
Pucat muka Adipati Natanegara mendengar pertanyaan Jaka Umbaran. Sebenarnya keberadaan sosok orang yang di tanyakan pada nya, sedang dalam tempat pengasingan. Ini adalah rahasia tidak sembarang orang mengetahui dan kini putra mahkota Kerajaan Panjalu sedang menanyakan hal itu kepadanya, tentu saja Adipati Matahun ini gelagapan mencari alasan.
Karena Adipati Natanegara tak segera menjawab, Jaka Umbaran segera menoleh ke arah Resi Simharaja. Lelaki tua berbadan kekar itu segera mengangguk. Ini adalah isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
"Kenapa kau diam, Adipati Natanegara? Apa pertanyaan ku terlalu sulit untuk kau jawab?", Jaka Umbaran kembali melontarkan pertanyaan.
"B-bukan begitu, Gusti Pangeran. Hanya...", Adipati Natanegara tak jadi melanjutkan omongan nya dan menoleh pada Patih Kadipaten Matahun, Mpu Kariti. Lelaki tua bertubuh sedikit kurus itu nampak menggeleng halus.
"Hanya apa? Hanya karena kau tidak ingin mengatakan yang sebenarnya?
Aku sebenarnya bisa saja menemukan keberadaan Nyai Paricara tanpa harus menunggu pemberitahuan dari mu. Namun jika kalian sengaja menutup-nutupi keberadaan Nyai Paricara, jangan harap aku akan memaafkan kalian semua", ketegasan Jaka Umbaran sontak membuat semua punggawa Istana Kadipaten Matahun terkejut bukan main. Sifatnya jauh berbeda dengan sikap Prabu Bameswara yang terkenal lemah lembut dan penuh kasih pada rakyat Panjalu.
"Ampuni hamba Gusti Pangeran Mapanji Jayabaya.
Sungguh kami tidak ada niatan untuk menyembunyikan kebenaran tentang Nyai Paricara. Hanya saja saat ini dia sedang berupaya untuk menyembuhkan putra mahkota Kadipaten Matahun, Pangeran Natawirya. Sudah hampir dua pekan ini, Raden Natawirya terkena penyakit aneh. Nyai Paricara adalah harapan kami satu-satunya untuk menyembuhkan putra hamba itu", ucap Adipati Natanegara segera. Dia rupanya tidak tahan lagi untuk menyimpan keberadaan sosok yang sedang di cari oleh Pangeran Mapanji Jayabaya.
"Coba jelaskan padaku, penyakit apa yang sedang di derita oleh Raden Natawirya itu?", tanya Jaka Umbaran segera. Patih Mpu Kariti menghela nafas berat mendengar pertanyaan itu.
"Empat purnama yang lalu, hamba bersama dengan Raden Natawirya mengunjungi sebuah pertapaan yang ada di Kambang Putih. Disana kami bertemu dengan pimpinan Pertapaan Kambang Putih yang bernama Resi Mpu Rikmasena dan putri nya yang bernama Rara Wulansari.
Raden Natawirya jatuh hati pada Rara Wulansari dan putri sang resi pun menerima nya. Keduanya mengikat janji untuk segera menikah. Akan tetapi takdir Dewata berkata lain. Satu purnama sebelum pernikahan terjadi, Rara Wulansari meninggal dunia. Resi Mpu Rikmasena lantas menyalahkan Raden Natawirya sebagai penyebab meninggalnya putrinya. Dia mengucapkan sumpah akan menuntut balas atas kematian putrinya itu.
Keesokan harinya, Raden Natawirya tiba-tiba bertingkah aneh dan terus menerus mengamuk seperti orang gila. Untuk menjaga kehormatan Istana Kadipaten Matahun, hamba dan Gusti Adipati lantas membuat tempat pengasingan diri bagi Raden Natawirya. Lantas mencari seorang tabib maupun dukun sakti untuk menyembuhkan sakit putra mahkota kami. Sudah puluhan orang yang mencoba untuk menyembuhkan sakit Raden Natawirya, namun semuanya sia-sia belaka. Kami sudah hampir putus asa saat itu.
Namun 10 hari yang lalu, kami mendengar bahwa ada seorang tabib sakti yang tinggal di wilayah selatan Kadipaten Matahun ini. Gusti Adipati Natanegara lantas memerintahkan hamba dan Senopati Setakuning untuk membawa Nyai Paricara bagaimanapun caranya. Kami berhasil dan mengantar Nyai Paricara ke tempat pengasingan Raden Natawirya. Sudah sepekan terakhir ini dia tinggal di pengasingan bersama dengan Raden Natawirya", urai Patih Mpu Kariti panjang lebar mengenai keberadaan sosok Nyai Paricara.
