
Maka demikianlah, pertemuan keluarga yang selama ini selalu diimpikan oleh Jaka Umbaran akhirnya terwujud. Kini dia menyandang nama baru Mapanji Jayabaya sekaligus memperoleh gelar Pangeran Mahkota atau Yuwaraja yang memang menjadi haknya sejak masih bayi. Meskipun penobatan gelar Yuwaraja itu masih nanti saat pulang ke Kotaraja Daha, namun itu tinggal menunggu waktu.
Namun pertemuan ini hanyalah sebuah awal dari perjalanan Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya untuk menjadi raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Panjalu yang akan membawa Panjalu menuju puncak kejayaan nya. Di tangannya kelak, negeri yang terbelah dua akan disatukan kembali.
Selepas masalah Gagak Hitam Lengan Seribu dan kelompoknya usai, Prabu Bameswara bersama dengan Ratu Dyah Chandrakirana dan Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya pun meninggalkan tempat itu menuju ke arah Istana Kadipaten Lewa. Dengan kawalan ketat dari Mpu Winarka sang Akuwu Sukowati bersama dengan para prajurit Pakuwon Sukowati, mereka pun bergegas menuju ke arah Utara dimana Kota Kadipaten Lewa berada. Sedangkan para pendekar dunia persilatan peserta sayembara itu pun memilih untuk membubarkan diri. Karena jika pun mereka berani mencoba untuk merebut potongan kepala Gagak Hitam Lengan Seribu, mereka mesti berhadapan dengan Prabu Bameswara yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Menantang Raja Panjalu itu sama juga ingin mencari mati.
Gendol yang merasa dirinya sebagai pengawal pribadi putra mahkota, langsung bersikap tegas terhadap siapapun yang ingin mendekati junjungan nya. Dia selalu menempel ketat pada Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya bersama dengan Resi Simharaja. Besur dan Baratwaja pun kini juga menaruh hormat kepada mereka berdua.
Rombongan itu langsung menuju ke arah Istana Kadipaten Lewa. Tepat selepas tengah hari, mereka sampai di Istana Kadipaten Lewa. Kebetulan saja, mereka berpapasan dengan Patih Jagakarsa, warangka praja Kadipaten Lewa, di depan pintu gerbang istana. Melihat kedatangan Prabu Bameswara bersama Ratu Dyah Chandrakirana meskipun tanpa pakaian kebesarannya, Patih Jagakarsa yang pernah berulang kali masuk ke Istana Kotaraja Daha, langsung menyembah pada kedua pucuk pimpinan Kerajaan Panjalu itu.
"Sembah bakti hamba, Gusti Prabu Bameswara..
Ada hal apa yang membuat Gusti Prabu Bameswara berkenan untuk singgah ke Istana Lewa?", ucap Patih Jagakarsa segera.
"Tidak ada apa-apa, Patih Jagakarsa. Hanya ingin mengantarkan barang itu", Prabu Bameswara segera menoleh ke arah Besur yang di tugaskan untuk membawa kepala Gagak Hitam Lengan Seribu.
Bau amis darah menyengat keluar dari buntalan kain hitam yang di bawa oleh Besur. Bahkan ada beberapa tetes darah masih merembes keluar dari dalam buntalan kain hitam yang dipegang oleh perwira prajurit Panjalu ini.
"Kalau boleh hamba tahu, apa itu Gusti Prabu? Sepertinya itu ada darah yang menetes keluar", tanya Patih Jagakarsa segera.
"Itu adalah kepala Gagak Hitam Lengan Seribu yang menjadi pengacau keamanan di wilayah Kadipaten Lewa, Anjuk Ladang dan Wengker", balas Prabu Bameswara segera. Meskipun belum melihatnya langsung, Patih Jagakarsa terhenyak beberapa saat lamanya. Namun kemudian warangka praja Lewa ini segera tersenyum lebar.
"Ini adalah berita baik. Mari Gusti Prabu, silahkan masuk ke dalam istana. Gusti Adipati Wangsakerta pasti akan senang sekali dengan kedatangan Gusti Prabu", usai berkata demikian, Patih Jagakarsa segera mempersilahkan kepada rombongan itu untuk masuk ke dalam Istana Kadipaten Lewa.
Kedatangan tamu agung dari Kotaraja Daha sontak membuat heboh seluruh istana. Adipati Wangsakerta yang mendengar berita itu, setengah berlari menyambut kedatangan Prabu Bameswara dan rombongan di depan Pendopo Agung Kadipaten Lewa. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu segera berjongkok di depan Prabu Bameswara dan menyembah.
"Mohon ampun Gusti Prabu, karena hamba tidak menyambut kedatangan Gusti Prabu sekalian.
Mari silahkan masuk", ucap Adipati Wangsakerta segera.
