
Mendapat pertanyaan seperti itu, Resi Simharaja segera menoleh ke arah tempat lain di sisi kanan nya.
"Brahmana tua, sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik pepohonan itu ha?
Cepat keluar dan bantu kami!"
Setelah ucap lantang sang bekas raja siluman Alas Roban itu terdengar, sebuah bayangan berkelebat dari balik rimbun pepohonan yang tumbuh subur di hutan kecil itu. Dalam beberapa kejap mata saja, dia telah sampai di tempat Prabu Bameswara, Pangeran Mapanji Jayabaya dan Resi Simharaja berada.
Dia adalah sesosok lelaki tua sedikit pendek gemuk dengan pakaian berwarna kuning tua dan berdandan layaknya seorang pendeta aliran Waisnawa. Tangan kanannya selalu memutar tasbih yang terbuat dari biji genitri berwarna coklat tua sedangkan rambutnya yang panjang ikal sebahu, pada bagian atasnya digelung sedikit miring. Jenggot dan kumisnya lebat, meskipun belum terlihat di tumbuhi uban namun kerut pada wajah nya tak mampu menyembunyikan usia lelaki tua itu.
"Begawan Mpu Narada??!!"
Prabu Bameswara tentu saja mengenal sosok lelaki tua itu karena sang raja sering berkunjung ke tempat tinggalnya di Pertapaan Harinjing yang terletak di Utara Kotaraja Daha tepatnya di tepi Kali Harinjing ( Kali Serinjing sekarang ). Brahmana tua itu tersohor sebagai guru agama yang berilmu tinggi dan pintar dalam ilmu tata negara. Banyak sekali putra bangsawan yang belajar pada Pertapaan Harinjing untuk menimba ilmu pengetahuan dari sang guru besar sekaligus pimpinan Pertapaan Harinjing, Begawan Mpu Narada. Salah satu yang paling terkenal dari para pelajar itu adalah Mapanji Jayagiri atau yang sekarang ini dikenal sebagai Pangeran Rakeyan Jayagiri, putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan yang merupakan putra dari Prabu Jayengrana sekaligus adik dari Prabu Bameswara, raja Panjalu saat ini.
"Hormat hamba Gusti Prabu Bameswara", ucap Begawan Mpu Narada seraya sedikit membungkukkan badannya ke arah Prabu Bameswara.
Belum sempat, Prabu Bameswara menjawab penghormatan terhadap nya, Maharesi Wiramabajra sudah melesat cepat kearah mereka dengan kedua tangan memancarkan cahaya kuning kemerahan berhawa panas yang menakutkan. Melihat itu, Prabu Bameswara segera menoleh ke arah Begawan Mpu Narada.
"Sopan santun nya nanti saja, Begawan. Biar aku tahan dulu si pendeta tua itu.
Kau bantu saja cari cara untuk mengalahkan Ajian Pancasona milik nya!", selepas berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat memapak pergerakan Maharesi Wiramabajra.
Pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dengan Maharesi Wiramabajra alias Wong Agung Gunung Raung kembali berlangsung seru dan menegangkan. Keduanya mengerahkan seluruh kemampuan beladiri yang mereka miliki. Tak tanggung-tanggung, mereka berdua mengadu nyawa dan bermaksud untuk mencabut nyawa lawan yang dihadapi.
Dhhhaaaassshhhh dhhaaaassshhh..
Plllaaaakkkkk...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Sementara Prabu Bameswara alias Panji Tejo Laksono terus meladeni tantangan Begawan Wiramabajra, Maharesi Mpu Narada segera mendekati sang pangeran mahkota.
"Mohon maaf Gusti Pangeran..
Hamba Mpu Narada dari Pertapaan Harinjing. Sejak awal pertarungan antara Gusti Prabu melawan pendeta dari Blambangan itu, hamba berusaha menyembunyikan diri dari pandangan mata manusia termasuk mata batin dengan maksud agar tidak terlibat dalam perseteruan ini. Tapi rupanya hidung peka macan tua ini tak bisa di bohongi meskipun hamba telah bersembunyi dibalik celah awang-awang.
