
Dua orang gadis muda berpakaian sederhana selayaknya seorang pendekar dengan sebuah pedang tersandang di punggung, berlari kecil mendekati sang pangeran muda. Belum sempat mereka berdua mendekat, Gendol langsung menghadang mereka dengan kedua tangan terentang lebar.
"Hei hei hei..
Mau apa kalian heh? Dilarang dekat dekat dengan majikan ku", ucap Gendol sembari mendelik kereng untuk menakuti mereka berdua.
Ya, kedua gadis itu adalah Niluh Wuni dan Sekar Kantil, kawan seperjalanan Jaka Umbaran ketika sang pendekar muda baru saja selesai mengakhiri pembelajaran nya dan turun gunung.
"Kau ini kenapa sih Ndol? Baru berpisah beberapa purnama saja, tingkah mu sudah sok berkuasa begitu?", protes Niluh Wuni segera.
"Iya nih Kangmbok. Mentang-mentang sekarang pakai pakaian bagus saja, sudah lupa sama teman. Kau ini gila harta ya Ndol?", timpal Sekar Kantil yang juga ikut geram dengan ulah Gendol ini.
"Hei hei hei, jaga ucapan kalian berdua ya..
Mau kalian berdua tak kirim ke penjara ha? Sebagai seorang pengawal pribadi pangeran, aku berhak untuk menjebloskan kalian berdua ke dalam tahanan dengan alasan bahwa kalian berdua mengganggu kenyamanan majikan ku. Mau kalian?", balas Gendol acuh tak acuh. Niluh Wuni dan Sekar Kantil yang ingin menanggapi omongan ini, kalah cepat dengan suara Jaka Umbaran di belakangnya.
"Ndol, sudah... Jangan keterlaluan.."
Ucapan pelan tapi bernada peringatan dari Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya itu langsung membuat Gendol merendahkan nada suara nya yang sempat meninggi tadi.
"Hehehehe tidak Gusti Pangeran..
Saya hanya berusaha untuk menjalankan tugas sebagai pengawal pribadi seorang pangeran dengan baik loh. Tidak ada niat macam-macam", ucap Gendol sembari sedikit cengengesan. Namun sebutan Gusti Pangeran tadi langsung membuat Niluh Wuni dan Sekar Kantil saling berpandangan.
"Si Gendol mendol mendol itu baru saja memanggil Kakang Umbaran dengan sebutan Gusti Pangeran. Apa yang sebenarnya terjadi saat kita tidak bersama nya Kangmbok?", bisik Sekar Kantil lirih.
"Mana ku tahu?
Coba saja kau perhatikan, para prajurit yang ada di sekitar tempat ini juga sedang menatap ke arah kita. Sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui tentang Kakang Umbaran ini Kantil", balas Niluh Wuni segera. Mereka berdua pun segera melihat ke arah Gendol yang terlihat manggut-manggut patuh pada perintah Jaka Umbaran saat sang Pendekar Gunung Lawu menasehatinya.
"Niluh Wuni, Sekar Kantil..
Lama tak bertemu, bagaimana kabar kalian?", tanya Jaka Umbaran dengan ramah. Gaya bicara dan sopan santun nya tidak berubah sama sekali.
"Baik-baik saja Kakang..
Eh kenapa aku merasa Kakang Umbaran berubah sekarang? Terasa ada sesuatu yang berbeda. Tak hanya dari penampilan, juga terlihat wajah Kakang selalu sumringah begitu", jawab Niluh Wuni sembari mengamati penampilan Jaka Umbaran yang memang telah berbeda dari sebelumnya. Jika dulu ia terbiasa dengan pakaian serba sederhana seperti di Pertapaan Watu Bolong, kini semenjak bertemu dengan kedua orang tua nya dia harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan merubah keseluruhan penampilannya. Rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai bebas, kini harus di gelung layaknya seorang bangsawan. Meskipun tetap mengenakan baju tanpa lengan, namun beberapa perhiasan menghiasi leher dan dada bidangnya. Ini tentu saja membuat pangling semua orang.
"Tidak ada yang berubah, aku hanya mengganti cara berdandan ku saja.
Sedang ada urusan apa kalian di sini? Mana guru kalian Ki Suradipa?", tanya Jaka Umbaran kemudian.
__ADS_1
"Guru sedang ada urusan dengan salah seorang pembesar istana. Katanya masih saudara jauh begitu. Namanya kalau tidak salah sih Rakryan Rangga Mapanji Amaraha.
Kami yang bosan karena ditinggal terus di penginapan seberang sungai besar ini, akhirnya memilih untuk jalan-jalan melepaskan kebosanan", sahut Sekar Kantil sembari tersenyum tipis.
Belum sempat Jaka Umbaran menanggapi hal itu, Besur datang dan berbisik di telinga sang pangeran. Mendengar bisikan itu, Jaka Umbaran manggut-manggut mengerti.
"Aku masih ada perlu Niluh Wuni, Sekar Kantil.
