
Setelah kabur nya Nyi Pelet dan Bagaswara abdi setia nya, Jaka Umbaran hendak melangkah ke arah para penduduk Wanua Jagara yang masih bengong melihat itu semua. Kesadaran mereka perlahan pulih seiring hilangnya pengaruh pelet Nyi Pelet. Namun saat itu, si pendeta pemuja Nyi Pelet yang bernama Daksina ini diam-diam mendekati gadis muda yang hendak di jadikan sebagai tumbal persembahan. Saat pengawasan Dewi Rengganis sedikit lengah, dia dengan cepat menarik tangan gadis muda itu lalu menempelkan pedangnya ke leher sang gadis.
Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga semua orang yang masih bergembira usai lolos dari jebakan pelet Nyi Pelet terkejut bukan main melihat kenekatan Daksina ini.
"Daksina, apa yang sedang kau lakukan?!", teriak salah seorang sesepuh Wanua Jagara dengan penuh amarah.
"Kalian telah menghancurkan semua rencana besar ku. Gadis ini harus mati agar Ratu Nyi Pelet kembali kemari", ucap Daksina putus asa.
"Kau jangan bodoh, paman..
Selama ini Nyi Pelet hanya membodohi kalian semua agar menjadi kambing perah yang bisa dia manfaatkan untuk menyediakan perempuan muda syarat ilmu sesat nya. Kau jangan sampai tertipu untuk kedua kalinya", ujar Dewi Rengganis segera.
"Tidak, Nyi Pelet pasti akan segera kembali kemari kalau gadis ini mati. Dia pasti akan kembali untuk membunuh kalian semua", setelah berkata begitu, Daksina menggerakkan tangannya bermaksud untuk menggorok leher gadis muda itu.
Jaka Umbaran yang diam-diam menyiapkan tahap pertama Ajian Guntur Saketi yang di namakan Jari Saketi segera mengibaskan ujung jari telunjuk ke arah leher Daksina yang ingin membunuh gadis muda dalam penyanderaan nya.
Cllaaaaaassshhhhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Daksina meraung keras kala cahaya putih kebiruan kecil yang terlontar dari ujung jari telunjuk tangan kanan Jaka Umbaran yang di jentikkan oleh sang pendekar muda ini melesat cepat kearah lehernya yang seketika itu juga memotong urat nadi lehernya. Darah segar muncrat keluar dari luka menganga di leher Daksina, sang pendeta pemuja Nyi Pelet. Pria tua itu langsung tersungkur bersimbah darah. Tubuhnya mengejang hebat sebentar sebelum diam untuk selamanya. Dia terbunuh oleh Jaka Umbaran dengan keadaan leher nyaris putus.
Kematian Daksina sontak membuat semua orang penduduk Wanua Jagara menghela nafas lega. Bagaimanapun juga, para pendekar yang sudah berhasil mengusir Nyi Pelet dari tempat itu pasti tidak akan memaafkan mereka andai gadis muda yang mereka selamatkan di bunuh oleh pendeta itu. Sesepuh Wanua Jagara, Aki Soma segera mendekati rombongan Jaka Umbaran.
"Hatur nuhun sadaya jawara..
Abdi teh Aki Soma, sesepuh Wanua Jagara ini. Kami sangat bersyukur atas bantuan yang para pendekar berikan. Selama ini kami terpaksa melakukan persembahan untuk Nyi Pelet karena kami tidak berdaya melawan kekuatan nya. Rama Wanua Jagara, Aki Rungkut pun sudah mereka bunuh jadi terpaksa kami menuruti perintah Daksina yang merupakan kaki tangan Nyi Pelet.
Sekali lagi saya mewakili seluruh penduduk Wanua Jagara mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk pertolongan pendekar sadayana. Semoga Hyang Batara Agung selalu melindungi kalian ", ucap Aki Soma dengan penuh hormat.
"Sudah kewajiban kami untuk menolong siapapun yang sedang tertindas, Aki Soma.
Oh iya, kami ingin beristirahat di tempat ini. Tapi itu jika kalian tidak keberatan", ucap Buyut Wangsanaya mewakili Jaka Umbaran, Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja.
"Tentu saja tidak..
Sebaiknya pendekar sadayana beristirahat di rumah saya saja, tempatnya cukup luas untuk semuanya. Namun ya hanya sederhana saja, tidak mewah seperti di kota.
Mari ikuti saya, pendekar sadayana", Aki Soma segera melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya mengekor di belakangnya. Para penduduk Wanua Jagara pun segera mengikuti langkah mereka. Malam itu, rombongan Jaka Umbaran bermalam di Wanua Jagara yang terletak di tepi Sungai Cisanggarung.
