JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Di Kota Kanjuruhan


__ADS_3

."Olahraga? Siang bolong begini??", Besur mengerutkan keningnya dalam-dalam.


"Jangan banyak tanya, perut ku masih mulas. Apa kau melihat ada pohon kelapa di sekitar sini?", Jaka Umbaran mengusap-usap perutnya.


"Di sebelah sana, Gusti Pangeran..


Dekat dengan jalan besar ada sebatang pohon kelapa. Memangnya ada apa dengan pohon kelapa?", tanya Gendol yang ikut mendekati sang pangeran muda.


"Untuk obat..", jawab Jaka Umbaran singkat sembari melangkah ke arah yang ditunjuk oleh Gendol. Begitu sampai di bawah pohon kelapa, Jaka Umbaran segera menggeser-geserkan kaki nya di bawah pohon itu lalu dengan keras menghentakkan kakinya ke tanah.


Bhhuuuuummmmmmhh!


Tanah bergetar saat hentakan kaki Jaka Umbaran keras menghantam tanah. Ini juga langsung menggoyang batang pohon kelapa itu yang menyebabkan beberapa kelapa muda terjatuh. Jaka Umbaran segera menyambar salah satunya. Lalu dengan jari telunjuk nya, dia melobangi buah kelapa muda ini.


Chhreepppppph!


Segera setelah itu, Jaka Umbaran meminum air kelapa muda ini. Melihat itu, Besur pun ikut-ikutan mencoba melobangi buah kelapa muda yang dia dapat di dekat tempat Jaka Umbaran berdiri.


Plettaaaakkkk....


"Waduh biyung!!", Besur mengaduh kesakitan karena jari nya tak mampu melakukan hal serupa dengan Jaka Umbaran. Melihat itu, Jaka Umbaran tersenyum penuh arti lalu ia mengibaskan tangannya. Serangkum angin tipis meluncur cepat dan memotong ujung kelapa muda. Besur langsung kegirangan melihat hal itu.


"Matur sembah nuwun, Gusti Pangeran", Jaka Umbaran hanya tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari Besur dan meneruskan minum air kelapa muda nya.


Setelah cukup lama beristirahat, mereka berenam pun segera meneruskan perjalanan nya. Sampai di Kota Pakuwon Tumapel, mereka membeli beberapa barang yang digunakan sebagai bekal perjalanan. Lalu mereka pun segera melanjutkan perjalanan meskipun matahari telah mulai condong ke barat. Ini dikarenakan mereka dalam penyamaran dan tidak ingin menarik perhatian orang.


Saat mendekati senja, mereka sampai di sebuah hutan kecil yang tak jauh dari perbatasan wilayah antara Pakuwon Tumapel dan Kota Kadipaten Kanjuruhan. Rombongan itu memutuskan untuk bermalam di tempat itu karena matahari sebentar lagi akan tenggelam di langit barat.


Baratwaja dan Besur pun segera mencari ranting pohon yang kering sebagai bahan api unggun untuk mereka berdiang. Sedangkan Gendol kebagian tugas untuk mencari air minum sementara Wara Andhira menata makanan kering untuk makan malam mereka.


Sementara itu Jaka Umbaran dan Resi Simharaja menyelinap masuk ke dalam hutan kecil itu untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Baru saja menangkap seekor ayam hutan yang cukup besar, dari arah timur hutan kecil itu seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba mewah selayaknya seorang bangsawan berlari cepat kearah Jaka Umbaran. Tentu saja hal ini cukup membuat Jaka Umbaran terkejut bukan main.


"Kisanak, tolong a-aku.."


Brrruuuuuuuuuukkkhh!!


Si perempuan itu jatuh pingsan di samping Jaka Umbaran. Saat Jaka Umbaran berniat untuk menolong perempuan paruh baya itu, tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari arah belakang nya. Segera Jaka Umbaran menyambar tubuh perempuan paruh baya dan membawanya ke atas pohon besar yang berdaun rimbun.


Benar saja, dari arah timur muncul beberapa orang lelaki bertubuh gempal dengan pakaian hitam dengan ikat kepala hitam pula. Masing-masing membekap sebuah golok pendek di pinggangnya. Terlihat jelas bahwa mereka adalah centeng dari orang kaya.


"Brengsek! Kemana perginya perempuan tua itu? Kita sudah hampir menjelajahi seluruh hutan kecil ini tapi tak juga menemukan nya", umpat seorang lelaki bertubuh gempal dengan bopeng sebesar telur ayam pada wajah kirinya.


"Tidak mungkin juga dia bisa lolos begitu saja, Mendit!

__ADS_1


Dia tidak memiliki ilmu kanuragan apapun yang memungkinkannya untuk bisa lari dengan mudah. Dia pasti masih ada di sekitar tempat ini.


Kuruwelut, kau sudah memeriksa jurang jurang kecil di sekitar tempat ini bukan?", ujar si lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal yang sepertinya merupakan pimpinan para centeng ini.


"Sudah Kakang Wijangsongko...


