
Prabu Tirtabawana segera mengheningkan cipta sambil memejamkan mata sebentar. Sebuah bola air berwarna biru jernih pun tercipta di tapak tangan kanan nya. Bau harum semerbak wangi memenuhi seluruh penjuru tempat itu. Segera Prabu Tirtabawana menghaturkan bola air itu kepada Jaka Umbaran dengan penuh hormat.
"Inilah Air Prawitasari, Sanghyang Wisnu.. Mohon diterima..", ucap Prabu Tirtabawana sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sosok agung berkulit biru terang itu segera menerima uluran tangan Prabu Tirtabawana. Namun, sang awatara Dewa Wisnu ini malah mengerutkan keningnya dalam-dalam melihat wujud benda suci ini. Ada sesuatu yang tidak benar.
Segera saja sosok agung berkulit biru terang itu meremas bola air berwarna biru jernih itu.
Krrraaaakkkkkk!
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Bola air berwarna biru jernih ini langsung meledak dan tersebar di sekeliling tempat sosok agung berkulit biru terang itu berada. Beberapa bagian membasahi tubuh seekor anak harimau putih kecil yang tergeletak pingsan.
Prabu Tirtabawana terkejut bukan main melihat hal itu. Pusaka suci yang telah bertahun-tahun lamanya dia jaga, hancur berantakan di tangan sosok agung berkulit biru terang ini. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran sosok agung itu.
"Sanghyang Wisnu, kenapa?!", tanya Prabu Tirtabawana segera.
"Palsu. Ini adalah Air Prawitasari palsu. Dimana yang asli?", sosok agung berkulit biru terang itu menatap ke arah Prabu Tirtabawana. Betapa terkejutnya Prabu Tirtabawana mendengar jawaban ini.
"B-bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin itu palsu?
Hamba telah berhasil menggunakan nya untuk menghidupkan kembali kerabat hamba yang terbunuh", Prabu Tirtabawana masih juga belum percaya dengan omongan Sanghyang Wisnu, Sang Pemelihara Alam Semesta.
"Setitik Air Prawitasari saja sudah cukup untuk membuat seseorang yang mati menjadi hidup kembali. Dalam bola air tadi ada setitik Air Prawitasari hingga dia bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati.
Akan tetapi, satu hal yang perlu kamu ketahui wahai Raja Siluman Alas Purwo. Air Prawitasari tidak berwarna biru jernih akan tetapi perpaduan 7 warna karena ia mengandung saripati dari Sanghyang Tunggal sebagai Penguasa Seluruh Alam Semesta", urai sosok agung berkulit biru terang itu segera. Mendengar jawaban itu, Prabu Tirtabawana pun lantas mengingat-ingat kembali wujud dari Air Prawitasari saat pertama kali dia dapatkan.
Dia pun segera mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh sosok agung berkulit biru terang itu ada benarnya. Saat dia pertama kali mendapatkan Air Prawitasari, benda suci ini berwarna biru kehijauan bersemu merah.
"Lantas, dimanakah Air Prawitasari yang asli?", tanya Prabu Tirtabawana segera.
"Sekarang coba kamu ingat, siapa saja orang yang pernah melihat Air Prawitasari di tangan mu dahulu?", tanya sosok agung berkulit biru terang itu segera.
"Seluruh warga Kerajaan Alas Purwo melihat nya, Duhai Sang Pemelihara Alam Semesta", jawab Prabu Tirtabawana dengan penuh keyakinan. Dia memang tidak berniat untuk membohongi Sanghyang Dewa Wisnu yang kini ada di hadapannya.
"Yang paling sering melihatnya?", imbuh penjelmaan dari Jaka Umbaran ini.
"Hanya Patih Krendaseba, Putri Buanadewi dan istri hamba Dewi Pratala.
Tidak mungkin bukan mereka yang berani untuk mencuri Air Prawitasari dari hamba?", mendengar ucapan itu, sosok agung berkulit biru terang itu tersenyum penuh arti.
"Kau sungguh bodoh, sungguh-sungguh sangat bodoh!!
Kau tidak waspada terhadap keluarga mu karena kepercayaan diri mu yang tinggi hingga mereka mampu mengelabuhi mu dengan Air Prawitasari palsu itu, Prabu Tirtabawana.
__ADS_1
Karena sesungguhnya, mereka bertiga lah yang menjadi pencuri Air Prawitasari milik mu. Sekarang cobalah lihat ini...", sosok agung berkulit biru terang penjelmaan Jaka Umbaran inipun langsung mengibaskan tangan kanannya. Dan muncullah sebuah bayangan kejadian masa lalu.