__ADS_1
Saat fajar menyingsing di ufuk timur, rombongan kecil itu segera meninggalkan Wanua Jagara. Aki Soma mengantar mereka hingga ke ujung kampung. Mereka segera memacu kencang kuda tunggangan nya ke arah barat daya dimana itu adalah arah Ibukota Kerajaan Galuh Pakuan, Kawali.
****
Ibukota Kerajaan Galuh Pakuan, Kawali, terletak di daerah subur yang terhimpit dua anak sungai Citanduy yaitu Sungai Citanduy Hulu dan Sungai Cipakancilan. Sejak awal pembangunan nya sebagai ibukota Kerajaan Galuh Pakuan yang sering berpindah tempat dari awal berdirinya kerajaan ini, Kawali dipandang sebagai tempat yang paling sempurna untuk mendirikan sebuah Kotaraja meskipun letaknya di pedalaman.
Meskipun sedikit jauh dari pelabuhan, namun nyatanya kota ini ramai dikunjungi oleh para pedagang dan pelancong yang datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Galuh Pakuan yang terkenal dengan hasil palawija, padi-padian juga gula merah dari aren dan kelapa menjadi tempat perniagaan penting bagi para pedagang yang ingin menjual produk mereka ke daerah lain seperti Paguhan dan Kalingga. Selain itu, ribuan orang dari luar negara seperti Pajajaran dan Sriwijaya banyak yang berkunjung ke Kawali entah itu untuk urusan politik maupun belajar keagamaan.
Saat ini, Kerajaan Galuh Pakuan diperintah oleh Maharaja Prabu Langlangbumi yang sudah berusia lanjut meskipun dia tidak sepenuhnya memerintah Kerajaan Galuh Pakuan. Sebagian besar pekerjaan nya telah di tangani oleh Rakeyan Jayagiri, menantu nya yang berasal dari Panjalu. Sedangkan untuk urusan punggawa dan tata laksana pemerintahan di atur oleh Mangkubumi Ranayasa bersama para Nunangganan, Mantri dan Wado yang merupakan punggawa Kerajaan Galuh Pakuan.
Saat ini, di istana putra mahkota, nampak Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri sedang duduk bersila menerima kunjungan Nunangganan Siwikarma yang telah pulang ke Kawali usai mengunjungi kediaman Buyut Wangsanaya, Si Tabib Sakti Bertangan Satu sesuai dengan perintah dari Mangkubumi Ranayasa tempo hari.
Mendengar laporan Nunangganan Siwikarma, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri menghela nafas berat. Sakitnya putri sulungnya yang merupakan sekar kedaton Istana Kotaraja Kawali benar-benar membuat seisi istana gundah gulana.
Hemmmmmmm..
"Jadi Tabib Sakti Bertangan Satu itu menolak untuk berangkat bersama mu, Siwikarma?", ujar Rakeyan Jayagiri sembari menatap ke punggawa tinggi Istana Kawali ini.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Buyut Wangsanaya keukeuh ingin berangkat sendiri tanpa pengawalan dari kami. Hamba terpaksa mengiyakan saja permintaannya yang penting dia mau berangkat mengobati Gusti Putri Padmadewi", Nunangganan Siwikarma segera menghormat usai berbicara.
"Hamba yakin Tabib Sakti Bertangan Satu itu tidak akan ingkar janji, Yang Mulia..
Bersabarlah sebentar lagi. Dia pasti akan datang menyembuhkan Gusti Putri Padmadewi", ucap Nunangganan Siwikarma segera. Mendengar ucapan itu, Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri hanya menghela nafas panjang sebelum berkata,
"Hemmmmmmm.. Aku harap juga begitu".
****
Perjalanan Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya hari ini nyaris tidak menemui hambatan yang berarti. Melewati beberapa perkampungan kecil seperti Cageur dan Indragiri, rombongan itu menghentikan perjalanan nya di tepi hutan yang menjadi batas wilayah antara wilayah Indragiri dengan perkampungan di sebelah selatan yakni Wanua Karangpaningal.
Hari telah menjelang sore. Langit barat telah menunjukkan semburat merah jingga yang menandakan bahwa sebentar lagi senja akan segera turun. Itu artinya rombongan Jaka Umbaran terpaksa harus bermalam di hutan lebat ini.