Besok saja aku akan mengunjungi tempat tinggal kalian. Aku permisi dulu", setelah menganggukkan kepalanya, Jaka Umbaran segera melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke arah perahu penyeberangan yang bersiap untuk berangkat.
Diiringi oleh Gendol, Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja, Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya segera menaiki perahu penyeberangan itu ke arah seberang sungai. Perlahan perahu besar itu bergerak memotong arus sungai besar yang berwarna kecoklatan ini.
"Aku semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi, Kangmbok Wuni.
Selain 4 orang itu, para prajurit yang ada sepertinya sedang mengiringi perjalanan Kakang Umbaran. Apa Kangmbok Wuni tidak bisa merasakan hal itu?", ucap Sekar Kantil sembari terus menatap ke arah perahu penyeberangan yang semakin jauh meninggalkan dermaga penyeberangan.
"Aku juga sadar akan hal itu, Kantil..
Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh. Yang terpenting Kakang Umbaran masih baik-baik saja. Besok jika kita bertemu dengan nya lagi, akan ku tanyakan. Sekarang sebaiknya kita segera kembali ke penginapan. Aku khawatir guru telah menunggu kedatangan kita", ujar Niluh Wuni sembari menggelandang tangan Sekar Kantil ke arah tempat tinggal sementara mereka.
Setelah menyeberangi Sungai Kapulungan, rombongan Prabu Bameswara segera melanjutkan perjalanan. Sebentar kemudian, mereka telah sampai di Istana Kotaraja Daha. Para prajurit penjaga gerbang istana segera membukakan pintu gerbang begitu melihat rombongan penguasa Kerajaan Panjalu itu datang. Mereka pun segera berjongkok dan menyembah pada sang Raja yang lewat.
Sesampainya mereka di dekat Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha, beberapa pekatik ( juru rawat kuda ) langsung menerima tali ke kuda mereka. Setelah itu, Prabu Bameswara dan Ratu Dyah Chandrakirana mengajak Jaka Umbaran ke dalam, sementara Gendol dan Resi Simharaja di tempatkan di balai tamu kehormatan oleh Besur dan Baratwaja. Dan atas perintah dari sang penguasa Kerajaan Panjalu, Besur dan Baratwaja ditugaskan untuk memanggil semua pejabat negara agar berkumpul di Pendopo Agung. Kedua perwira muda ini langsung bergegas menjalankan tugas yang mereka emban.
Kedatangan Prabu Bameswara alias Panji Tejo Laksono langsung disambut oleh para istrinya. Gayatri, Luh Jingga, Ayu Ratna, Rara Kinanti, Song Zhao Meng dan Endang Patibrata nampak gembira menyambut kedatangan suami mereka. Para putri dan putri sang raja pun juga turut mendekat ke ayah mereka. Ada Rajadewi yang merupakan putri dari Gayatri, Dyah Paramita dari Ayu Ratna, Jinggawuni dari Luh Jingga, Ambarwati dari Endang Patibrata, Mapanji Lodaya dari Rara Kinanti dan si jelita kecil Dewi Retnowati dari Song Zhao Meng.
Namun mereka semua langsung mengerutkan dahinya tatkala melihat seorang pemuda tampan sepantaran dengan Jinggawuni muncul di belakang punggung sang Raja Panjalu dan Ratu Dyah Chandrakirana.
"Kanjeng Romo Prabu..
Siapa dia?", tanya Rajadewi, putri sulung Prabu Bameswara seolah mewakili semua kerabat yang ada di tempat itu. Mendengar pertanyaan itu, Prabu Bameswara tersenyum lebar lalu menoleh ke arah Dyah Kirana yang berdiri di samping nya. Seperti paham dengan bahasa isyarat itu, Dyah Kirana mengangguk mengerti.
"Ini adalah putra ku yang dulu sempat diculik, Rajadewi. Dia adalah adik mu, namanya Mapanji Jayabaya.
Jayabaya, beri hormat kepada saudari dan saudara mu", ucap Dyah Kirana sambil tersenyum penuh arti.
Semua orang nampak terkejut mendengar hal itu. Ada yang sumringah begitu mendengar nya, namun ada pula yang langsung menekuk wajahnya dalam-dalam.
"Salam hormat semuanya, saya Mapanji Jayabaya", ucap Jaka Umbaran dengan sopan.
"Wah setelah sekian lama akhirnya sang putra mahkota Kerajaan Panjalu kembali juga ke istana.
__ADS_1
Selamat datang di keluarga kerajaan, Nakmas Pangeran", ucap Gayatri sambil tersenyum simpul.
"Mewakili para putri dan putra Kanjeng Romo Prabu, saya ucapkan selamat datang di Istana Kotaraja Daha, Dhimas Pangeran. Semoga kedepannya nanti kita bisa saling mendukung sebagai sesama anggota keluarga", ucap Rajadewi yang di sambut anggukan kepala dari para saudaranya. Malahan, si jelita kecil Dewi Retnowati langsung berlari menubruk tubuh Jaka Umbaran. Jaka Umbaran segera merendahkan tubuhnya dan Dewi Retnowati langsung merangkul leher sang kakak. Gadis kecil berusia 5 tahun ini langsung lengket dengan kakak tirinya itu.
