
"Kau yang bernama Jaka Umbaran?!"
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan sepasang pedang tersandang di punggungnya melangkah maju ke depan Jaka Umbaran dan kawan-kawan. Tatapan matanya tajam seolah ingin menikam orang yang dilihatnya.
"Kalau iya, kau mau apa?", Jaka Umbaran yang tidak melihat gelagat baik dari orang orang yang sedang mengepungnya itu, menjawab ketus.
"Huhhhhh sombong..
Kau sudah merendahkan martabat kami sebagai pendekar negeri kulon. Ini saatnya kau menerima buah dari perbuatan mu!"
Selepas berkata demikian, Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Tak lupa ia mencabut sepasang pedang di punggungnya karena dia adalah seorang pendekar pedang.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth shhrreeettthhh!!
Dua tebasan menyasar pinggang dan leher sang pendekar muda. Melihat itu, Jaka Umbaran segera menepak punggung kuda tunggangan nya hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara.
Serangan cepat itu menjadi awal mula pertarungan di tepi Sungai Citanduy.
Setelah Awang Bajra bergerak, Somakarta Si Elang Botak bergegas mengayunkan cakar tangan nya ke arah Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan sembari melesat ke arah pengatur wilayah selatan dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini. Dunggul dan Sajamarta masing-masing mencabut senjata mereka masing-masing dan langsung menyerbu ke arah Dewi Rengganis sementara 4 orang kawan mereka yang lain bergegas mengepung Resi Simharaja yang segera melompat turun dari kudanya.
Dewi Rengganis langsung memainkan jurus ilmu pedangnya begitu Dunggul dan Sajamarta mengayunkan senjata mereka ke arah tubuhnya. Dengan gerakan lincah dan gesit, Dewi Rengganis menangkis sabetan senjata Si Dunggul dan Sajamarta.
Thhrraaanggg thhrraaanggg!
Usai menangkis sabetan pedang kedua orang itu, Dewi Rengganis memutar tubuhnya dan melayangkan dua tendangan keras kearah lawan yang mengeroyoknya.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..!!
Ouugghhh!!
Dunggul terjungkal sementara Sajamarta masih mampu bertahan meskipun dia terdorong mundur beberapa langkah. Pria bertubuh gempal itu tak ayal langsung menerjang kembali ke arah Dewi Rengganis dengan mengayunkan senjatanya yang berupa kujang bergagang panjang ke arah murid Nyai Larasati ini.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
Kembali Dewi Rengganis melayani serangan Sajamarta menggunakan Ilmu Sembilan Pedang Surga andalannya. Dunggul yang baru saja bangkit usai dijatuhkan, menggeram keras sembari menerjang maju ke arah Dewi Rengganis dari belakang. Mereka berdua mengeroyok Dewi Rengganis dengan sengit.
Resi Simharaja yang dalam wujud manusia, dengan cepat menghajar lawan yang mengepungnya. Menggunakan tangan nya yang membentuk cakar, bekas Raja Siluman Alas Roban itu satu persatu mulai menjatuhkan lawan.
Di lain sisi, cakar tangan berkuku hitam milik Elang Botak terus mengincar titik-titik tertentu di tubuh Nyai Larasati. Sang Bidadari Angin Selatan menggunakan ilmu pedangnya.
Chhrrraaaakkk chhrrraaaakkk..
Whhheeeeeeeerrrrr...
Dhhaaaassshhh dhhiiieeeeesssshhh!!
Kuku hitam cakar tangan Si Elang Botak rupanya sangat keras bahkan mampu menahan tebasan pedang Nyai Larasati. Julukannya sebagai Si Elang Botak memang berdasarkan kuku hitam cakar tangan nya yang mirip dengan kuku seekor elang.
__ADS_1
Setelah menahan tebasan pedang Nyai Larasati dengan kuku hitam cakar tangan kanan nya, Si Elang Botak segera mengayunkan cakar tangan kiri nya ke arah perut Nyai Larasati. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu melompat mundur untuk menghindari cakaran tangan Somakarta Si Elang Botak. Sayangnya dia terlambat sedikit hingga cakaran cepat Elang Botak masih bisa merobek bajunya yang berwarna hijau muda hingga kain di atas pusar itu bolong.