Jadi mohon Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya tidak salah paham", ucap Begawan Mpu Narada seraya tersenyum penuh arti. Namun, Resi Simharaja yang tidak sabaran ingin membuka tabir penghalang kekuatan di tubuh Jaka Umbaran segera memotong omongannya.
"Banyak bicara sekali kau, Jenggot Kambing.
Cepat kau buka tabir penghalang nya. Kalau terlalu lama Gusti Prabu Bameswara bertarung melawan wong Blambangan itu, aku khawatir dia yang akan celaka. Cepatlah!"
Ucapan Resi Simharaja ada benarnya. Meskipun Prabu Bameswara memiliki keunggulan dalam seni ilmu kanuragan, namun semuanya mentah jika berhadapan dengan Ajian Pancasona. Sejak awal pertarungan, Maharesi Wiramabajra telah mati 3 kali namun dia selalu bangkit kembali dari kematian nya dan semakin ganas dalam pertarungan. Tak ayal, Prabu Bameswara pun terlihat kelelahan meskipun dia masih bersikap tenang.
"Sabar sedikit kenapa sih kau, Macan Tua? Ini juga sedang disiapkan. Huh, dasar berangasan...
__ADS_1
Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya silahkan duduk bersila. Kosongkan pikiran dan hati, rasakan semua gerak alam semesta. Aku akan membantu melepas segel penghalang di punggung kanan mu ini", ucap Begawan Mpu Narada segera.
"Aku mengerti Begawan..."
Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya segera duduk bersila di atas tanah. Segera dia menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Perlahan matanya terpejam. Sesaat kemudian dia sudah tenggelam dalam semedi untuk membuka kesembilan lobang di tubuhnya.
Melihat itu, Begawan Mpu Narada segera duduk bersila di belakangnya. Mulut lelaki tua berjanggut panjang ini langsung komat-kamit merapal doa pujian pada Dewa Wisnu.
"Om Namo Bhagavate Vasudevaya..
Om Namo Bhagavate Vasudevaya..
Sang penguasa alam semesta, Oh Dewa Wisnu yang Maha Perkasa. Aku meminta ijin Mu, kuasa Mu, kekuatan Mu..
Bukalah penghalang suci Mu di tubuh Awatara Mu ini. Terbukalah...."
Telapak tangan kanan Begawan Mpu Narada memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan mata. Segera dia meletakkan tangannya pada tanda lahir berbentuk seperti roda bergerigi tajam di punggung kanan Jaka Umbaran. Tubuh Jaka Umbaran langsung tersentak ketika cahaya biru terang itu mengenai kulit punggungnya.
Perlahan, tanda lahir berbentuk cakra itu segera bersinar kuning keemasan. Berawal dari sisi terluar lalu semakin lama semakin ke tengah tanda lahir itu. Saat mencapai titik pusat lingkaran bergerigi tajam itu, mata Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya terbuka lebar bersama dengan mulutnya yang membuka. Dari sana cahaya kuning keemasan itu terpancar keluar.
"Macan Tua, bantu aku! Tenaga ku tak cukup untuk membuat sosok agung itu keluar.
Cepatlah...!!!", teriak Begawan Mpu Narada yang memang terlihat kepayahan. Keringat mengucur deras dari berbagai tempat di tubuhnya. Bajunya yang semula kering, kini basah kuyup karena keringat.
Sembari menggeram keras, Resi Simharaja segera duduk bersila di belakang tubuh Begawan Mpu Narada dan segera menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung brahmana tua itu. Cahaya kuning keemasan yang sempat meredup sebentar, kembali memancar keluar dari mulut dan mata Jaka Umbaran.
"Ampuni hamba yang sudah memaksa Dewa Wisnu Yang Agung. Namun angkara murka akan merajalela di muka bumi jika Yang Mulia Dewa Wisnu tidak turun tangan", ucap Begawan Mpu Narada dengan penuh hormat.
"Aku sudah melihatnya, Begawan Mpu Narada. Jasad ini belum mampu sepenuhnya untuk menggunakan kekuatan ku menegakkan dharma kebenaran di bumi ini.
