
"Madangkungan, katakan pada ku..
Bagaimana persiapan Ki Mertalaya di dalam Kotaraja? Apakah sudah di siapkan semua nya?", tanya lelaki paruh baya berkepala plontos berjambang lebat itu pada Madangkungan, salah seorang lelaki gempal yang datang dari dalam kota.
"Sudah beres, Ki Demung..
Kita akan masuk ke dalam Istana Katang-katang dengan menyamar sebagai kuli panggul barang hadiah Ki Mertalaya. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi mencari cara lain untuk bisa memasuki istana itu", jawab Madangkungan segera. Lelaki berkepala plontos berjambang lebat yang di panggil Ki Demung itu langsung tersenyum lebar.
Ya, dia adalah Ki Demung Gombang, salah seorang perwira prajurit Jenggala yang ditugaskan untuk menyusup masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu. Tugas langsung ini yang diberikan oleh Pangeran Jayengresmi, sang pendamping Maharani Uttejana. Dalam perintah itu, Ki Demung Gombang ditugaskan untuk mengacaukan ketentraman Kotaraja Daha dengan membunuh Pangeran Mapanji Jayabaya yang baru saja pulang dari masa penculikan nya. Mapanji Jayabaya telah dianggap sebagai calon ancaman besar bagi Kerajaan Jenggala karena mata-mata mereka telah mengetahui bahwa Mapanji Jayabaya adalah Jaka Umbaran, pendekar muda yang baru saja menggegerkan dunia persilatan dengan menjadi pengatur wilayah tengah sekaligus yang paling muda sepanjang sejarah dunia persilatan. Jika sampai Mapanji Jayabaya berkembang semakin hebat, maka bisa dipastikan bahwa rencana besar Maharani Uttejana yang mewarisi ambisi besar para raja pendahulu Jenggala untuk menyatukan kedua kerajaan akan gagal.
Demung Gombang sendiri sebenarnya bukan orang baru dalam dunia persilatan. Sebelum menjadi perwira prajurit Jenggala, dia telah lebih dulu malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur sebagai pendekar golongan hitam dari Gunung Bromo. Julukannya sendiri cukup membuat para pendekar bergidik ngeri jika sampai berhadapan dengan nya, Pendekar Tinju Setan.
Konon, Demung Gombang pernah membantai satu kampung di kaki gunung Bromo yang pernah menghina nya saat masih menjadi warga nya. Dia rupanya menyimpan dendam kesumat atas penghinaan itu dan membuat kampung itu banjir darah dalam waktu semalam saja.
Selepas kejadian itu, nama Pendekar Tinju Setan langsung terkenal di seantero Kerajaan Jenggala hingga ke Blambangan. Oleh karena perbuatan keji nya ini, Gombang kemudian menjadi buronan pemerintahan Kerajaan Jenggala. Upaya penangkapan nya di atur oleh Pangeran Jayengresmi, seorang pangeran asal Blambangan yang sedang berusaha untuk menarik perhatian Putri Uttejana. Oleh sang putri, Pangeran Jayengresmi di minta untuk memburu pelaku pembantaian massal di wilayah Kadipaten Lamajang sebagai syarat untuk menikahinya. Oleh karena itu, sekuat tenaga Pangeran Jayengresmi memburu Gombang hingga ke wilayah Dinoyo.
Dengan bantuan dari beberapa pendekar jagoan dari Blambangan, Gombang berhasil di ringkus. Buronan itu lantas di bawa ke Kotaraja Kahuripan untuk diserahkan pada Putri Uttejana yang saat itu mulai memegang kendali Kerajaan Jenggala usai sakitnya Maharaja Samarotsaha.
Bukannya di hukum mati karena kesalahannya, Gombang justru malah di tawari menjadi perwira prajurit telik sandi yang disusupkan ke Panjalu sebagai pengampunan atas segala kejahatan yang dia lakukan. Tugas utama nya menciptakan kekacauan di Kerajaan Panjalu namun dalam gerakan bawah tanah. Tentu saja tawaran ini tidak ditolak oleh Gombang yang kemudian membangun markas rahasia di kawasan hutan di barat Kali Aksa, tepatnya di kawasan timur lereng Gunung Kelud. Hutan lebat yang bernama Alas Complang yang sangat terpencil ini, memang jauh dari patroli para prajurit Kerajaan Panjalu.
Beberapa hari setelah kepulangan Pangeran Mapanji Jayabaya, dia mendapat tugas dari Pangeran Jayengresmi setelah menerima kabar dari Nyai Pu Karti Si Kembang Mawar Beracun yang juga merupakan salah seorang telik sandi Jenggala. Bersama dengan perempuan cantik itu, mereka lantas menyusun rencana untuk membunuh Pangeran Mapanji Jayabaya.
