
"Dunia memang harus di tenteramkan dengan sedikit sikap tegas, Resi Simharaja..
Selama keangkaramurkaan terus menebar malapetaka bagi umat manusia, aku tidak akan tinggal diam begitu saja", ujar Sang Butha Agni lantang.
"Hamba mengerti, Wahai Sang Awatara Wisnu Yang Mulia..
Tapi untuk saat ini, sudah cukup amarah mu Sang Awatara Wisnu. Nanti akan tiba waktunya untuk menggunakan amarah mu sebagai penentram kehidupan manusia", ucap Resi Simharaja tanpa mengangkat kepalanya yang masih bersujud di kaki sang raksasa merah.
Hemmmmmmm..
"Aku mengerti apa yang kau bicarakan, Resi Simharaja. Terimakasih telah mengingatkan ku", setelah berkata demikian, Butha Agni segera berlutut dengan dengan satu dengkul menyangga di tanah. Kedua tangan nya menyembah pada langit dan perlahan wujudnya menyusut dan mengecil hingga ke ukuran tubuh Mapanji Jayabaya semula.
Setelah itu, Jaka Umbaran langsung roboh pingsan. Dia masih belum terbiasa dengan kekuatan besar Butha Agni.
Buru-buru para pengikutnya mengerumuni tubuh sang pangeran. Nyai Paricara sang tabib sakti segera memeriksa denyut nadi nya. Setelah itu ia tersenyum tipis saja.
"Tidak apa-apa, Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya hanya kelelahan saja. Sebaiknya kita mencari tempat untuk Gusti Pangeran bisa beristirahat dengan tenang", ucap Nyai Paricara segera.
"Menurut saya, sebaiknya kita kembali saja ke Istana Pakuwon Watugaluh. Disana lebih tenang dan aman", ucap Akuwu Mpu Setyaki sembari menatap ke arah para pengawal setia Mapanji Jayabaya ini.
"Aku setuju dengan pendapat Kanjeng Romo Akuwu.
Jika kita pulang ke Daha dalam keadaan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya seperti ini, tentu Gusti Prabu Bameswara akan marah besar. Lebih baik tunggu kesehatan Gusti Pangeran pulih dulu sebelum kita pulang ke Istana Katang-katang", usul Gendol yang langsung disambut anggukan kepala dari Resi Simharaja dan Baratwaja. Hanya Besur saja yang tidak memberi tanggapan.
Mereka pun segera membawa Jaka Umbaran kembali ke Istana Pakuwon Watugaluh. Kedatangan mereka kembali langsung membuat heboh seisi istana. Namun Akuwu Mpu Setyaki memerintahkan kepada para prajurit dan punggawa istana untuk berjaga-jaga di sekitar tempat istirahat Sang Yuwaraja Panjalu. Selain Nyai Paricara, tak seorangpun diijinkan untuk masuk ke dalam kamar tidur Jaka Umbaran.
Untuk Wara Andhira, atas perintah dari Resi Simharaja selaku orang yang dituakan dalam kelompok pengawal pribadi Yuwaraja Panjalu, sementara di jebloskan ke dalam penjara kota sembari menunggu Jaka Umbaran siuman dari pingsannya.
Dua hari sudah Jaka Umbaran terbaring pingsan di dalam kamar tidur nya. Pagi itu sudah hari ketiga sang pangeran muda masih juga belum sadar dari pingsannya. Selama ini pula, Nyai Paricara alias Indrawati sang putri dari Negeri Champa dengan telaten merawat sang pangeran muda. Setiap hari ia membersihkan tubuh dan wajah tampan Jaka Umbaran dengan kain basah hanya sekedar agar sang pangeran muda merasa segar. Selain itu, dia juga meracik aneka obat yang akan diberikan kepada Jaka Umbaran saat siuman nanti.
Pagi itu, Nyai Paricara kembali masuk ke dalam kamar tidur Jaka Umbaran. Begitu sampai di dekat ranjang tidur sang pangeran mahkota Kerajaan Panjalu itu, dia meletakkan nampan berisi gendok dan kain bersih. Begitu tutup gendok itu dibuka oleh Indrawati, bau harum daun sirih dengan taburan bunga mawar nampak mengapung diatas air hangat.
Segera Nyai Paricara alias Indrawati segera mencelupkan kain bersih itu ke dalam gendok dan memerasnya hingga tiris. Kemudian dia memutar tubuhnya dan menghadap ke wajah tampan Jaka Umbaran yang nampak seperti sedang tertidur pulas.
