JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda

JAYABAYA : Perjalanan Menjadi Sang Legenda
Cemburu


__ADS_3

Pangeran Rakeyan Jayagiri tersenyum tipis mendengar omongan sang Pendekar Gunung Lawu. Sembari mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya, putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan itu menyarungkan kembali pedangnya. Pedang butut itu telah menjadi senjata andalan nya selama puluhan tahun.


"Terimakasih banyak Pendekar Gunung Lawu..


Uhukkk uhukkk uhukkk... Kini waktunya membersihkan para pengkhianat negara ini jangan sampai ada yang tersisa", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari menoleh ke arah pertempuran yang terus berkecamuk di wilayah barat Kotaraja Kawali.


"Semuanya dengarkan perintah!!


Jangan biarkan para pemberontak ini ada yang tersisa. Bunuh mereka semuanya!!!"


Teriakan lantang sang pangeran mahkota yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi terdengar di setiap sudut titik pertempuran. Para prajurit Galuh Pakuan semakin bersemangat untuk memenangkan peperangan apalagi saat melihat pimpinan pemberontak, Jerangkong Hitam, telah terbunuh. Mereka seperti kesetanan membantai para pemberontak yang semakin tersudut.


Satu persatu mayat pemberontak pimpinan Jerangkong Hitam mulai bertumbangan dengan nyawa melayang. Walaupun di pihak prajurit Galuh Pakuan sendiri juga banyak korban berjatuhan, namun itu sebanding dengan kekalahan para pemberontak pimpinan Jerangkong Hitam.


Si Elang Botak, salah satu dari sesepuh pemberontak yang masih hidup, menyadari bahwa mereka sudah tidak mungkin bisa memenangkan pertempuran segera berteriak keras.


"MUNDUR!! CEPAT MUNDUR...!!"


Mendengar itu, para pemberontak mulai bergerak ke arah luar Kotaraja Kawali. Jumlah mereka yang tidak lebih dari 1000 orang bergerak menuju ke arah barat. Pangeran Rakeyan Jayagiri memimpin pasukan Galuh Pakuan untuk terus menekan para pemberontak yang tersisa.


Dewi Rengganis dan Nyai Larasati mengamuk bersama dengan Buyut Wangsanaya. Puluhan orang tewas di tangan mereka. Resi Wangsanaya berubah wujud menjadi seekor harimau putih besar dan terus menerkam para pemberontak dengan cakaran dan gigitannya yang mematikan.


Sementara itu, Tapak Wisa Gunung Saba yang sedang melesat cepat kearah Iblis Biru dengan ajian pamungkas nya untuk mengakhiri perlawanan pendekar tua itu, kehilangan konsentrasi nya kala Si Elang Botak yang merupakan tangan kanan Jerangkong Hitam memerintahkan untuk mundur.


Di tengah kebimbangan nya, sebuah cahaya putih kebiruan sebesar jempol tangan manusia melesat cepat kearah dada nya dengan cepat.


Cllaaaaaassshhhhh!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Belum sempat Ajian Tapak Wisa Ular Bumi menghantam tubuh Iblis Biru yang sedang tak berdaya, dada Tapak Wisa Gunung Saba telah berlobang lebih dulu. Darah segar muncrat keluar dari lobang sebesar jempol tangan nya yang ada di dada kiri pendekar ini. Dia roboh ke tanah dan tewas dengan dada bolong tembus punggung. Iblis Biru yang semula sudah pasrah dengan maut yang akan menjemput nya, melongo melihat itu semua. Dia segera menoleh ke asal serangan itu dan mendapati Jaka Umbaran yang sedang melindungi Pangeran Rakeyan Jayagiri tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Dalam waktu sepenanak nasi, akhirnya pemberontak dari wilayah Mandala Tanjung Sengguruh ini berhasil di kalahkan. Meskipun ada beberapa orang yang berhasil kabur, namun sebagian besar dari mereka terbunuh oleh para prajurit Galuh Pakuan. Sorak sorai penuh kebahagiaan terdengar dari para prajurit yang berhasil memenangkan peperangan.