Setelah itu, Prabu Bameswara bersama Ratu Dyah Chandrakirana berikut Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya segera bergegas mendahului Adipati Wangsakerta memasuki pendopo agung. Para prajurit pengawal dari Pakuwon Sukowati duduk bersila di luar pendopo agung, sementara itu Akuwu Mpu Winarka, Besur, Gendol, Baratwaja dan Resi Simharaja mengekor di belakang Adipati Wangsakerta dan Patih Jagakarsa. Prabu Bameswara pun segera duduk di singgasana Adipati, Ratu Dyah Chandrakirana duduk di kursi sebelah kanan nya yang sedikit lebih rendah. Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya awalnya ingin duduk di bawah namun Gendol langsung mengingatkan nya bahwa kini dia sudah berhak untuk duduk di kursi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka. Akhirnya Jaka Umbaran pun duduk di kursi sebelah kiri singgasana.
__ADS_1
Para nayaka praja Kadipaten Lewa pun satu persatu mulai berdatangan ke Pendopo Agung. Mereka duduk bersila dengan rapi di samping Adipati Wangsakerta dan Patih Jagakarsa sesuai dengan urutan kepangkatan mereka masing-masing. Meskipun semuanya memendam pertanyaan atas siapa sosok pemuda tampan yang duduk di kursi sebelah kiri singgasana, namun mereka memilih untuk tidak bersuara sedikitpun karena takut salah bicara.
"Kedatangan ku kali ini, adalah untuk memberikan apa yang kau inginkan dalam sayembara mu, Adipati Wangsakerta.
Besur, bawa barangnya kesini", mendengar titah sang raja, Besur melangkah ke tengah Pendopo Agung sambil menenteng buntalan kain hitam. Saat ia membuka nya, semua nayaka praja Kadipaten Lewa termasuk Adipati Wangsakerta terkejut bukan main namun mereka langsung menarik nafas lega dan tersenyum lebar.
Dalam bungkusan kain hitam itu, terdapat sepotong kepala pria paruh baya dengan kumis tebal, mata melotot, lidah sedikit keluar dan sebuah tahi lalat di sisi kiri bawah dagunya. Topeng burung gagak separuh wajah berhias ukiran emas pun masih menempel di dahi nya. Ini semua adalah ciri-ciri Jiwandana si Gagak Hitam Lengan Seribu. Bagaimanapun juga, kematian Gagak Hitam Lengan Seribu akan menjadi awal kembalinya ketentraman di wilayah Kadipaten Lewa dan sekitarnya.
"Kau sudah melihatnya bukan?
Itu adalah kepala Gagak Hitam Lengan Seribu. Semoga dengan kematian nya, kau tidak perlu khawatir lagi dengan keamanan Kadipaten Lewa. Lain kali, jika ada masalah seperti ini lagi, kau bisa meminta bantuan ke Daha agar tidak berlarut-larut", ujar Prabu Bameswara segera.
"Hamba sungguh mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Gusti Prabu Bameswara yang telah sudi membantu kami", ucap Adipati Wangsakerta sembari menghormat.
"Kau salah sangka. Bukan aku yang membantu mu membunuh Gagak Hitam Lengan Seribu", Prabu Bameswara tersenyum simpul.
"Lantas, siapa yang mampu melakukan nya selain Gusti Prabu?", tanya Adipati Wangsakerta dengan wajah sedikit bingung karena ucapan sang raja.
"Ah kalau begitu, maka dia adalah orang yang memenangkan sayembara yang telah hamba keluarkan. Hamba telah berjanji untuk menjodohkan putri kedua hamba, Pandan Wangi, untuk pemenang sayembara ini Gusti Prabu..
Narmada, antar Dyah Pandan Wangi untuk masuk ke dalam..", perintah Adipati Wangsakerta segera. Mantri Narmada pun segera menghormat sebelum keluar dari dalam Pendopo Agung Kadipaten Lewa. Sebentar kemudian, dia telah kembali bersama dengan seseorang.
Seorang gadis cantik dengan tampilan dandanan yang menawan datang bersama dengan Mantri Narmada. Dengan pakaian khas seorang putri istana berwarna hijau muda dan selendang sutra berwarna kuning menghias kemben nya, gadis cantik itu nampak anggun seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Dia adalah Dyah Pandan Wangi, putri kedua Adipati Wangsakerta yang menjadi putri tercantik dari kedelapan saudari nya yang lain. Adipati Wangsakerta memang hanya memiliki 4 putra dan 8 orang putri. Pandan Wangi sendiri dijuluki sebagai sekar kedaton Istana Kadipaten Lewa karena memiliki kecantikan yang tiada duanya di wilayah kadipaten yang terletak di antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis itu.
