JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Petunjuk


__ADS_3

Begawan Sidicarita tersenyum lebar saat mendengar Landungseta melontarkan pertanyaan ini. Dalam penglihatan mata batin nya yang tajam, lelaki tua berjanggut panjang sedada ini memang bisa melihat jelas bahwa sosok pemuda tampan yang berada di belakang Landungseta dan Mustikaweni ini memiliki garis darah biru. Apalagi aura tidak biasa yang memancar keluar dari tubuh sang pendekar muda ini terlihat agung dan berwibawa.


"Kau belum waktunya untuk tahu lebih banyak, Landungseta. Kau harus lebih banyak belajar kelak di masa depan.


Gusti Pangeran eh sekarang kau memiliki nama Jaka Umbaran ya, silahkan masuk", ucap Begawan Sidicarita sembari berbalik badan menuju ke arah tempat duduknya di bangunan pendopo Pertapaan Dihyang ini.


Seketika itu juga, Landungseta dan Mustikaweni segera menoleh ke arah Jaka Umbaran. Gendol yang juga masih belum mengerti, langsung menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal sedangkan Resi Simharaja hanya sedikit mengangkat sudut bibirnya.


"Pendekar Jaka Umbaran, apa benar kau seorang pangeran?", tanya Landungseta segera.


"Eh itu aku sendiri kurang tahu, Saudara Landungseta..


Lebih baik kita tanya langsung saja pada guru mu apa sebenarnya yang ingin dia katakan. Mari... ", Jaka Umbaran pun segera melangkah ke arah dimana Begawan Sidicarita duduk bersila. Mereka pun segera mengikuti langkah sang pendekar muda.


Setelah kelima orang itu duduk bersila dengan rapi, beberapa cantrik datang untuk menyalakan lampu minyak jarak yang tergantung di tiang penyangga bangunan besar ini. Cahaya merah pun segera menyebar, mengusir gelap malam yang mulai menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng.


"Tidak perlu sungkan untuk bertanya, Gusti Pangeran..


Kau pasti sudah sangat penasaran mengapa aku memanggilmu dengan sebutan Gusti Pangeran, bukan?", ucap Begawan Sidicarita sembari tersenyum tipis saat melihat Jaka Umbaran duduk bersila di samping kanan nya.


"Sepertinya Begawan bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak mengetahuinya. Jujur saja, saya sangat penasaran dengan sebutan itu karena saya sendiri sedang mencari keberadaan sosok orang tua saya Begawan.


Mungkinkah Begawan Sidicarita bisa membantu saya?", tanya Jaka Umbaran segera.


"Hehehehe...


Tentu saja aku tidak akan keberatan untuk membantu mu mencari asal usul mu, Gusti Pangeran. Akan tetapi, aku punya syarat yang mesti kau terima jika kau ingin aku memberitahu mu tentang asal usul mu", mendengar jawaban Begawan Sidicarita itu, Jaka Umbaran segera mengangguk mengerti.


"Aku terima syarat apapun dari Begawan Sidicarita, asal aku bisa tahu siapa orang tua ku yang sebenarnya", ucap Jaka Umbaran segera.


"Kalau begitu, tengah malam nanti, kau datang lagi kemari. Syarat nya akan ku beritahukan saat kau kemari.

__ADS_1


Sekarang istirahatlah lebih dulu. Kalian semua baru saja menempuh perjalanan jauh", usai berkata demikian, tiba-tiba saja muncul asap putih tipis di sekeliling tubuh Begawan Sidicarita. Sebentar kemudian, dia sudah menghilang dari pandangan mata semua orang bersama dengan angin dingin yang berdesir perlahan.


Setelah itu, Landungseta segera mengantarkan Jaka Umbaran dan kawan-kawan ke sebuah pondokan yang berada tak jauh dari tempat itu. Tempat itu biasanya memang digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi para peziarah dari warga sekitar yang ingin melakukan pemujaan terhadap Dewa Ganesha yang ada di dalam Candi yang kita kenal sekarang sebagai Candi Arjuna maupun terhadap arca dewa dewa lain yang ada di beberapa candi lainnya di sekitar Pertapaan Dihyang.


Segera mereka masuk untuk melindungi tubuh mereka dari dinginnya udara kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak berapa lama kemudian, datang beberapa orang cantrik Pertapaan Dihyang membawakan beberapa makanan sebagai pengisi perut mereka.


