JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Ki Kancra Bodas


__ADS_3

"Apapun itu, asalkan bisa menjadi penyelamat nyawa Dewi Rengganis, aku bersedia untuk mendapatkan nya Tabib Sakti..


Dimanakah tempat Kembang Wijayakusuma itu berada?", tanya Jaka Umbaran segera.


"1000 tombak jauhnya dari sini ke arah barat, ada sebuah balong ( danau ) yang dinamakan Balong Dalem. Di sisi barat danau ini tumbuh sebuah pohon keramat yang memiliki ratusan bunga berwarna putih di depan sebuah goa kecil yang menjadi sumber Balong Dalem. Salah satu diantara nya adalah Kembang Wijayakusuma. Meskipun bentuknya seperti bunga biasa namun konon katanya sesungguhnya itu adalah pusaka milik Dewa Wisnu yang terdapat di tempat itu.


Aku pernah mencoba untuk mendapatkan nya namun penjaga bunga keramat ini adalah seekor siluman ikan berwarna putih penghuni goa kecil itu. Kami bertarung dengan sengit dan itulah sebabnya mengapa aku kehilangan satu lengan ku, anak muda.


Kalau boleh tau, siapa kau sebenarnya dan apa hubungan mu dengan gadis cantik ini?", Buyut Wangsanaya menatap wajah tampan Jaka Umbaran.


"Saya Jaka Umbaran, Tabib Sakti. Kebetulan aku berteman baik dengan murid Nyai Larasati ini. Sebagai sesama pendekar, saling tolong menolong bukankah sebuah keharusan?", ucap Jaka Umbaran sambil tersenyum tipis.


"Ku hargai solidaritas pertemanan mu, Jaka Umbaran. Tapi menghadapi siluman ikan Kancra Bodas ini tidak hanya bisa mengandalkan niat dan semangat saja.


Kau lihat lengan kiri ku ini bukan?", ada nada ragu dalam suara Buyut Wangsanaya.


"Hehehehe kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan keselamatan nya, tabib tua..


Ilmu kanuragan yang di miliki oleh Si Pendekar Gunung Lawu ini jauh lebih tinggi dari aku", sahut Resi Guru Ekajati sembari tersenyum penuh arti.


"Jangan bercanda dengan ku, Ekajati..


Di Tatar Pasundan ini, hanya Dewa Guru Resi Atmabrata dan Resi Buyut Galunggung saja yang sebanding dengan mu. Mana mungkin pemuda ini bisa lebih tinggi ilmu nya dibandingkan dengan mu?", Buyut Wangsanaya tak percaya dengan omongan Resi Guru Ekajati.


"Resi Guru Ekajati tidak berbohong sedikitpun tentang pemuda ini, Tabib Sakti.


Satu orang yang baru saja kau sebutkan tadi, Dewa Guru Resi Atmabrata, sudah menemui ajalnya di tangan Jaka Umbaran", betapa pentingnya Buyut Wangsanaya mendengar sergah Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan. Dia segera menajamkan penglihatannya seolah ingin menyelidiki kemampuan beladiri sesungguhnya dari pemuda tampan di hadapannya itu.


Meskipun Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu sedikit ragu dengan kemampuan beladiri Jaka Umbaran, namun karena pengakuan dari Nyai Larasati yang juga terkenal dengan pendekar pilih tanding di kawasan Bhumi Sambara dan Paguhan dan Resi Guru Ekajati yang sudah lama dikenalnya, lelaki tua bertubuh gempal cenderung gemuk dengan kepala botak dan rambut putih panjang sebahu itu memilih untuk tidak mengesampingkan terkaan yang di hatinya. Siang itu juga, di temani oleh Buyut Wangsanaya dan Resi Guru Ekajati juga pengawal setia nya Resi Simharaja, Jaka Umbaran bergerak menuju ke arah Balong Dalem di kawasan barat Wanua Jalaksana. Sedangkan Nyai Larasati memilih untuk tidak ikut karena ingin menjaga Dewi Rengganis yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Di kawasan hutan lebat nan hijau 1000 tombak jauhnya dari kediaman Buyut Wangsanaya, sebuah danau kecil berpagar pepohonan besar yang rindang nampak terhampar di depan mata. Segarnya udara di sekitar tempat itu membuat pikiran menjadi tenang dan damai. Itu pula yang dirasakan oleh Jaka Umbaran dan kawan-kawan saat mereka memasuki kawasan Balong Dalem.


Namun di balik indahnya tempat itu tersembunyi sesuatu yang menakutkan. Sepasang mata seorang lelaki tua bertubuh gempal dengan baju pelindung seperti sisik ikan bersenjatakan sepasang tombak aneh mirip patil lele terus menatap ke arah mereka dari dalam goa kecil yang menjadi salah satu sumber air Balong Dalem. Tentu saja makhluk tak kasat mata ini hanya terlihat oleh orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi. Pemilik sepasang mata menyeramkan ini adalah Ki Kancra Bodas, siluman ikan berwarna putih yang telah tinggal selama ribuan tahun di Balong Dalem.