"Kakang Jayabaya, ah aku punya kakak baru lagi..
Aku punya kawan main baru. Kakang Lodaya sering marah-marah kalau main dengan ku", ucap polos Dewi Retnowati sambil merebahkan kepalanya di bahu kiri Jaka Umbaran. Song Zhao Meng langsung tersenyum lebar melihatnya.
"Untuk malam ini, Jayabaya akan tinggal di Keputran Daha. Sebelum penobatan nya sebagai Yuwaraja, dia tidak boleh tinggal di Istana Katang-katang terlebih dahulu", ucap Prabu Bameswara segera.
"Jayabaya, ini sebentar lagi akan senja. Sebaiknya kau segera membersihkan diri mu. Setelah itu, kau datang ke Pendopo Agung.
Jinggawuni, antar adik mu ke Keputran Daha", perintah Prabu Bameswara segera.
"Sendiko dawuh Kanjeng Romo Prabu", Jinggawuni, putri dari Selir Luh Jingga yang terkenal tak banyak bicara, segera menghormat sebelum meninggalkan tempat itu. Jaka Umbaran segera menghormat pada Prabu Bameswara, Ratu Dyah Chandrakirana dan para istri ayahnya sebelum mengikuti langkah Jinggawuni.
Waktu terus bergulir dengan cepat. Setelah matahari terbenam di langit barat, suasana Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha yang semula sepi kini ramai dengan kedatangan beberapa punggawa Istana Kotaraja Daha. Tak hanya Mpu Ludaka yang bergelar Rakryan Mapatih Mpu Baprakeswara, namun juga hadir Rakryan Rangga Mapanji Amaraha, Rakryan Mahamantri I Halu Mapanji Samya Gunung, Rakryan Juru Mapanji Kambadaha dan juga Rakryan Kanuruhan Mpu Karnikeswara Matanggalaksana.
Selain kelima pejabat tertinggi itu, juga terlihat Wredamantri Mpu Gumbreg, Mpu Landung dan Mpu Rajegwesi. Selain mereka nampak para perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Senopati Agung Naratama, Senopati Mpu Sembada, Tumenggung Mpu Koncaryadipa dan beberapa pejabat negara setingkat Demung dan Juru. Kesemuanya duduk bersila dengan rapi sesuai dengan urutan kepangkatan masing-masing.
Dari arah depan, Prabu Bameswara datang ke Pendopo Agung diiringi oleh Ratu Dyah Chandrakirana. Ada seorang pemuda tampan yang berjalan di belakangnya. Para pejabat negara ini langsung menyembah pada Prabu Bameswara.
"Sembah bakti kami Gusti Prabu Bameswara", ucap Mapatih Mpu Baprakeswara alias Mpu Ludaka sembari terus menghormat hingga sang raja duduk di atas singgasana. Ratu Dyah Chandrakirana langsung duduk di kursi sebelah kiri singgasana yang lebih rendah sedangkan sang pemuda tampan duduk di kursi yang sedikit lebih rendah dari kursi sang ratu.
Prabu Bameswara mengangkat tangan kanannya ke atas dan semua pejabat istana pun kembali duduk bersila dengan rapi di tempat mereka masing-masing.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu..
Ada hal penting apa hingga kiranya Gusti Prabu yang mulia mengumpulkan kami semua pada waktu malam seperti ini? Bukan apa-apa tapi ini diluar kebiasaan kita", ucap Mapatih Mpu Baprakeswara sembari menghormat setelah berbicara.
"Hari ini aku mengumpulkan kalian semua karena ada sesuatu yang ingin ku sampaikan. Ini adalah putra ku Mapanji Jayabaya yang hilang puluhan tahun silam telah kembali. Maka selanjutnya dia yang akan menduduki jabatan sebagai Yuwaraja Panjalu.
Jayabaya, berdirilah cah bagus..", mendengar titah sang ayah, Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya segera bangkit dari tempat duduknya sembari menangkupkan kedua telapak tangan nya di depan dada.
Semua orang terkejut bukan main melihat munculnya sang pangeran muda ini. Namun kesemuanya hanya berani saling pandang tanpa berbicara sama sekali.
"Kalau begitu, hamba ucapkan selamat datang di Istana Kotaraja Daha, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya. Kami bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Hyang Akarya Jagat hingga Gusti Pangeran bisa pulang dengan selamat di istana", ucap Mapatih Mpu Baprakeswara dengan penuh hormat. Jaka Umbaran hanya mengangguk mengerti dan kembali duduk di kursi nya.
"Untuk merayakan kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya, maka aku perintahkan kepada kalian semua untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Perayaan ini harus meriah dan juga megah karena ini adalah penebusan atas penderitaan yang dialami oleh putra ku selama masa kecilnya", mendengar titah sang raja Panjalu itu, semua orang di Pendopo Agung Istana Kotaraja Daha langsung menghormat seraya berkata,
"Sendiko dawuh Gusti Prabu.."
__ADS_1