Banyak sekali lamaran yang diterima dari berbagai penjuru untuk meminang sang sekar kedaton Istana Kadipaten Lewa ini, tak hanya dari Kerajaan Panjalu namun juga dari wilayah tetangga seperti Jenggala dan Blambangan maupun dari Galuh Pakuan, namun hingga saat ini tak satupun dari sekian lamaran itu diterima oleh Dyah Pandan Wangi. Adipati Wangsakerta yang pusing tujuh keliling karena sikap Dyah Pandan Wangi ini, akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai hadiah bagi pemenang sayembara agar sang putri yang sudah berusia 19 tahun ini segera berumah tangga. Meskipun awalnya Dyah Pandan Wangi menolak mentah-mentah keinginan sang ayah, namun akhirnya ia pasrah dengan keputusan sang penguasa Kadipaten Lewa setelah mendapat nasehat dari sang ibu. Dia pun kini hanya berharap agar nanti suaminya adalah orang baik-baik.
Sontak saja, kedatangan Dyah Pandan Wangi membuat semua mata tertuju pada nya. Kecantikan nya sanggup membuat semua mata para lelaki tak berkedip sedikitpun. Gadis cantik ini segera duduk bersimpuh di samping Adipati Wangsakerta.
"Ini adalah putri hamba, Gusti Prabu. Namanya Dyah Pandan Wangi. Dia adalah hadiah yang hamba janjikan kepada pemenang sayembara ini", ucap Adipati Wangsakerta sembari tersenyum lebar.
"Wah ternyata cantik sekali putri mu, Adipati Wangsakerta. Aku sungguh tidak menyangka sama sekali.
__ADS_1
Ngger Cah Bagus putra ku Mapanji Jayabaya, bagaimana menurut mu?", ucap Prabu Bameswara sembari menoleh ke arah Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya yang sedari tadi hanya diam saja.
Semua punggawa Istana Kadipaten Lewa langsung kaget setengah mati mendengar penuturan sang Maharaja Panjalu ini. Bahkan Adipati Wangsakerta pun sampai terlonjak dari tempat duduknya.
"M-mohon ampun Gusti Prabu..
Pemuda ini adalah....", Adipati Wangsakerta tak berani meneruskan omongannya karena takut salah bicara.
"Kenapa Adipati Wangsakerta?
Aduh aku sampai lupa memperkenalkan dia. Rupanya umur memang tidak bisa menipu hehehe ...
Dengarkan semua punggawa Istana Kadipaten Lewa, ini adalah putra ku Mapanji Jayabaya yang telah lama hilang. Dia juga adalah putra mahkota Kerajaan Panjalu yang memang menjadi haknya sejak lahir", tegas Prabu Bameswara segera.
Berita itu bagaikan sebuah petir menyambar di siang bolong. Semua orang terkejut bukan main mendengar nya. Tak terkecuali Dyah Pandan Wangi. Semula dia pasrah saja menerima nasib karena akan dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak dikenal nya. Namun kini dia langsung tersenyum lebar sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam agar semburat merah menyala di wajahnya tidak kentara. Sejak memasukkan Pendopo Agung Istana Kadipaten Lewa, Dyah Pandan Wangi memang telah memperhatikan sosok pemuda tampan yang duduk di kursi sebelah kiri singgasana meskipun hanya sekilas lalu saja namun dia tidak berharap banyak selain pasrah dengan keadaan. Dan rencana perjodohan ini, sungguh sungguh di luar perkiraan semua orang.
"Pu-putra mahkota Kerajaan Panjalu?
H-hamba tidak berani kalau begitu. Semua keputusan ada di tangan Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya", Adipati Wangsakerta segera menghormat usai berbicara. Keringat dingin mulai membasahi dahi penguasa Kadipaten Lewa ini. Dia menjadi ketakutan sendiri. Memaksakan kehendak kepada calon penguasa Kerajaan Panjalu selanjutnya sama seperti menggali lubang kubur sendiri.
"Nakmas Pangeran Jayabaya..
Ayo berikan keputusan mu. Ini adalah awal dari proses pembelajaran mu sebagai seorang calon raja. Kau harus berpikir masak-masak jika ingin memutuskan sesuatu", ucap lembut Ratu Dyah Chandrakirana sembari tersenyum ke arah Jaka Umbaran.
Tak hanya Prabu Bameswara maupun Ratu Dyah Chandrakirana yang menatap ke arah Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya tapi semua orang yang ada di tempat itu juga menunggu apa yang akan menjadi keputusan penerus tahta Kerajaan Panjalu ini.
Jaka Umbaran alias Mapanji Jayabaya menghela nafas berat. Beban yang dia rasakan sekarang ibarat sebuah gunung yang diletakkan di atas punggungnya. Usai menarik nafas dalam-dalam, dia kemudian berkata,
"Baiklah, saya juga tidak ingin mengecewakan semua orang. Saya terima hadiah sayembara ini.
Tapi dengan satu syarat..."
__ADS_1