Aku sangat hapal betul tempat ini. Bahkan gua kecil di tebing batu sana juga sudah aku periksa. Tapi Nyai Mirah seperti menghilang di telan bumi. Dia tidak ada dimanapun aku mencarinya", ujar Kuruwelut, seorang lelaki yang berusia sekitar 3 dasawarsa dan merupakan yang paling kurus di antara mereka bertujuh.


Hemmmmmmm...


"Sebaiknya kita segera kembali ke rumah Ki Martoloyo untuk melaporkan hal ini. Ayo..", setelah berkata demikian, Ki Wijangsongko segera bergegas berbalik badan dan melangkah menuju ke arah kedatangan mereka. Kuruwelut, Mendit dan para centeng lainnya pun segera mengikuti langkah sang pimpinan.


Namun salah seorang diantara centeng ini yang paling belakang meninggalkan tempat itu melihat sesuatu nampak berkilau tertimpa cahaya matahari sore di antara rerumputan yang ada di tempat itu. Dia segera memungut nya. Benda itu adalah cunduk mentul ( hiasan kepala wanita bangsawan Jawa ) yang terbuat dari perak. Dia langsung berteriak keras.


"Ki Wijangsongko, ini aku menemukan cunduk mentul milik Nyi Mirah!"


Para centeng ini pun segera memutar tubuhnya. Ki Wijangsongko pun segera menerima uluran tangan anak buah nya dan memeriksa apakah ini benar-benar milik istri majikannya. Cunduk mentul perak berukir gambar bunga mawar ini memang kepunyaan Nyai Mirah.


Setelah memastikan bahwa benda itu adalah milik istri majikannya, Ki Wijangsongko segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Meskipun cahaya matahari sore mulai membuat sekitar tempat itu menjadi lebih gelap, namun dia tidak menyerah.


Saat menatap ke arah rerimbunan pepohonan yang ada di dekat batu besar, matanya melihat gerakan perlahan. Segera dia mencabut pisau yang terselip di pinggangnya. Lalu dengan cepat ia melemparkan pisau itu ke arah rerimbunan pohon.


Shhhrrrriiiiiiinnnnnnngggggg!!!


Chhreepppppph!


Setelah para centeng Ki Martoloyo itu pergi, Jaka Umbaran melayang turun dari dalam rerimbunan pohon sembari menggendong Nyai Mirah. Saat tadi pisau yang di lemparkan oleh Ki Wijangsongko hampir mengenai tubuh nya, Jaka Umbaran dengan cepat menangkap nya dan menancapkan nya pada batang pohon. Tindakan cerdik itu rupanya mampu menipu mata Ki Wijangsongko hingga dia menganggap bahwa gerakan tadi hanyalah sebuah hembusan angin saja.


"Ki Martoloyo ya hemmmmmmm...


Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di sebutkan saat keributan di Istana Katang-katang tempo hari. Perempuan ini ada hubungannya dengan nama itu. Sebaiknya aku bawa dia ke perkemahan", gumam Jaka Umbaran sebelum dia melesat cepat kearah perkemahan para pengikutnya. Dia masih sempat menyambar ayam hutan yang berhasil dia tangkap tadi.


Tak berapa lama kemudian, dia tiba di perkemahan dimana semua pengikutnya sedang menunggu kedatangan nya. Semuanya kaget melihat pangeran muda dari Kadiri ini datang dengan membopong tubuh seorang perempuan paruh baya yang sepertinya pingsan.


"Siapa dia Ndoro Pendekar?", tanya Gendol segera setelah Jaka Umbaran merebahkan tubuh perempuan paruh baya itu di dekat perapian yang mulai dinyalakan.


"Aku dengar dia adalah Nyai Mirah, Istri Ki Martoloyo. Tadi dia dikejar sekawanan centeng Ki Martoloyo. Aku menyelamatkan nya", mendengar keterangan Jaka Umbaran, Baratwaja langsung mendekat.


"Ki Martoloyo adalah telik sandi Jenggala yang menyusup di Kotaraja Daha dan menjadi dalang dari kerusuhan saat pernikahan Gusti Pangeran dengan Nararya Padmadewi.


Dia adalah buronan pemerintahan Kerajaan Panjalu, Gusti Pangeran. Kita harus bisa mengorek keterangan dari perempuan ini untuk menangkap Ki Martoloyo", ucap Baratwaja sembari menatap ke arah perempuan paruh baya itu.


"Hamba sependapat, Gusti Pangeran. Kita harus membawa kepala penjahat itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya", imbuh Besur segera. Jaka Umbaran pun segera mengangguk mengerti.


Matahari sudah tenggelam di langit barat. Cahaya jingga kemerahan yang sempat menghiasi cakrawala langit pun berangsur menghilang dan digantikan oleh gelapnya malam. Suara dengungan jangkrik dan belalang pun mulai terdengar bersahutan seakan menandakan bahwa malam telah turun menyelimuti seluruh jagat raya.

__ADS_1


Perlahan Nyai Mirah membuka mata nya. Dia perlahan mulai bergerak sambil mengerang memegangi kepalanya yang terasa pusing. Saat dia menajamkan penglihatannya, nampak Baratwaja, Gendol dan Besur tengah tajam mengawasinya.