"Hampir sepekan lebih? Ini tak masuk akal..
Mohon ampun bila hamba lancang, Gusti Patih. Saya Secawiguna, pembantu pribadi Nyai Paricara. Setahu hamba, untuk mengobati penyakit apapun, Nyai Paricara hanya butuh waktu sehari paling lama. Bagaimana mungkin sampai sepekan bahkan sampai tidak ada kabar beritanya sama sekali?", sahut Secawiguna sembari menghormat pada Patih Mpu Kariti.
"Tapi itulah kenyataannya, Kisanak..
Hingga saat ini kami juga menunggu kabar baik dari tempat pengasingan Raden Natawirya. Karena itu, kami terus menunggu perkembangan kesehatan Raden Natawirya lewat pengantar berita yang setiap hari selalu datang kemari", ucap Patih Mpu Kariti sembari menghela nafas panjang.
Hemmmmmmm...
"Kapan orang itu datang biasanya, Patih Mpu Kariti?", tanya Jaka Umbaran sembari menatap ke arah Patih Kadipaten Matahun ini.
"Biasanya saat ini sudah sampai...
__ADS_1
Ah itu dia orang nya Gusti Pangeran. Semoga kabar baik itu datang kali ini", ucap Patih Mpu Kariti sembari menunjuk pada seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal yang datang dari pintu masuk ruang pribadi adipati. Jaka Umbaran segera mengerutkan keningnya dalam-dalam karena merasa ada sesuatu yang salah dengan orang ini. Begitu juga dengan Resi Simharaja yang tiba-tiba mengendus-endus seperti sedang membaui sesuatu. Setelah itu, Resi Simharaja segera membisikkan sesuatu di telinga Jaka Umbaran. Sang Pendekar Gunung Lawu ini pun segera mengangguk mengerti.
Si lelaki bertubuh kekar itu segera menghormat pada Adipati Natanegara sebelum ikut duduk bersila di lantai ruang pribadi adipati.
"Sambanglurah..
Kabar apa yang kau bawa dari tempat pengasingan Raden Natawirya? Lekas katakan pada ku", ucap Adipati Natanegara segera. Dia begitu tak sabar mendengar suara lelaki bertubuh kekar itu.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Berita nya masih sama seperti kemarin. Gusti Raden Natawirya masih suka mengamuk. Sepertinya Nyai Paricara memang tidak bisa diandalkan", ucap lelaki bertubuh kekar dengan nama Sambanglurah ini sembari memilin kumisnya.
Secawiguna hendak menyanggah omongan Sambanglurah akan tetapi Resi Simharaja segera mencekal lengan tangan nya hingga dia mengurungkan niatnya untuk bicara.
Adipati Natanegara langsung lemas mendengar jawaban Sambanglurah ini. Sementara itu Jaka Umbaran menatap tajam ke arah lelaki yang berusia sekitar 3 dasawarsa ini.
"Itu berita asli atau palsu, Kisanak?", tanya Jaka Umbaran yang membuat semua punggawa Istana Kadipaten Matahun terhenyak mendengar nya.
"Apa maksud dari ucapan mu, Kisanak? Siapa kau ini?", tanya Sambanglurah sedikit sengit karena merasa diragukan.
"Hei Kumis Kucing...
Jaga sopan santun mu ya. Kau ini sedang berbicara dengan Pangeran Mapanji Jayabaya, pangeran dari Kotaraja Daha", sahut Besur segera. Sambanglurah nampak kaget bukan kepalang mendengar penuturan perwira prajurit Panjalu ini.
Aku tahu bahwa kamu bukan Sambanglurah yang sebenarnya. Lekas buka penyamaran mu, heh penipu..", ucap Jaka Umbaran seraya menatap tajam ke arah Sambanglurah. Semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan sang pangeran muda. Sambanglurah nampak berkeringat dingin meskipun cuaca diluar sedang panas. Dia kaget bukan main karena merasa sudah tidak mungkin lagi penyamarannya terbongkar.
Secepat kilat, orang yang menyamar sebagai Sambanglurah ini mencabut keris pusaka di pinggangnya dan segera menusukkan nya ke arah Jaka Umbaran.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Di luar dugaan, Resi Simharaja segera menggunakan tangannya untuk menahan tusukan keris itu.
Chhhrreeepppppppphhhh!!!
Oouuugghhhhhh.....!!