"Selamat pagi, Pangeran Daha...
Kau nampak lebih tampan hari ini. Kita mulai membersihkan wajah tampan mu ya", ucap Nyai Paricara sambil tersenyum manis dan mulai mengusap wajah Jaka Umbaran dengan air hangat bercampur bunga mawar dan daun sirih.
Dengan telaten dan hati-hati, Nyai Paricara mengusap dahi Jaka Umbaran. Lalu turun ke arah mata untuk membersihkan kotoran mata. Saat sampai di bibir Jaka Umbaran, Nyai Paricara alias Indrawati tertegun melihat betapa tampannya lelaki bertubuh kekar ini.
"Kau benar benar tampan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya..
Kalau Utusan Daha yang bernama Panji Tejo Laksono itu punya anak setampan kamu dan dia memenuhi janji yang telah di buat dengan ibu ku, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini", tutur lembut Nyai Paricara. Entah kenapa, tiba-tiba saja wajah cantiknya terasa panas. Jika ada orang lain yang melihat itu semua, tentu mereka akan melihat wajah cantik perempuannya asal Negeri Champa itu tengah memerah saking malunya karena berkata seperti itu pada sang pangeran muda dari Kadiri.
__ADS_1
Entah keberanian darimana datangnya, mungkin juga karena melihat Jaka Umbaran masih dalam keadaan pingsan, Indrawati pun mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Jaka Umbaran. Begitu kulit wajah cantik nya menyentuh wajah pangeran muda dari Kadiri ini, Indrawati alias Nyai Paricara pun langsung mengecup bibir Jaka Umbaran.
Cupppppppph!
Melihat Jaka Umbaran masih belum juga siuman dari pingsannya, Indrawati semakin berani. Dengan cepat, ia memagut bibir tipis sang pangeran muda. Semakin lama ciuman panas perempuan cantik asal Negeri Champa itu semakin menggila. Bahkan dia mulai berani menyapukan lidah nya untuk membuka mulut sang pangeran muda.
Tanpa disadari oleh Indrawati yang masih asyik mencumbu bibir menawan Jaka Umbaran, mulut sang pangeran muda sedikit terbuka. Sapuan lidah Indrawati berani masuk ke dalam mulut Sang Pendekar Gunung Lawu.
Eeeemmmmmmhhh!!
Lengguhan berulang kali terdengar dari dalam kamar tidur Jaka Umbaran. Indrawati pun semakin terhanyut dalam nikmatnya bercumbu dengan sang pangeran muda. Lidah Jaka Umbaran pun segera membelit lidah Indrawati. Ini seketika menyadarkan perempuan cantik itu. Dia segera melepaskan cumbuan nya pada Jaka Umbaran.
Dia langsung hendak menjauh dari Jaka Umbaran namun tubuhnya tertahan oleh tangan kiri Jaka Umbaran.
"Kau mau kemana?", ucap Jaka Umbaran sembari tersenyum penuh arti.
"Ah itu aku eh..
Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sudah sadar dari tadi ya?", Nyai Paricara alias Indrawati mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah bangun. Cuma karena malas untuk keluar, aku teruskan saja tidur ku.
Tidak menyangka kalau pagi-pagi akan ketiban rejeki di cumbu sama perempuan cantik dari negeri seberang", mendengar jawaban itu, wajah cantik Indrawati langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Ah ja-jadi Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya dari awal sudah merasakan apa yang aku lakukan?
"Lah kenapa harus di tolak? Aku menyukai nya kog", Jaka Umbaran kembali tersenyum penuh arti dan menarik pinggang Indrawati. Namun kali ini dia dengan cepat memutar tubuhnya hingga mereka berganti posisi. Kini ganti Jaka Umbaran yang menindih tubuh ramping Indrawati.
Terpana dengan tingkah nakal sang pangeran muda, Indrawati sama sekali tidak bisa mengelak dari balasan cumbuan Jaka Umbaran. Dia bahkan sama sekali tidak menolak saat lidah Jaka Umbaran mulai menjelajah ke dalam mulutnya.
Saat mereka sedang dalam ciuman panas, tiba-tiba..
Thhookkkk thhookkkk thhookkkk!!!
Jaka Umbaran segera melepaskan cumbuan nya. Begitu juga dengan Indrawati. Keduanya ngos-ngosan mengatur nafasnya yang memburu.
