JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Akibat Dendam


__ADS_3

"Kau sudah membuat ku kehilangan satu lengan, Jaka Umbaran. Bagaimana bisa aku tidak menaruh dendam pada mu ha?


Kau menghilangkan satu lengan ku, maka hari ini aku akan mengambil satu lengan mu pula. Kalau perlu, nyawa mu akan menjadi penebus kecacatan ku!! ", ujar Sukrasana si Dewa Kalong Merah sembari menunjuk ke arah Jaka Umbaran.


"Heh tua bangka tak tahu diri..


Lawan Ndoro Pendekar pakai kedua tangan saja kau masih saja kehilangan satu lengan mu, bagaimana mungkin kau menang jika hanya pakai satu tangan?


Chhuuuiiiihhhh, dasar tua bangka tolol!", sahut Gendol segera.


Parta, murid utama Padepokan Kelelawar Merah mendengus keras saat ejekan Gendol terucap. Dia langsung membentuk tangan kanannya menjadi cakar.


"Gedibal bangsat!


Mulutmu perlu di beri pelajaran agar tidak sembarangan bicara", setelah memaki Gendol, Parta langsung menerjang maju ke arah Gendol sambil mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah wajah. Sontak saja, kejadian itu membuat para pengunjung warung makan yang lain langsung berhamburan keluar menyelamatkan diri. Bahkan sang pemilik warung makan dan para pelayan pun juga turut kabur karena tidak ingin menjadi korban serangan nyasar. Nyawa lebih penting daripada harta benda mereka di dalam warung makan.


Jaka Umbaran segera melompat keluar lewat jendela warung makan. Dewa Kalong Merah pun segera menyusulnya. Para murid Padepokan Kelelawar Merah lainnya pun langsung menjadi lawan Resi Simharaja sedangkan Gendol sibuk meladeni Parta yang terus memburunya dengan ilmu silat Cakar Kelelawar Pembunuh miliknya.


Begitu menjejak tanah di jalan raya, Sukrasana si Dewa Kalong Merah langsung menerjang maju ke arah Jaka Umbaran dengan Ajian Cakar Kalong Siluman miliknya. Dia tidak ingin kecolongan lagi sama seperti dulu saat di acara pertemuan para pendekar dunia persilatan di Lembah Kali Gung.


Lima larik cahaya tipis merah kehitaman menerabas cepat kearah Sang Pendekar Gunung Lawu yang baru saja menjejak tanah.


Shhrrraaakkkkkh....!!


Melihat lawannya ingin mengambil nyawa nya, Jaka Umbaran segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan mendarat pada cabang pohon besar. Dia lolos dari sergapan cepat Dewa Kalong Merah.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Serumpun pohon pisang yang tumbuh di belakang tempat Jaka Umbaran tadi langsung meledak dan hancur lebur seperti tercabik-cabik sesuatu saat lima larik cahaya merah kehitaman itu menghantam nya. Melihat itu, Dewa Kalong Merah yang seperti kerasukan setan langsung mengarahkan cakar tangan kanannya ke arah dimana Jaka Umbaran berada.


Shhhrraaaakkkkkk shhhrraaaakkkkkk!!!


Sepuluh larik cahaya merah kehitaman kembali menerjang ke arah Jaka Umbaran setelah Dewa Kalong Merah dua kali mengayunkan cakar tangan nya ke arah musuh yang telah menghancurkan satu lengannya.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Tepat sesaat sebelum sepuluh larik cahaya tipis merah kehitaman itu menghantam, Jaka Umbaran sudah bergerak cepat meninggalkan tempat ia berpijak. Kecepatan tinggi nya karena Ajian Langkah Dewa Angin yang membuatnya mampu bergerak sangat cepat benar-benar berguna untuk menghadapi amukan Sukrasana si Dewa Kalong Merah.


"Bajingan tengik!!!