"Dimana letak Kembang Wijayakusuma itu, Tabib Sakti?", tanya Jaka Umbaran sembari mengedarkan pandangannya pada sekeliling danau kecil berair jernih ini.


"Disana Pendekar Gunung Lawu", Buyut Wangsanaya menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang rindang di barat Balong Dalem.


Jaka Umbaran bergegas menuju tempat yang ditunjuk oleh Buyut Wangsanaya Si Tabib Sakti Bertangan Satu. Resi Simharaja mengekor di belakangnya. Mereka berdua mendekati barat Balong Dalem dengan menyisir tepian danau kecil itu.


Sebuah pohon nampak berdiri sendiri di barat Balong Dalem, di depan goa kecil yang mengalirkan air jernih. Tak satupun rumput dan semak belukar yang tumbuh di sekitar tempat pohon setinggi 2 tombak itu berdiri. Pohon ini seperti memiliki kemampuan untuk membuat tumbuhan lainnya tak mampu tumbuh di jarak 4 tombak dari nya hingga pohon lain seperti membentuk sebuah pagar pelindung melingkari pohon berbunga putih dengan beberapa kelopak bawah berwarna merah muda ini.


"Hati-hati Ndoro Umbaran..

__ADS_1


Aku merasakan hawa nafsu membunuh yang pekat di dalam pagar alam itu", ucap Resi Simharaja sebelum Jaka Umbaran memasuki pagar tumbuhan yang melingkar di sekitar pohon berbunga putih.


"Aku juga tahu itu, Resi Simharaja. Terimakasih atas peringatan mu", Jaka Umbaran segera melangkah memasuki pagar. Begitu masuk, serasa tempat itu melebar ratusan tombak luasnya.


'Hemmmmm...


Ini ilusi semata namun juga penunggu tempat ini rupanya memiliki kemampuan kesaktian yang tinggi'


Jaka Umbaran terus melangkah menuju ke tengah tempat luas itu dimana pohon keramat berbunga putih itu ada disana. Setelah puluhan langkah kaki, dari sebuah kolam kecil yang melingkari akar pohon keramat berbunga putih itu muncul sesosok lelaki tua berpakaian serba putih dengan jirah seperti sisik ikan melangkah ke hadapan Jaka Umbaran.


"Mau apa kau kemari, anak muda?", tanya lelaki tua itu segera.


"Aku menginginkan Kembang Wijayakusuma. Tolong berikan kepada ku. Kawan ku sedang sekarat dan membutuhkan keajaiban Kembang Wijayakusuma itu", jawab Jaka Umbaran jujur.


"Huhhhhh, hidup mati seseorang itu bukan urusan ku. Kembalilah, jangan pernah coba-coba bermimpi untuk mendapatkan Kembang Wijayakusuma. Pusaka itu adalah milik ku, Ki Kancra Bodas...", ucap sosok lelaki tua berjanggut panjang dengan wajah seram itu segera.


"Maaf Ki Kancra Bodas, aku terpaksa tidak menuruti perintah mu. Nyawa kawan ku dalam bahaya, dan aku tidak boleh membiarkan nya mati begitu saja", Jaka Umbaran keukeuh dengan omongannya.


"Dasar keras kepala tak tahu diri..


Jangan salahkan aku bertindak kejam pada mu bocah sialan!!"


Selepas berkata demikian, Ki Kancra Bodas sang siluman ikan penghuni Balong Dalem langsung mencabut sepasang tombak aneh di punggungnya lalu melesat cepat kearah Jaka Umbaran sambil menusukkan senjata di tangan kanannya.


Shhhhhuuuuuuuuuutttth..!


Whhhuuuggghhhh!!


Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti selarik cahaya putih yang tercipta dari senjata aneh Ki Kancra Bodas. Merasakan sesuatu hal sedang bergerak cepat ke arah nya, Jaka Umbaran segera menghentikan gerakannya yang hampir sampai di tepi kolam pengeliling pohon keramat.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Dua ledakan keras terdengar di kolam ikan yang terkena hantaman cahaya putih dari senjata Ki Kancra Bodas. Air kolam kecil itu sampai muncrat setinggi 4 tombak dari permukaan kolam.


Jaka Umbaran yang sebenarnya tidak ingin menambah musuh lagi dengan bertarung melawan Ki Kancra Bodas, kembali bergerak menuju ke lain arah untuk bisa memetik bunga putih Kembang Wijayakusuma. Namun Ki Kancra Bodas sang siluman ikan terus menghalangi niat nya tanpa kenal lelah.


Whhhuuuggghhhh whhhuuutthh..


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!!


Sudah hampir waktu menanak nasi terlewati, namun Jaka Umbaran masih belum juga bisa mengambil bunga putih pohon keramat itu. Tak ingin membuang waktu lagi, Jaka Umbaran segera melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Setelah itu ia segera memejamkan matanya sebentar sembari komat kamit membaca mantra. Manik mata nya sekilas memancarkan cahaya kuning keemasan pertanda bahwa dia sedang menggunakan Ajian Bandung Bondowoso.