Tentu saja rencana ini juga melibatkan Ki Mertalaya yang bisa keluar masuk istana dengan menyamar sebagai pedagang kain. Awalnya mereka sempat kebingungan karena Mapanji Jayabaya tiba-tiba menghilang dari Kotaraja Daha. Namun kesempatan yang mereka tunggu rupanya datang juga setelah Madangkungan dan Kowor. Demung Gombang pun bersemangat untuk melaksanakan tugas yang diembannya.
Dari arah lain, Nyai Pu Karti dan beberapa orang pengikutnya datang ke tempat itu. Diantara mereka, ada seorang lelaki tua bertubuh pendek dengan perut buncit memegang sebuah tongkat besi dengan ukiran tengkorak manusia dan seorang perempuan yang seusia dengan nya, bertubuh besar dengan dandanan menor dan selalu membawa bakul nasi yang berisi aneka macam jajanan pasar. Semua orang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur sangat mengenal dua orang tua itu yang kondang dengan sebutan Sepasang Iblis Aneh dari Timur.
"Kau datang tepat waktu, Nyai Pu Karti..
Nanti setelah malam mulai turun, kita harus segera bergegas menuju ke arah kediaman Ki Mertalaya. Kita harus berganti penampilan untuk bisa masuk ke dalam Istana Katang-katang", ucap Demung Gombang segera.
"Aku tidak mau kalau harus ganti pakaian!
__ADS_1
Ini adalah baju kesayangan ku jadi sampai mati pun aku tidak mau ganti", sahut perempuan bertubuh gembrot ini ketus.
"Tapi ini untuk penyamaran Nyai Puspa..
Kalau kita tetap dalam pakaian awal, kita akan ketahuan oleh para prajurit Panjalu", ucap Nyai Pu Karti sembari menghela nafas panjang.
"Aku tidak peduli..
Kesepakatan awal, aku dan Kakang Surenggati hanya membantu kalian untuk membunuh Pangeran Daha itu. Tidak ada kesepakatan tentang mengganti dandanan. Jika kalian ingin memaksa kami Sepasang Iblis Aneh dari Timur, kami tidak akan segan-segan untuk menghabisi kalian semua", ucap perempuan bertubuh gembrot dengan dandanan menor itu sembari mendelik kereng.
"Kau .."
"Tahan amarah mu, Demung Gombang. Tujuan kita hanya untuk mengambil nyawa Mapanji Jayabaya, tidak perlu ada perselisihan antara kita. Rencana kita sebelumnya perlu sedikit di rubah agar bisa berjalan sebagaimana mestinya", potong Nyai Pu Karti menengahi mereka.
"Huhhhhh, kali ini aku mengalah..
Tapi jika kalian berdua mengacau dalam perencanaan kami, aku tidak akan pernah mundur sejengkal pun untuk bertarung habis-habisan melawan kalian", ucap Demung Gombang sembari melangkah menjauhi Sepasang Iblis Aneh dari Timur.
Sementara para telik sandi Jenggala sibuk mengatur rencana mereka untuk mengacau dalam pernikahan Jaka Umbaran, Istana Katang-katang yang menjadi tempat perhelatan besar itu diadakan, tengah sibuk dengan segala persiapan nya.
Sedangkan Pasukan Khusus Lowo Bengi, di sebar ke seluruh wilayah Kotaraja Daha. Mereka menyamar sebagai pengemis, pedagang, pemabuk dan penjudi untuk menggali setiap kabar yang mungkin bisa saja terjadi. Selain itu, pasukan pimpinan Tumenggung Dananjaya yang merupakan pimpinan pasukan telik sandi Panjalu itu, juga menempatkan beberapa pemanah jitu di beberapa titik penting di dalam dan di luar Istana Katang-katang. Pendek kata, pengamanan tersembunyi dan berlapis disiapkan oleh Rakryan Rangga Mapanji Amaraha selaku Mahamantri urusan keprajuritan.
Gendol, Besur, Baratwaja dan Resi Simharaja pun terus bergantian menjaga sang pangeran muda. Jika sudah selesai giliran nya, yang lain langsung menggantikan.
Menjelang malam, suasana Istana Katang-katang masih juga terlihat ramai. Para penghias panggung yang akan menjadi mahligai pelaminan Jaka Umbaran dan Nararya Padmadewi terlihat masih sibuk menambahkan hiasan janur kuning pada tiang mahligai. Sementara para dayang istana juga sibuk menata bebungaan yang akan digunakan untuk menaburi jalan sang pengantin menuju ke pelaminan.