Malam terus merangkak naik. Udara kawasan Dataran Tinggi Dieng semakin dingin saat menjelang tengah malam. Resi Simharaja terlihat memejamkan matanya sembari duduk bersila sedangkan Gendol tidur bergelung di atas rerumputan kering yang menjadi alas tidur nya. Jaka Umbaran yang baru saja selesai mengakhiri semedi nya, bangkit dari tempat duduknya. Tanpa bersuara sedikitpun, dia melangkah keluar dari dalam pondokan itu menuju ke arah pendopo Pertapaan Dihyang.


Sesampainya disana, Begawan Sidicarita telah berdiri membelakanginya. Cahaya bulan yang mendekati purnama terlihat cerah di atas langit.


"Apa kau sudah siap dengan syarat yang aku ajukan, Gusti Pangeran?", ucap Begawan Sidicarita tanpa berbalik badan.


"Aku siap untuk memenuhi syarat yang kau inginkan, Begawan", ucap Jaka Umbaran mantap.


"Bagus, ketegasan itu diperlukan suatu hari nanti Gusti Pangeran. Sebagai titisan Dewa Wisnu, kau harus bisa tegas terhadap segala sesuatu yang bisa merusak tatanan alam.


Sekarang ikuti langkah ku", selepas berkata demikian, Begawan Sidicarita melesat cepat kearah barat. Jaka Umbaran pun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya untuk dapat mengejar gerakan cepat lelaki sepuh itu.


Swwoooossshhhhh!!!


"Ini adalah Tuk Bima Lukar. Disinilah titik awal Kali Serayu. Disini juga adalah tempat yang memiliki daya linuwih yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesaktian mu, Gusti Pangeran.


Syarat yang ku ajukan adalah kau harus menguasai beberapa ilmu kedigjayaan ku jika kau ingin aku memberitahu mu petunjuk tentang siapa orang tua mu yang sebenarnya. Jika kau bersedia, berendam lah dalam Tuk Bima Lukar ini karena hanya ini yang bisa meredam panas dari Ajian Brajamusti yang akan ku turunkan pada mu", ucap Begawan Sidicarita sembari menatap ke arah Jaka Umbaran.


Tanpa diperintah dua kali, Jaka Umbaran segera masuk ke dalam sumber mata air ini. Rasa dingin seperti hendak membekukan tulang dan otot langsung menyerang ke seluruh tubuh sang pendekar muda saat ia membenamkan tubuhnya hingga sebatas leher di dalam Tuk Bima Lukar. Jaka Umbaran harus mengerahkan segenap tenaga dalam nya untuk tetap bertahan di dalam air dingin sumber mata air ini.


Setelah itu, Begawan Sidicarita komat kamit membaca mantra. Dari telapak tangan kanan nya, memancar keluar cahaya biru terang berhawa panas menyengat. Saking panasnya sampai hawa dingin di sekitar tempat itu seperti hilang tertelan oleh panasnya pancaran cahaya biru terang itu. Dengan cepat, Begawan Sidicarita segera meletakkan telapak tangannya ke ubun-ubun kepala Jaka Umbaran. Cahaya biru terang itu langsung menjalar ke seluruh tubuh Sang Pendekar Gunung Lawu.


Rasa panas seperti terbakar seketika menyebar ke seluruh tubuh Jaka Umbaran. Hawa dingin Tuk Bima Lukar yang tadi sempat membuat nya menggigil kedinginan, kini justru malah terasa seperti penahan panas menyengat dari Ajian Brajamusti yang menjalar ke setiap pori-pori kulit hingga ke tulangnya. Bahkan sang pendekar muda ini pun sampai berkeringat meskipun dalam posisi berendam di dalam Tuk Bima Lukar.


Hampir sepenanak nasi waktu yang di habiskan untuk menerima turunan Ajian Brajamusti. Setelah dirasa cukup, Begawan Sidicarita segera melepaskan telapak tangan kanannya dari ubun-ubun kepala Jaka Umbaran lalu mengatur nafasnya. Sedangkan Jaka Umbaran sendiri segera membuka matanya dan perlahan berdiri lalu keluar dari dalam kolam kecil Tuk Bima Lukar.

__ADS_1


"Kau sungguh luar biasa, Gusti Pangeran..


Kau mampu menerima Ajian Brajamusti tanpa kesulitan sedikitpun. Sungguh sungguh titisan Dewa Wisnu sejati", puji Begawan Sidicarita sembari tersenyum simpul.


