
Jaka Umbaran yang berdiri paling depan langsung mendapat pelototan mata dari lelaki bertubuh gempal itu. Karena merasa tidak menyerang, Jaka Umbaran melirik samping kanan dan kirinya lalu mendapati Gendol cengar-cengir sambil mengusap-usapkan telapak tangannya yang kotor akibat debu yang menempel di batu tadi. Terang saja, Jaka Umbaran langsung tahu siapa pelaku penyerangan itu tadi.
"Heh kau, Si Baju Biru Tanpa Lengan..
Kenapa kau tolah toleh ke samping kanan dan kiri ha? Jangan berlagak sok lugu dan mengira aku tidak tahu bahwa kau adalah orang yang menyerang kami. Sini maju kau!", ucap lelaki bertubuh gempal dengan muka codet itu garang sambil menunjuk ke arah Jaka Umbaran.
"Awas kau Ndol..
Ulah mu membuat kita dalam masalah", gerutu Jaka Umbaran yang kesal karena Gendol langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersiul rendah seolah dia bukan pelaku nya. Jaka Umbaran pun segera melangkah maju.
"Siapa kalian? Ada hubungan apa dengan Landungseta dan Mustikaweni ha?", hardik si lelaki bertubuh gempal bersenjata kapak besar itu.
"Aku tidak ada kenal juga tidak ada hubungan dengan kedua orang ini tapi melihat seorang pendekar menindas orang yang lebih lemah, aku tidak bisa berdiam diri saja", ucap Jaka Umbaran dengan tenang.
Chhuuuiiiihhhh...
"Cari perkara kau rupanya. Sebut nama mu sebelum aku Endaru si Pendekar Kapak Maut dari Padepokan Gunung Menir mencabut nyawa mu", teriak si lelaki bertubuh gempal itu keras.
"Eleh, mentang-mentang punya kapak besar lantas mengagungkan diri sendiri sebagai Pendekar Kapak Maut.
Kapak besar mu cuma cocok untuk menebang kayu di hutan, bukan untuk menakuti orang seperti majikan ku ini. Ndoro Umbaran, monggo silahkan diatasi", ujar Gendol yang membuat Jaka Umbaran langsung mendelik tajam ke arah nya.
Geram dengan ejekan Gendol, Endaru si Pendekar Kapak Maut dari Padepokan Gunung Menir melompat maju ke arah mereka sambil mengayunkan kapak besar nya. Jaka Umbaran hanya sedikit menggeser posisi tubuhnya sedangkan Gendol menjauhi tempat itu hingga tebasan kapak besar itu hanya sejengkal menyambar angin di samping tubuh Jaka Umbaran. Sang pendekar muda segera mengibaskan lengan kanan nya ke arah perut Endaru dengan keras.
Bhhuuuggghhh..
Uuuuuuggggghhhhhhhh!!!
Endaru tersurut mundur beberapa langkah ke belakang dengan bilah kapak besar nya ikut terseret hingga membentuk sebuah garis. Endaru sedikit kaget melihat kemampuan tenaga dalam yang dimiliki oleh lawannya.
Begitu juga dengan Landungseta dan Mustikaweni. Sepasang muda mudi ini terperangah melihat itu semua. Mereka berdua tidak menyangka bahwa jagoan dari Padepokan Gunung Menir ini bisa dipaksa mundur hanya dengan sekali pukulan.
Merasa tidak terima dengan balasan Jaka Umbaran, Endaru dengan amarah yang meledak-ledak langsung menerjang maju kembali ke arah Jaka Umbaran dengan serangan cepat kapak besar nya.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh..
Thhrrraaaakkkkkk dhasshhh!!
Serangan cepat membabi-buta dari Endaru dengan mudah dapat dihindari oleh Jaka Umbaran. Kapak besar nya memang memiliki daya hancur yang mematikan namun itu juga membuat gerakan nya menjadi lambat dan mudah untuk kalahkan oleh Jaka Umbaran yang terlihat begitu tenang menghadapi amukan Si Pendekar Kapak Maut.
Beberapa pukulan keras Jaka Umbaran telah mendarah di tubuh Endaru. Beberapa benjolan telah nampak di kepala pendekar ini berikut lebam dan memar di bagian tubuh lainnya. Satu pukulan keras yang terakhir Jaka Umbaran membuat Endaru jatuh terjerembab ke tanah. Tanpa mempedulikan lagi harga diri nya yang selalu di sanjung oleh anak buah nya, Endaru langsung menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
"Semuanya, jangan diam saja! Habisi pendekar muda itu!"
Para pengikut Endaru langsung menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dengan senjata terhunus. Dua tebasan golok mereka langsung mengarah ke leher, sedangkan dua lainnya membabat ke arah kaki.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth shhrreeettthhh!