Beberapa orang pendeta istana di bawah pengarahan Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Panca, terus merapal mantra pemujaan terhadap Hyang Akarya Jagat di beberapa tempat. Asap tebal setanggi dan kemenyan tercium wangi memenuhi seluruh tempat itu.
"Gusti Pangeran, grogi tidak?", Besur mencolek lengan Jaka Umbaran yang terlihat sedang berjalan-jalan di sekitar Istana Katang-katang untuk memantau perkembangan persiapan acara pernikahan nya.
"Kenapa harus grogi, Sur?
__ADS_1
Menikah itu kewajiban, siap tidak siap harus dijalani. Jadi apa yang mesti ditakutkan?", Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya tersenyum simpul.
"Lha wong namanya menikah, tapi ketemu saja tidak. Apa Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tidak khawatir kalau perempuan yang dijodohkan dengan Gusti Pangeran itu jelek orangnya? Kalau sampai demikian, ih amit-amit jabang bayi deh..", Besur bergidik geli membayangkan nya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Sur..
Aku percaya kok dengan pilihan Kanjeng Romo Prabu. Perasaan ku tak pernah salah..", jawab Jaka Umbaran sembari tersenyum penuh arti.
"Heleh, bukannya tidak percaya loh Gusti Pangeran..
Cuma khawatir saja kalau Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya nanti kecewa berat pada akhirnya", ucap Besur sok bijak.
"Kau tenang saja Sur, aku tidak akan kecewa", ucap Jaka Umbaran sembari kembali melanjutkan langkahnya memeriksa pekerjaan para pelayan Istana Katang-katang.
Waktu terus berlalu begitu cepat. Malam dengan cepat segera digantikan oleh sang pagi yang mulai muncul di cakrawala langit timur dengan semburat jingga yang memenuhinya langit.
Di pagi buta itu, para pelayan Istana Katang-katang telah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Yang di dapur istana, sibuk menyiapkan makanan sedangkan yang lain mengatur segala kebutuhan yang digunakan untuk acara pernikahan antara Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya dengan Nararya Padmadewi. Saat matahari sepenggal naik ke atas langit, para tamu undangan dan kawan-kawan dari Galuh Pakuan mulai mengisi tempat yang disediakan. Tak butuh waktu lama, halaman Istana Katang-katang sudah penuh dengan kehadiran para tamu undangan.
Senopati Naratama bergegas mendekati Jaka Umbaran yang hendak berdandan sebagai seorang pengantin. Sang pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu pun segera membisikkan sesuatu di telinga sang pangeran muda.
"Mereka sudah masuk ke dalam istana, Gusti Pangeran. Mereka menyamar sebagai kuli panggul barang Ki Mertalaya, juragan kain yang biasa mengirim barang ke istana. Bagaimana? Tetap kita lanjutkan acara ini?", bisik Senopati Naratama segera.
"Jika kita tiba-tiba menghentikan acara ini, mereka akan curiga Paman Senopati. Terus saja, tapi jangan sampai kendur pengawasan terhadap mereka..", balas Jaka Umbaran lirih.
Jaka Umbaran berdandan selayaknya seorang bangsawan. Sebagai seorang Yuwaraja Panjalu, dia mengenakan mahkota kebesarannya yang bertahtakan permata berwarna biru. Meskipun tanpa mengenakan baju, namun perhiasan emas yang menghiasi leher, bahu dan lengannya menjadi pertanda bahwa dia adalah seorang bangsawan. Kain jarik motif batik yang selutut terlihat serasi dengan celana panjang hitam berhias sulaman benang emas. Juga selendang biru tua yang menghiasi pinggang nya nampak serasi dengan keris pusaka yang terselip di pinggang. Diapit oleh dua pendeta dan empat orang saudarinya, Mapanji Jayabaya melangkah menuju ke arah pelaminan. Para dayang istana yang berdiri di kiri dan kanan jalan, terus menaburkan aneka bebungaan di jalan sang pangeran mahkota.
Pangeran Rakeyan Jayagiri yang pangling dengan perubahan dandanan Mapanji Jayabaya, nampak mengerutkan keningnya dalam-dalam karena merasa mengenal sosok lelaki tampan yang kini berjalan mendekati pelaminan.
"Sepertinya aku tidak asing dengan pemuda ini, tapi siapa?", gumam Pangeran Mapanji Jayagiri lirih.
Namun berbeda halnya dengan Nararya Padmadewi. Perempuan cantik yang semula terlihat lesu dan tak punya semangat hidup di pelaminan itu, langsung sumringah begitu melihat sosok yang datang ke arah pelaminan. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkata,
__ADS_1
"Akang Umbaran...
Kau kemari untuk membawa ku pergi?"