"Aku yang seharusnya berterima kasih pada Begawan Sidicarita karena sudah bersedia menurunkan ilmu kanuragan tingkat tinggi kepada ku.


Sekarang, apa petunjuk tentang keberadaan orang tua ku bisa Begawan Sidicarita katakan?", ucap Jaka Umbaran segera.


"Sabar, ini baru tahap awal saja. Setelah rampung semua, aku pasti akan memberikan petunjuk yang jelas kepada mu. Sekarang kita kembali ke pertapaan. Esok hari kita lanjutkan kembali", kabut tipis segera menutupi seluruh tubuh Begawan Sidicarita dan sekejap mata kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata Jaka Umbaran.


Hemmmmmmm..


"Sepertinya aku harus memang bersabar menunggu petunjuk yang diberikan oleh Begawan Sidicarita. Toh aku juga tidak rugi menunggu karena ada keuntungan yang aku peroleh. Aku harus segera kembali ke Pertapaan Dihyang.."


Setelah itu, Jaka Umbaran segera melesat cepat kearah Pertapaan Dihyang. Sembari bergerak cepat, dia mengerahkan sepertiga dari ilmu kanuragan yang baru saja ia dapatkan. Akibatnya hawa panas yang keluar dari dalam tubuh Jaka Umbaran sanggup mengeringkan baju nya.


Waktu bergulir dengan cepat. Jaka Umbaran memutuskan untuk tinggal sementara di Pertapaan Dihyang. Resi Simharaja tidak keberatan namun Gendol menggerutu dalam hati karena dia tidak tahan dengan udara dingin tempat itu.


Setelah menjalani hari yang sama seperti kemarin di Pertapaan Dihyang, pada malam hari berikutnya, Begawan Sidicarita kembali melanjutkan penurunan ilmu kanuragan tingkat tinggi pada Jaka Umbaran. Malam ini dia menurunkan Ajian Langkah Dewa Angin pada murid Maharesi Siwamurti itu. Ajian ini bisa membuat gerakan Jaka Umbaran secepat kilat, bisa berlari seperti terbang di atas tanah dan tubuhnya bisa seringan kapas. Tentu saja ilmu kanuragan ini sangat cocok sebagai pendukung bagi Jaka Umbaran yang memiliki Ajian Guntur Saketi.


"Aku rasa, ilmu kesaktian yang ku turunkan pada mu sudah cukup membantu mu, Gusti Pangeran. Namun ada satu ajian yang menjadi ilmu pamungkas titisan Dewa Wisnu di dalam tubuh mu yang masih perlu dibangkitkan.


Hanya Maharesi Bagaspati di Pertapaan Harinjing yang mampu membuka pengunci di tanda lahir berbentuk cakra di punggung kanan mu itu agar kau bisa menggunakannya. Carilah dia, dan katakan pada nya bahwa aku yang menyuruhmu untuk mendatangi nya", ucap Begawan Sidicarita usai menurunkan Ajian Langkah Dewa Angin pada Jaka Umbaran.


"Terimakasih atas semua ilmu kanuragan yang telah Begawan Sidicarita turunkan pada ku. Aku akan mengingat semua petunjuk yang Begawan berikan", ucap Jaka Umbaran sembari membungkuk hormat kepada Begawan Sidicarita.


Mendengar jawaban itu, Begawan Sidicarita tersenyum lebar. Dia nampak menghela nafas panjang sebelum berkata,


"Sekarang waktunya aku menepati janji ku padamu, Gusti Pangeran. Aku tidak akan membuka keseluruhan rahasia hidup mu akan tetapi kau sudah waktunya untuk mengetahuinya walaupun hanya sebagian.


Datanglah ke Kotaraja Daha dan temui Gusti Prabu Bameswara, Maharaja Panjalu. Tunjukkan pada Gusti Prabu Bameswara tentang kain biru bersulam Ardhachandralancana yang kau miliki, juga kalung perak berbandul liontin emas itu pada nya.

__ADS_1


Dia yang akan mengatakan siapa orang tua mu yang sebenarnya..", Jaka Umbaran terkesiap ketika mendengar kata yang keluar dari mulut Begawan Sidicarita. Tak bisa menutupi rasa penasaran nya, dia langsung bertanya,


"Apakah orang tua ku bangsawan, Begawan?"


__ADS_2