Jaka Umbaran segera melakukan gerakan menghindar dengan berguling di antara dua serangan cepat keempat orang pengikut Endaru. Begitu di tanah, dia memutar tubuhnya dengan cepat dan melayangkan dua tendangan keras kearah punggung kedua pengikut Endaru.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!
Dua pengikut Endaru itu langsung terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Melihat pengikutnya di jatuhkan, Endaru langsung melompat ke arah Jaka Umbaran yang masih di tanah dengan mengayunkan kapak besar nya untuk membelah tubuh pendekar muda ini.
"Mampus kowe keparat!!"
Whuuuggghh...
Jaka Umbaran segera menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya meluncur cepat diatas permukaan tanah. Dia lolos dari ayunan kapak besar Endaru. Setelah itu ia merubah gerakan tubuhnya dan melesat cepat kearah sang pendekar bertubuh gempal itu sembari menghantamkan kepalan tangannya ke arah dada.
Bhhhuuuuuuggggh.. Krrraaaakkkkkk..
Endaru menjerit keras saat kepalan tangan kanan Jaka Umbaran yang dilapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi menghajar iga nya hingga terdengar bunyi gemerutuk yang menandakan adanya tulang patah. Kapak besar nya terlepas dari genggaman dan tubuh nya terjatuh keras ke tanah. Dua orang pengikut setia nya langsung menghampiri Endaru dan membantu nya berdiri. Darah segar terlihat meleleh keluar dari sudut bibirnya. Sementara dua lainnya mengambil kapak besar nya yang tergeletak di atas tanah.
"Bajingan busuk, urusan kita belum selesai. Tunggu pembalasan ku.. Uhukkk uhukkk", setelah mengeluarkan ancaman nya, dengan langkah kaki sempoyongan Endaru segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh para pengikutnya. Mereka pun segera memacu kuda mereka hingga tak lama kemudian sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.
"Yah, kok dibiarkan kabur sih Ndoro Pendekar? Harusnya di hajar sampai mampus saja", ucap Gendol yang berjalan mendekati Jaka Umbaran.
"Tutup mulut mu Ndol..
Lain kali kalau kau membuat ulah, jangan harap aku akan sudi membantu lagi", balas Jaka Umbaran sengit. Gendol yang hendak menanggapi omongan pendekar muda ini, kalah cepat dengan omongan Landungseta dan Mustikaweni yang juga ikut mendekati Jaka Umbaran.
"Terimakasih banyak atas bantuan mu, Pendekar. Jika kau tidak turun tangan, aku sudah pasti kehilangan nyawa", ucap Landungseta segera.
"Tidak perlu terlalu sungkan. Kebetulan saja kami lewat dan memang tidak suka melihat penindasan terhadap sesama manusia terjadi.
Kalau boleh tahu, ada masalah apa antara kalian dengan orang itu?", tanya Jaka Umbaran sembari membersihkan sisa-sisa debu yang mengotori tubuh nya.
"Panjang ceritanya Pendekar..
Nanti saja kita bicarakan. Sebaiknya pendekar sekalian ikut aku ke tempat guru ku di Pertapaan Dihyang. Jika kita berangkat sekarang, pas matahari terbenam kitZ sudah sampai di sana. Lagipula ini sudah cukup sore, jika kalian melanjutkan perjalanan ke arah lain pasti akan kemalaman di hutan karena dari sini ke pemukiman penduduk terdekat masih cukup jauh. Bagaimana? Apakah kalian bersedia untuk bermalam di tempat guru ku?", tatap mata penuh harap dari Landungseta membuat Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja dan Gendol. Kedua orang itu segera mengangguk setuju.
__ADS_1
"Sepertinya kami tidak ada pilihan lain selain ikut dengan mu. Silahkan pimpin jalan..", begitu ucapan itu di dengar, Landungseta dan Mustikaweni segera tersenyum lebar. Bersama dengan Jaka Umbaran dan kawan-kawan, itu berarti keamanan mereka berdua pulang ke Pertapaan Dihyang akan terjamin.
Mereka segera memacu kuda mereka masing-masing ke arah timur laut. Tempat yang menjadi perbatasan wilayah antara Bhumi Sambara, Kalingga dan Kadipaten Kembang Kuning.
Seorang lelaki tua berjanggut putih panjang hingga menyentuh dada yang memiliki tatapan mata penuh welas asih terlihat menghitung sesuatu dengan menekan ruas jari tangan kiri nya. Tangan kanan nya terlihat memutar sebuah tasbih dari biji genitri berwarna merah. Dandanan nya yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang brahmana dengan ciri khas kain berwarna jingga semakin menambah keagungan penampilan lelaki tua yang berusia lebih dari 9 dasawarsa ini. Dia terlihat berdiri di tepi bangunan tanpa dinding beratapkan daun alang-alang kering sebagaimana umumnya bangunan di Tanah Jawadwipa pada masa itu.