Melihat itu Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan mendengus geram sedangkan Somakarta Si Elang Botak langsung tersenyum lebar.
"Wah tak aku sangka, nenek keriput seperti mu masih punya tubuh yang indah juga ya hahahaha..
Setelah ini, aku pasti akan menelanjangi mu", Somakarta Si Elang Botak menjatuhkan robekan kain hijau muda itu ke tanah sambil menjilati bibirnya yang tiba-tiba berliur.
"Keparat!!
Aku tidak akan pernah melepaskan mu, botak mesum!!"
Nyai Larasati segera menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi nya pada pedangnya. Cahaya putih kehijauan menyilaukan mata tercipta di bilah pedang di tangan kanannya. Rupanya dia sudah tidak sabar ingin menghabisi nyawa lawan dengan jurus pamungkas Ilmu Sembilan Pedang Surga. Dia dengan cepat merentangkan tangan kanannya. Sembilan lengan tercipta di lengan kanan perempuan paruh baya itu.
"Ohohohohohoho..
Rupanya kau Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan yang tersohor itu. Pantas saja tubuh mu begitu mulus meskipun kau sudah nenek-nenek. Tapi aku tidak keberatan jika membawa mu ke atas ranjang ku hahahaha..
Cakar Elang Pembelah Batu!
Rasakan ini perempuan mulus..!!!"
Lima larik cahaya hitam kebiruan meluruk cepat kearah Nyai Larasati segera setelah Si Elang Botak Somakarta mengayunkan cakar tangan nya. Nyai Larasati mendengus keras sembari melesat cepat menebas lima larik cahaya hitam kebiruan itu segera.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras beruntun terdengar tatkala tabrakan dua kekuatan ilmu kesaktian ini beradu. Nyai Larasati segera merubah gerakan tubuhnya dan melenting tinggi ke udara sembari mengibaskan pedangnya yang memancarkan cahaya putih kehijauan.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!
"Bangsaaaaaaaaattttt kau perempuan tua!"
Somakarta Si Elang Botak gelagapan juga melihat empat serangan dari keempat penjuru arah mengepungnya. Dia harus berulangkali menjatuhkan tubuhnya agar selamat dari maut.
Saat berhasil lolos di serangan terakhir, Nyai Larasati telah menunggu nya sambil menusukkan pedangnya ke arah dada. Somakarta memang berhasil menyelamatkan dadanya tapi kecepatan tinggi Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan masih mampu menusuk bawah tulang selangka nya.
Chhhrreeepppppppphhhh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Si Elang Botak menjerit keras namun dia tidak bisa berdiam diri begitu saja. Secepat mungkin dia memegang bilah pedang Nyai Larasati. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu berusaha keras untuk mencabut pedangnya namun Si Elang Botak terlebih dahulu melayangkan tendangan keras kearah perut perempuan cantik itu.
Dhhiiieeeeesssshhh..
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Nyai Larasati terpental ke belakang. Perutnya sakit bukan main seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Sedangkan Si Elang Botak jatuh dengan satu dengkul menyangga tubuh nya dengan pedang menancap di dada kiri nya.
__ADS_1
"Brengsek kau perempuan tua! Hooosshhh hooosshhh hooosshhh uhukkk..
Tak ku sangka kalau aku bisa juga kalah sama perempuan. Dasar kurang ajar!!", maki Somakarta sambil menotok beberapa jalan darah nya untuk menghentikan darah yang keluar dari luka tusukan pedang Nyai Larasati.
Semenjak itu, Nyai Larasati bangkit sambil sedikit meringis menahan rasa begah di perutnya. Tapi senyum lebar terukir di wajah cantik perempuan paruh baya itu.
"Rupanya nama besar mu hanya hisapan jempol belaka, Elang Botak.
Kau tidak layak di sebut Elang Botak. Tapi julukan yang pas untuk mu adakah Si Ayam Botak", ejek Nyai Larasati sembari mencebikkan bibirnya. Amarah Elang Botak pun langsung memuncak.
"Dasar perempuan setan!