Setelah itu ia melesat cepat kearah pohon keramat berbunga putih itu. Ki Kancra Bodas mendengus keras sembari menusukkan tombaknya ke dada Jaka Umbaran.

__ADS_1


Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!


Mata Ki Kancra Bodas langsung melebar tatkala ia melihat tombak pusaka nya tak mampu melukai kulit pemuda tampan itu. Tombak aneh persegi delapan itu seperti membentur lempengan logam keras. Malahan kini tubuh siluman ikan ini yang terpental saking tak kuat menahan tolakan dari Ajian Bandung Bondowoso.


Jaka Umbaran segera melenting tinggi ke udara dan mendarat di bawah pohon keramat berbunga putih itu. Namun ajaibnya, saat dia memetik bunga putih itu, tiba-tiba saja bunga putih itu langsung layu dan menghitam. Berulang kali dia melakukannya, namun selalu terjadi hal yang sama.


Ki Kancra Bodas sang siluman ikan terkekeh kecil melihat itu semua.


"Hehehehe apa kau pikir semudah itu mendapatkan Kembang Wijayakusuma, bocah keparat?! Hanya orang berhati bersih dan memiliki kekuatan batin yang tinggi saja yang bisa mendapatkan nya.


Kau?? Terlalu cepat 100 tahun bocah hehehehe..", ucap Ki Kancra Bodas begitu meremehkan Jaka Umbaran. Mendekati ejekan itu, Jaka Umbaran justru tersenyum lebar.


"Terimakasih sudah memberi petunjuk kepada ku tentang bunga ini, Ki Kancra Bodas. Kau sebenarnya tidak jahat", setelah berkata demikian, Jaka Umbaran segera duduk bersila sembari memejamkan mata dan kedua tangan menangkup di depan dada.


Mendengar ucapan itu, Ki Kancra Bodas sang siluman ikan segera menyadari bahwa dia telah membocorkan rahasia untuk mendapatkan Kembang Wijayakusuma. Sadar akan kebodohannya, Ki Kancra Bodas mendengus keras sambil melesat cepat kearah Jaka Umbaran dengan menusukkan dua tombak anehnya ke arah sang pendekar muda.


"Matilah kau, bajingan!!!"


Tiba-tiba....


Whhhhuuuuuummmm!!!


Tubuh Jaka Umbaran yang sedang duduk bersila memancarkan cahaya kuning keemasan yang berpendar cepat ke sekelilingnya. Bersamaan dengan itu, gelombang kejut besar menyebar ke seluruh tempat itu. Ki Kancra Bodas sendiri sampai terlempar dan muntah darah segar tak berdaya di tepi pagar ghaib pohon keramat saking kuatnya pengaruh gelombang kejut yang tercipta.


Sementara itu, sebuah bunga putih dengan beberapa kelopak bunga bawah berwarna merah muda yang memancarkan cahaya putih berkilauan jatuh ke ujung telapak tangan Jaka Umbaran yang sedang bersemedi. Jaka Umbaran pun segera bangun dari semedi nya dan tersenyum lebar ketika melihat Kembang Wijayakusuma sudah berada di tangannya.


Bersamaan dengan itu, pohon keramat itu melesak ke dalam tanah. Melihat itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Tak lupa ia menyambar tangan Ki Kancra Bodas sang siluman ikan yang bersimpuh tak berdaya di tepi pagar ghaib. Keduanya berhasil keluar dari dalam tempat ghaib itu tepat sebelum pohon keramat itu menarik sekelilingnya melesak masuk ke dalam tanah.


"Kau membawakan aku seekor ikan, Ndoro Umbaran? Ah Ndoro memang pengertian sekali dan tahu aku lagi lapar", ujar Resi Simharaja sembari menunjuk ke arah Ki Kancra Bodas. Air liur lelaki paruh baya penjelmaan harimau putih besar itu langsung menetes dari sudut bibirnya.


"Siapa yang makanan mu, kucing besar?


Apa kau kira aku takut dengan mu ha?", bentak Ki Kancra Bodas keras.


"Ikan adalah makanan kegemaran bangsa kami. Sudah waktunya kau aku makan nyammmm..."


Melihat Resi Simharaja hendak melompat untuk menerkam nya, sifat alami Ki Kancra Bodas langsung keluar. Sebagai siluman ikan, tentu saja ia akan ketakutan dengan harimau yang merupakan musuh alaminya. Siluman ikan berwarna putih itu langsung melompat ke dalam Balong Dalem untuk menyelamatkan diri.


"Yah gagal makan ikan saya Ndoro Umbaran", ucap Ki Simharaja memelas. Dia tidak pernah sekalipun memperlihatkan sikap seperti ini di hadapan orang lain selain pada Jaka Umbaran.


Mendengar ucapan itu, Jaka Umbaran geleng-geleng kepala sembari berkata,


"Ckckckckckk...

__ADS_1


Kau ini sudah menakuti penunggu danau ini, Resi Simharaja. Sudahlah, nanti kita beli ikan untuk kau makan. Sekarang waktunya kita pulang ke Wanua Jalaksana.


Dewi Rengganis sedang menunggu kita.."


__ADS_2