Segera setelah itu, para prajurit Galuh Pakuan melakukan pembersihan daerah terdampak peperangan. Mayat-mayat musuh segera di angkut keluar kota tempat ke sebuah hutan di barat daya Kotaraja. Disana mereka membakar nya agar tidak menjadi sarang penyakit. Sedangkan para prajurit Galuh Pakuan yang tewas sebagai pahlawan mereka kuburkan di pemakaman yang ada di luar kota dengan di bantu oleh para penduduk Kotaraja Kawali.


Sedangkan untuk rumah yang terbakar, para penghuni nya di ungsikan ke kediaman para pejabat yang tinggal di Kotaraja Kawali. Kesemuanya bergotong royong dalam menghadapi bencana besar ini.


Pangeran Rakeyan Jayagiri pun segera mengajak Jaka Umbaran dan kawan-kawan nya untuk menginap di kediamannya. Diantara mereka, hanya Tunggulherang Si Setan Merah saja yang menemui ajal dalam peperangan ini. Sanjaya Si Iblis Biru masih bisa tertolong meskipun menderita luka dalam yang cukup parah. Dewi Rengganis kelelahan dan Nyai Larasati si Bidadari Angin Selatan cukup terkuras tenaga dalam nya pada pertempuran kali ini. Pangeran Rakeyan Jayagiri sendiri juga terluka dalam dan Buyut Wangsanaya pun segera bertindak sebagai tabib pribadi nya untuk mengobati luka dalam nya. Hanya Jaka Umbaran dan Resi Simharaja yang masih terlihat sehat meskipun mereka juga kelelahan.


Hari itu menjadi hari yang paling panjang dalam sejarah penduduk Kotaraja Kawali.


Selama hampir sepekan, Kotaraja Kawali terus berbenah diri setelah upaya pemberontakan itu di gagalkan. Mangkubumi Ranayasa mengerahkan sebagian besar prajurit untuk memburu sisa-sisa pemberontak yang berhasil melarikan diri. Para Nunangganan yang terpilih, memburu mereka hingga ke perbatasan Sunda dan Panjalu.


Selama itu pula, Jaka Umbaran dan kawan-kawan tinggal di istana putra mahkota Kerajaan Galuh Pakuan. Atas permintaan langsung dari sang calon penerus tahta Kerajaan Galuh Pakuan, mereka tinggal sementara disana.


Hubungan antara Nararya Padmadewi dan Jaka Umbaran pun semakin dekat. Setiap hari, putri sulung Pangeran mahkota itu selalu mendatangi tempat tinggal Jaka Umbaran untuk sekedar mengirimkan makanan ataupun camilan. Sang putri pun rela untuk terjun langsung ke dapur istana putra mahkota demi menyiapkan makanan bagi sang pendekar muda.


Hal ini tak luput dari perhatian Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh. Ibunda Nararya Padmadewi ini pun tersenyum simpul saja melihat itu semua.


Coba akang perhatikan atuh putri sulung kita. Setiap hari selalu masuk dapur istana untuk membuat makanan bagi Pendekar Gunung Lawu. Apa Akang teh tidak punya pikiran macam-macam tentang putri kita?", ucap Nararya Citradewi pada Pangeran Rakeyan Jayagiri yang sedang memeriksa beberapa catatan di tempat kerjanya.


"Aku tidak buta Dinda..


Tapi selama hubungan antara mereka hanya sebatas pertemanan, aku tidak mempermasalahkan nya. Aku juga tidak merendahkan martabat Jaka Umbaran karena nyawa ku juga nyawa seluruh istana ini tetap ada sampai sekarang, itu semua karena dia", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri sembari tersenyum tipis.


"Eh Akang, mana ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan? Pasti ada sesuatu yang perlu diperhatikan.


Atau mungkin, sebaiknya kita jodohkan saja mereka Akang? Aku lihat Jaka Umbaran pemuda baik dan Padmadewi juga sudah cukup umur. Daripada menjadi bahan omongan orang, abdi pikir lebih baik kita jodohkan saja mereka", ujar Nararya Citradewi Sang Mayang Galuh sembari menatap wajah suaminya.