"Siapa di luar?", ucap Indrawati segera.
"Saya Nyai Paricara, Besur. Ada seorang utusan dari Daha. Rupanya berita tentang Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya sedang pingsan sudah bocor kesana. Bagaimana ini?", ucap Besur dari luar pintu kamar tidur.
Jaka Umbaran segera merapikan pakaiannya begitu juga dengan Nyai Paricara alias Indrawati. Sambil mendengus dingin karena kesal diganggu, Jaka Umbaran melangkah menuju pintu kamar tidur diikuti oleh Nyai Paricara alias Indrawati.
Krriiieeeeeettttthhhh!!
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku sedang pingsan?", ucap Jaka Umbaran segera setelah daun pintu kamar tidur nya terbuka lebar.
"Loh Gusti Pangeran sudah siuman to?
Puji syukur pada Dewa penguasa alam semesta. Ah hamba tidak perlu repot-repot lagi mencari alasan pada Tumenggung Mapanji Baguna kalau begitu", ucap Besur sembari menghela nafas lega.
Hemmmmmmm..
"Memang berapa lama aku pingsannya?", Jaka Umbaran menoleh ke arah Nyai Paricara.
"Dua hari Gusti Pangeran. Ini adalah hari ketiga kita kembali ke Istana Pakuwon Watugaluh", jawab Nyai Paricara sembari menundukkan wajahnya.
"Pantas saja aku merasa tidur sangat lama..
Ayo kita temui Dhimas Tumenggung Mapanji Baguna. Dimana dia sekarang?", Jaka Umbaran menatap ke arah Besur yang duduk bersila di lantai depan kamar tidur.
"Sekarang dia ada di balai pisowanan Pakuwon Watugaluh, Gusti Pangeran", balas Besur sembari menghormat.
Jaka Umbaran segera melangkah lebih dulu diikuti oleh Besur dan Nyai Paricara. Mereka bertiga pun segera melangkah menuju ke arah balai pisowanan Pakuwon Watugaluh. Resi Simharaja yang berjaga di luar tempat peristirahatan Jaka Umbaran, ikut bergabung dengan mereka. Sesampainya di sana, Tumenggung Mapanji Baguna telah duduk bersila dengan Akuwu Mpu Setyaki dan Baratwaja.
"Sembah bakti hamba Kangmas Pangeran", ucap Tumenggung Mapanji Baguna segera.
"Jangan terlalu banyak adat istiadat, Dhimas Tumenggung..
Ada apa kau kemari?", tanya Jaka Umbaran sembari mendudukkan dirinya di antara mereka.
"Hamba kemari atas perintah dari Paman Prabu Bameswara, Kangmas Pangeran.
Yang pertama adalah kedatangan Dewi Rengganis dan Adipati Prabhaswara. Bersamaan dengan itu, datang juga Adipati Lewa Wangsakerta dengan putri nya Dewi Pandan Wangi. Untuk mereka, hanya Gusti Pangeran yang tahu apa yang harus dilakukan", ucap Tumenggung Mapanji Baguna seraya tersenyum penuh arti.
Jaka Umbaran menghela nafas berat sembari menepuk jidatnya.
"Lantas apa yang kedua?", Jaka Umbaran kembali bertanya pada Tumenggung Mapanji Baguna, putra Pangeran Panji Manggala Seta Bupati Gelang-gelang.
"Ada suatu masalah besar yang sedang terjadi di perbatasan antara Jenggala dan Panjalu. Gusti Prabu Bameswara meminta semua punggawa istana negara untuk berkumpul membahas masalah ini, Gusti Pangeran.
Jadi hamba kemari ditugaskan oleh Gusti Prabu Bameswara untuk menjemput Kangmas Pangeran", setelah berbicara demikian, Tumenggung Mapanji Baguna menatap ke arah Jaka Umbaran menanti jawaban nya.
"Kalau begitu, kita persiapkan segala sesuatu nya untuk pulang ke Daha. Kita berangkat hari ini juga..
Eh dimana Gendol?", Jaka Umbaran menyadari bahwa Gendol sedang tidak ada diantara mereka.
Besur yang sudah sejak awal tadi menahan kesal karena Gendol yang sering melalaikan tugas nya berjaga di sekitar tempat tinggal Jaka Umbaran, langsung buka suara,
__ADS_1
"Yah mau dimana lagi dia berada Gusti Pangeran.
Sudah pasti sedang bersama istrinya"