Disana terlihat, Dewi Pratala mengalihkan perhatian Prabu Tirtabawana. Sedangkan Patih Krendaseba mengambil setetes Air Prawitasari dan meletakkannya pada sebuah benda yang serupa dengan Air Prawitasari yang asli. Lalu Putri Buanadewi yang diam-diam menukar Air Prawitasari yang asli dengan yang palsu.
Melihat itu, murka lah Prabu Tirtabawana. Dia sungguh tidak menyangka bahwa tiga orang terdekatnya tega sekali mengkhianatinya. Dengan penuh kemurkaan, Prabu Tirtabawana menatap tajam ke arah Patih Krendaseba dan Putri Buanadewi yang ketakutan setengah mati karena perbuatannya telah ketahuan oleh Prabu Tirtabawana.
"Dimana Air Prawitasari milik ku, Krendaseba?
Dimana Air Prawitasari milik ku, Buanadewi?!
Cepat katakan atau aku akan membuat kalian sengsara dalam kehidupan ini dan berharap untuk mati!", ancam Prabu Tirtabawana dengan lantang.
"I-itu i-itu bu-bukan ha-hamba yang me-menyimpan nya, G-gusti Prabu..
Sungguh bukan hamba yang menyimpan nya", Patih Krendaseba dengan terbata-bata bicara. Seluruh tubuhnya menggigil ketakutan. Dia tahu bahwa Prabu Tirtabawana pasti akan menjatuhkan hukuman berat atas perbuatannya ini.
Mendengar jawaban Patih Krendaseba, Prabu Tirtabawana segera mengalihkan pandangannya pada Putri Buanadewi.
"Kau yang menyimpannya, Buanadewi?
Sekarang cepat berikan Air Prawitasari kepada ku sebelum aku sendiri yang akan memaksa mu untuk mengembalikan nya. Kalau sampai itu terjadi, akan ku pastikan bahwa kau akan sangat amat menyesalinya", ancam Prabu Tirtabawana sembari mengepalkan tangannya erat-erat di depan dada.
Putri Buanadewi hanya diam membisu seribu bahasa tanpa bicara sepatah katapun. Melihat itu, semakin murka Prabu Tirtabawana.
"Oh Buanadewi, kau sungguh menguji kesabaran ku!
"Dia tidak akan pernah bicara sedikitpun, Prabu Tirtabawana..
Karena dia telah menelan Air Prawitasari itu sebelum dia mengutuk Mpu Mangiran karena sakit hati nya", sahut sosok Sanghyang Wisnu segera. Mendengar itu, Prabu Tirtabawana segera mendekati Putri Buanadewi. Dan..
Plllaaaakkkkk!!!
Aaauuuuggggghhhhh?!!
Putri Buanadewi langsung jatuh terduduk dengan pipi kanan berwarna merah akibat tamparan keras Prabu Tirtabawana.
"Anak durjana!
Menyesal aku memelihara mu hingga kau sebesar ini. Wahai Sang Pemelihara Alam Semesta, dia telah mempermalukan ku dengan sikap durhaka nya. Sekarang aku serahkan sepenuhnya dia kepada mu. Dia tidak ada hubungan lagi dengan Kerajaan Alas Purwo", ucap Prabu Tirtabawana segera.
Airmata Putri Buanadewi langsung jatuh berderai mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Prabu Tirtabawana. Dia sungguh tidak menduga bahwa akhirnya akan seperti ini. Rencana balas dendam atas pengkhianatan Mpu Mangiran yang sempurna, akhirnya membawa petaka bagi dirinya sendiri.
Sosok agung berkulit biru terang itu segera melangkah ke depan Putri Buanadewi yang masih terduduk di lantai istana Kerajaan Siluman Alas Purwo.
"Sepertinya, ini adalah jalan nasib mu, Putri Buanadewi..
__ADS_1
Maaf, aku terpaksa harus mengambil Air Prawitasari dari dalam tubuh mu", ujar sosok agung itu sembari meletakkan tangannya di atas kepala Putri Buanadewi. Perlahan, cahaya 7 warna mulai keluar dari tubuh perempuan cantik berbaju hijau muda ini. Cahaya ini lantas berkumpul di telapak tangan sosok agung berkulit biru terang ini. Kemudian cahaya itu berkumpul bersama menjadi sebuah bola air berwarna biru kehijauan bersemu merah. Air Prawitasari telah keluar dari dalam tubuh Putri Buanadewi.
Namun bersamaan dengan itu, tubuh Putri Buanadewi pun mulai tembus pandang. Ini membuat dia dan semua orang yang ada di tempat itu terkejut bukan main.