Kalau kau jagoan nomor satu di wilayah tengah, jangan lompat kesana kemari seperti monyet liar. Sini hadapi aku!!!", umpat Sukrasana sambil kembali mengayunkan cakar tangan nya yang tinggal sebelah kanan ke arah tempat sang pendekar muda berada.


Whhhuuummmmm whhhuuummmmm...


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!


Jaka Umbaran sama sekali tidak peduli dengan umpatan dan makian keras Sukrasana si Dewa Kalong Merah dengan terus berjumpalitan kesana kemari menghindari hantaman Ajian Cakar Kalong Siluman milik lawannya. Kesal dengan ulah lawannya, Sukrasana langsung berteriak keras.


"Kakang Bojakunta!!


Sampai kapan kau akan berdiam diri saja ha?!!


Setelah itu, terdengar suara tawa keras dari arah samping kanan Jaka Umbaran. Suara tawa yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ini langsung membuat gendang telinga sakit.

__ADS_1


"Hahahaha...


Hanya melawan pendekar kemarin sore saja, kau tidak berdaya Sukrasana! Memalukan sekali..", setelah kata-kata itu keluar, sebuah bayangan tapak tangan kanan raksasa berwarna merah kekuningan langsung menderu cepat kearah sang pendekar muda ini.


Whhhuuuuuuuutttttth....


Kecepatan tinggi bayangan tapak tangan raksasa itu, membuat Jaka Umbaran yang mati langkah tak bisa menghindar. Segera dia menyilangkan kedua tangannya ke depan kepala sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam nya.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar. Tubuh Jaka Umbaran mencelat jauh ke belakang namun dia dengan cekatan merubah gerakan tubuhnya hingga perlahan tubuhnya berhenti bergerak mundur. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Serangan bokongan yang baru saja dia terima tanpa Ajian Bandung Bondowoso rupanya bisa melukai nya.


Sedangkan dari arah datangnya serangan, sesosok lelaki tua bertubuh gempal berjanggut pendek berwarna hitam yang bercampur putih karena uban muncul dan mendarat di samping Dewa Kalong Merah. Pakaian nya kuning lusuh namun dia menggunakan ikat kepala warna merah yang serupa dengan milik Dewa Kalong Merah.


Ya, lelaki tua itu adalah saudara seperguruan Dewa Kalong Merah dulu. Seharusnya dia yang menjadi penerus kepemimpinan Padepokan Kelelawar Merah, namun lelaki tua yang bernama Bojakunta itu lebih suka berkelana di dunia persilatan hingga pimpinan Padepokan Kelelawar Merah jatuh pada Sukrasana. Kebetulan saja, beberapa hari yang lalu Bojakunta datang ke Padepokan Kelelawar Merah yang ada di dekat perbatasan wilayah antara Kadipaten Lewa dan Wengker meskipun Bukit Kalong yang menjadi menjadi markas besar perguruan silat itu masih masuk dalam wilayah Wengker.


Memang selain untuk melepas rindu pada tempat yang membesarkan namanya ini, Bojakunta yang tersohor sebagai Si Tapak Tangan Dewa ini juga untuk mengunjungi Dewa Kalong Merah yang dia dengar telah luka parah dan cacat setelah ikut serta dalam acara pertemuan para pendekar dunia persilatan di Perguruan Golok Sakti. Berita itu dia dengar saat berada di wilayah Pakuwon Tumapel hingga dia secepatnya pulang ke Bukit Kalong.


Melihat kondisi saudara seperguruan nya yang mengenaskan, Bojakunta Si Tapak Tangan Dewa langsung memberikan harta berharga miliknya yakni mustika siluman serigala yang bisa menyembuhkan segala luka pada Sukrasana si Dewa Kalong Merah. Dengan bantuan Bojakunta itu, Dewa Kalong Merah yang seharusnya menjadi kehilangan separuh dari hasil tapa brata dan olah beladiri nya, sanggup sembuh dalam waktu kurang dari satu purnama.