Akan ku cabik-cabik tubuh mu hingga menjadi makanan anjing!!", setelah berkata demikian, Elang Botak mencabut pedang di dada atasnya dan melemparkannya ke tanah sebelum ia melesat cepat kearah Nyai Larasati. Dia yakin bahwa tanpa pedang, Nyai Larasati tidak akan mampu mengalahkannya. Sementara itu, Nyai Larasati tersenyum kecil ketika Elang Botak melesat cepat kearah nya.
"Dasar bodoh!
Apa kau pikir aku tidak memiliki kemampuan beladiri yang lain selain berpedang? Kau terlalu lugu", dua jari tangan kanan Nyai Larasati yakni jari telunjuk dan tengah bersatu layaknya sebuah pedang. Cahaya tipis putih kemerahan tercipta sepanjang tiga jengkal tangan tercipta di sana.
Saat Elang Botak datang, Nyai Larasati segera berkelit menghindari sambaran cakar tangan Somakarta Si Elang Botak lalu mengayunkan cahaya tipis putih kemerahan itu kearah pinggang Somakarta.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh..
Aaaaaauuuuuuuuuuuuuwwwwwwh!!!!
Somakarta Si Elang Botak meraung keras saat cahaya tipis putih kemerahan dari Ajian Jari Pedang Surga milik Nyai Larasati memotong pinggang. Lelaki tua berkepala botak itu langsung roboh dengan tubuh nyaris terpotong menjadi dua bagian. Dia tewas bersimbah darah.
"Mampus kau bangsat mesum", maki Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan segera setelah melihat tewasnya Elang Botak. Setelah itu, ia mengambil pedangnya dan meloncat ke arah pertarungan Dewi Rengganis melawan Dunggul dan Sajamarta.
Tak jauh dari tempat itu, Jaka Umbaran dan Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis terus bertarung dengan sengit. Sudah puluhan jurus berlalu, namun Malaikat Pembunuh Bermata Iblis Awang Bajra hanya mampu merobek baju di punggung sang pendekar tapi tak sanggup mengoyak daging nya meskipun menggunakan dua pedang pusaka, Pedang Elang Putih dan Pedang Lobang Neraka. Gerak cepat Jaka Umbaran lah yang membuatnya seperti bocah yang baru belajar tentang ilmu kanuragan.
'Brengsek, gerakan pemuda ini lincah sekali. Aku tidak sekalipun bisa menyergapnya dengan dua pedang ku', batin Awang Bajra Si Malaikat Pembunuh Bermata Iblis sembari terus mengejar kemana pun Jaka Umbaran bergerak.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth shhrreeettthhh..
Thrrraaaaaaakkkk dhhhaaaassshhhh!!!
Satu tendangan keras menghajar pinggang Awang Bajra setelah Jaka Umbaran menghindari tebasan pedangnya. Pria tua berjanggut pendek itu sampai terhuyung huyung mundur saking kerasnya tendangan kaki kanan Jaka Umbaran.
"Kurang ajar sekali kau bocah kemarin sore!! Akan ku cincang tubuh mu sampai potongan kecil-kecil!!"
Setelah menggembor keras seperti itu, Awang Bajra segera menyilangkan kedua pedangnya ke depan dada. Cahaya putih dari Pedang Elang Putih dan cahaya hitam dari Pedang Lobang Neraka bergulung-gulung menjadi satu dan meloncat ke arah Jaka Umbaran. Melihat itu, Jaka Umbaran segera melompat menjauh.
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!
Cahaya putih hitam itu terus memburu kemanapun Jaka Umbaran berlari. Lobang-lobang sebesar badan kerbau tercipta dari ledakan keras yang tercipta dari hantaman sinar putih hitam yang di lepaskan oleh Awang Bajra.
'Sepertinya, kemampuan beladiri orang tua ini bertumpu pada kedua pedang di tangan nya itu. Aku harus mencari cara untuk membuat pedang itu lepas dari tangan nya', batin Jaka Umbaran.
__ADS_1
Sembari terus menerus bergerak menghindari setiap loncatan cahaya putih hitam yang keluar dari pedang di kedua tangan Awang Bajra, Jaka Umbaran terus berpikir keras. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas di kepala sang Pendekar Gunung Lawu.
"Aku punya ide bagus.."