"Wahai Sang Pemelihara Alam Semesta, apa yang terjadi pada hamba?", tanya Putri Buanadewi segera.
"Sudah menjadi suratan takdir Dewata..
Karena kau telah meminum Air Prawitasari, maka saat air suci ini keluar dari tubuh mu, kau akan menghilang dari dunia ini dan bersatu dengan pelangi. Kelak, saat ada seseorang yang bisa menemukan keberadaan ujung pelangi, kau akan terbebas dari takdir ini", ujar sosok agung itu segera.
"Tapi tapi tapi aku....", ujar Putri Buanadewi sambil terus menangis tersedu-sedu.
"Terimalah takdir mu...
Renungkan kembali kesalahan mu agar saat nanti kau terbebas dari takdir ini, kau akan lebih bisa menghargai kehidupan", ucap sosok agung itu sembari tersenyum tipis.
Perlahan, Putri Buanadewi menghilang dari pandangan mata semua orang dan berubah menjadi bulir bulir cahaya 7 warna seperti yang ada pada pelangi. Bulir-bulir cahaya berwarna-warni ini naik ke angkasa dan menghilang kemudian.
Bersamaan dengan itu, sosok agung itu kembali ke wujudnya semula yakni Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya. Di sisi lain, anak harimau putih yang tergeletak di atas tanah itupun segera membesar hingga seukuran semula. Harimau putih besar itu lantas bangkit dari tempat nya dan langsung berjalan mendekati Sang Pendekar Gunung Lawu.
Rupanya setitik Air Prawitasari yang terkandung dalam Air Prawitasari palsu itu telah mengembalikan kehidupan Resi Simharaja juga dengan kekuatan dan kemampuan beladiri nya. Namun untuk saat ini, dia masih harus menunggu waktu hingga bulan purnama untuk bisa kembali berwujud manusia.
Jaka Umbaran pun segera memberikan setetes Air Prawitasari pada Prabu Tirtabawana. Begitu Raja Siluman Alas Purwo ini meneguk air suci itu, tangan kiri nya yang putus pun segera tumbuh kembali. Segera penguasa Alas Purwo ini bersujud kepada Jaka Umbaran diikuti oleh seluruh siluman yang ada di tempat itu.
"Hormat kami, Sang Awatara Wisnu Yang Mulia", ucap semua siluman yang ada di tempat itu segera.
"Aku mengambil Air Prawitasari ini untuk menyembuhkan Kanjeng Romo Prabu Bameswara. Kelak suatu saat nanti, Air Prawitasari pasti akan kembali ke Alas Purwo sebagai pusaka kedewaan. Aku permisi dulu", begitu selesai bicara, Jaka Umbaran segera berjalan menuju ke arah pintu gerbang Kotaraja Siluman Alas Purwo. Diikuti oleh seekor harimau putih besar, Jaka Umbaran pun lantas menghilang dari pandangan mata semua siluman di tempat itu.
Setelah Jaka Umbaran pergi, Prabu Tirtabawana segera menoleh ke arah Patih Krendaseba dengan tatapan mata tajam.
"Krendaseba, sekarang waktunya aku mengurus mu!!"
****
Begitu keluar dari dalam Kotaraja Siluman Alas Purwo, Jaka Umbaran dan harimau putih besar penjelmaan dari Resi Simharaja melesat cepat kearah awal jalan mereka. Di pandu oleh penciuman tajam harimau putih besar itu, Jaka Umbaran bergerak cepat ke arah tempat pertarungan Gendol, Baratwaja, Besur dan Wara Andhira.
Hanya dalam hitungan beberapa tarikan nafas saja, Jaka Umbaran dan harimau putih besar itu sampai di tempat yang dituju. Disana terlihat Gendol, Baratwaja dan Besur sedang duduk di bawah pohon rindang sembari mengipasi tubuhnya yang berkeringat. Tak jauh dari mereka, Wara Andhira pun juga melakukan hal yang sama.
Kedatangan Jaka Umbaran beserta harimau putih besar itu langsung membuat para pengikutnya berdiri dan mendekati sang pangeran muda dari Kadiri.
"Kalian semua baik-baik saja?", mendengar pertanyaan itu, Besur, Gendol, Baratwaja dan Wara Andhira pun kompak mengangguk.
"Kami baik-baik saja, Gusti Pangeran", ucap Besur mewakili mereka berempat.
Mendengar jawaban itu, Jaka Umbaran segera tersenyum lebar sembari menghela nafas lega. Lalu, dengan penuh kegembiraan dia berkata,
__ADS_1
"Saatnya kita pulang ke Daha.."