"Aku terikat pada janji pertunangan dengan Kakang Prabu Bameswara di Panjalu, Dinda Citradewi. Dulu kala aku berangkat ke Galuh Pakuan, Kangmas Prabu Bameswara mengatakan bahwa kelak keturunan kami harus tetap bersatu dalam ikatan pernikahan.


Kalau tidak ada itu, aku tidak keberatan sama sekali dengan niat mu itu", ucap Pangeran Rakeyan Jayagiri segera.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya Akang teh tanya ke Prabu Bameswara. Jadi tidak kita jodohkan putri kita dengan putra nya? Abdi teh tidak mau nya', kalau Padmadewi jadi perawan tua", setelah berkata demikian, Nararya Citradewi langsung ngeloyor pergi dengan muka cemberut. Pangeran Rakeyan Jayagiri hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatap jauh langit biru di selatan.


Sementara itu, di tempat tinggalnya, Jaka Umbaran sedang duduk bersama dengan Nyai Larasati, Dewi Rengganis dan Resi Simharaja. Buyut Wangsanaya sudah pulang ke rumahnya di Wanua Jalaksana 2 hari yang lalu setelah Pangeran Rakeyan Jayagiri sembuh dari luka dalam nya.


"Kita sudah cukup lama tinggal di tempat ini, Pendekar Gunung Lawu. Akan lebih baik jika kita segera pergi dari sini. Aku sudah kangen sama tempat tinggal ku di Paguhan", ucap Nyai Larasati sembari menatap wajah tampan Jaka Umbaran.


Belum sempat Jaka Umbaran menjawab, Putri Padmadewi datang sembari memegang nampan berisi beberapa makanan olahan dan sekendi air minum. Dewi Rengganis pun langsung masam wajahnya.


"Akang Umbaran, ini teh Eneng bawakan olahan singkong kukus campur kelapa muda dan gula aren. Sok atuh akang coba ya", ujar Putri Padmadewi sembari meletakkan nampan ke tengah meja kecil di tempat duduk mereka.


"Gusti Putri sebaiknya tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan makanan ke tempat kami lagi. Toh besok kami akan pergi dari sini", sahut Dewi Rengganis sedikit ketus.


Mendengar itu, mimik wajah cantik Putri Padmadewi langsung berubah. Putri sulung Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri ini pun segera menoleh ke arah Jaka Umbaran.


"Benarkah demikian Akang Umbaran?", tanya Putri Padmadewi segera. Tiba-tiba saja mata perempuan cantik itu langsung berkaca-kaca. Seolah ia akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.


"Kami sudah cukup lama merepotkan istana Kawali, Gusti Putri. Kamu tak bisa selamanya menumpang tinggal di sini. Sepertinya memang besok kami harus pulang ke daerah asal kami", jawab Jaka Umbaran sembari menghela nafas panjang.


"Akang Umbaran jahat!"


Putri Padmadewi langsung berlari cepat meninggalkan tempat itu. Airmata nya tumpah tak tertahan lagi. Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang di cintai nya akan pergi meninggalkan nya. Sementara itu, Jaka Umbaran menghela nafas berat sembari menatap ke arah perginya sang putri sulung Pangeran Mahkota Rakeyan Jayagiri.


"Sepertinya Kakang Umbaran tidak rela meninggalkan tempat ini. Apa jangan-jangan Kakang Umbaran sudah mulai menyukai putri manja itu?", sindiran pedas Dewi Rengganis membuat Jaka Umbaran segera tersadar dari lamunannya.


"Tidak juga tapi entahlah...


Eh kenapa kau tiba-tiba saja mengatakan hal ini, Rengganis? Kau cemburu ya?", senyum lebar terukir di wajah tampan Jaka Umbaran itu lebih membuat Dewi Rengganis salah tingkah. Dia sungguh tidak menduga bahwa pertanyaan nya akan berbalik arah pada dirinya sendiri.


Dengan wajah memerah seperti kepiting rebus, Dewi Rengganis menundukkan kepalanya dalam-dalam agar semburat warna merah di wajahnya tidak kentara. Setengah gugup dia menjawab,


"Ti-tidak, itu tidak sama sekali Kakang.

__ADS_1


A-aku ti-tidak cemburu kok..."


__ADS_2