleh Nyai Larasati. Kuatnya pengaruh ledakan keras itu membuat Saguna tersurut mundur beberapa tombak ke belakang sembari memuntahkan darah segar. Namun itu belum selesai.


Nyai Larasati yang selesai melepaskan serangan kedua, bergerak cepat ke arah belakang Saguna dan lagi-lagi melepaskan serangan cepat seperti sebelumnya.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!

__ADS_1


Saguna yang belum sempat berhenti tersurut mundur, kaget bukan main ketika merasakan hawa dingin menusuk tulang berdesir kencang ke arah belakang tubuhnya. Buru-buru dia menyilangkan pedangnya ke belakang tubuhnya untuk menghadang cahaya biru redup berhawa dingin itu agar nyawanya selamat.


Blllaaammmmmmmm..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Saguna langsung terjungkal menyusruk tanah hingga 4 tombak jauhnya. Tubuhnya penuh luka parut dan darah segar mengalir keluar dari hidung dan mulutnya. Sepertinya beberapa tulang rusuknya patah. Sedangkan Pedang Naga Keadilan terlepas dari genggaman tangan kanannya dan menancap di tanah.


Melihat itu, Nyai Larasati mendekati Saguna dan mengacungkan pedangnya kearah muka putra Mpu Untara itu.


"Kau masih tidak mengakui kekalahan mu?!", ucap Nyai Larasati keras.


"Uhukkk uhukkk hoooeeeeggggh..


A-aku me-ngaku ka...lahh,!!"


Brrruuuuuuuuuukkkhh!!


Usai menjawab omongan Nyai Larasati, Saguna roboh pingsan. Dia terluka dalam sangat parah dan mungkin juga tidak akan sembuh dalam waktu singkat.


Niluh Wuni tersenyum lebar menatap ke arah Saguna yang terkapar tak berdaya di hadapan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan.


"Rasakan sekarang, pendekar cabul!!"


Mpu Dirgo yang menonton pertarungan sengit dari pinggir halaman Perguruan Golok Sakti, segera melangkah ke tengah halaman dimana Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan telah kembali menyarungkan kembali pedangnya di hadapan Saguna yang pingsan.


"Kerja bagus, Bidadari Angin Selatan. Bocah sombong ini akhirnya kena batunya juga hehehehehe..", senyum lebar terukir di wajah Mpu Dirgo. Dari awal pertemuan dengan Saguna, dia memang tidak menyukai pendekar muda ini.


"Aku hanya sedikit memberi dia pelajaran, Pendekar Golok Sakti..


Semoga kelak dia bisa merubah kelakuannya dan menjadi orang baik-baik", sambut Nyai Larasati segera.


"Hehehehe tidak masalah tidak masalah. Dia memang pantas untuk mendapatkan nya.


Saudara sekalian, Nyai Larasati telah berhasil mengalahkan Saguna dari Perguruan Pedang Keadilan. Apakah ada yang masih ingin menantangnya?", ucap Mpu Dirgo lantang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Hening, tak ada suara yang terdengar dari kerumunan para pendekar dunia persilatan dari wilayah selatan. Semuanya telah mengakui bahwa Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan memang layak untuk menjadi pengatur wilayah selatan yang pernah menjadi daerah kekuasaan Iblis Tua Sesat yang telah lama menghilang dari dunia persilatan.


Setelah beberapa lama kemudian tidak ada jawaban, maka Mpu Dirgo si Pendekar Golok Sakti menghela nafas panjang sebelum berbicara,

__ADS_1


"Dengan ini aku umumkan bahwa Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan selanjutnya akan menjadi pengatur wilayah selatan.


Untuk pertandingan wilayah tengah, kita lanjutkan esok hari.."


__ADS_2