Keberadaan saja, tak jauh dari tempat mereka berhenti ada sebuah sungai kecil yang berair jernih. Juga banyak kayu kering yang bisa digunakan untuk membuat api unggun yang bisa mereka gunakan untuk berdiang dan menjauhkan diri dari binatang buas yang mungkin saja berkeliaran di sekitar tempat itu.
Jaka Umbaran segera melompat turun dari kudanya dan menambatkan nya di salah satu pohon perdu yang ada di sana. Resi Simharaja, Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Buyut Wangsanaya pun segera mengikuti langkah sang pendekar muda yang menjadi pimpinan rombongan ini meskipun Buyut Wangsanaya lah yang sebenarnya memiliki kepentingan di Kawali.
Semua orang segera mempersiapkan segala keperluan untuk bermalam di tempat terbuka ini. Nyai Larasati dan Dewi Rengganis mengambil air di sungai kecil sekalian membersihkan diri setelah seharian penuh melakukan perjalanan. Buyut Wangsanaya juga tidak bisa berpangku tangan. Lelaki tua bertangan buntung itu mengumpulkan ranting dan cabang pohon yang kering sebagai bahan untuk membuat api unggun. Sedangkan Jaka Umbaran dan Resi Simharaja melesat masuk ke dalam hutan untuk menemukan sesuatu yang bisa mereka makan malam ini.
__ADS_1
Malam itu, rombongan itu berkumpul di sekitar api unggun yang mereka buat. Resi Simharaja berhasil menangkap seekor kijang berukuran sedang yang cukup untuk mengenyangkan perut mereka semua sedangkan Jaka Umbaran menemukan setandan pisang matang yang mereka santap sebagai pelengkap makanan mereka.
Saat mereka sedang asyik berbincang tentang apa yang telah mereka lalui, tiba-tiba saja telinga peka Jaka Umbaran menangkap suara orang bertarung tak jauh dari tempat mereka bermalam. Segera ia menoleh ke arah Resi Simharaja. Melihat manusia jadi-jadian itu mengangguk, Jaka Umbaran segera mengangkat tangan kanannya. Obrolan mereka pun terhenti seketika.
"Ada apa Kakang?", tanya Dewi Rengganis segera.
"Ada suara orang sedang mengadu ilmu kesaktian dari sebelah sana. Sebaiknya kalian bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Aku akan memeriksa nya", Jaka Umbaran segera bangkit dari tempat duduknya. Resi Simharaja pun segera ikut berdiri.
"Saya ikut Ndoro"
Mendengar ucapan itu, Jaka Umbaran mengangguk mengerti dan keduanya segera melesat cepat kearah yang ditunjukkan. Sebentar saja, keduanya telah menghilang di balik kegelapan malam.
300 tombak jauhnya dari tempat bermalam..
Whuuuggghh whuuuggghh..
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh...
Blllaaammmmmmmm!!!
Dua orang kakek tua sama-sama tersurut mundur beberapa puluh tombak ke belakang usai ledakan dahsyat terdengar saat mereka mengadu ilmu kesaktian. Keduanya ngos-ngosan mengatur nafasnya mereka masing-masing. Salah seorang diantara mereka, yakni kakek tua berkumis dan berjenggot panjang berbaju merah dengan ikat kepala merah dan ****** ***** hitam mengusap peluh yang membasahi dahinya yang keriput sambil tersenyum lebar.
"Kau cukup hebat juga, Sanjaya.. Puluhan tahun tidak bertemu, rupanya Ajian Gunung Runtuh mu tak bisa disepelekan lagi", ucap kakek tua berbaju merah itu segera.
"Tunggulherang Si Setan Merah..
Aku juga akui Ajian Setan Api mu masih tangguh seperti dulu. Tapi aku Sanjaya, Si Iblis Biru tidak akan mudah kau kalahkan", ucap kakek tua berbaju biru sambil menepuk dadanya.
"Hehehehe..
Jangan sombong, Sanjaya. Kita ini sudah tua jadi kemampuan kita sudah berkurang karena usia", ucap Tunggulherang Si Setan Merah sembari melirik ke arah barat.
"Apa maksud omongan baru saja, setan tua?", Sanjaya Si Iblis Biru mengerutkan keningnya dalam-dalam karena tidak mengerti apa maksud omongan musuh bebuyutannya itu.
Mendengar itu, Tunggulherang Si Setan Merah tersenyum penuh arti sembari berkata,
"Kita sudah mengeluarkan seluruh kemampuan beladiri kita, Sanjaya. Tapi kita tidak menyadari bahwa,
Ada dua orang tikus sedang mengintip"
__ADS_1