Kedepannya, kau harus membimbing nya agar mampu menjadi sosok sejati seorang awatara. Sekarang biar aku yang akan turun tangan sendiri", setelah berkata demikian, sosok agung itu segera mengalihkan pandangannya pada pertarungan sengit antara Prabu Bameswara dan Maharesi Wiramabajra. Dalam satu kali ayun kaki saja, dia telah sampai di tengah pertarungan. Prabu Bameswara yang hendak melepaskan Waringin Sungsang nya untuk memapak pergerakan Maharesi Wiramabajra, buru buru merubah gerakan tubuhnya dan melompat mundur.
Sedangkan Maharesi Wiramabajra yang tak mungkin lagi untuk menghentikan langkahnya, menghantam sosok lelaki bertubuh kekar dengan kulit berwarna biru cerah itu menggunakan ajian pamungkas nya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr..!!!
Bukannya bisa menjatuhkan sosok agung itu, justru tubuh Maharesi Wiramabajra yang mencelat jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Darah segar mengalir keluar dari sudut mulutnya.Kemunculan tiba-tiba sosok agung itu membuat nya kaget bukan main. Namun dia yang keras kepala, menganggap bahwa sosok agung ini hanyalah ilusi sihir yang dikeluarkan oleh pihak lawan semata.
"Hentikan ulah mu, Maharesi Wiramabajra.
Sudah cukup kau berbuat di luar batas kemanusiaan. Hentikan sekarang juga sebelum semuanya terlambat", ucap sosok agung itu segera.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Ilusi sihir murahan. Kau ingin menipu ku dengan wujud menyerupai bentuk Dewa Wisnu itu, hei wong Panjalu?
__ADS_1
Akan ku hancurkan tubuh palsu mu itu agar semua orang bisa melihat nya", Maharesi Wiramabajra segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Kedua tangan nya yang memancarkan cahaya kuning kemerahan berhawa panas terlihat semakin panas dan terang. Dia segera melesat cepat kearah sosok agung itu sembari menghantamkan kepalan tangannya ke dada sosok agung itu segera.
Blllaaammmmmmmm!!!
Senyum lebar yang terukir di wajah sosok agung berkulit biru cerah itu langsung hilang seketika melihat ulah Maharesi Wiramabajra.
"Maharesi Wiramabajra! Kau benar benar telah melampaui batas-batas yang tidak boleh kau langgar!
Akan ku ambil kembali anugerah yang sudah di berikan oleh para Dewa untuk mu!", selepas berkata demikian, tiba tiba saja terompet sangkakala di tangan kiri atas sosok agung itu segera berputar cepat. Sekejap berikutnya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Perlahan cahaya putih keluar dari dalam tubuh Maharesi Wiramabajra, terhisap masuk ke dalam cangkang keong laut terompet sangkakala.
AAAARRRGGGGGGHHHHH..!!!
Maharesi Wiramabajra menjerit keras saat cahaya putih itu keluar dari dalam tubuh nya. Lelaki tua berjanggut panjang dengan kaki pincang ini terus meraung-raung kesakitan karena Ajian Pancasona milik nya diambil secara paksa dari dalam tubuh nya oleh sosok agung berkulit biru cerah itu.
Setelah Ajian Pancasona keluar sepenuhnya dari dalam tubuh Maharesi Wiramabajra, dia langsung jatuh lemas tak berdaya di tanah dengan posisi berlutut. Dengkul nya tak mampu menyangga tubuh tua nya itu lagi.
"Ampuni hamba Hyang Wisnu..
Ampuni kebodohan hamba. Hamba betul betul dibutakan oleh dendam", ujar Maharesi Wiramabajra seraya menghormat pada sang sosok agung itu segera.
"Sebagai seorang pendeta, kau seharusnya tidak memikirkan masalah duniawi yang bukan urusan mu lagi.
Kelak, dalam kehidupan mu yang selanjutnya, kau harus bisa memilah mana yang baik dan buruk sebelum bertindak. Prabu Bameswara hanya menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang ksatria. Dan itu semua sesuai dengan garis takdir Dewata", ucap sosok agung itu dengan penuh wibawa.