"Si-siapa k-kalian?", tanya Nyai Mirah dengan penuh ketakutan.


"Mereka semua adalah orang-orang ku. Kau tidak perlu khawatir dengan keselamatan mu asal kau mau jujur kepada kami", mendengar ucapan itu, Nyai Mirah langsung menatap ke arah Jaka Umbaran yang masih asyik membolak-balik ayam hutan yang sedang dia panggang diatas api. Melihat keberadaan sosok orang yang telah menyelamatkan nyawa nya, Nyai Mirah menarik nafas lega.


"Terimakasih atas bantuan mu, Pendekar. Aku tidak tahu dengan cara apa kau menghadapi mereka tadi. Sekali lagi terimakasih banyak.


Lantas kejujuran apa yang ingin kau ketahui dari ku Kisanak?", Nyai Mirah kembali bertanya.


"Katakan saja terus terang, dimana kini Ki Martoloyo, heh perempuan tua?


Aku ingin membuat perhitungan dengan nya", ujar Baratwaja sembari menatap tajam ke perempuan yang sudah tidak muda lagi ini.


"D-dia tinggal di Kota Kadipaten Kanjuruhan. Dekat dengan Istana Kadipaten Kanjuruhan. Di sebuah rumah besar yang memiliki banyak centeng pribadi.


Sebaiknya kau urungkan niat mu jika tidak ingin mati konyol sia-sia", ucap Nyai Mirah seperti sedang memperingatkan mereka semua.


"Itu bukan urusanmu, Nyai..


Sekarang katakan lagi, kenapa kau sampai dikejar-kejar oleh para centeng Ki Martoloyo tadi? Ada masalah apa kau dengan nya?", mendengar pertanyaan Baratwaja itu, Nyai Mirah pun langsung menangis tersedu-sedu. Setelah sedikit tenang, dia mulai menceritakan tentang kekejaman yang di lakukan oleh Ki Martoloyo terhadap nya. Beberapa lebam dan memar di wajah dan tangannya menjadi bukti kekejaman Ki Martoloyo. Dia yang tidak mampu menahan lagi siksaan yang dia terima, akhirnya kabur dari rumah setelah mengelabui penjaga. Namun akhirnya ia terkejar juga oleh para anak buah suaminya itu setelah hampir dua hari meninggalkan rumah.


"Lantas apa rencana mu sekarang?", tanya Baratwaja segera.


"Saya ingin pulang ke Kotaraja Daha. Saya masih punya satu keluarga yang tinggal di pinggiran kota. Saya tidak mau lagi hidup dengan bajingan tua itu", ucap Nyai Mirah sembari terus menangis.


"Besok pagi, kau pergilah. Aku akan memberikan bantuan berupa seekor kuda sebagai alat untuk membantu perjalanan mu", ucap Jaka Umbaran sembari mengulurkan separuh dari ayam hutan panggang nya pada Nyai Mirah. Perut kosong perempuan itu pun akhirnya terisi makanan setelah hampir dua hari menahan lapar.


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa hari sudah mulai pagi. Begitu pagi menjelang tiba, Nyai Mirah segera meninggalkan tempat itu dengan kuda pemberian Jaka Umbaran. Kuda yang sebenarnya milik Wara Andhira ini pun langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat.


Setelah membereskan semua barang bawaan mereka, rombongan Jaka Umbaran segera meninggalkan tempat itu. Kini Wara Andhira harus berkuda dengan Jaka Umbaran sebelum mereka membeli kuda baru di Kota Kadipaten Kanjuruhan. Perempuan cantik itu nampak begitu senang berkuda bersama dengan Sang Pendekar Gunung Lawu.


Mereka pun segera bergerak menuju tempat yang ditunjukkan oleh Nyai Mirah. Dan benar saja, puluhan orang centeng terlihat berjaga-jaga di sekitar kediaman Ki Martoloyo.


Setelah cukup lama mengamati situasi di sekitar tempat tinggal Ki Martoloyo, rombongan Jaka Umbaran segera menuju ke arah sebuah penginapan yang tak jauh dari kediaman Ki Martoloyo untuk mempersiapkan diri penyerbuan ke arah tempat itu.


"Kenapa tidak sekarang saja kita serbu mereka, Ndoro Pendekar? Hamba rasa, kita tidak akan kesulitan untuk mengalahkan mereka semua", ucap Besur yang tidak paham dengan situasi yang sedang mereka hadapi.


Plettaaaakkkk!


"Aduh kampret laknat, kenapa kau jitak kepala ku? Kawan macam apa kau ini?", Besur mengelus kepalanya yang benjol setelah dijitak keras oleh Baratwaja. Sambil mendengus keras, Baratwaja pun berkata,


"Itu untuk menyadarkan mu, bodoh! Kita sekarang dalam masa penyamaran. Kalau kita menyerbu sekarang, itu sama saja dengan kita membongkar rahasia penyamaran kita. Sudah jangan banyak tanya, makan dulu sebanyak-banyaknya.


Karena malam ini kita akan bekerja keras.."

__ADS_1


__ADS_2