Karena itu, saat para murid Padepokan Kelelawar Merah melaporkan kepada nya bahwa Jaka Umbaran sampai di dekat tempat mereka, bara api dendam karena kehilangan sebelah tangan nya langsung membara. Dia segera meminta bantuan kepada Bojakunta sebelum mendatangi tempat Jaka Umbaran berada. Inilah alasan munculnya Bojakunta Si Tapak Tangan Dewa ini di tempat itu.


Hemmmmmmm..


"Bajingan tengik itu hebat, Kakang Bojakunta..


Kalau ingin mengalahkan nya, kita harus bekerjasama. Kau lihat sendiri bukan, Ajian Tapak Tangan Dewa mu tidak berhasil membunuhnya? Atau kau memang sengaja mengurangi tenaga dalam mu tadi?", ucap Sukrasana si Dewa Kalong Merah sembari menatap tajam ke arah Jaka Umbaran yang sedang menyeka darah segar di sudut bibirnya.


Dia meremehkan kemampuan ku, Adhi Sukrasana. Ayo kita buat dia mati dengan tercabik-cabik!!", geram Bojakunta Si Tapak Tangan Dewa sembari melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Dewa Kalong Merah pun segera mengikuti gerakan sang kakak seperguruan.


Melihat dua orang tua itu melesat cepat kearah nya, Jaka Umbaran sadar bahwa lawannya tidak sekedar main-main lagi. Dia pun segera merapal mantra Ajian Bandung Bondowoso sembari melompat menjauh dari tempat nya semula. Cahaya kuning keemasan berpendar di manik mata pendekar muda ini setelah dia menutup mata sebentar.


Bojakunta merubah gerakan tubuhnya dengan berputar cepat hingga melompati tubuh Jaka Umbaran sembari kembali menghantamkan tapak tangan kanannya. Kembali bayangan tangan raksasa berwarna merah kekuningan menderu cepat kearah Jaka Umbaran yang berada di bawahnya.


Whhhuuummmmm..


Jaka Umbaran segera berkelit menghindari hantaman Ajian Tapak Tangan Dewa andalan Bojakunta. Namun dari arah yang berlawanan, Dewa Kalong Merah merangsek maju ke arah nya sambil mengayunkan cakar tangan kanannya. Lima larik cahaya merah kehitaman menerabas cepat kearah Jaka Umbaran.


Mendapat serangan bertubi-tubi dari dua arah, Jaka Umbaran segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke arah Bojakunta. Dia kembali lolos dari jebakan Dewa Kalong Merah dan langsung melayangkan tendangan keras bertubi-tubi kearah lelaki tua bertubuh gempal itu.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..


Keduanya langsung meluncur turun sembari terus beradu pukulan keras. Begitu sampai di tanah, Dewa Kalong Merah langsung ikut mengeroyok Jaka Umbaran dengan ilmu silatnya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi.


Bhhhuuuuuuggggh bhhuuuggghhh..


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh...


Jaka Umbaran yang mati langkah mendapat pukulan keras bertenaga dalam dari Sukrasana si Dewa Kalong dan Bojakunta Si Tapak Tangan Dewa dari depan dan belakang.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Jaka Umbaran. Bojakunta dan Dewa Kalong Merah mencelat mundur beberapa tombak setelah kedua pukulan keras mereka yang dilapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi, seperti membentur lempengan logam keras saat hantaman mereka mengenai tubuh Jaka Umbaran. Darah segar keluar dari mulut mereka namun keduanya menyunggingkan senyuman lebar tatkala melihat tubuh Jaka Umbaran dibungkus dengan asap tebal.

__ADS_1


"Bocah keparat, akhirnya kau mampus juga hahahaha...", ucap Bojakunta sembari mengusap sisa darah segar di bibirnya.


"Kakang Bojakunta, jangan ceroboh!!


Bajingan tengik itu masih hidup, waspada...."