Tusukan keris pusaka itu langsung menembus lengan kanan Resi Simharaja. Gendol yang ada di dekatnya langsung melayangkan sikutan keras ke arah dada orang yang menyamar sebagai Sambanglurah.
Dhhiiieeeeesssshhh...
__ADS_1
Aaauuuuggggghhhhh!!
Kerasnya sikutan keras Gendol yang menggunakan seluruh tenaga nya membuat orang yang menyamar sebagai Sambanglurah ini langsung mencelat mundur dan jatuh di halaman ruang pribadi adipati. Kejadian ini berlangsung sangat cepat hingga para punggawa Istana Kadipaten Matahun tepat bereaksi. Melihat orang yang menyamar sebagai Sambanglurah ini terjatuh di halaman, mereka semua langsung bergerak mengepung orang ini.
Orang yang menyamar sebagai Sambanglurah ini langsung bangkit dari tempat jatuhnya dan menyeringai lebar sambil mengusap lelehan darah segar di sudut kiri bibirnya.
"Tak ku sangka kalau Ajian Malih Rupa ku bisa diketahui oleh seorang pemuda ingusan seperti mu, Pangeran dari Daha.
Aku kagum pada mu..", ucap lelaki bertubuh kekar itu sembari mengusap wajah nya yang seketika berubah menjadi seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tipis dan janggut lebat yang nampak telah di tumbuhi uban. Patih Mpu Kariti terkejut bukan main melihat sosok sebenarnya dari orang yang menyamar sebagai Sambanglurah itu.
"Resi Mpu Rikmasena....
Kau... Kenapa kau bisa sampai di sini hah?", ucap Patih Mpu Kariti keras.
"Memangnya kenapa Patih Mpu Kariti?
Aku sudah berulang kali masuk ke dalam istana ini. Apalagi yang perlu aku takutkan? Para pejabat negara busuk seperti kalian tentu tidak akan mampu mengetahui diriku yang sebenarnya andaikata pangeran dari Kotaraja Daha itu tidak bicara", ucap Resi Mpu Rikmasena dengan penuh percaya diri.
"Bajingan tua, kau meremehkan orang istana Kadipaten Matahun.
Semuanya, tangkap penjahat itu hidup atau mati!", teriak Patih Mpu Kariti lantang. Mendengar perintah ini, para punggawa Istana Kadipaten Matahun langsung menerjang maju ke arah Resi Mpu Rikmasena dengan menyabetkan senjata mereka masing-masing.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!
Resi Mpu Rikmasena dengan cepat menghindari sabetan senjata dua orang punggawa istana yang mengincar nyawa nya. Dia secepat kilat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah salah seorang punggawa istana yang ada di belakang mereka.
Bhhhuuuuuuggggh...
Oouuugghhhhhh!!!
Pejabat negara berpangkat Demung itu langsung jatuh terjengkang ke belakang usai tendangan keras Resi Mpu Rikmasena menghajar dada. Dia langsung batuk-batuk kecil. Senopati Setakuning yang mendapat kesempatan untuk maju, langsung menusukkan keris nya ke arah Resi Mpu Rikmasena. Namun, lagi-lagi lelaki tua berjanggut lebat itu mampu mengimbangi kemampuan beladiri pimpinan prajurit Matahun ini dengan mudah. Sepertinya kemampuan beladiri yang di miliki oleh Resi Mpu Rikmasena memang sangat tinggi. Pertarungan antara mereka berlangsung sengit.
Besur yang hendak membalut luka di lengan Resi Simharaja dengan menenteng selembar kain yang dia robek dari selambu ruang pribadi adipati, kaget melihat lelaki paruh baya itu justru menjilati lukanya yang mengeluarkan darah. Saat dia hendak angkat bicara, Gendol langsung mencegahnya.
"Biarkan saja. Macan tua itu punya kemampuan untuk menyembuhkan luka dengan cara aneh seperti itu", ucap Gendol sembari menggelengkan kepalanya.
"Tapi lukanya.."
"Percayalah, Macan Tua itu baik-baik saja. Kita siap-siap saja. Sepertinya para punggawa Istana Kadipaten Matahun tak mampu meringkus orang tua itu", Gendol langsung menunjuk ke arah tengah halaman dimana Senopati Setakuning telah jatuh terjengkang sambil memuntahkan darah segar.
__ADS_1
Jaka Umbaran yang terus mengamati jalannya pertarungan antara Resi Mpu Rikmasena dan para punggawa Istana Kadipaten Matahun sejak awal tadi, segera menoleh ke arah mereka Gendol, Baratwaja dan Besur sembari berkata,
"Ringkus orang tua itu!"