Senja terlihat memerah di ufuk barat. Angin dingin berdesir perlahan dari puncak Gunung Sumbing dan Sindoro, seolah membelai lembut wilayah Pertapaan Dihyang dengan rasa dingin yang menusuk tulang. Maklum saja, ini adalah bulan Kawolu atau bulan kedelapan dimana sekitar wilayah Tanah Tinggi Dihyang ( Dieng sekarang ) memang terasa lebih dingin dari biasanya.
Tiba-tiba saja, hitungan lelaki tua berjanggut panjang itu terhenti. Lalu seulas senyuman lebar tersungging di bibirnya yang keriput. Sepertinya ada sesuatu yang menggembirakan hatinya.
Hemmmmmmm..
"Rupanya hari ini adalah hari kedatangan mu, wahai Titisan Dewa Wisnu..
Akan ku tambahkan pengetahuan ilmu kanuragan ku kepada mu hingga kelak kau mampu menentramkan seluruh dunia dengan kebijaksanaan mu", gumam lelaki sepuh itu seraya tersenyum menatap ke arah barat. Dia tidak peduli dengan kesibukan para cantrik nya yang sibuk menyiapkan kayu-kayu kering untuk berdiang saat malam hari tiba di kawasan Dataran Tinggi Dihyang.
Dia adalah Begawan Sidicarita, pimpinan Pertapaan Dihyang yang menjadi pemelihara sekaligus sebagai penghuni kawasan percandian Dieng. Sebagai salah satu dari sekian banyak pertapaan di wilayah Kerajaan Panjalu, Pertapaan Dihyang menjadi yang tertua yang masih ada meskipun mereka bukan yang pertama. Selain sebagai tempat belajar agama, tempat ini juga mengajarkan kepada para cantrik-cantrik nya ilmu kanuragan tingkat tinggi. Meskipun demikian, mereka enggan untuk terlibat dalam riuhnya dunia persilatan Tanah Jawadwipa dan tetap menjaga prinsip ini sejak awal pendiriannya.
Tepat sebelum matahari terbenam di ufuk barat, serombongan orang berkuda memasuki pintu masuk Pertapaan Dihyang. Para murid yang bertugas sebagai penjaga pintu masuk sama sekali tidak menanyai siapa mereka karena melihat Landungseta, murid Begawan Sidicarita ada di dalam rombongan itu. Malahan mereka membungkuk hormat kepada Landungseta.
Tanpa berhenti, mereka menuju ke arah sebuah bangunan dimana Begawan Sidicarita berdiri seolah sedang menunggu kedatangan mereka.
"Hormat saya, guru..
Maafkan saya karena terlambat datang. Tapi perintah guru untuk membawa Mustikaweni kemari telah saya laksanakan", ucap Landungseta sambil menghormat pada Begawan Sidicarita.
"Kau sudah melaksanakan tugas dengan baik, Landungseta. Mustikaweni, selamat datang di Pertapaan Dihyang. Kelak ini yang akan menjadi tempat tinggal mu. Semoga kau kerasan tinggal bersama kami", ucap Begawan Sidicarita dengan ramah.
"Weni sudah sangat bersyukur atas apa yang telah di lakukan oleh Kakang Landungseta, Begawan..
Dan juga Weni berterimakasih kepada Begawan Sidicarita karena sudah mengutus Kakang Landungseta ke Wanua Palawijan. Andaikata Kakang Landungseta terlambat sebentar saja, tentu Endaru dan para murid Padepokan Gunung Menir akan membawa saya", ucap Mustikaweni sembari memamerkan senyuman manis nya.
"Tidak perlu sungkan. Ini semua sudah menjadi suratan Dewata. Kita hanya perlu menjalani nya dengan penuh sukacita.
Oh iya sampai lupa aku dengan tata krama untuk tamu agung yang berkunjung kemari. Selamat datang Gusti Pangeran..", Begawan Sidicarita membungkuk hormat kearah rombongan itu. Tentu saja semua orang langsung kebingungan dengan sikap orang tua itu. Ini karena tak satupun dari orang orang itu yang merupakan seorang bangsawan.
Landungseta yang tidak bisa menahan rasa keingintahuannya tentang maksud dari ucapan gurunya itu, segera mengutarakan pertanyaan,
"Mohon maaf jika saya lancang bertanya. Tapi jujur saja saya sangat penasaran.
Siapa Gusti Pangeran yang guru maksudkan?"
__ADS_1