Belum selesai Dewa Kalong Merah bicara, Jaka Umbaran telah melesat cepat kearah Bojakunta dengan tangan kanan berwarna biru terang. Rupanya dia mengerahkan Ajian Brajamusti yang dia dapat dari Begawan Sidicarita.


"Sekarang giliran ku untuk membalas mu!"


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!!


Bojakunta gelagapan melihat kedatangan serangan cepat Jaka Umbaran. Secepat mungkin, dia memapak hantaman tangan kanan Jaka Umbaran dengan tapak tangan kanannya yang diliputi oleh cahaya merah kekuningan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!


Bojakunta terpental jauh ke belakang. Dewa Kalong Merah segera melesat cepat dan menahan tubuh kakak seperguruan nya yang badannya hangus seperti tersambar petir. Bahkan tangan Sukrasana yang memegang tubuh Bojakunta pun masih merasakan hawa panas di tubuh lelaki tua itu.


Sembari sekarat, Bojakunta bicara terbata-bata di pangkuan Dewa Kalong Merah.


"Ba-jing-ngan teng..ik i-itu bu-bukan la..wan.. kuhh, Su..kra..sa..naaaaa ..."


Setelah berkata demikian, Bojakunta pun tewas di pangkuan adik seperguruan nya. Tubuhnya hampir semua menghitam seperti hangus terbakar. Dewa Kalong Merah perlahan meletakkan kepala Bojakunta di tanah lalu menatap tajam ke arah Jaka Umbaran.


"Keparat kau Jaka Umbaran!!


Aku akan mencabik-cabik tubuh mu hingga menjadi makanan anjing!!!"


Setelah itu, Dewa Kalong Merah mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada cakar tangan kanannya. Cahaya merah kehitaman semakin terlihat menakutkan bagi siapapun yang melihatnya. Tanpa menunggu lama lagi, Dewa Kalong Merah melesat cepat kearah Jaka Umbaran. Dia sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan hidupnya.


Dengan penuh nafsu membunuh, Sukrasana si Dewa Kalong Merah langsung mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah kepala sang pendekar muda ini.


Shhhrraaaakkkkkk!!


Hawa panas menyengat menyeruak ke arah kepala Jaka Umbaran, namun sang murid Maharesi Siwamurti ini sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Saat cakar tangan kanan Dewa Kalong Merah menyentuh kulit wajah Jaka Umbaran yang berselimut cahaya tipis kuning keemasan, saat itu juga Jaka Umbaran menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru terang Ajian Brajamusti ke arah dada lawan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan mahadahsyat kembali terdengar lagi. Tubuh Dewa Kalong Merah sang pimpinan Padepokan Kelelawar Merah mencelat jauh ke belakang hampir sepuluh tombak jauhnya. Tubuh lelaki tua kurus bertangan buntung kiri itu terhempas ke arah dengan keras dan tersurut di jalanan. Separuh tubuhnya gosong seperti baru saja terbakar. Dia tewas seketika tanpa sempat berteriak.


Sisa sisa murid Padepokan Kelelawar Merah yang masih hidup langsung melarikan diri dengan dipimpin oleh Parta yang sudah menderita lebam dan memar di beberapa bagian tubuhnya. Gendol dan Resi Simharaja langsung berjalan mendekati Jaka Umbaran sembari melirik ke arah dua mayat dedengkot dunia persilatan.


"Wah Ndoro Pendekar hebat sekali..


Dua kakek peyot bangkotan itu langsung modar di bantai oleh Ndoro Pendekar. Mantap!", ucap Gendol sembari mengacungkan jempol tangan nya ke arah Sang Pendekar Gunung Lawu.


Jaka Umbaran menghela nafas panjang sebelum berbicara,


"Sudah jangan banyak bicara. Aku sudah memutuskan bahwa kita..


Akan ikut sayembara Lewa.."

__ADS_1


__ADS_2