"Hamba mengerti. Sekarang, hamba mohon cabutlah nyawa hamba ini, Hyang Akarya Jagat. Sudah cukup hamba hidup di dunia ini. Sudah cukup hamba menapaki kerasnya kehidupan. Semoga kelak hamba berjodoh menjadi pengikut Hyang Wisnu. Om Namo Bhagavate Vasudevaya..", Maharesi Wiramabajra segera menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia yang telah lama ingin mati, mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
"Kalau itu yang menjadi keinginan mu, aku akan mengabulkannya. Damailah kau dalam perputaran jalan kehidupan", tangan kanan sebelah belakang sosok agung itu segera terayun ke depan. Cakra Bhaswara berputar cepat kearah kepala Maharesi Wiramabajra.
Whhhuuuuuggggghhhh..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Kepala Maharesi Wiramabajra langsung menggelinding ke tanah setelah Cakra Bhaswara memotong lehernya. Tubuhnya perlahan menyusul ambruk ke tanah kemudian. Wong Agung Gunung Raung tewas di tangan sosok agung berkulit biru. Keinginan nya untuk mati terwujud hari itu.
Setelah kematian lelaki tua itu, sosok agung itu perlahan berubah menjadi cahaya kuning keemasan yang selanjutnya masuk ke dalam tubuh Jaka Umbaran alias Pangeran Mapanji Jayabaya.
Begawan Mpu Narada menghela nafas panjang tanda kelegaan yang mendalam. Andaikata tidak ada bantuan dari Resi Simharaja, tentu dia sendiri tidak akan mampu untuk membangkitkan sosok agung di dalam tubuh Mapanji Jayabaya secara paksa. Perlahan cahaya kuning keemasan pada tanda lahir berbentuk cakra di punggung kanan Jaka Umbaran menghilang bersamaan dengan masuknya kembali sosok agung itu ke dalam raga sang pangeran muda.
Jaka Umbaran sendiri juga terlihat kecapekan. Mengeluarkan sosok agung dalam tubuhnya saat dia sedang sadar, benar-benar menguras tenaga nya. Dia pun harus di papah oleh Resi Simharaja untuk bisa berdiri tegak.
Prabu Bameswara yang berdiri di dekat tempat mereka berada, nampak tersenyum lega setelah melihat apa yang sebenarnya ada di dalam tubuh putra nya ini. Dalam hati ia berpikir, pantas saja saat kelahiran Mapanji Jayabaya ada kejadian alam yang mengguncang dunia. Dia semakin yakin bahwa Mapanji Jayabaya lah kelak yang akan membawa Panjalu menuju puncak kejayaan nya.
Mereka berempat pun segera berkumpul. Dari arah selatan, beberapa orang punggawa Istana Kotaraja Daha seperti Besur dan Baratwaja datang bersama Gendol dan para Senopati dan Tumenggung Kerajaan Panjalu. Mereka menggiring seorang perempuan muda cantik dengan kepungan senjata mereka ke sekeliling tubuh perempuan cantik itu. Meskipun nampak beberapa luka menghiasi tubuhnya, namun perempuan cantik itu masih nampak beringas. Oleh karena itu, perempuan cantik yang berhasil mereka ringkus di kawal dengan senjata terhunus.
Gendol sendiri nampak lebam pada mata kiri. Besur dan Baratwaja apalagi. Bibir Besur yang tebal pun malah nampak semakin tebal dan berdarah akibat hantaman benda tumpul. Sedangkan Baratwaja sendiri nampak mengusap hidung nya yang mimisan dan berwarna merah. Sepertinya ketiga orang itu baru saja selesai bertarung melawan perempuan cantik itu dan luka-luka itu mereka dapat dari sang perempuan pendekar.
__ADS_1
Tak bisa menutupi rasa penasarannya, Prabu Bameswara segera bertanya kepada Besur dan kawan-kawan.
"Apa yang terjadi pada kalian?"